My Secret Marriage

My Secret Marriage
Rencana masa depan


__ADS_3

"Rain!!!" Sunny menjerit ketika Rain tiba-tiba saja menarik pinggangnya dan merengkuhnya.


"Oh astaga, kapan kita makanya kalau begini?" Gerutu Sunny ketika Rain bergelayut manja memeluk tubuhnya dari belakang.


"Gimana dong, aku mendadak lemes nih." sahut Rain sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sunny. "Aku butuh vitamin C, vitamin cium!"


Darimana dia mendapatkan kata-kata itu? Tubuh Sunny seketika merinding!


"Ya udah aku masak sendiri aja!"


"Emang bisa?"


"Ishh!" Sunny mendesis karena ia sama sekali tidak bisa memasak.


Dengan sedikit kesal, Sunny kemudian berbalik dan Rain sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya. Suaminya itu masih memegangi pinggangnya dengan sangat nyaman.


Wajah Rain perlahan mendekat, ia sudah tidak sabar untuk mendaratkan ciuman di bibir Sunny tapi Sunny menahannya dengan meletakkan tangannya diantara bibir mereka. "Kecupan aja ..." ucap Sunny sebelum menurunkan tangannya.


Rain menghela nafas kesal karena kesepakatan mereka semalam membuatnya tidak bisa mencium bibir Sunny tanpa persetujuannya.


"Satu menit?" tawar Rain tapi Sunny menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Rain menggigit bibir bawahnya, ia sudah sangat mendambakan bibir Sunny sejak bangun tidur tadi tapi ia tidak memiliki alasan untuk meminta ciuman dari istrinya itu tapi kecupan hanya akan membuatnya semakin tersiksa.


"Mau gak?" tanya Sunny yang sebenarnya mulai tidak sabar menantikan bibir Rain mendarat di bibirnya.


Rain tidak lagi menjawab tapi ia memberikan kecupan singkat di bibir Sunny, begitu singkat hingga Sunny sendiri terkejut dan akhirnya menyesal apalagi Rain sudah kembali ke tempatnya tepat di depan kompor dan siap memasak salmon sesuai permintaannya.


Sikap Rain yang tidak mengatakan apapun setelah kecupan singkat itu membuat Sunny frustasi. Ia tidak bisa fokus mengolah jamurnya karena takut Rain merajuk padanya tapi terlalu gengsi untuk menghampirinya dan meminta Rain menciumnya lagi.


Mungkin karena sejak awal ciuman diantara mereka selalu menggebu-gebu, kecupan singkat ini bukannya tidak berefek tapi justru membuatnya semakin mendamba.


"Udah belum jamurnya?" tanya Rain menoleh ke arah Sunny.


Sunny begitu terkejut saat Rain tiba-tiba bertanya karena jamur yang ia olah baru sedikit.


"Kapan kita makannya kalau gak selesai-selesai?" kini ucapan Sunny kembali lagi padanya ketika Rain mendekat.


"Ya kamu kan gangguin terus!" cicit Sunny beralasan.


"Kapan aku gangguinnya?"


"Tadi yang minta cium..."


"Kapan aku cium kamu?"


"Tadi kan?"


"Itu kan kecupan!"


"Sama aja!"


"Beda!"


"Sama!"


"Beda nona cerah!"


"Sama tuan hujan!"


"Kecupan sama ciuman itu sama-sama kayak gini!" Sunny berjinjit dan mengecup bibir Rain singkat karena pria itu terus saja membantah ucapannya, lalu setelah itu ia menarik baju Rain agar Rain sedikit menundukkan kepalanya barulah ia mendaratkan ciuman di bibir Rain.


Sunny menghisap bibir bawah Rain dan menikmati sensasi yang tidak bisa ia dapatkan dari kecupan yang mereka lakukan sebelumnya barulah ia tersadar jika ia terpancing permainan Rain dan segera melepas bibir Rain. "Sama kan..." gumam Sunny pelan, wajahnya sudah memerah menahan malu apalagi Rain terus menatapnya.

__ADS_1


"Berarti tadi aku salah, harusnya bukan begini chu~ tapi begini ya..."


