
Terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi yang perlahan membuat Sunny terbangun dari tidurnya. Samar-samar ingatannya tentang kejadian di dalam bathtub semalam muncul dalam kepalanya dan membuat Sunny langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut tebal yang saat ini menutupi tubuhnya.
Ia melihat kebawah, pada kondisi tubuhnya sekarang dan sepertinya memang bukanlah mimpi.
"Gue mesti gimana sekarang?" Gumam Sunny yang masih terus bersembunyi di balik selimut.
"Jangan pura-pura tidur, aku tahu kamu udah bangun!"
Sunny mengigit bibir bawahnya, suara Rain yang terdengar begitu dekat membuat jantungnya seakan mau meledak.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu masih pura-pura tidur, aku jamin kejadian semalam terulang dan kali ini kamu gak akan bisa kabur lagi!"
Itulah alasannya kenapa aku bersembunyi, hey bodoh!
"Satu... Dua... Tiga..." Rain menghitung dengan cepat terdengar tidak sabaran yang seketika membuat Sunny panik dan akhirnya keluar dari persembunyiannya. "Iya-iya aku bangun!"
Tapi gaun tidurnya merosot dari bahunya dan Sunny dengan cepat menariknya ke atas, ia tidak akan bermain api lagi sekarang karena semalam ia sudah banyak mengacau.
Terlihat Rain sudah berpakaian lengkap tapi rambutnya masih sedikit basah dan ekspresinya jangan dilihat, dia seperti beruang yang sedang marah.
Sunny siap bertanggung jawab atas kemarahan Rain. Bagaimana tidak, karena semalam ketika mereka sudah nyaris bercinta, ia malah ketiduran akibat kehabisan tenaga setelah meledak karena permainan tangan Rain yang membuatnya gila.
"Mandi gih, kita pulang kan hari ini."
Sunny hanya mengangguk, ia tidak ingin merusak mood Rain dengan tidak mendengarkannya jadi Sunny segera melompat turun dari atas tempat tidur dan melangkah memasuki kamar mandi, tidak lupa ia juga menguncinya rapat-rapat atau mungkin pria itu akan menyusup masuk dan membuatnya kewalahan seperti semalam.
Rain masih baik mau memakaikannya baju saat tertidur, dan pria itu tidak menyentuhnya walaupun Sunny yakin jika Rain setengah mati tersiksa semalam.
"Jangan lama-lama mandinya, jangan cuma berdiri ngelamun di depan pintu."
Astaga! Darimana Rain tahu jika ia masih berdiri di dalam kamar mandi sekarang? Apa ada cctv di dalam sini?
Sunny mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dan tidak menemukan benda apapun yang mencurigakan barulah ia mandi.
Selesai mandi, masih dengan menggunakan jubah mandi, Sunny keluar dari dalam kamar mandi dan Rain terlihat sedang mengemasi baju-baju mereka kedalam koper mini karena memang tidak banyak baju yang mereka bawa. Terlihat wajah Rain masih menunjukkan raut kesal hingga Sunny tidak berani mendekat dan hanya berdiri di depan pintu hingga Rain selesai mengemasi semuanya.
Rain mengangkat pandangannya dan menatap Sunny yang masih berdiri cukup jauh darinya. Lihatlah wajahnya yang bersinar, sudah pasti Sunny menjadi lebih segar karena ia sudah memuaskannya semalam tapi tidak dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Rain hampir gila semalam karena berpikir Sunny pingsan akibat ulahnya, ketika wanita itu menjerit dan memeluknya begitu erat setelah melakukan pelepasan pertamanya sementara ia menunggu Sunny mengatur nafasnya agar ia bisa melanjutkan permainannya ke tahap yang lebih jauh yang sudah sangat ia nantikan tapi setelah itu tidak ada reaksi apapun dari Sunny dan ketika Rain memastikan keadaan Sunny ternyata gadis itu tertidur. Dia begitu tega meninggalkannya yang masih putus asa karena belum mendapatkan apa yang sudah membuatnya sesak.
"Pakai baju kamu, apa perlu aku yang pakein?"
"Ya?"
Sunny langsung buru-buru melangkah mengambil baju yang sudah Rain siapkan untuknya lalu kembali berlari ke kamar mandi. Ia terlalu malu untuk menghadapi Rain tapi sekaligus merasa bersalah.
Rain jadi sedikit dingin tapi pria itu masih perhatian dan sedikit gila. Bagaimana cara menghadapinya sekarang?
...
Sunny keluar dari dalam kamar setelah selesai memakai pakaiannya. Mungkin hanya perasannya saja atau pakaian yang dipilihkan oleh Rain sedikit tertutup?
