
"Tolong hentikan aku karena aku gak bisa menghentikannya sendiri..."
Bagaimana caraku melakukannya jika aku juga terjebak dalam situasi yang membuat tubuhku membeku tapi juga terasa panas di waktu yang bersamaan seperti ini?
"Kita harus berhenti disini..." Tidak bisa, lidah ku keluh, suara ku tidak mau keluar.
Sunny hanya bisa memejamkan kedua matanya karena tidak sanggup lagi menantang tatapan mata Rain yang memabukkan, inikah yang disebut dengan pasrah?
Pasrah ketika Rain mulai menyapukan bibirnya di tengkuknya yang terasa membakar tubuhnya sehingga Sunny tidak kuasa menahan erangannya.
"Rain..." Panggil Sunny pelan berharap jika Rain akan membaca isi hatinya yang sudah pasti mustahil karena Rain tetap menjelajahi tubuhnya dengan bibirnya.
Rain butuh dihentikan, tidak mereka butuh berhenti tapi Sunny sadar jika mereka terikat dengan sangat mudah.
Darah muda, hasrat yang sulit terbendung membuat mereka terjebak dalam situasi ini.
Bukannya Rain tidak bisa berhenti tapi ia tidak ingin berhenti. Setiap bibirnya bersentuhan dengan kulit Sunny yang terasa lembut membangkitkan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya yang membuatnya terbuai. Ekspresi Sunny di bawah tubuhnya menjadikannya hilang kendali.
Ia ingin menguasai Sunny, menjadikannya miliknya seutuhnya malam ini. Bibirnya yang manis dan lembut bagaikan candu yang tidak bisa ia tinggalkan yang selalu menariknya kembali untuk menjamahnya dan menjadikannya miliknya.
Tubuh Rain semakin memanas, ia sudah meninggalkan banyak jejak kemerahan pada leher dan tengkuk Sunny yang sebelumnya mulus tapi rasanya belum puas sampai disitu, ia ingin menyentuh lebih banyak dibalik gaun tidur Sunny yang menggoda.
Ini tidak salah kan? Mereka adalah sepasang suami-istri yang sah di mata hukum dan agama kan? Ini bukanlah dosa jika ia menyentuh tubuh Sunny lebih jauh lagi kan?
Rain berkutat dalam pikirannya sendiri tanpa membiarkan wajah cantik Sunny terlepas dari tatapan matanya. Tubuhnya yang memanas membuatnya tidak kuasa untuk melepaskan bajunya dan melemparnya jauh dari tempat tidur dimana mereka berada sekarang. Sekarang nafasnya semakin tercekat apalagi saat Sunny menatap tubuhnya dengan ekspresi terkejut sekaligus tegang.
"Kamu mau menyentuhnya?" Tanya Rain dengan suara parau.
'Tidak seharusnya kita melakukan ini, Rain...
Tapi hati dan pikiranku tidak bisa sejalan karena meskipun pikiranku menolak tangan ku tetap menyentuhmu, apa ini kesalahan ku karena aku tidak bisa mencegah mu?'
Senyuman di bibir Rain terukir ketika tangan Sunny perlahan menyentuh dadanya.
"Jantungmu ..." Kedua mata Sunny membulat saat merasakan detak jantung Rain yang berdetak sangat cepat yang sepertinya juga terjadi padanya sekarang.
"Kamu membuat aku berdebar-debar..." Ucap Rain pelan, ia menyentuh tangan Sunny yang masih berada di dadanya dan membawanya dengan lembut agar ia bisa mengecupnya dengan hangat lalu sedetik kemudian ia membalikkan posisi mereka membuat Sunny berada diatas tubuhnya sekarang.
Sunny begitu terkejut sekaligus tegang, duduk diatas perut Rain sama sekali tidak pernah ia bayangkan setelah sebelumnya ia hanya merasakan bagaimana Rain menariknya kedalam pangkuannya saat mereka berebut bangku di kantin dan sekarang mereka berada di bawah atap yang sama, diatas tempat tidur yang sama dengan tubuh yang nyaris tidak berjarak saat kulit mereka bersentuhan.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Rain sambil menyelipkan rambut Sunny dibelakang telinganya agar ia dapat menatap wajah Sunny dengan lebih jelas.
