My Secret Marriage

My Secret Marriage
Mungkin Gila


__ADS_3

Rain berlari cepat menuju kamarnya lalu menutupnya rapat-rapat. Entah apa yang merasukinya sehingga mendadak kehilangan seluruh akal sehatnya hanya karena seorang Sunny.


Sihir apa yang sebenarnya dimiliki oleh gadis itu sehingga membuatnya menjadi seperti ini?


"Kayaknya gue udah gila!" Rain mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi lalu menutupi wajahnya karena merasa sangat malu.


Darimana datangnya ide konyol untuk menyuruh Sunny belajar disaat mereka nyaris bercinta dan bodohnya sikapnya yang tidak tahu malu justru membuatnya terlihat seperti pria brengsek yang mesum.


"Mestinya gue tenggelam aja di laut, gue gak sanggup nahan malu kalau begini!" keluhnya kesal pada dirinya sendiri.


"Apa gue kabur aja?"


"Sial, tapi gue gak mau jadi pengecut juga dimata dia!"


"Kenapa kehidupan pernikahan itu sulit banget, Tuhan?"


"Itulah kenapa menikah itu harus siap mental, gue rasa mental gue udah terganggu sekarang!"


"Gue mesti gimana sekarang? Sunny pasti jijik sama gue sekarang."


"Apa gue ngaku aja terus minta maaf, tapi gengsi!!! Gimana dong?"


Rain tidak henti-hentinya mengeluh, ia terus mengeluh sambil terus berpindah-pindah tempat menjelajahi kamarnya.


Berpikir untuk bersembunyi di balik tirai atau di kolong ranjang tapi dia tidak suka tempat sempit, mungkin kamar mandi adalah tempat yang aman untuk bersembunyi setidaknya sampai ia bisa menyembunyikan wajah memerahnya sekarang.


"Tenang, Rain... Tenang!" Rain kembali bergumam frustrasi karena kelakuannya sendiri yang menempelkan telinganya di pintu kamar mandi dan berharap ia bisa mendengar suara Sunny yang melangkah masuk dan tidur tanpa memperdulikannya lagi tapi ia tidak dapat mendengar apapun sehingga rasa penasaran nyaris saja mencekiknya jika ia tidak dengan cepat membuka pintu kamar mandi karena tidak tahan lagi ingin melihat dimana Sunny sekarang dan sikap apa yang akan Sunny tunjukkan padanya setelah apa yang ia katakan di perpustakaan tadi.


"Aaaaa...." Rain berteriak karena begitu terkejut saat kepalanya mengintip dari balik pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat dan Sunny seolah sudah mengetahui keberadaannya sehingga dengan memasang wajah menghakimi dan kedua tangan yang dilipat di dada, Sunny menatap Rain tanpa ampun.


"Ngapain kamu di situ sampe kaget gitu? Jangan-jangan kamu lagi ngelakuin hal yang 'iya-iya' di dalem ya?" Sunny bertanya dengan nada curiga dan tatapan matanya siap mencabik-cabik harga diri Rain.


"Ngomong apa sih? Aku cuma kaget ngeliat kamu yang tiba-tiba ada di depan pintu!" jawab Rain mengelak sambil keluar dari dalam kamar mandi dan mencoba untuk bersikap setenang mungkin meskipun ia gugup setengah mati sekarang.


"Oh ya? Tapi menurut ku, kamu kaya orang yang lagi ngintip tuh!" Cibir Sunny.


"Siapa yang ngintip? Gak ada siapapun di kamar ini tadi!"


"Masa?"

__ADS_1


"Ya iya lah, kamu gak percaya?"


"Udah pasti gak percaya lah!"


Sepertinya berdebat bukan waktu yang tepat sekarang karena Rain merasa kegugupannya membuatnya tertekan dengan mudah.


"Udah selesai?" Tanya Rain mengalihkan pembicaraan.


"Nih udah!" Ucap Sunny sambil memberikan secarik kertas soal yang sudah ia isi jawabannya.."Periksa yang betul karena aku gak akan salah jadi jangan harap dapet ciuman dari aku." Lanjut Sunny dengan penuh percaya diri.


Rain hanya menyeringai lalu memeriksa jawaban di kertas soal itu.


Jawaban yang di isi Sunny memang benar semua tapi itu justru membuat Rain mendadak jengkel.


"Kamu sengaja?" tanya Rain terdengar tidak terima.


"Maksud kamu ngejawab semuanya dengan bener?"


Rain tidak menjawab, ia gengsi untuk mengakuinya tapi wajahnya mengatakan yang sebenarnya sehingga Sunny tidak kuasa untuk tidak duduk disebelah Rain dan mencubit pipinya dengan gemas.


"Gak ada lagi ciuman, sayang..." ucap Sunny dengan senang sebelum akhirnya melangkah menaiki tempat tidur dan tidak lupa ia menarik seluruh selimut untuk membungkus tubuhnya.


