My Secret Marriage

My Secret Marriage
Tanggung jawab pernikahan


__ADS_3

Sunny menoleh menatap wajah Rain, ada yang salah dengan ekspresinya sekarang karena dia terlihat marah dan itu membuat Sunny takut untuk bicara.


Rain meletakkan gelas berisi air putih yang sebelumnya Sunny pegang ke atas meja. Ia lantas berjalan menghampiri Sunny yang kini duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa kamu keluar sendirian?" tanya Rain yang masih terlihat kesal.


"Aku haus, gak ada air disini." jawab Sunny jujur.


"Harusnya kamu bangunin aku."


"Udah kok, tapi kamu cuma jawab hmm begitu."


Rain menghela nafas, ia lantas menyeka wajahnya dengan kasar lalu sedetik kemudian ia memeluk Sunny erat-erat


"Maaf..." ucapnya pelan.


Perlahan Sunny membalas pelukan Rain, sebenarnya apa yang dikhawatirkan Rain?


"Aku tau rumah kamu besar, tapi aku gak mungkin nyasar, Rain..." ucap Sunny yang berhasil membuat Rain tertawa.


Rain akhirnya melepaskan pelukannya, ia menatap Sunny yang tetap cantik bagai ampun penampilannya.


"Mau tidur lagi?" tanya Rain dengan lembut.


"Mau, aku masih ngantuk..."


"Ya udah buka baju kamu."


"Hah?"


Sunny langsung bergeser menjauh. Ia tahu hubungannya dengan Rain sudah semakin dekat tapi ini pertama kalinya Rain begitu frontal padanya.


Memintanya membuka baju? Oh Tuhan, Sunny tidak yakin ia akan bisa tidur malam ini jika menuruti kemauan suaminya itu.


"Maksud aku tukar baju kamu sama piyama biar nyaman."


Oh, untunglah ...


"Kan gak bawa, adanya gaun tidur."


"Ya udah pake itu aja ..."


"Gak ah!"


"Kenapa?"


"Lebih nyaman pake baju kamu."


Sunny mungkin tidak tahu tapi ucapannya berhasil membuat Rain kembali tegang.


Rain lantas beranjak bangun, ia melangkah menuju lemari pakaiannya dan mencari pakaian yang bisa Sunny gunakan agar ia bisa tidur dengan nyaman.

__ADS_1


Setelah beberapa saat memilih, Rain kemudian memberikannya pada Sunny. Tidak butuh waktu lama bagi Sunny berganti pakaian.


Sunny melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan baju lengan panjang yang kebesaran dan celana olahraga yang terus merosot jika saja ia tidak memeganginya.


"Ini kebesaran, Rain!" gerutu Sunny seraya mendekat.


Rain kemudian menarik pinggang Sunny agar lebih dekat lagi dengannya. "Mau apa?" tanya Sunny gugup tapi Rain tidak menjawab, dengan tenang ia mengikat tali celana olahraga itu agar pas di pinggang Sunny yang mungil.


"Angkat sedikit bajumu." pinta Rain, dan dengan ragu-ragu Sunny mengangkat baju yang ia pakai hingga pinggangnya sedikit mengintip barulah Rain leluasa mengikat celananya.


"Segini pas?" tanya Rain memastikan.


"Ya..." jawab Sunny yang setengah mati menahan gugup.


"Ayo tidur lagi..." ajak Rain sambil mendongak menatap wajah istrinya itu. "Besok kita harus bangun pagi, liat rumah terus beli perabotan jadi kita harus istirahat cukup."


"Emangnya kamu beli rumah yang gak termasuk perabotannya?"


"Ya, aku udah terlanjur beli rumah tanpa tanya pendapat kamu lebih dulu, jadi seenggaknya aku mau kamu yang ngatur interiornya."


"Boleh juga, meskipun aku calon desainer pakaian, kayaknya selera aku gak buruk-buruk banget lah buat interior."


"Bagus!"