"Rain ..."
"Jangan panggil aku terus tanpa mengatakan sesuatu, kamu tahu kalau aku gak dapat mengendalikan diriku jadi aku mohon jangan buat aku semakin hilang kendali karena suara mu bahkan membuatku bergairah."
"Tempat ini berbahaya bagi kita."
"Jadi kamu ingin aku tidur di kamar yang berbeda?"
Harusnya aku jawab iya tapi bibirku malah tertutup rapat seakan tidak mengijinkannya pergi dari sini. Ada apa dengan ku?
"Kalau begitu turunlah, aku gak akan memaksamu. Ini kesalahanku yang gak bisa mengendalikan diriku."
Kenapa dia begitu pengertian? Aku bukan si bodoh yang tidak sadar jika aku juga dengan sengaja membiarkannya menyentuhku tanpa sedikitpun aku berusaha untuk menolak. Rain jangan buat aku tertarik dengan mudah padamu.
"Kamu gak mau turun?"
__ADS_1
"Bukan begitu..."
"Terus? Kamu mau kita melanjutkannya?"
Sunny memejamkan kedua matanya saat merasakan tangan kekar Rain perlahan membelai punggungnya yang entah sejak kapan tangannya menyelinap ke balik gaunnya karena Sunny sama sekali tidak menyadarinya sampai tubuhnya terasa memanas sekarang karena sentuhannya.
"Rain, aku masih belum siap untuk hamil..."
Ucapan polos yang Sunny lontarkan membuat Rain tidak kuasa tertawa karena merasa gemas.
"Baiklah, aku gak akan menghamili kamu kalau begitu."
"Caranya?"
Oh Tuhan, apa gadis ini sedang mengujiku?
Semakin ia menunjukkan sisi manisnya semakin aku ingin memilikinya seutuhnya.
"Menurutmu?"
"Aku kan udah bilang kalau aku masih perawan, jadi aku gak tahu."
"Dan aku masih perjaka, tapi aku tahu... Itulah kenapa kamu harus pintar di semua mata pelajaran."
"Kamu lagi ngejek aku sekarang?"
"Iya..."
"Kalau begitu ajari aku jika kamu memang sangat pintar!"
"Jangan menakut-nakuti ku..."
"Ini gak akan menakutkan, percayalah padaku ..." Bisik Rain pelan yang membuat sekujur tubuh Sunny merinding seketika.
***
"Aku nyerah, Rain... Biarin aku istirahat!"
"Gak bisa aku belum selesai."
"Kamu gila! Kita udah dua jam ngelakuin ini."
"Ya terus kenapa? Aku masih belum selesai."
"Sialan!"
"Berhenti mengumpat, tadi kan kamu yang ingin aku ajari."
"Tapi bukan begini maksud ku!"
"Terus kamu mau kita benar-benar mempraktekkannya? Tapi aku tidak jamin untuk gak membuatmu hamil."
Sunny hanya bisa menjerit frustrasi, salah satu alasan kenapa ia ingin menjadi desainer adalah untuk mengindari pelajaran-pelajaran yang akan membuatnya sakit kepala seperti apa yang sedang Rain ajarkan padanya sekarang.
Ia sama sekali tidak menyangka jika ada perpustakaan tersembunyi di villa ini dan akhirnya membuatnya terjebak dengan buku-buku tebal tentang sistem reproduksi manusia.
"Harusnya aku tolak dia dari awal, dasar Sunny bego!" Cicit Sunny kesal.
__ADS_1
"Berhenti mengeluh, cepat kerjain soalnya kalau kamu mau cepet tidur. Jangan ngebuang waktu tidur aku terlalu banyak."
"Ya udah kita tidur aja, ngapain juga aku harus isi semua soal-soal ini? Gak guna!" Rengek Sunny kesal tapi itu justru membuat Rain tiba-tiba marah, "Gak guna katamu?"
