My Secret Marriage

My Secret Marriage
Si Pencuri Perhatian


__ADS_3

>>> Sunny POV<<<


Air mengalir membasahi sapu tangan putih pemberian pria bernama Rain itu setelah aku gunakan untuk membersihkan maskara yang luntur di wajahku.


"Untung aja nodanya bisa hilang." Ucapku lega, setelah memerasnya cukup kuat hingga sapu tangan ini sedikit mengering.


"Sunny..." Oh, suara cempreng itu, suara siapa lagi jika bukan suara Rosa, sahabatku.


"Gue kira loe gak dateng, kenapa loe bolos kelas tadi?" tanya Rosa yang mengoceh setelah bertatapan muka denganku.


"Loe liat nih gara-gara hujan, sepatu, rambut, terus maskara gue berantakan! Sebagai seorang calon desainer... Gue gak bisa ngebiarin orang lain ngeliat penampilan gue yang kacau balau begini." jawabku, tidak lupa aku menunjukan bagaimana kondisi sepatuku yang kotor dan rambutku yang kusut tapi tidak dengan bulu mataku karena aku baru saja selesai membersihkannya.


Rosa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, tapi aku tahu persis apa yang akan ia katakan padaku setelah ini, dia pasti akan kembali mengoceh.


"Gimana bisa sih penampilan loe jadi begini? Mendadak miskin loe? Mobil loe kemana, beb?" tanya Rosa yang mengikuti langkahku keluar dari dalam toilet.


"Mobil gue disita bokap."


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah, karena gue bersikeras tetep pergi ikut karya wisata naik kapal pesiar ke Bali." Jawabku dengan mata berbinar.


"Ya ampun beb, loe kaya baru pertama kali aja ke Bali! itu tuh cuma Bali, deket banget beb. Gak perlu lah sampe begini, kan naik pesawat juga sama aja."


"Bodo amat! Pokoknya gue harus pergi bareng kalian naik kapal pesiar. Lagian ini tahun berapa sih, masa ortu gue masih aja percaya sama takhayul yang bilang kalo seseorang punya dua pusar kepala terus gak boleh naik kapal karena kapal bakalan mengarungi lautan sedangkan lautan punya satu pusaran jadi nanti lautnya marah terus gue ditenggelamkan sama laut! Gak masuk akal banget kan? Mama gue bilang jangan menantang laut, lagian siapa juga yang mau ngajakin laut berantem? Makanya itu gue pengen ngebuktiin sama kedua orangtua gue kalau semua ucapan mereka itu omong kosong!" Aku menjelaskan panjang lebar, mungkin terlalu panjang dan terlalu lebar aku berbicara hingga begitu aku menyelesaikan ujung kalimat yang aku katakan, kami telah tiba di kantin.


Setelah memesan makanan dan menerima pesanan kami, aku dan Rosa memilih duduk di meja di dekat jendela yang tidak banyak ditempati mahasiswa lain dan kami kembali melanjutkan percakapan kami.

__ADS_1


"Terkadang ucapan orangtua itu bisa menjadi nyata loh, beb. Lagian kan naik pesawat sama kapal pesiar sama aja, toh tujuannya sama-sama Bali." ucap Rosa menyarankan.


"Dan ngebiarin gue kesepian di pesawat tanpa bisa menikmati pemandangan laut yang indah? Gak mau! Loe juga naik kapal kan ke sananya bareng yang lain kecuali loe mau nemenin gue di pesawat."


"Gak mau gue!"


"Dasar egois!" oceh ku protes.


Rosa hanya dapat tersenyum kikuk, ia tidak lagi berani sok menasehati ku karena dia sendiri juga akan ikut karya wisata naik kapal pesiar menuju Bali dan dia melarang ku alih-alih sependapat dengan kedua orangtuaku padahal aku tahu jika dia hanya tidak ingin diganggu saat bergulat mesra di atas ranjang mewah kapal pesiar bersama dengan kekasihnya Alvin.