"Awas aja kalau kamu coba-coba curi kesempatan saat aku tidur atau aku akan memotongnya dengan gunting rumput besok." ancam Sunny yang langsung menoleh dan menatapnya sinis.


"Gak mungkin!"


Rain begitu kesal hingga ia langsung menarik bantalnya menjauh dan tidur sambil membelakangi Sunny sambil bersumpah untuk tidak mengulangi kebodohannya malam ini.


***


Rain merasa sesuatu yang berat menindih tubuhnya sehingga ia tidak bisa bergerak dan membuatnya seketika terbangun dari tidurnya.


"Awas kalau kamu coba-coba curi kesempatan, padahal kamu sendiri yang genit!" gerutu Rain kesal karena merasa seluruh tubuhnya pegal akibat Sunny yang tidur sambil memeluknya dan kepalanya berada tepat di dadanya.


"Heh, bangun... Bagun..." panggil Rain sambil menyentuh kepala Sunny dengan jari telunjuknya tapi Sunny masih tidak juga bangun sementara Rain mulai merasa frustrasi karena tubuhnya kembali tegang dengan posisi mereka yang seperti ini.


"Duh, jangan ngiler di badan aku dong..." Ucap Rain yang kali ini berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Sunny dan mendorongnya tapi Sunny malah memeluknya lebih erat lagi.


"Sunny, kamu sengaja ya?" Rain semakin kesal, ia tidak bisa menahan posisi ini lebih lama lagi jadi Rain dengan sengaja menekan hidung Sunny dan membuatnya kesulitan bernafas sampai akhirnya Sunny terbangun.

__ADS_1


Tubuh Sunny seketika duduk dengan tegak sambil menghirup nafas dalam-dalam.


"Gue masih hidup... Astaga, gue pikir gue bakal mati muda!" ucap Sunny lega sambil menghirup nafas dalam-dalam tapi pemandangan disekitarnya membuatnya seketika bingung karena terasa sangat asing sampai akhirnya ia menyadari jika ia berada diatas tempat tidur dengan gaun tidur minim bukan di tengah lautan seperti yang ada dalam mimpinya.


Perlahan Sunny menoleh kebelakang dan mendapati Rain berbaring dibelakangnya dengan bertelanjang dada dan memasang wajah jengkel.


"Apa?" tanya Rain yang masih merasa kesal apalagi tangannya terasa kram sekarang.


"Aaaaaaaa..." Sunny tidak mengatakan apapun kecuali berteriak dengan sangat kencang.


"Kamu kenapa ngejerit sih?" tanya Rain bingung tapi bukan jawaban yang Rain dapatkan melainkan sebuah ponsel yang mendarat tepat mengenai hidungnya dan seketika membuatnya mimisan.


"Kamu gila?" teriak Rain sambil memegangi hidungnya yang kesakitan.


"Ada apa? Kenapa ribut sekali?"


Tubuh Sunny langsung membeku saat Rini menerobos masuk.


"Kenapa hidung kamu berdarah?" tanya Rini khawatir.


"Wanita ini ngelempar ponselnya ke wajahku mah." jawab Rain kesal, ia masih berusaha menyeka darah yang terus menetes dari hidungnya.


"Maaf..." Sunny hanya bisa meminta maaf dan pasrah. Sepertinya citranya sebagai seorang menantu akan hancur berantakan karena insiden ini.


"Ada apa? Apa Rain maksa kamu buat 'ngelakuin itu'? Ngomong aja sama mama kalau Rain memaksakan kehendaknya sama kamu." tanya Rini khawatir melihat wajah ketakutan Sunny.


Rain sungguh tidak habis pikir karena ibunya terlihat lebih mengkhawatirkan Sunny padahal ia korbannya disini bukannya Sunny.


"Aku cuma kaget soalnya aku lupa kalau udah nikah sama Rain jadi begitu bangun terus liat Rain aku langsung syok." jawab Sunny seraya menunduk malu.


"Oh astaga, mama kira Rain jahat sama kamu."


Sunny hanya bisa menyembunyikan wajahnya apalagi Rain terus meliriknya tajam.


"Sebaiknya kalian mandi bareng supaya kamu gak lupa lagi kalau kalian udah menikah dan jangan lupa obati hidung Rain, mama akan suruh pelayan membereskan tempat tidur kalian." ucap Rini dan seperti mendapatkan kesempatan untuk balas dendam, Rain langsung menyeringai dan tanpa membuang waktu langsung turun dari atas tempat tidurnya untuk menggendong Sunny.


"Mau apa kamu?" teriak Sunny panik.


"Tenang dong sayang, aku akan ngebuat kamu inget apa yang kita lakukan semalam." ucap Rain seraya membawa tubuh Sunny memasuki kamar mandi tanpa perduli jika Sunny memberontak.

__ADS_1


"Ma, ganti aja sprei-nya abis itu suruh pelayan cepat keluar karena aku masih banyak urusan dengan istriku yang pikun ini!" ucap Rain dengan lantang membuat Sunny semakin kalang kabut.


***


__ADS_2