Sunny akhirnya tersenyum, ia mengecup singkat kening Rain sebelum kembali naik ke atas tempat tidur. "Mimpi indah sayang ..." gumamnya setelah memastikan selimutnya menutupi tubuhnya dengan nyaman, ia tidak tahu dampak yang sudah ia berikan setelah mencium kening Rain karena sekarang pria itu membeku di tempatnya, belum lagi panggilan sayang yang berhasil menambah kegugupan yang Rain rasakan karena pernikahan ini terasa semakin nyata.


"Mimpi indah ..." jawab Rain pelan. "...Sayang!" gumamnya setelah ia mengumpulkan kewarasannya dan memeluk tubuh Sunny dengan erat.


***


"Motor?" Sunny nyaris tidak percaya dengan apa yang di lihatnya ketika Rain membawanya ke sebuah bengkel dan menunjukkan motor sport yang baru selesai dimodifikasi.


"Ini motor kamu?" tanya Sunny yang masih bingung karena seorang montir memberikan kunci motor itu pada Rain.


"Iya..." Jawab Rain yang masih memperhatikan setiap sisi motornya dengan saksama.


"Tenang aja bos, semua udah sesuai sama permintaan bos!" ucap montir itu dan Rain menganggukkan kepalanya tanda jika ia puas dengan hasilnya.


"Ngomong-ngomong siapa tuh bos? Pacar?"


"Istri!"


"Wah si bos nikah gak ngundang-ngundang."


"Nanti lah, kalau rumah gue udah rapih, kalian gue undang makan."


"Mantap, di tunggu undangannya." tukas montir itu yang kemudian pergi karena ada pelanggan yang baru datang.


"Mereka kok panggil kamu bos?" tanya Sunny bingung karena keempat montir yang ada di bengkel ini terlihat segan padanya.


"Karena ini bengkel aku."

__ADS_1


"Udah punya bengkel kenapa mesti kerja lagi sama papa?"


"Kalau gak kerja aku gak bisa bawa menantunya ini tinggal di rumah yang aku beli dong."


"Tapi kamu kan jadi cape..."


"Ya gak apa-apa, kan aku mau kasih nafkah kamu..."


Sunny tersenyum mendengar jawaban Rain, merasa tersentuh karena Rain benar-benar bertanggung jawab dengan pernikahan ini.


"Jadi kita pergi naik motor?"


"Kenapa? Kamu takut naik motor?"


"Gak sih, cuma kaget aja. Aku pikir kemana-mana kamu naik bus. Dulu pertama kali kita ketemu kan di dalam bus."


"Itu karena motornya masih di modif jadi aku naik bus, siapa sangka bakalan ketemu jodoh."


Sunny tersipu malu mendengar Rain membahas tentang jodoh. Rasanya takdir yang mengikat mereka sungguh manis hingga mereka berakhir dalam pernikahan ini dan semuanya begitu mengalir dengan lembut termasuk hubungannya dengan Rain yang begitu saja mengalirkan kemesraan yang tidak terbendung tanpa sedikitpun rasa canggung hingga pernikahan ini terasa lebih mudah.


Rain lantas memakaikan helm untuk Sunny. "Sedikit kebesaran, nanti aku beliin helm khusus buat kamu."


"Ok, jadi nanti kita ke kampus naik motor dong."


"Iya..."


"Cool! Tapi kamu kan mulai kerja Minggu depan."


"Kan masih bisa antar kamu sambil berangkat kerja, aku ambil kelas sore jadi kita bisa pulang bareng."


"Double cool!"


Rain tertawa, Sunny sungguh menggemaskannya sayangnya helm ini menghalanginya untuk mencubit pipinya yang kenyal itu.


"Berarti kamu udah setuju kan kalau kita gak ngerahasiain pernikahan ini?" tanya Rain setelah ia memakaikan helmnya.


"Masih harus!"


"Kenapa gitu sayang? Orang-orang juga bakal liat kita pulang pergi bareng kan?"


"Tapi kan bisa bilang cuma temenan?"


"Gak ada temen yang antar jemput setiap hari."


"Ada kok, dulu waktu SMA aku diantar jemput sama temenku setiap hari, naik motor juga kayak kamu."


"Siapa?"


"Ya?"


"Siapa temen yang kamu maksud?"

__ADS_1


***


__ADS_2