"Alvin juga ikut?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Iya dong! Kapan lagi gue sama dia bisa 'bersenang-senang' tanpa perlu menyamar saat menyewa kamar." Jawabnya tanpa rasa malu sedikitpun, berbicara seperti itu kepada perawan ting-ting sepertiku.


"Dasar jal*ng!" Umpat ku bergurau.


"Sialan... Loe sih beruntung karena Alvin tergila-gila sama loe sejak SMA, lah gue? Gue kan jomblo dari orok ... Gue gak bisa ngebiarin pria sembarangan nyentuh tubuh gue yang berharga ini buat cowo gak jelas di luar sana yang cuma penasaran mau icip-icip." jawabku membuat Rosa mengangguk setuju kini walaupun senyumnya menunjukan arti yang lain.


"Dulu gue begitu. Tapi sekarang lebih baik loe kuatkan iman loe, beb... Soalnya gue mencium bau-bau pria tampan bergerak mendekat ke arah kita." Ucap Rosa, tepat disaat ia habis mengucapkan kalimatnya, dan pria yang dimaksud Rosa sudah berada dihadapan meja kami.


"Udah selesai?" tanya Rain dengan nada dingin.


"Ya?" Sial, mengapa aku selalu seperti ini setiap kali dia bertanya, memasang wajah cengkok yang membuatku terlihat bodoh.


Tapi untung saja aku segera tersadar hingga aku cepat-cepat mengeluarkan sapu tangan milik pria itu dari dalam tasku.


"Masih sedikit basah... Tapi udah gue cuci bersih kok. Makasih ya." Ucapku tersenyum gugup sambil menyerahkan sapu tangan miliknya.

__ADS_1


Rain menghela nafas malas, ia tidak merespon dan hanya memasukan sapu tangan itu kedalam sakunya.


"Bukan sapu tangannya, tapi loe udah selesai makannya kan?" tanya Rain, aku mengangguk pelan. Sialan... perasaan apa ini karena aku merasa sangat canggung hingga lidahku keluh?


Rain lantas menggerakkan kepalanya dan dia terlihat jengah.


"Kenapa? leher loe sakit?" tanyaku dengan polosnya tidak mengerti arti dari gerakannya.


Rain terlihat menghela nafas malas sekali lagi dan wajahnya semakin terlihat tidak senang.


"Bukan, tapi minggir kalau udah selesai, karena gue juga pingin makan soalnya di meja lain udah penuh." jawabnya dingin, mungkin sedingin air hujan yang kini kembali mengalir deras diluar.


Aku yang awalnya gugup kini mulai merasa jengkel, dia sangat seenaknya. Pria seenaknya yang langsung aku coret dari daftar calon suami idaman ku kini.


Rasa gugup ku sirna sudah, aku beranjak bangun dengan kasar dan menatapnya sinis.


"Minggir..." Ucapku dengan nada cukup tinggi hingga membuat para mahasiswa yang kini berada di kantin ini menatap kearah kami, terlihat dia menatapku tidak senang namun aku tidak peduli.


"Rosa jagain tempat gue, karena gue masih mau beli makanan lain dan jangan biarin siapapun duduk disini!" Ucapku memberikan perintah pada Rosa yang hanya dapat pasrah kini karena aku tidak main-main dengan ucapan ku dan aku segera pergi membeli sebuah hamburger dan kembali duduk di kursi ku dan tidak lupa aku menatapnya sinis.


Dia yang masih berdiri di sana menyeringai, sebelum meletakan makanannya diatas mejaku.


"Loe punya hutang budi karena gue udah pinjemin sapu tangan gue dan gue minta imbalannya sekarang." ucapnya, ia menarik tubuhku cukup kuat hingga aku akhirnya beranjak bangun dan dia dengan cepat menduduki kursi ku.


Rosa terperangah melihat perlakuan pria itu padaku namun ia tidak berani berkomentar sedangkan mulutku sudah gatal untuk tidak mengumpat padanya.


"Hey... Itu kursi gue! Bangun gak, atau gue--" belum selesai aku berbicara, pria sinting ini telah menarik ku dan membuatku duduk diatas pangkuannya.

__ADS_1


...


__ADS_2