My Secret Marriage

My Secret Marriage
Bukan pernikahan kontrak


__ADS_3

Siang sudah menjelang ketika Sunny dan Rain akhirnya tiba di pusat perbelanjaan. Dengan wajah cemberut, Sunny sengaja melangkah lebih dulu meninggalkan Gibran.


Sunny sedang merajuk sekarang, semua karena Rain yang menahannya begitu lama di rumah baru mereka tadi dan mencumbunya hingga mereka nyaris hilang kendali lagi dan lihatlah ekspresi kemenangan pria itu sekarang...


Oh, sungguh... Sunny ingin sekali protes memarahinya apalagi karena ulah Rain, bibirnya sampai terasa bengkak dan semua lipstiknya terhapus padahal ia tidak membawa lipstik.


"Kenapa sih? Kamu takut aku di godain disini?" Bisik Rain yang saat ini meletakkan tangannya pada pinggang Sunny ketika menaiki eskalator, pria itu dengan sengaja berdiri di belakang Sunny karena sekarang Sunny memakai rok yang cukup pendek.


"Lipstik aku kehapus gara-gara kamu nih! Penampilan aku kan jadi jelek!" Gerutu Sunny protes sambil memutar tubuhnya dan memperlihatkan bibirnya.


"Jangan mancing sayang, disini banyak orang, aku gak bisa cium kamu disini."


"Ih, Rain! Jangan ngeledek, bibir aku keliatan pucet nih gara-gara kamu!"


Rain tidak menjawabnya, ia langsung menggandeng tangan Sunny begitu mereka tiba di lantai atas dan membawanya ke tempat yang sedikit sepi tepat dibelakang pilar lalu menyudutkannya di sana.


"Apa?" tanya Sunny gugup ketika Rain hanya terus menatapnya dengan intens tanpa mengatakan sesuatu.


"Kamu cantik dengan atau tanpa makeup."


"Jangan gombal!"


"Aku gak gombal, kamu terlalu cantik sampai banyak pria yang terus memandang ke arahmu dan membuatku ingin menghajar mereka satu-persatu karena terus menatap mu."


"Masa? Dimana?"


Sunny menoleh ke belakang, bergerak ke mengintip dari balik pilar tapi belum sempat ia melihat apapun, Rain sudah lebih dulu menariknya lagi agar menghadap ke arahnya.


Rain lantas membuka jaketnya, ia kemudian memakaikan jaketnya di pinggang Sunny agar paha mulusnya yang lembut ketika ia menyentuhnya itu tidak jadi santapan mata orang lain.


"Padahal tadi aku naik motor, kenapa baru sekarang di tutupin?" tanya Sunny menggoda demi meredam kegugupannya.


"Ya, aku bodoh karena baru menyadarinya sekarang!"


"Berarti kamu kurang perhatian dong?!"


Rain tersenyum sekali lagi setelah memastikan jika ikatan di jaketnya cukup kuat agar tidak terlepas dengan mudah.


"Iya,maaf lain kali aku bakal lebih perhatian lagi."


"Tapi gimana dong, aku juga gak suka liat kamu mejeng lengan kamu yang berotot ini?" Ucap Sunny sambil meremas otot lengan Rain yang terasa keras.


"Ya udah ayo beli celana dulu buat kamu biar aku bisa pakai jaket aku lagi."


"Beliin lipstik juga ..."


"Astaga, iya!"

__ADS_1


"Asik, Makasih suamiku!"


Diam-diam Rain tersipu malu apalagi ketika Sunny mulai menggelayut manjadi di lengannya sambil memanggilnya suami ku.


Mereka kemudian pergi ke toko baju untuk membeli celana jeans untuk Sunny dan langsung menggantinya.


Saat menunggu Rain duduk sendirian di depan pintu ruang ganti.


"Rain..." Panggil Sunny dari dalam ruang ganti, Rain langsung bergerak bangun dan mendekat.


"Kenapa?" tanya Rain khawatir.


"Roknya nyangkut gak bisa di lepas ritsleting-nya."


"Astaga!" Rain menarik nafas dalam-dalam, ia melihat ke sekitarnya yang cukup sepi barulah ia masuk kedalam ruang ganti.


Saat masuk, Sunny sudah memakai celana jeans yang ia pilih tapi roknya juga masih melingkar di pinggangnya.


"Liat nih!" ucap Sunny sambil berbalik dan memperlihatkan ritsleting-nya yang menyangkut di celana jeans-nya.


Rain menarik nafas dalam, entah kenapa di setiap kesempatan yang berkaitan dengan Sunny selalu membuatnya kesulitan, bukan karena alasan tapi karena posisi ini membuat Rain ingin menyentuh Sunny sembarangan.


Oh Tuhan... Ketika Sunny menopang tubuhnya pada dinding sementara bokongnya sedikit naik demi memperlihatkan roknya yang tersangkut, pikiran kotor langsung terlintas dalam benak Rain tapi sayangnya situasi ini bukanlah tempat dimana ia bisa menyentuh istrinya itu.


