My Secret Marriage

My Secret Marriage
Tersegel


__ADS_3

"Jangan pernah lari dari pernikahan ini..."


Rain perlahan mendongakkan wajahnya, wajah Sunny yang tersenyum hangat langsung menyambutnya.


"Hibur aku..." Pinta Rain, sisa air matanya masih membasahi pipinya dan dengan lembut Sunny menyeka wajah Rain dengan ibu jarinya.


Rain kemudian menarik pinggangnya Sunny agar ia duduk pangkuanku di pangkuannya.


Wajah Sunny terlihat sedikit tegang sekarang, ekspresinya berhasil membuat Rain kembali tersenyum.


"Kamu memintaku untuk tidak kabur, bukankah kamu mestinya menyegel ku?" tutur Rain berbisik lembut. Dia membuat atmosfer diantara mereka berubah drastis.


"Menyegel? Gimana caranya?" tanya Sunny gugup.


"Dengan ciuman..."


"Disini?"


"Kamu mau sambil berbaring di tempat tidur?"


"Ya?"


"Aku akan senang hati membawamu kesana..."


Rain baru akan bangun menggendongnya ketika Sunny sudah lebih dulu beranjak dari pangkuannya.


"Mau kemana?" tanya Rain seraya mencekal pergelangan tangan Sunny sebelum gadis itu benar-benar kabur.


Sunny terlihat kebingungan, ia tidak tahu harus menjawab apa sementara Rain memanfaatkan situasi ini dengan baik. Ia menarik tubuh Sunny dan membawanya kembali ke pangkuannya.


"Kenapa? Kita bukannya belum pernah berciuman kan?" bisik Rain lagi, ia memastikan kedua tangannya melingkar di pinggang Sunny agar gadis itu tidak lagi kabur dari sisinya.


"Iya sih, tapi disini kan rumah orangtua kamu..."


"Emangnya kenapa? Kita kan di dalam kamar."


"Tetep aja canggung, nanti kalau kakak kamu tiba-tiba nerobos masuk gimana?"


"Gak mungkin, dia gak tau kodenya."

__ADS_1


"Kalau mama kamu tiba-tiba ketuk pintu gimana?"


"Pura-pura aja tidur..."


"Kalau papa kamu yang manggil gimana?"


Rain tersenyum, entah berapa banyak lagi alasan yang akan Sunny buat untuk menolak ciumannya. "Kamu takut ya?"


"Takut kenapa? Aku cuma canggung aja..."


"Canggung karena mikirin semalam?"


Wajah Sunny seketika memerah, ia semakin gugup sekarang karena ingatan itu kembali terlintas di kepalanya dan posisi mereka saat ini membuatnya sulit untuk menahan debaran jantungnya yang menggila.


"Jawab aku?" Bisik Rain yang sengaja menggigit ujung telinga Sunny hingga gadis itu mengerang. "Ng... Rain..."


Rain menyeringai, ia tidak lagi menunggu untuk mencium Sunny. Dengan menyentuh wajah mungil istrinya itu, ia membuat Sunny menoleh lalu menciumnya dengan lembut.


Ciuman lembut yang singkat, cukup singkat untuk membuat Sunny terkejut karena ia baru akan membalas ciuman itu.


"Tersegel!" Gumam Rain tersenyum.


"Masih belum sah..." Cicit Sunny yang akhir memberanikan diri mencium Rain walaupun jantungnya terasa meledak-ledak.


"Kenapa gak ngebales?" tanya Sunny sedikit frustasi.


"Karena kamu akan dalam bahaya kalau aku membalasnya."


"Tapi Rain..."


Kedua mata Sunny membulat sempurna, Rain tiba-tiba saja menciumnya, dalam sekejap Rain dengan mudah menguasai bibirnya.


Menciumnya dengan sedikit kasar tapi mendamba bahkan Rain mengigit bibir bawah Sunny hingga gadis itu meringis lalu akhirnya membalasnya. Menikmati setiap kecupan yang Rain berikan waktu sedikit perih karena ulah suaminya itu.


"Kamu berhasil menghiburku dengan baik..." ucap Rain dengan nafas yang masih terengah-engah ia tersenyum lalu memeluk Sunny dengan begitu erat dan mendengarkan debaran jantungnya.


"Detak jantungmu tidak beraturan..." Gumam Rain yang langsung membuat Sunny malu hingga ia ingin kabur lagi tapi Rain memeganginya dengan kuat kali ini.


"Aku juga sama ..." ucap Rain agar Sunny tidak lagi meronta. "Gak ada yang salah kalau kita berdebar karena satu sama lain kan? Jadi jangan malu..."

