
"Mau mulai darimana, suamiku?"
Inilah mengapa Sunny berbahaya, dia bisa menjadi gadis polos yang tiba-tiba berubah jadi liar dan Rain menyukai itu. Sisi liar yang hanya Sunny tunjukkan padannya bahkan sorot mata Sunny sudah mampu membuatnya mabuk kepayang.
"Lakukan apapun yang kamu inginkan, aku sepenuhnya milikmu, sayang." ucap Rain tanpa menyentuh Sunny lebih dulu walaupun ia setengah mati ingin. Air dingin yang merendam tubuhnya sekarang sama sekali tidak mempengaruhi hasratnya yang terus naik.
Sunny menyeringai, ia mulai memainkan jari-jarinya yang nakal seperti langkah kaki yang menapaki garis dada Rain dan terus melangkah naik hingga ke lehernya sementara Rain menahan nafasnya.
Tarikan nafas Rain semakin berat, ia menahan erangannya karena ulah tangan Sunny yang terus bergerak naik hingga ke wajahnya dan akhirnya tangannya mendarat menutupi matanya.
"Ini curang..." Rain menggeram tersiksa karena Sunny menutupi matanya, ia jadi tidak bisa melihat indahnya lekuk tubuh istrinya itu.
"Shhht..."
"Hem... Sunny, kamu menyiksaku."
Tubuh Rain semakin tegang, ia dapat merasakan kaki Sunny berada diantara kakinya, hanya sedikit lagi untuk menyentuh miliknya tapi gadis itu tidak mendekat lagi dan berhenti di tempat yang membuat Rain tersiksa.
"Boleh aku menyentuhmu?" Rain bertanya lagi, ia ingin menarik pinggang Sunny dan membawanya kedalam pangkuannya.
"Pasrahkan saja dirimu padaku..." jawab Sunny berbisik.
"Oh Gosh!"
Sunny masih menempatkan tangannya menutupi kedua mata Rain, ia menatap separuh wajah suaminya yang masih terlihat menawan bagaimanapun keadaannya, justru hidung mancungnya serta bibirnya terlihat lebih sensual.
"Aku tidak bisa berpikir jernih, kamu membuatku ingin mencicipinya..." gumam Sunny yang masih menatap bibir Rain dengan tatapan mendamba.
"Jangan hanya cicipi, makan aku sepenuhnya... Ini bukanlah dosa, kamu tidak perlu takut pada apapun."
__ADS_1
Ucapan berhasil Rain mengusir keraguan itu, Sunny perlahan mendaratkan ciumannya tapi bukan di bibir Rain melainkan di lehernya.
"Damn!" Rain menggeram sekali lagi, kedua tangannya berpegangan pada tepi bathtub agar ia tidak menyentuh Sunny tanpa seijinnya walaupun setengah mati kenikmatan ini hampir mirip dengan sebuah penyiksaan. Meskipun begitu ia dengan sengaja mendongakkan wajahnya agar Sunny dapat terus menjelajahi setiap sisi lehernya.
Melihat reaksi Rain sungguh menyenangkan, menjadikan kenakalannya tidak lagi terbendung karena kini Sunny bahkan mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Rain dan menyapunya dengan gairah hingga tidak hanya wajah dan telinga Rain yang merona tapi hampir seluruh tubuhnya.
"Jangan buka matamu..." perintah Sunny ketika melepaskan bibir Rain.
"Aku ingin melihatmu, berbaik hatilah pada suami mu yang sedang sekarat ini."
Sunny tidak menjawab tapi ia menurunkan tangannya dari wajah Rain dan berbeda dengan ucapannya yang terdengar ingin memberontak, Rain masih menutup kedua matanya dengan patuh.
"Kamu senang?" tanya Rain terdengar sedikit marah.
"Kamu tidak senang?" Sunny menjawab dengan sebuah pertanyaan provokatif.
Rain menarik nafas dalam dan menjawab, "setidaknya biarkan tanganku merengkuh mu."
Rain dapat merasakan garis tulang selangka Sunny yang indah itu, oh ayolah Rain ingin terus bergerak ke bawah dan menyentuh lekukan indah yang sampai saat ini masih Sunny sembunyikan darinya. Ia sempat merasakannya kemarin, terbungkus bra, begitu pas di tangannya dan terasa penuh. Sunny, please...
