My Secret Marriage

My Secret Marriage
Semua berbeda setelah bertemu dengan mu


__ADS_3

"Kamu bisa mati kalau kecelakaan."


"Aku berharap begitu tapi sampai detik ini aku selalu baik-baik aja."


Sunny terperangah, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari bibir suaminya itu.


"Kamu kepengen mati?" tanya Sunny menegaskan, kedua matanya sudah memanas, ia ingin menangis begitu mendengar alasan mengerikan itu.


Rain tidak menjawab, pria itu hanya diam dan menundukkan wajahnya tapi sedetik kemudian Sunny memeluknya dengan sangat erat.


"Bahkan setelah kenal aku kamu masih mau mati?" tanya Sunny tanpa melepaskan pelukannya, ia mendongakkan wajahnya dan memperlihatkan wajahnya dan mulai menangis.


Rain tersenyum tipis, ia menyeka air mata yang membasahi sudut mata Sunny lalu mengangkat tubuhnya hingga ia duduk di atas meja dapur.


"Kenapa nangis?" tanya Rain dengan lembut sambil menyeka air mata Sunny.


"Aku gak mau jadi janda," jawab Sunny yang masih terus menangis. "Please, Rain... Jangan balapan lagi."


"Kamu gak tau seberapa hebatnya aku di jalanan!" Rain membujuk dengan sedikit menyombongkan diri.


"Aku gak perduli, mau mereka sebut kamu sebagai dewa jalanan juga aku gak perduli, kalau niat kamu cuma mau mati, aku gak akan rela kamu balapan. Aku gak mau kehilangan kamu..."


Ucapan Sunny dan tangisannya yang tulus membuat hati Rain tersentuh, ia menyeka air mata yang membasahi wajah cantik istrinya itu lalu mengecup keningnya dengan lembut.


"Aku gak akan mati, gimana bisa aku mati dan ninggalin istri aku yang cantik ini sendirian." ucap Rain setelah melepaskan kecupannya, "Makasih, berkat kamu... Aku jadi ingin terus hidup."


"Janji kamu gak akan balapan lagi?"


Rain tidak menjawab janji itu tapi ia mencium bibir Sunny setelahnya sebelum gadis itu memaksanya untuk mengikat janji dengannya.


Sunny tidak mengerti kenapa Rain tidak mau membuat janji dengannya, ciuman yang diberikan Rain sama sekali tidak membuat Sunny merasa tenang bahkan hingga ciuman ini akhirnya terlepas tanpa sedikitpun ia membalas.


"Kenapa?" tanya Rain dengan lembut karena Sunny menutup mulutnya rapat-rapat dan sama sekali tidak membalas ciumannya.


"..." Sunny tidak menjawab, ia bahkan memalingkan wajahnya sekarang.


"Sayang..." panggil Rain sekali lagi sambil menyentuh wajah Sunny.


"Kamu marah?"


"Aku gak habis pikir, kenapa kamu pingin mati? Kalau begitu kenapa dulu kamu ngelawan pas mau di bunuh?"


"Soalnya aku udah ketemu kamu."

__ADS_1


Sunny akhirnya kembali menatap Rain, pria yang saat ini menatapnya begitu lembut yang sepertinya telah membuatnya jatuh cinta dengan begitu mudah.


"Aku gak mau kamu kehilangan jodoh kamu ..." Rain berkata lagi, kali ini ia berhasil membuat Sunny tersenyum lalu memukul bahunya pelan.


"Jangan gombal kamu..."


"Beneran... Aku kan udah bilang kalau aku tertarik sama kamu sejak awal sayangnya kamu galak ke aku."


"Ih, Rain!" Sunny memukul bahu Rain sekali lagi tapi kali ini Rain menangkap tangannya sebelum Sunny memukulnya lebih banyak karena salah tingkah.


Kedua mata Rain menghipnotis Sunny hingga Sunny kembali merasa gugup hanya karena Rain tidak melepaskan sorot matanya sedikitpun.


"Kalau aku cium lagi dibales gak?"


Wajah Sunny seketika memanas, semburat kemerahan langsung muncul merebak di pipinya hingga Rain tidak bisa menahan rasa gemasnya dan langsung mengecup kedua pipi itu bergantian hingga Sunny membeku sementara senyuman di wajah Rain mulai berganti dengan keinginan yang dalam.


Rain mungkin sudah tidak tersenyum tapi sorot matanya menunjukkan segala keinginannya terlebih saat kedua matanya bergerak menatap bibir Sunny yang sudah lebih dulu mengirimkan sinyal ke otaknya jika bibir itu akan terasa lembut dan juga manis.


Sunny menahan nafasnya saat Rain bergerak semakin mendekat hingga tubuh Rain berada diantara kedua kakinya. Rain kemudian menyentuh tengkuk Sunny, menatap kedua matanya sekali lagi baru lah ia mendaratkan ciumannya ke bibir Sunny.


Kedua mata Sunny secara otomatis langsung terpejam merasakan sengatan manis yang ia dapatkan dari ciuman yang diberikan oleh Rain pada bibirnya.


Perlahan Sunny mengalungkan kedua tangannya di leher Rain, dan membiarkan pria itu menguasai bibirnya hanya saja kali ini ia tidak sungkan untuk membalas ciuman itu bahkan Sunny juga membuka mulutnya hingga Rain dapat leluasa mengaksesnya dan menyelipkan lidahnya ke dalam.