Kedua mata Sunny terbuka lebar ketika Rain mengecup bibirnya lalu setelah itu mulai menciumnya dalam sambil memijat pinggangnya pelan dan memberikan ketegangan lebih dari sebelumnya sebelum menarik tubuh Sunny merapat padanya dan mendekapnya erat-erat tanpa melepaskan ciuman di bibir Sunny.


Kini kepala Sunny terasa lebih pening dari sebelumnya karena Rain menciumnya sangat dalam dan hanya memberikan celah oksigen yang sedikit untuk ia hirup hingga ia harus menarik nafas dalam-dalam segera setelah Rain melepaskan ciumannya.


"Kamu emang paling pinter!" ucap Sunny tersipu malu dan Rain tersenyum bangga setelahnya.


Rain lantas menyeka bibir Sunny yang basah karena ulahnya dan meninggalkan istrinya yang masih tertegun sambil membawa potongan jamur yang sudah Sunny olah dan kembali menyalakan kompor.


Tidak lama setelah itu Salmon grill with mushrooms buatannya mereka akhirnya selesai, walaupun Sunny hanya sedikit membantu tapi ia terlihat sangat senang sekaligus tidak sabar menanti Rain menghidangkannya.


"Wih kayaknya enak banget." Komentar Sunny selesai Rain menata hidangannya di piring lalu memberikannya pada Sunny. "Makasih, suami ku!" ucapnya mengecup pipi Rain sebelum melangkah membawa hidangan yang mereka buat ke meja makan, meninggalkan Rain yang hanya bisa tersipu malu karena ulah istrinya itu.


Sunny sudah menata dua piring yang ia bawa ke atas meja makan dan menunggu Rain duduk di sebelahnya setelah itu ia dengan tidak sabar menyantapnya.


"Hati-hati panas..." ucap Rain mengingatkan, sedikit merasa bersalah karena Sunny terlihat sangat lapar.


"Sumpah, ini enak banget. Rasanya meleleh di mulut. Kok kamu jago masak sih?"


Rain hanya tersenyum mendengar pujian Sunny. Melihat Sunny makan dengan lahap membuat hatinya menghangat.


"Kamu juga makan dong, katanya lemes ..."


"Kan tadi udah dapet vitamin C."


"Ish dasar modus!"


"Gak apa-apa kan sama istri sendiri!"


Sunny tertawa, ia terlihat cerah seperti namanya. Dia menularkan keceriaan itu pada Rain yang selalu ikut tersenyum.


"Liatin aku gak akan buat kamu kenyang, Rain... Ayo makan..."


"Enak kan?!"


"Enak soalnya kamu yang suapin."


"Dih masih sempat-sempatnya ya gombal! Makan sendiri!"


Rain akhirnya menyentuh hidangannya dan menyantapnya dengan perasaan hangat. Sudah sejak lama ia tidak merasakan hangat saat makan.


"Nanti pulang dari sini kita bakalan tinggal di rumah orangtua kamu?" Sunny akhirnya menanyakan pertanyaan yang sebelumnya tidak berani ia tanyakan karena Rain terlihat dingin pada saat itu.


"Gak." jawab Rain singkat.


"Terus tinggal dimana dong? Gak mungkin tinggal di sini kan? Jauh banget dari kampus..."


"Rencananya pulang dari sini aku mau beli rumah."


"Duh tuan muda..."


Rain tersenyum tipis karena Sunny sekali lagi mencairkan suasana disaat ia mulai merasa tidak nyaman karena ia tidak sudah membicarakan rumah yang di tempati orangtuanya.


"Rumah sederhana, tabunganku gak sebanyak itu buat bisa langsung beli rumah mewah."


"Ya gak apa-apa, kita kan tinggal cuma berdua. Gak mungkin juga kan kita langsung punya anak soalnya kita masih kuliah. Nanti kalau kita udah kerja, terus punya anak baru deh kita beli rumah yang halamannya luas biar bisa berkebun."


"Emangnya kamu mau punya anak berapa?"


"Kalau aku sih pengennya tiga biar rame, kalau kamu?"