Sambil melangkah menuruni anak tangga, Sunny melangkah dengan ragu-ragu menghampiri Rain yang sekarang terlihat berada di dapur.
Celana loose jeans yang ia kenakan berpadu dengan t-shirt kebesaran yang sepertinya milik Rain karena ia hanya membawa beberapa gaun dan satu celana jeans ini serta crop top. Kecuali gaun tidurnya, pakaiannya yang lain ia sendiri yang mempersiapkan karena seharusnya loose jeans ini ia padukan dengan crop top tapi Rain malah menyuruhnya memakai t-shirt kebesaran ini hingga ia gagal memamerkan lekuk tubuhnya yang indah tapi demi menjaga kewarasan Rain, Sunny tidak bisa melayangkan protes.
"Lama banget." Suara Rain terdengar dingin, sedingin udara ini karena di luar turun hujan.
"Yuk sarapan dulu, di luar masih hujan. Nanti kalau hujannya reda baru kita berangkat." ucap Rain sambil meletakan dua potong sandwich di atas piring tepat di hadapannya.
"Ok..." Sunny menjawab dengan canggung.
Rain kemudian duduk di hadapannya, ia terlihat sibuk memainkan ponselnya dengan ekspresi datar.
"Kamu gak makan?" tanya Sunny karena Rain menolak menatapnya kali ini. "Gak." jawab Rain singkat.
Sejujurnya Sunny merasa sedih dengan sikap yang Rain tunjukkan. Ia mana tahu kalau tubuhnya akan se-syok itu. Hah~ Sunny menghela nafas dan mendadak malas makan.
"Kenapa gak makan?" tanya Rain yang akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Sunny, tapi ekspresinya sungguh tidak ramah.
"Soalnya kamu marah sama aku ..." jawab Sunny cemberut.
"Aku gak marah..."
"Tapi muka kamu mendadak jadi galak?"
__ADS_1
"Muka ku emang begini."
"Gak kok! Muka kamu tuh begini!" Sunny kemudian memperagakan bagaimana Rain biasa menunjukkan ekspresi Rain yang tersenyum lembut padanya.
Rain tidak mengatakan apapun lagi setelah itu kecuali berpindah posisi duduk tepat ke sebelah Sunny lalu sedetik kemudian ia menarik kursi Sunny lebih dekat padanya hingga membuat gadis itu terkejut.
"Begini maksudnya?" tanya Rain seraya menatapnya dalam.
"Ya..." Jawab Sunny malu-malu karena Rain membawa getaran bahaya itu lagi.
"Tapi kamu gak sanggup kan menghadapi aku yang begitu?"
Itu benar...
Sunny perlahan menunduk sedih, ia ingin Rain bersikap seperti sebelumnya tapi ia juga tidak yakin akan bisa mengimbangi sikap berbahaya Rain.
"Tapi kamu kayak beruang galak kalau gak lagi mode danger, aku takut dua-duanya... Gimana dong?"
"Dari awal aku kan bukan soft boy..."
Sunny menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Ya udah terserah kamu aja yang penting kamu gak marah lagi sama aku. Serius semalam itu aku gak nyangka bakalan secape itu padahal gak ngapa-ngapain."
Rain tertawa pelan melihat ekspresi Sunny yang dengan polosnya menceritakan apa yang ia rasakan semalam tapi itu justru membuat kekesalannya berubah menjadi rasa bangga karena setidaknya ia berhasil membuat Sunny tidak berdaya.
"Tandanya kamu harus banyak berlatih sama aku..."
"Emangnya kamu udah pengalaman?"
"Seenggaknya aku gak akan tidur selagi kamu belum..." Rain melanjutkan kalimatnya melalui bisikan dan membuat sekujur tubuh Sunny seketika memanas.
"Ayo makan..." Rain langsung menyuapi Sunny tanpa aba-aba hingga Sunny mengigit sandwich itu berserta dengan ujung jari Rain yang sontak membuat Sunny teringat kejadian semalam dengan tangan nakal pria yang membuatnya mabuk kepayang dan setelah itu Rain bahkan memakan potongan sandwich yang sama dengannya membuat pikirannya melayang-layang hingga Sunny harus menyentuh wajahnya dan memastikan suhu tubuhnya normal karena ia sudah sangat terbakar.
"Kenapa?" tanya Rain sambil jilat ujung jarinya yang terkena saus dari sandwich yang ia pegang sontak Sunny memalingkan wajahnya dari pemandangan itu.
Oh Tuhan... Dan seolah sengaja, Rain tersenyum puas melihat ekspresi istrinya sekarang. Itu adalah hukuman untuknya.
***
__ADS_1