Sunny mendongakkan kepalanya ketika Rain mulai mengecup leher jenjangnya, memberikan gigitan kecil yang menyengat hingga seluruh tubuh Sunny menegang.


Rain baru akan membuka tali blues yang dikenakan oleh Sunny agar dapat menjelajah lebih jauh lagi tapi suara ketukan pintu berhasil menghentikannya.


Mereka saling berbagi tatapan bingung setelah itu tapi pintu kembali terketuk hingga terdengar suara yang memanggil dari luar.


Akhirnya Rain segera menurunkan Sunny dan merapihkan penampilan Sunny yang hampir kacau karena ulahnya barulah ia melangkah menuju pintu sementara Sunny masih mencoba menenangkan dirinya karena tubuhnya masih terasa terbakar akibat ciuman tadi.


Suara ketukan pintu terdengar semakin tidak sabaran, Rain akhirnya membuka pintu.


"Beneran udah ada orangnya..." Wanita yang terlihat berusia enam puluh tahunan itu langsung menepuk bahu pria yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya itu di saat pria itu terlihat hendak pergi


Pria tua itu lantas melangkah kembali ke depan pintu.


"Cari siapa pak, Bu?" tanya Rain dengan sopan meskipun ia masih merasa canggung.


"Mas yang beli rumah dua hari yang lalu itu?" Pria itu bertanya untuk memastikan.


"Iya pak."

__ADS_1


"Masih muda ya..." wanita tua itu terdengar bergumam seolah tidak percaya.


"Siapa Rain?" tanya Sunny yang melangkah menghampiri Rain. Kemunculan Sunny berhasil membuat mereka berdua terkejut.


"Begini, saya Madi, ketua RT disini, ini istri saya, Mia." Akhirnya pria itu memperkenalkan dirinya.


"Saya Rain, ini Sunny..." sahut Rain memperkenalkan diri berserta Sunny.


"Begini, saya dititipin amanat sama pemilik rumah ini sebelumnya buat urus-urus surat balik nama sertifikat."


"Oh iya pak, pemiliknya kemarin ada bahas. Silahkan masuk pak, tapi maaf belum ada perabotannya soalnya kita baru mau beli." ucap Rain sambil mempersilahkan mereka masuk dengan perasaan canggung yang semakin jelas terlihat, mereka lantas masuk.


Tidak ada yang memulai pembicaraan setelah itu hingga suasana menjadi semakin canggung.


"Maaf ya bukannya kami lancang, tapi mas Rain sama mba Sunny yang bakalan tinggal disini atau salah satu dari kalian?" tanya Bu RT dengan sedikit ragu-ragu.


"Kita berdua yang bakalan tinggal disini Bu." jawab Sunny yang mencoba untuk tetap ramah walaupun sikap yang di tunjukkan oleh Mia terasa lain.


"Maaf ya sekali lagi, tapi apa kalian udah menikah?" kini giliran pak RT Yanng bertanya.


"Ya?"


"Begini, kayaknya kalau kalian tinggal bareng tanpa menikah itu bakalan sulit soalnya kami para tetangga gak akan mengijinkan, mengingat itu dosa besar..."


Rain dan Sunny saling berbagi pandangan, ini kah sebabnya Pak RT dan Bu RT terlihat canggung dan ragu-ragu? Rain dan Sunny seketika tertawa.


"Kami udah menikah pak, Bu..." jelas Rain sambil menunjukkan cincin nikah mereka dan sontak membuat Pak RT dan Bu RT tersenyum lega.


"Boleh kita liat kartu nikahnya?" tanya Pak RT sekali lagi, Rain lantas mengeluarkan dompetnya lalu mengambil kartu nikahnya begitu juga dengan Sunny.


"Beneran udah nikah padahal kayak masih belum lulus kuliah." komentar Bu RT setelah melihat kartu nikah Sunny dan Rain.


"Kita emang masih baru nikah Bu, masih kuliah juga." jawab Sunny yang akhirnya tidak merasa canggung lagi.


"Walah... Gak apa-apa daripada zinah mending nikah yang penting tanggung jawab pernikahan itu ada di kedua belah pihak. Kalau ada apa-apa jangan ragu bilang ke kita, anggap aja kita orangtua kalian disini, karena gimanapun saudara terdekat itu tetangga." akhirnya Bu RT menunjukkan keramahannya yang semula tertahan rasa khawatirnya.


"Iya pak, Bu. Terima kasih..." jawab Rain dan Sunny yang akhirnya bisa tersenyum lega setelah sebelumnya merasa tegang.


"Ya udah, kayaknya bicara sambil berdiri gini kurang nyaman. Nanti kalau kalian udah resmi pindah disini, hubungin aja kami, kita bahas suratnya bisa disini atau di rumah saya. Dua rumah setelah rumah ini itu rumah kami." jelas Pak RT yang langsung berpamitan setelah itu.


Setelah kepergian mereka, Rain dan Sunny hanya bisa tertawa malu tapi hanya sebentar karena setelah itu Rain kembali memberikan tatapan yang membuat Sunny bergidik ngeri.


"Kita masih belum selesai kan, sayang?"

__ADS_1


**


__ADS_2