
>>> Sunny POV<<<
"Jangan takut, gue disini..." Rain berucap setelah berhasil meraih tanganku dan memutar tubuhku hingga aku tidak begitu merasa kesakitan ketika tubuhku menyentuh dinginnya air laut setelah terjatuh dari kapal pesiar yang sangat tinggi.
Ditengah sisa kesadaranku, aku yang tidak dapat berenang, mulai kehabisan nafas kini.
sementara itu tubuhku semakin terhempas dalam, mungkin aku akan segera mati karena rasanya nafasku sudah diujung tenggorokanku.
Aku masih bisa mengingat bagaimana Rain menggapai tubuhku dan memelukku erat sebelum kami terjatuh dan dia melepaskan ku.
Setidaknya aku tahu bagaimana rasanya di peluk. Sangat hangat dan menenangkan.
Mami, Papi, maafkan aku... Aku harusnya mendengarkan kalian...
Kini aku hanya dapat merasakan ujung nafasku yang mencekik ku semakin kencang, akan lebih baik jika Rain datang memelukku saat ini setidaknya aku dapat mati dengan merasakan kehangatan sebuah pelukan.
...
>>> Author POV<<<
Kesadaran Sunny telah hilang, Rain yang juga tenggelam tidak jauh dari Sunny akhirnya kembali mendapatkan kesadarannya, ia segera berenang mencari Sunny dan gaun putihnya membuatnya dapat terlihat dengan mudah.
Walaupun Rain merasa jika dadanya sudah dipenuhi oleh air, Rain masih berusaha untuk berenang membawa tubuh Sunny kepermukaan hingga akhirnya mereka dapat menghirup udara setelah Rain berhasil menjangkau permukaan air.
Rain hampir kehabisan nafas, sementara Sunny sudah tidak sadarkan diri. Rain masih berusaha tetap berenang agar tidak kembali tenggelam sambil memegangi Sunny di sisa tenaganya ia melihat ke arah kapal mereka yang sudah berlayar cukup jauh meninggalkan mereka.
Para berandal sialan itu...
Rain mengeratkan giginya karena begitu kesal namun sekali lagi keadaan Sunny membuatnya harus berusaha berenang mengarungi lautan yang sama sekali tidak terlihat pesisir pantai.
Sejauh mata memandang, yang Rain lihat hanyalah hamparan lautan.
__ADS_1
"Bertahanlah..." Ucap Rain sebelum kembali berenang, kemanapun kakinya mengayuh ke depan dan berharap ia dapat menemukan sebuah pulau agar dapat segera menepi karena tubuhnya sudah sangat kelelahan terlebih dengan luka lebam dan memarnya terasa sangat perih setiap kali laut menyibakkan ombaknya.
Kepala Rain sudah begitu pusing dan ia nyaris kehilangan kesadarannya namun ia berusaha untuk tetap bertahan hingga akhirnya sebuah pulau kecil terlihat.
Pulau itu seperti pulau tidak berpenghuni namun Rain tidak perduli, yang terpenting ia dapat segera menyentuh permukaan tanah karena hempasan ombak laut semakin kencang mengombang-ambingkannya yang sudah sangat lemas sembari terus memegangi Sunny erat.
"Bertahanlah..." Ucapnya setelah meletakan tubuh Sunny diatas hamparan pasir.
Dengan sisa tenaganya, Rain berusaha melakukan CPR kepada Sunny, beberapa kali ia menekan dada Sunny namun sama sekali tidak bereaksi.
Wajah Sunny sudah terlihat pucat pasih, dengan menempatkan telinganya didekat hidung Sunny, Rain masih dapat mendengarkan embusan nafas pendek Sunny.
"Bertahanlah, gue mohon bertahanlah..." Rain semakin panik, tubuhnya bergetar. Beberapa saat ia menatap wajah cantik Sunny sebelum akhirnya memutuskan memberikan nafas buatan kepada Sunny.
Sekali, dua kali dan hingga akhirnya Sunny memuntahkan air yang sebelumnya ditelannya.
Kini Rain dapat bernafas lega tapi tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit serta kelelahan hingga akhirnya Rain juga kehilangan kesadarannya tepat disebelah Sunny.
***
Namun suara dering ponsel itu terlalu keras terdengar hingga memaksa Rosa untuk terbangun dan meraih ponselnya yang terletak di atas meja.
"Sunny gak pengertian banget sih..." gerutu Rosa sambil menyeka matanya yang gatal ia mengomel namun setelah ia melihat layar ponselnya dengan jelas, akhirnya kesadaran Rosa kembali sepenuhnya.
Bukan Sunny yang menghubunginya melainkan ibu dari Sunny. Dengan menarik nafas dan berusaha mengembalikan suara normalnya, akhirnya Rosa mengangkat panggilan telepon dari, Sarah, ibu Sunny.
"Halo, Tante.." Sapa Rosa dengan ramah.
"Rosa, apa Sunny ada sama kamu sekarang? Sejak siang tadi, Tante gak bisa menghubunginya." tanya Sarah dibalik telepon sana yang terdengar sangat gelisah.
"Aku lagi gak sama Sunny Tante, tapi aku akan segera cari dia dan suruh dia segera hubungin Tante. Tante tenang aja ya..." Jawab Rosa, sebenarnya sejak siang tadi ia juga tidak melihat keberadaan Sunny, dan kini ia juga merasa sedikit cemas.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Rosa segera memunguti pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya dengan cepat.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Alvin yang terbangun karena pergerakan Rosa yang tergesa-gesa.
"Ibu Sunny baru aja telpon, katanya Sunny gak bisa dihubungin dari tadi siang."
"Jadi kamu mau cari dia?"
"Iya dong!"
"Tapi kita masih belum selesai lagian Sunny udah besar kan."
"Alvin, please!"
Alvin sebenarnya merasa enggan namun, ia memutuskan untuk beranjak bangun dan memakai kemejanya kembali.
"Ya udah, aku akan bantu kamu juga cari Sunny." Ucap Alvin setelah ia selesai memakai semua pakaiannya.
Rosa mengangguk, ia mulai mencari Sunny di kamarnya namun kamarnya kosong, ia lantas mencarinya ke setiap sudut kapal namun tetap tidak dapat menemukannya, kini Rosa benar-benar merasa panik hingga ia ingin menangis saat ini juga.
"Gimana ini?" tanya Rosa bingung, Alvin yang juga merasa cemas dengan keberadaan Sunny terdiam dan berpikir sejenak.
"Coba kita cari di kamera pengawas." Ajak Alvin, Rosa mengangguk setuju dan mereka segera pergi keruang pengawas CCTV.
Disana, Rosa dan Alvin melihat seluruh layar pengawas di kapal itu yang ternyata tidak ada penjaga yang mengawasinya.
Setelah melihat semuanya, mereka menyadari jika Sunny benar-benar menghilang. Kini Rosa benar-benar telah menangis.
"Jangan panik, sayang. Tadi aku dapat info ada yang ngeliat Sunny sekitar jam 12 siang, coba kita cari sekitar jam segitu. Mungkin kita bisa nemuin dimana keberadaan Sunny."
Alvin mulai menggunakan kemampuannya sebagai seorang mahasiswa jurusan teknologi dan segera mencari Sunny dan betapa terkejutnya mereka melihat Sunny terjatuh kedalam laut disusul oleh seorang pria.
__ADS_1
"Sunny..."
.....