"Ya bener kan, buat apa coba? Aku gak berada disini buat kuliah gratis dari kamu yang bahkan masih seorang mahasiswa sama kaya aku!" Sunny berteriak tidak kalah marah.
"Supaya kamu gak kasih alasan konyol saat kita mau bercinta!"
"Hah?!"
Rain memalingkan wajahnya karena merasa malu setelah tanpa sengaja mengakui jika ia sengaja menyiksa Sunny dengan buku-buku tebal hanya agar ia bisa melepaskan rasa tegang yang hampir saja membuatnya lepas kendali jika saja Sunny tidak mengajukan pertanyaan konyol yang membuatnya bisa mengendurkan sedikit ikatan gairah yang membuatnya tegang sebelumnya.
"Kamu bener-bener mau ngajak aku bercinta tadi?" Tanya Sunny tidak percaya.
"Aku cuma kebawa suasana, itu normal. Kamu juga gak ada niat buat stop aku kan?"
Itu benar, sial sekali aku juga terbuai tadi...
"Cepat isi soalnya." Ucap Rain mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.
"Gak mau, soal-soal ini buat aku sakit kepala!"
"Seenggaknya kamu harus tahu kapan masa subur kamu jadi kita bisa menunda kehamilan."
"Oh astaga, emangnya siapa yang mau bercinta sama kamu?"
"Jangan pura-pura menolak saat tubuh kita kenyataannya cocok."
Bibir Sunny kembali tertutup rapat, ia sering membaca tentang novel pernikahan kontrak tapi tidak seperti yang sedang terjadi dengannya dan Rain sekarang bahkan kesepakatan yang mereka buat tentang larangan tidur bersama seakan tidak pernah terjadi sebelumnya dan pembicaraan ini sungguh diluar imajinasinya saat membayangkan hari-hari normal tanpa sentuhan fisik setelah menikah dengan terpaksa tanpa ada cinta tapi kenyataannya berbanding terbalik sekarang.
"Buktinya hari ini kita nyaris hilang kendali, gimana hari-hari berikutnya? Aku gak yakin sama diriku sendiri, mungkin aku akan menjadi pria brengsek saat berhadapan dengan mu di lain waktu saat kita terjebak dalam situasi yang sama."
Rain kemudian beranjak bangun karena Sunny sama sekali tidak mengatakan apapun kecuali hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Isi dan serahin ke aku kalau udah selesai, satu jawaban salah sama dengan satu ciuman, ok." tukas Rain sambil lalu.
"Brengsek, itu gak adil! Menang banyak dong kamu!" teriak Sunny tidak terima sambil menatap punggung Rain yang semakin menjauh dengan kesal.
"Siapa suruh bibir kamu manis!" Sahut Rain tanpa beban sedikitpun.
"Aku doain semoga kamu sariawan besok!" teriak Sunny frustrasi.
"Makanya jangan jorok!"
"Apa hubungannya jorok sama kamu sariawan?"
"Kalau aku sampai sariawan abis ciuman sama kamu, tandanya kamu gak sikat gigi." jawab Rain kembali saat ia sudah berada diambang pintu dan tersenyum pada Sunny yang masih menatapnya jengkel.
"Dasar mesum dan gue gak jorok!!!!!" teriak Sunny yang tidak kuasa menahan kekesalannya sehingga ia tanpa ragu melemparkan buku dihadapannya ke arah Rain tapi sayangnya lemparannya tidak terlalu kuat hingga buku itu jatuh sebelum mengenai Rain.
"Tenang dong sayang, kita masih punya waktu yang panjang buat ciuman besok, santai aja, salah juga gak apa-apa kok soalnya kalau betul semua aku takut kamu kangen sama bibir aku."
Sunny sudah kehabisan kata-kata, ia hanya bisa mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi menghadapi sikap Rain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Harusnya gue tahu kalau dia itu pria mesum saat narik gue ke pangkuannya pas di kantin. Oh Tuhan, kenapa engkau menjodohkan aku yang polos dan suci ini dengan pria mesum sepertinya."
***
__ADS_1