__ADS_1


***


Malam akhirnya tiba, entah sejak kapan pola tidurnya menjadi berubah, Sunny sungguh tidak mengerti. Setelah ciuman itu, ia Rain melanjutkannya di atas tempat tidur, saling menggoda satu sama lain tapi tidak bercinta. Rain mengatakan ingin melakukannya di rumah mereka nanti dan Sunny setuju walaupun sedikit tersiksa karena mereka sudah terlalu jauh. Cukup jauh untuk membuat pakaian yang mereka gunakan menjadi berantakan, Rain bahkan melepaskan bajunya dan kini ia bertelanjang dada.


Sunny menoleh melihat jam digital yang berada di atas nakas. Jam sembilan malam, mereka tertidur begitu lama dan kini Sunny merasa haus tapi tidak ada air di kamar ini.


Sejujurnya Sunny merasa malu, karena ia dan Rain hanya terus berada di kamar rasanya seperti menegaskan jika mereka memang pengantin baru.


"Rain, aku haus..." panggil Sunny pelan tapi Rain tidak merespon.


Sunny kemudian perlahan turun dari atas tempat tidurnya lalu memakai kembali celananya tapi ia tidak menemukan keberadaan baju yang sebelumnya ia pakai jadi dengan asal ia memungut baju Rain dan memakainya lalu mengikat rambutnya yang berantakan setelah itu barulah ia keluar dari dalam kamar.


Berbeda ketika siang tadi, kondisi rumah yang terang dan ramai dengan para pelayan yang membersihkan setiap sudut rumah, kini rumah ini terasa sepi dan sunyi, sedikit gelap hingga membuat Sunny merasa takut tapi ia tetap melangkah melewati lorong kamar dan menuruni anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit.


Sunny menoleh kebelakang, rasanya seperti ada yang memperhatikannya dari jauh namun ia tidak menemukan siapapun di sekitarnya.


"Masa sih rumah ini berhantu?" gumam Sunny pelan yang akhirnya memilih mempercepat langkahnya hanya saja rumah ini begitu luas hingga butuh tenaga ekstra untuknya akhirnya sampai di dapur.


Sunny lantas mengambil gelas dan mulai menuangkan air lalu meneguk air itu hingga habis.


"Apa yang dilakukan Rain hingga membuat adik ipar ku kehausan begini?"


Sunny menoleh ketika ia sedang mengisi kembali air di dalam gelasnya dan mendapati Raihan sedang melangkah ke arahnya.


Sikap yang Raihan tunjukkan pada Rain sebelumnya membuat Sunny langsung enggan dekat dengannya.


"Memakai baju suamimu di rumah mertuamu, kamu ingin pamer padaku yang belum menikah ini?" Raihan kembali bicara, tapi kali ini ia sudah berada tepat di hadapan Sunny.


"Kelihatannya Rain sedikit kasar padamu..." ucap Raihan lagi sambil berusaha menyentuh bibir bawah Sunny yang sedikit lecet akibat ulah Rain tadi tapi Sunny menepisnya.


"Jangan sembarang menyentuhku." ucapnya Sunny dengan tegas memperingatkan.


"Maaf... Sepertinya kesan yang kamu terima tentang ku tidaklah baik." Raihan tersenyum menyesal.


Oh harusnya dia sadar kalau tingkahnya itu seperti seorang villain!


Ingin sekali Sunny mengatakannya secara langsung tapi wajah garang Raihan membuatnya takut lebih dulu tapi Raihan tiba-tiba tersenyum. "Oh Tuhan, lihatlah wajahmu yang terang-terangan memelototi ku. Kamu takut padaku?" tanya Raihan tertawa sambil melangkah mendekati Sunny hingga gadis itu dengan otomatis melangkah mundur.


"Jangan menakut-nakuti istriku!" Rain datang tiba-tiba dan langsung menghentikan Raihan yang bergerak mendekat dengan berdiri di depan tubuh Sunny.

__ADS_1


Kedua mata Raihan langsung teralihkan pada bibir Rain yang juga lecet, ia langsung merasa tidak senang karena Rain sepertinya habis bersenang-senang dengan istrinya..Ia kemudian memiringkan kepalanya, mengintip Sunny yang ada di belakang tubuh Rain lalu menyeringai. "Akan ada saatnya ketika aku membuat kalian berpisah nanti. Tunggulah, kalian boleh menikmati masa-masa indah kalian sekarang." Tukas Raihan sambil berlalu pergi. "Bukan begitu, adik ipar ku yang cantik?"


***


__ADS_2