My Secret Marriage

My Secret Marriage
Mengenal mu lebih jauh


__ADS_3

"Siapa temen yang kamu maksud?"


Rasanya seperti Rain sedang menahan cemburunya, diam-diam Sunny merasa senang tapi ia juga merasa perlu menjahili Rain agar ia tahu bagaimana rasanya cemburu ketika dulu ia terang-terangan di goda oleh bocah SMA di toko buku waktu itu.


"Temen aku, dari kecil. Kita deket banget sampai mama sama papa dulu ada keinginan mau jodihin kita." cerita Sunny yang langsung membuat ekspresi Rain semakin kesal.


"Terus sekarang gimana hubungan kalian?"


"Udah cerai..."


"Hah?! Kalian pernah nikah?"


"Hahaha, becanda sayang... Maksud ku orangtua dia cerai jadi dia ikut mamanya pindah. Sampai sekarang gak ada kabar."


"Oh..." Ucapan Rain mungkin terdengar seolah ia tidak perduli tapi Sunny dapat melihat jika Rain diam-diam tersenyum.


"Lagian kita murni temenan kok, namanya orangtua kan suka gemes kalo liat anak mereka sahabatan, sekalian aja biar jadi besan begitu..."


"Jadi karena orangtuanya cerai kalian gak jadi di jodihin?"


"Gak..."


"Terus kenapa?"


"Ya karena aku nikah sama kamu jadi perjodohannya otomatis batal dong."


"Bagus deh..." cicit Rain lega. Ia tidak mau lebih banyak membahas teman masa kecil Sunny lagi setelah itu atau moodnya akan buruk. Entah kenapa ia langsung merasa kesal karena Sunny membahas pria lain dan semakin kesal karena mereka nyaris di jodohkan. Setidaknya Sunny sempat bilang di awal jika mereka hanya sahabatan dan Sunny tidak terlihat terluka menceritakan temannya itu tandanya ia tidak memiliki perasaan kepadanya, iya kan?


"Ayo naik, kita harus cari barang-barang buat rumah kita nanti!" ajak Rain yang sudah lebih dulu naik ke atas motornya.


"Aku kan belum liat desain rumahnya, Rain..."


"Mau liat rumahnya dulu?"


"Iya biar punya gambaran gitu mau letak barang apa..."


"Ya udah, yuk naik!"


Sunny akhirnya naik ke atas motor Rain tapi Rain tidak langsung menjalankan motornya meskipun mesinnya sudah menyala.


"Nungguin apa, Rain?"


"Nungguin kamu pegangan yang bener."


"Maaf soalnya aku kebiasaan pegang pundak."


Rain diam-diam tersenyum, membayangkan selama sekolah dulu Sunny selalu berboncengan motor dengan teman prianya membuat Rain kesal karena artinya Sunny memeluk pria itu sepanjang jalan tapi ternyata Sunny memanglah gadis lugu yang tidak berpengalaman.

__ADS_1


"Begini?" tanya Sunny yang sudah berpegangan pada pinggang Rain tapi Rain malah menarik tangannya hingga tubuh Sunny sepenuhnya memeluknya dari belakang.


"Jangan di lepas,"


"Hmm..." Sunny hanya bisa bergumam ketika rasa gugup itu datang padahal ia dan Rain sudah banyak melakukan sentuhan tapi di bonceng oleh Rain menambahkan sensasi yang menggelitik hatinya.


...


Di sepanjang jalan, angin yang berhembus terasa sangat nyaman, sedikit dingin hingga Sunny terus mempererat pelukannya sehingga Rain tidak bisa berhenti tersenyum di sepanjang perjalanan.


"Jangan ngebut, Rain!" pinta Sunny sedikit berteriak.


"Kamu takut?" tanya Rain yang membuat Sunny sedikit terkejut karena suara Rain terdengar dari dalam helm yang ia pakai.


"Ada speakernya!"


"Iya makanya jangan teriak, kuping aku sakit!"


"Ya aku kan gak tau!"


"Tapi kamu masih teriak!"


"Berisik Rain!"


Rain tertawa mendengar protes yang Sunny layangkan padanya ketika ia dengan sengaja berteriak, siapa suruh gadis itu terus menerus berteriak padahal dia sudah tahu ada speaker yang terhubung otomatis pada helm mereka berdua.


"Jadi sebenernya helm ini buat siapa?" tanya Sunny yang tiba-tiba terdengar kesal.