Sambil menahan nafasnya, Rain membantu Sunny membuka roknya yang tersangkut, sedikit sulit apalagi posisi ini membuatnya tegang tapi akhirnya ia berhasil.


"Udah!" ucap Rain yang langsung melangkah keluar dari dalam bilik ruang ganti dan menutupi wajahnya yang terasa terbakar. Penjaga toko yang melihatnya keluar dari dalam ruang ganti pun menatapnya curiga tapi mereka tidak berani menegurnya meskipun begitu Rain tetap saja merasa malu hingga ia langsung membawa Sunny pergi dari toko itu setelah cepat-cepat membayar.


"Beli aja semua!"


"Ya?"


"Kamu bingung kan mau beli yang mana, beli aja semua warna."


"Gak ah, kita kan mesti beli perabotan."


"Masih cukup kok, kamu mau beli kosmetik yang lain sekalian?"


"Gak, waktu itu kamu udah beliin kan."


"Duh enaknya punya suami yang loyal..."


Suara itu langsung Sunny kenali, ia lantas menuntun Rain menuju barisan dimana suara itu berasal.


"Si kupret, ngapain loe disini?" Tanya Sunny yang langsung menepuk bahu Rosa, temannya yang sudah membuat kedua orangtuanya dan orangtua Rain salah paham hingga menikahkannya dengan Rain.


"Beli sayur Bu, ya beli kosmetik lah!" sahut Rosa bergurau. "Duh-duh... Mentang-mentang pengantin baru, di gandeng teros!"

__ADS_1


"Emangnya gue nikah gara-gara siapa kalau bukan gara-gara mulut loe yang ember itu?" Sunny menyalak kesal tapi Rosa malah tertawa puas.


"Tapi enak kan nikah, jadi gimana? Udah unboxing belom? Udah kali mah, liat tuh leher loe merah-merah semua!" Rosa terus saja menggoda hingga Sunny tersipu malu.


"Apa sih!" Seru Sunny kesal. "Mana Alvin?" tanya Sunny karena biasanya Rosa dan Alvin itu satu paket lengkap.


"Ada tuh di cafe bawah lagi ngopi sama Rio."


"Rio?"


"Iya, dia nyariin loe tuh dari kemarin."


"Terus loe jawab apa?"


"Gue bilang aja loe lagi liburan sama sepupu loe, gue takut dia kena serangan jantung kalau tau loe lagi honeymoon!"


"Rio siapa?" Rain akhirnya bertanya setelah sebelumnya hanya diam mendengarkan.


"Temen yang tadi aku ceritain." jawab Sunny sedikit khawatir jika Rain akan menunjukkan kecemburuannya dan benar saja ekspresinya sekarang mulai menggelap.


"Yuk ngopi bareng, dah lama kan kita gak kumpul sekalian loe kenalin nih suami loe ke dia biar dia gak syok kalau tau dari orang lain."


"Nanti ajalah, gue sama Rain mau beli perabotan."


"Mau tinggal barengan?"


"Iya kan kita udah nikah, kenapa heran gitu?!"


"Jadi beneran gak kontrak-kontrak kayak di film-film? Secara kalian berdua nikahnya karena situasi."


Sunny dan Rain tidak langsung menjawab, Rosa sepertinya tau banyak tentang hubungan mereka tapi Rain kemudian merangkul Sunny, nyaris seperti sebuah pelukan dari belakang. "Emangnya kita keliatan palsu?" tanya Rain yang seketika membuat Rosa diam.


"Jangan sembarang bicara, orang lain yang denger mungkin bakalan salah paham. Gue sama Sunny beneran nikah jadi tungguin aja anak kita launching nanti. Yuk Sayang..."


Rain langsung membawa Sunny pergi meninggalkan Rosa yang kehabisan kata-katanya menghadapi ucapan peringatan dari Rain yang langsung membuatnya ngeri.


Sambil meletakan semua lipstik yang ada di rak, Rain langsung pergi membawa Sunny menuju kasir dan membayar.


"Sunny!" Tubuh Sunny tersentak ketika seseorang tiba-tiba saja menariknya dan membuatnya terlepas dari genggaman tangan Rain.


"Ini beneran elo!" Tanpa ragu pria itu langsung memeluk Sunny hingga tubuh Sunny membeku karena pelukan mendadak ini tapi kemudian Rain datang langsung memisahkan mereka.


"Siapa loe!" Pria itu berteriak marah pada Rain tapi Rain membalasnya dengan tatapan tajam dan melangkah lebih dekat mengintimidasinya.


"Loe yang siapa? Kenapa loe peluk-peluk Sunny?"


"Gue temennya! Loe yang siapa?"

__ADS_1


"Gue suaminya!"


***


__ADS_2