
Rain terus menggenggam tangan Sunny erat-erat, suasana tegang tidak dapat terhindarkan apalagi aura kuat terpancar dari ekspresi Richard yang menatap Rain tajam dan Rain sama sekali tidak gentar karena ia juga menunjukkan ekspresi yang sama kuatnya.
Jika Rain tidak mengatakannya sejak awal jika Richard adalah ayah tirinya maka Sunny akan beranggapan mereka adalah ayah dan anak yang sangat mirip.
"Pah..." Rini yang saat ini berdiri di sebelah Richard yang duduk di balik meja kerjanya terlihat mencoba menenangkan suaminya itu tapi hanya dengan lirikan mata yang terlihat tidak senang mampu membuat Rini kembali melangkah mundur.
Kemana perginya atmosfer keluarga hangat yang bahagia yang sebelumnya mereka tunjukkan ketika mengunjunginya dan Rain di villa, Sunny sungguh tidak mengerti dengan situasi ini.
"Tidak bisa, papa tidak setuju." Singkat dan jelas, seolah tidak boleh ada bantahan.
"Aku berniat tingga di rumah hanya berdua dengan istriku." ucap Rain yang juga tidak mau mengalah.
"Rumah seperti apa? Kamu tahu Sunny itu anak saingan bisnis papa. Kalau sampai kamu buat dia hidup susah, mau di taruh dimana wajah papa, Rain!" Kini nada suara Richard terdengar tinggi, cukup mampu membuat Sunny tersentak tapi Rain mempererat genggamannya seakan menenangkan istrinya.
"Tinggal saja disini dan semuanya akan papa jamin. Kamu dan istri kamu hanya perlu fokus kuliah, sudah!"
"Aku gak bisa..."
"RAIN!!!" Richard menggebrak meja, pupil matanya terlihat melebar di balik kaca matanya. Richard sangat marah hingga wajahnya juga memerah. "Tolong jangan buat papa terlihat buruk dihadapan menantu papa." ucap Richard mengeratkan rahangnya agar nada suaranya tertahan.
"Maaf pah, tapi aku gak bisa hidup istriku juga di kendalikan oleh papa. Kami butuh privasi dan tempat ini terlalu banyak cctv hidup."
Richard menghela nafas, ia berkacak pinggang sementara Rini masih berusaha untuk menenangkannya dengan mengusap-usap bahunya.
"Kalau begitu papa akan cari rumah yang cocok untuk kalian."
"Aku sudah beli rumah."
Sunny seketika menoleh menatap Rain karena Rain sama sekali tidak mengatakan jika ia sudah membeli rumah karena kemarin masih hanya sebuah rencana.
"Rumah seperti apa?" Suara Richard terdengar lebih tenang.
"Di perumahan biasa." jawab Rain.
__ADS_1
"APA?! Rain kamu sungguh main-main dengan kesabaran papa!" Richard menunjuk Rain dengan jari telunjuknya.
"Aku yang mau!" ucap Sunny sambil memegangi lengan Rain, berusaha untuk meredam ketakutannya pada ayah mertuanya. "Aku yang mau rumah sederhana selama kami belum punya anak." jelas Sunny.
"Tapi, Sunny... Gimana kalau ayah kamu marah sama papa? Nanti ayah kamu mikir kalau papa menelantarkan menantunya!"
"Pah, Sunny sepenuhnya tanggung jawab ku. Suka atau gak suka, aku tetap akan ajak Sunny tinggal di rumah yang aku beli."
"Rain, jangan keras kepala. Papa kamu cuma mau yang terbaik untuk kalian." Rini akhirnya ikut bicara dan terang-terangan berpihak pada suaminya.
"Kami bahkan menikah di rumah sakit."
"Kamu mau papa buatin pesta pernikahan yang megah?"
"Bukan itu maksud aku... Papa terlalu ikut campur urusan pribadi aku."
Sunny masih ingat bagaimana Rain mengatakan jika papa tirinya tidak pernah meminta apapun darinya jadi ia ingin menuruti permintaannya dengan menyetujui pernikahan ini tapi sekarang yang terdengar seolah Rain sudah terlalu banyak menuruti permintaan papanya dan dia terlihat lelah sekarang.
"ITU KARENA AKU PERDULI PADAMU!"