Oh, Rain sudah sangat menanti ketika Sunny malah meletakkan tangannya ke tepi bathtub tanpa membiarkannya menyentuhnya lebih banyak lagi.
"Jangan begitu kejam padaku..." Suara Rain terdengar putus asa.
"Menyentuhnya tanpa melihatnya bukannya itu lebih menyiksa?"
Rain menarik nafas dalam sekali lagi entah sudah yang ke berapa kali. "Maka biarkan aku melihatmu."
"Ok!"
__ADS_1
Rain langsung membuka kedua matanya ketika ia mendapatkan persetujuan dan wajah cantik Sunny langsung menyambutnya tapi pandangannya tidak hanya berhenti di sana. Ia menurunkan pandangannya, menyusuri leher yang sebelumnya ia sentuh tanpa bisa merengkuhnya. Itu adalah penyiksaan baru bagi Rain tapi sialnya ia menikmatinya, barulah pandangannya turun ke tempat yang seharusnya. Sorot matanya terus bergerak turun menuju sesuatu yang sangat ingin ia lihat sejak tadi tapi busa-busa sialan ini mengganggunya.
"Kamu mempermainkan ku dengan baik!" Rain menggeram kesal sementara Sunny tertawa puas.
Gadis itu kemudian mengangkat kakinya, ia menahan Rain yang ingin bergerak mendekatinya. Kini telapak kaki Sunny sudah berada di perut Rain dan pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu justru ia menjadikan kesempatan itu untuk mengecup punggung kaki Sunny dan membuat gadis itu terkejut setengah mati. "Rain!" Sunny menjerit ketika Rain menahan kakinya yang ingin ia tarik.
Rain memegangi pergelangan kakinya dan mengangkatnya sedikit naik hingga bertumpu pada bahu besar Rain. "Sudah cukup bermain-main, sayang."
Kini giliran Sunny yang menelan saliva-nya, ia berpegangan pada tepi bathtub saat Rain mengecup setiap inci kakinya dengan penuh gairah dan terus bergerak mendekat.
"Rain..." Kini panggilan itu terdengar seperti sebuah ******* ketika bibir Rain bergerak semakin naik.
Rain menghipnotisnya dengan tatapannya saat pria itu membuatnya lengah dan entah bagaimana caranya Rain menanggalkan ****** ******** dan membuangnya begitu saja ke lantai.
Sontak Sunny terkejut dengan aksi Rain terlebih pria itu semakin mendekat. "Aku membuatmu takut?" tanya Rain dengan lembut.
"Ya... Sedikit, posisi ini terlalu menantang dan aku belum berpengalaman." jawab Sunny dengan gugup.
"Kemana perginya gadis liar yang menyiksaku tadi?" tanya Rain menyeringai sambil mengangkat dagu Sunny dengan ujung jarinya.
"Mungkin dia sudah kabur?" Sunny menjawab dengan putus asa hingga membuat Rain tertawa, terlalu sulit menghadapi istrinya ini bahkan ekspresi menggemaskannya juga menyiksanya.
"Kalau begitu aku akan mengejarnya, katakan padanya untuk menunggu ku karena sekarang aku akan membuatmu mabuk kepayang lebih dulu."
Itu adalah peringatan dan Sunny belum sempat membangun pertahanannya karena Rain sudah menyerang lebih dulu.
Rain melepaskan kaki Sunny yang semula tertekuk di atas bahunya bukan untuk membiarkan gadis itu kabur tapi untuk memastikan jarak diantara mereka menghilang lalu setelah itu merengkuh wajah Sunny dengan kedua tangannya. "Aku akan membuatmu kesulitan bernafas!"
Bisikan itu membuat Sunny bergidik ngeri, sorot mata Rain telah berubah, menggelap di penuhi gairah yang sudah tidak terbendung, menghipnotisnya untuk tidak lagi melihat ke sana dan memejamkan kedua matanya lalu membiarkan Rain menciumnya sepuas yang suaminya itu inginkan meskipun ia harus kesulitan bernafas tapi Sunny bersedia menerimanya.
__ADS_1
Sisi liar Rain membuat Sunny menggila, pria itu tidak menahan dirinya sedikitpun dan melakukan apapun yang ia inginkan hingga membuat Sunny mabuk kepayang.
***