
*Gelap, penglihatan ku kabur dan aku sama sekali tidak dapat bernafas, yang aku rasakan hanya sekujur tubuhku terasa sangat dingin, mungkin ajal ku sudah semakin dekat.
Harusnya aku tidak pernah pergi, harus menuruti ibu ku yang melarang ku pergi.
Dan apakah aku akan benar-benar pergi dengan cara seperti ini?
Aku ingin menangis namun tidak bisa, keadaan ini terlalu mencekik ku.. Tolong aku, siapapun.. Tolonglah aku..
Nafasku sudah berada diujung tenggorokanku*
"Detak jantung pasien semakin melemah." lapor perawat yang mengawasi layar monitor yang mengontrol tekanan jantung Sunny kepada dokter yang saat ini tengah menangani Sunny yang baru saja mengeluarkan air yang memenuhi paru-parunya.
Dokter lantas menyuruh beberapa perawat untuk menyiapkan alat kejut dan mulai menempelkannya keatas dada Sunny hingga tubuhnya terkejut beberapa kali namun detak jantungnya masih saja lemah, semakin melemah hingga dokter harus menambahkan daya tekanan di alat pacu jantung yang saat ini dipegangnya.
"Bertahanlah..." samar-samar suara itu terdengar jelas ditelinga Sunny.
"Kita pasti akan selamat..." sekali lagi suara itu kembali terdengar ditelinga Sunny seperti sebuah permohonan dan sedetik kemudian mata Sunny terbuka lebar, ia telah kembali mendapatkan kesadarannya dan detak jantungnya perlahan kembali normal.
"RAIN!!!" nama pertama yang diingatnya adalah nama pria itu, Sunny mengingat bagaimana pria itu ikut terjun dan menggapainya, dia menyelamatkannya.
Dokter dan perawat yang berada di dalam ruangan tertegun sejenak, baru saja tepat satu menit yang lalu, detak jantung Sunny berhenti berdetak namun tiba-tiba ia terbangun, sungguh sebuah keajaiban.
"Rain... Dimana Rain?" tanya Sunny dengan gusar.
__ADS_1
Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan ada ruangan yang dibatasi kaca buram di ruangan yang sama dengannya.
Walau tidak begitu jelas, Sunny dapat melihat kerumunan orang disana.
"Apa Rain ada disana? Apa dia baik-baik aja? Kenapa kalian gak menjawab pertanyaan ku dan cuma diam aja?!" teriak Sunny, teriakannya cukup kencang dan histeris, ia bahkan telah menangis kini.
Di luar ruangan, kedua orang tua Sunny dan Rain yang masih menunggu begitu terkejut mendengar teriakan Sunny tanpa menunggu, Hamid segera menerobos masuk dan mendapati putrinya tengah terduduk lemah dengan air mata membasahi wajahnya.
"Sunny..." Hamid segera menubruk tubuh Sunny dan memeluknya erat.
"Syukurlah kamu selamat nak, papi sangat khawatir..." ucapnya menangis, Sarah yang ikut masuk juga tidak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk putri satu-satunya itu sangat kencang.
"Mami bersyukur sekali kamu selamat nak..." Ucapnya menangis haru.
"Dimana, Rain? Apa dia selamat?" tanya Sunny, seperti kehilangan akal, walau terjatuh dan kakinya sangat lemas hingga ia berjalan dengan gontai, Sunny tetap berusaha untuk berlari menerobos ruangan dimana Rain ditangani.
Kini Kedua orangtuanya juga kedua orangtua Rain benar-benar telah yakin jika Sunny dan Rain memiliki hubungan istimewa melihat bagaimana Sunny begitu gelisah dan mengkhawatirkan keadaan Rain.
Dokter tidak memperdulikan keadaan pintu yang terbuka dengan kasar, ia masih sibuk memeriksa keadaan Rain. Luka yang dia dapatkan akibat dipukuli oleh pria misterius di kapal tadi pagi membuat kondisinya sangat kritis.
Seperti yang dialaminya baru saja, Rain tengah mendapatkan tekanan dari alat pacu jantung.
Sunny melangkah lemas, ia mendekat dan menatap wajah tidak berdaya Rain yang pucat.
__ADS_1
Mereka bertemu tidak sengaja beberapa hari yang lalu dan pria ini telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya.
"Rain..." panggil Sunny dengan lirih, tubuhnya bergetar melihat kondisi Rain saat ini.
"Please bertahan, Rain... Loe yang minta gue buat bertahan bertahan kan?!" teriak Sunny yang tidak kuasa menahan tangisnya sambil mengusap kepala Rain.
Teriakan Sunny terdengar hingga keluar, rasa sedih semakin terasa hingga Rini harus bersandar sambil menangis pedih di pelukan Richard yang hanya dapat berdoa yang terbaik untuk keselamatan putranya.
"Dasar beg*, kalau loe gak sadar gimana gue bisa ngelewatin semuanya!" Sunny menangis terisak-isak, air matanya menetes membasahi bibir Rain.
"Bangun, Rain... Kalau loe sadar gue janji gak akan jutek lagi sama loe."
"Serius?"
"Iya, gue akan tersenyum setiap hari saat ngeliat loe..."
Sunny terdiam sejenak, apa ia baru saja tidak salah dengar, seseorang bertanya padanya?
Dan suara itu adalah milik Rain!
Dengan sedikit ragu, Sunny mengangkat kepalanya dan ternyata Rain sudah membuka matanya.
.....
__ADS_1