"Kalau aku tergantung kamu soalnya aku cuma bisa hamilin yang hamil kan kamu."

__ADS_1


Sunny seketika terbatuk-batuk mendengar ucapan nakal Rain, barulah ia sadar setelahnya jika pembicara mereka sudah terlalu jauh.


Seolah kami akan hidup menua bersama...


Wajah Sunny seketika memanas, dan hatinya terasa meletup-letup.


Dengan cepat Sunny melahap sisa makanannya dan beranjak bangun.


"Aku udah selesai makannya, aku mandi duluan ya!" tukas Sunny bergegas pergi tapi Rain menahannya.


Rain menarik pergelangan Sunny hingga gadis itu bergerak mundur dan setelah itu barulah ia merengkuh pinggang mungil Sunny dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya.


"Sama seperti kamu, aku juga gak suka makan sendirian jadi tunggu aku."


Akhirnya Sunny tetap diam, terlalu gugup untuk sekedar beranjak bangun dari pangkuan Rain apalagi pria itu membelai perutnya dengan jari-jari tangannya dan sesekali memijatnya membawa ketegangan ke sekujur tubuhnya yang terasa terbakar.


Sementara Rain diam-diam tersenyum, situasi ini membuatnya ingat kejadian di kantin kampus ketika ia tanpa ragu menarik Sunny ke dalam pangkuannya, bedanya kali ini ia juga merengkuh pinggang Sunny dengan lebih berani karena Sunny sekarang adalah miliknya.


"Enak ya jadi pengantin baru, udah sore masih aja mesra-mesraan..."


Sunny dan Rain seketika terkejut ketika Raihan tiba-tiba masuk dan mengacaukan momen hangat mereka apalagi caranya menatap Sunny membuat gadis itu merasa tidak nyaman hingga ia langsung beranjak bangun dari pangkuan Rain.


Rain menghela nafas kesal. Untunglah Sunny tidak memakai gaun tidurnya dan untunglah lagi t-shirt yang Sunny gunakan cukup besar dan panjang hingga pahanya yang indah itu tidak terekspos tapi tetap saja, ia tidak suka ketika pria lain menatap istrinya seperti itu.


"Kamu tunggu di kamar aja, jangan mandi duluan..." bisik Rain, ia terdengar kesal tapi ia tetap menyelipkan kalimat yang membuat Sunny langsung berlari pergi ke kamarnya karena gugup.


"Akan lebih bagus kalau kalian saling membenci, gue gak pernah suka ngeliat loe bahagia." ucap Raihan seraya mendekat.


"Bahagia atau enggak, itu bukan urusan loe!" sahut Rain dingin. Ia enggan menghampiri Raihan tapi Rain tidak ingin Raihan duduk di kursi yang sebelumnya Sunny duduki jadi ia menghampirinya lebih dulu.


"Mau apa loe dateng lagi? Segitu kesepiannya sampai gangguin pengantin baru?"


Raihan seketika tertawa, tawa yang membuat Rain jengkel.


"Tempat ini milik gue, jadi gue bebas dateng kapan pun gue mau."


"Oh ya?"


Raihan menyeringai, ia terlihat sangat yakin dengan ucapannya tapi Rain segera mengambil ponselnya lalu menghubungi ayah tirinya, Richard.


"Halo pah..."


"Kenapa nak?"


"Aku suka banget sama villa tempat aku honeymoon sekarang. Boleh gak tempat ini jadi milik aku?"


"Tentu, papa akan suruh notaris urus surat balik namanya."


"Makasih pah..."


"Sama-sama nak... Papa seneng kamu minta sesuatu dari papa, apapun yang kamu mau pasti papa akan kasih."


Rain langsung mematikan sambungan teleponnya setelah itu dan tersenyum pada Raihan yang memasang wajah kecut sekarang.


"Berhenti ngeganggu hidup gue atau gue akan rebut semuanya dari loe!" ucap Rain memperingatkan.


Rain kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya lebar-lebar.


"Pergi!" usir Rain dengan dingin.


"Jangan seneng dulu, gue gak akan berhenti buat loe menderita!" tukas Raihan sebelum akhirnya pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2