"Bohong aja, motor kamu kan udah di bengkel pas ketemu aku, terus helm ini ada di bengkel. Berarti kan helm ini punya orang lain!"


"Astaga, kamu mikirnya kejauhan!" Rain tidak sungkan untuk menertawakan istrinya yang merajuk karena alasan yang tidak jelas.


Apa wanita selalu membingungkan seperti ini? Rain sungguh gemas dengan kecemburuan tidak berdasar yang di tunjukkan Sunny padahal sebelumnya gadis itu dengan sengaja membuatnya cemburu dengan membahas pria lain.


"Aku minta orang bengkel beliin helm buat kamu kemarin." jelas Rain sebelum Sunny mengamuk minta turun di tengah jalan.


"Yang bener?"


"Bener sayang..."


Rain dapat melihat dari kaca spionnya jika istrinya itu sedang bersusah-payah menahan senyumannya.


"Kayaknya kamu udah jatuh cinta sama aku deh." goda Rain yang sontak membuatnya menerima cubitan di perutnya.


"Jangan GeEr ya!"


"Buktinya kamu tiba-tiba kesel cuma gara-gara kepikiran siapa yang punya helm yang kamu pakai sebelumnya!"

__ADS_1


"Ya... Itu kan wajar, aku gak suka pakai punya orang lain." Sunny mengelak tepat ketika mereka tiba di depan sebuah rumah yang terletak di kompleks perumahan sederhana.


"Udah sampai, pegang bahu aku pas turun."


"Iya suami ku yang bawel!"


"Hati-hati istriku yang cemburuan..."


Sunny tertawa keki mendengar godaan Rain, ia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan rasa penasarannya hingga sekarang Rain terus meledeknya.


Rain turun setelah Sunny turun, lalu ia membantu Sunny membuka helmnya dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Perhatian kecil yang Rain tunjukkan padanya sekali lagi membuat Sunny berdebar-debar, jika terus seperti ini sepertinya ucapan Rain akan menjadi kenyataan karena ia mungkin jatuh cinta lebih dulu sebelum Rain benar-benar memastikan perasannya padanya.


Setelah membuka helmnya, Rain lantas menggandeng tangan Sunny dan membawanya memasuki rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka.


Rumah sederhana dengan dua kamar tidur, satu dapur serta ruang tamu dan tidak ada satupun barang yang ada, rumah ini benar-benar kosong tapi cukup luas hingga Sunny sudah bisa membayangkan bagaimana cara menata rumah ini.


"Rumahnya gak besar, tapi ada halaman belakang." ucap Rain sambil menunjukkan halaman belakang yang ia maksud.


"Bagus, nanti kita cat warna putih sama biru langit biar ada kesan cerah sekaligus luas." komentar Sunny setelah melihat halaman belakang yang berukuran sekitar 30 meter itu.


"Luas tanahnya 150 meter,bangunannya 100 meter, 20 meter halaman depan, 30 meter halaman belakang." jelas Rain sambil menunjukkan denah rumah yang tersimpan di ponselnya. "Mungkin dibandingkan rumah kamu, rumah ini gak ada apa-apanya."


"Ini sih udah lebih dari keren, Rain. Kamu banyak uang ya bisa beli rumah padahal masih kuliah!"


"Hasil dari menang balap motor..."


"Balap motor? Balapan liar?"


Rain menutup mulutnya rapat-rapat, karena Sunny terlihat marah hingga ia memilih untuk pergi menuju dapur dan berpura-pura mengecek kondisi air.


"Rain, aku lagi bicara sama kamu!"


Rain akhirnya menutup keran air dan menghela nafas berat. "Kamu gak suka aku balapan motor?"


"Aku tebak orangtua kamu gak tau kalau kamu suka balap liar?"


"Mereka khawatir."


"Aku juga!"


Sunny lantas melangkah mendekati Rain, ia menatap wajah suaminya itu, entah sebenarnya ia pria yang seperti apa. Ada banyak hal yang begitu mengejutkan dari dirinya yang satu persatu terbuka dan semuanya selalu di luar ekspektasi Sunny.


"Aku pikir kamu suka motor itu kayak cuma suka modifikasi aja..."


"Sebenernya aku balapan demi ngelepasin rasa terkekang."


"Kamu bisa mati kalau kecelakaan."

__ADS_1


"Aku berharap begitu tapi sampai detik ini aku selalu baik-baik aja."


***


__ADS_2