Raihan menatap satu persatu wajah mereka lalu diam-diam tersenyum. "Ada apa mah?" Raihan bergerak mendekati Rini dan langsung memeluknya dari belakang sambil bergelayut manja, Sunny menoleh dan melihat ekspresi Rain semakin mengeras.
"Adik kamu mau ajak istrinya tinggal di tempat lain, rumah yang dia beli sendiri tapi papa gak setuju."
Raihan menyeringai dan berkata, "mungkin Rain kangen sama masa-masa dia tinggal di jalanan. Padahal mama udah susah payah buat berada di posisi ini kan?"
"Raihan..." Richard menggeram seolah tidak senang dengan ucapan putra sulungnya itu begitu juga dengan Rini karena ekspresinya berubah seolah ia sedang malu.
Raihan lantas melepaskan pelukannya, ia melangkah dengan santai dan duduk di sofa. Sementara yang lain berdiri dengan tegang tapi ia malah bersenandung riang.
"Jangan gak tahu diri, Rain... Papa ku kurang baik apa sama kamu?" ucap Raihan setelahnya, sontak membuat Rain menoleh dan menatapnya tajam.
Tangan Rain sudah mengepal, ia siap memukul Raihan tapi Sunny menahannya.
__ADS_1
"Aku akan mulai kerja di perusahaan." ucapan Rain berhasil mengejutkan Raihan dan juga Richard meskipun mereka menunjukkan ekspresi yang bertolak belakang.
"Aku gak bisa menafkahi Sunny dengan uang pemberian papa jadi mulai Minggu besok aku akan mulai bekerja."
"Jangan gila! Kamu bahkan belum lulus kuliah!" Raihan langsung protes dan beranjak bangun. Ia melangkah mendekati Rain dan menatapnya tajam. Terlihat jelas permusuhan mereka sangatlah kuat.
"Kamu harus tahu batas kemampuan mu!"
"Jangan lupa ketika papa sakit dan kamu sedang berjudi di luar negeri. Aku yang mengurus perusahaan." Rain menjawab dengan sengit.
"Kamu!" Raihan mencengkram kerah kemeja Rain, ia terlihat sangat marah sementara Rain tidak membalasnya tapi ia memberikan tatapan tajam yang intens seolah menantang.
"Sudah cukup." Richard akhirnya bicara lagi. Ia menghela nafas berat demi bisa mengontrol kekesalannya.
"Jika kamu memang sudah membuat keputusan seperti itu, papa akan menyetujuinya tapi jangan sampai mempermalukan papa didepan keluarga istri kamu." tukas Richard sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya diikuti dengan Rini.
"Ayo Rain!" Sunny menarik tangan Rain agar pergi dari ruangan ini. Sejujurnya ia takut jika Rain dan Raihan akan berkelahi dan ia tidak akan sanggup memisahkan mereka.
Rain jelas masih terlihat marah tapi Sunny terus menarik lengan Rain agar mau melangkah bersamanya. Dengan menepis tangan Raihan dari kerah bajunya, menatapnya tajam lalu melangkah pergi sambil menggandeng Sunny bersamanya.
Sebelum melangkah keluar, Sunny sempat melihat bagaimana Raihan menahan amarahnya bahkan ketika kedua mata mereka bertemu, Sunny tidak mampu melihatnya dan langsung berpaling.
...
"Maaf, ini keadaan keluarga aku yang sebenarnya." ucap Rain yang terlihat tertekan sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia duduk di tepi tempat tidur dan terus menundukkan kepalanya, terlalu malu untuk menghadapi istrinya sekarang.
Kamar besar ini terlihat megah tapi juga terasa sepi, mungkin setelah menyaksikan pertengkaran keluarga ini membuat Sunny jadi mengerti apa yang mungkin sedang Rain rasakan.
Rasanya sesak...
Sunny kemudian melangkah mendekati Rain, ia menyentuh bahu Rain lalu perlahan membawa Rain kedalam dekapannya.
"Maaf karena menjadikan mu alat agar bisa kabur dari tempat ini." ucap Rain sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sunny.
__ADS_1
"Kamu harus membayarnya seumur hidup. Jangan pernah lari dari pernikahan ini." sahut Sunny yang perlahan mengusap rambut Rain dan membelainya lembut.
***