
Suara kereta api yang bergerak cepat sama sekali tidak membuat pikiran Sunny menjadi jernih. Hujan sudah reda ketika Sunny dan Rain memutuskan pergi dari villa yang sudah menyimpan cukup banyak kenangan untuk mereka simpan dalam memori manis mereka, tapi sekarang hujan turun lagi.
Terlihat kaca jendela kereta yang mereka tumpangi sekarang menjadi berembun hingga Sunny tidak bisa melihat pemandangan di luar dengan jelas agar ia bisa menenangkan hatinya yang tidak mau berhenti gelisah, tentunya itu semua karena ulah suaminya yang sudah menggodanya tapi tidak juga menyentuhnya dan Sunny terlalu malu untuk balas menggodanya.
Merasa bosan dengan pemandangan yang tidak bisa benar-benar menjernihkan pikirannya, Sunny kemudian menoleh ke arah Rain yang terlihat tenang memainkan ponselnya, sedikit mengintip apa yang sedang di lihat oleh suaminya itu.
"Mau liat?" tanya Rain sambil menggeser posisi ponselnya agar Sunny tidak perlu lagi diam-diam mengintipnya.
"Liat apa?" jawab Sunny balik bertanya. Rain kemudian menyerahkan ponselnya pada Sunny hingga gadis itu terlihat sedikit terkejut. "Tenang aja aku gak akan liat sesuatu yang buat kamu cemburu." Bisik Rain, sontak membuat wajah Sunny seketika memerah, tentunya Sunny langsung teringat ketika ia merasa cemburu karena banyak gadis remaja yang menggoda Rain di toko buku tempo hari.
"Siapa juga yang bakal cemburu!" cicit Sunny mengelak. Gengsinya sungguh setinggi langit.
"Yakin gak cemburu?"
"Iya lah!"
Rain kemudian mengambil kembali ponselnya yang sama sekali belum Sunny lihat karena percakapan mereka, lalu dengan sengaja Rain membuka akun sosial medianya dan memfoto dirinya secara asal dengan cepat. Sepertinya Rain sungguh tidak takut terlihat jelek karena ia langsung mempostingnya setelah itu.
Tidak perlu menunggu lama bagi postingan itu mendapatkan banyak suka serta komentar yang seketika membuat Sunny jengkel karena hampir semua yang berkomentar adalah akun wanita cantik yang terlihat seperti pemuja Rain.
"Padahal fotonya sedikit ngeblur tapi getarannya sampai kesini."
"Rain, please nikahin gue!"
"Tunggu dulu, Rain lagi dimana tuh? Siapa tuh di sebelahnya?"
"Itu gue guys!"
"Sayang kenapa foto liburan kita di spil sih?"
Semakin lama Sunny membaca komentar-komentar itu semakin membuat mata Sunny sakit.
"Mentang-mentang ganteng!" gerutu Sunny kesal, penggemar Rain sungguh banyak. Sunny sama sekali tidak menduganya tapi jika di lihat dari parasnya, Rain memang memiliki visual yang kuat bahkan ketika ia sedang tidak tersenyum.
"Nih, ngapain juga aku baca-baca komentar di akun kamu!" ucap Sunny sambil Mengembalikan ponsel Rain kepadanya.
"Katanya gak cemburu?" goda Rain menyeringai, ia menyenggol lengan Sunny dengan lengannya dan gadis itu langsung menggeser posisi duduknya menjauh lalu memalingkan wajahnya menghadap kembali ke jendela.
"Siapa juga yang cemburu?"
Diam-diam Rain memotret Sunny, meskipun wajahnya tidak bisa terlihat jelas tapi kecantikannya sama sekali tidak berkurang.
Rain kemudian memposting foto Sunny di akun media sosialnya yang biasanya hanya bersisi kegemarannya tentang dunia otomotif.
"Mereka bener-bener gila." gumam Rain membuat Sunny langsung menoleh dan melihat Rain yang sedang tersenyum melihat layar ponselnya membuat Sunny mengira jika suaminya sedang membaca komentar-komentar dari gadis-gadis centil di media sosialnya.
Tidak tahan lagi melihat tawa kecil suaminya yang terlihat gemas itu, Sunny kemudian mengambil ponsel Rain, ia berniat membatasi kolom komentar tapi yang ia temukan ternyata Rain sedang tersenyum melihat fotonya.
Sunny tentu saja sedikit tersentuh karena Rain memberikan caption 'cinta' di fotonya seolah menegaskan jika ia sudah ada yang memiliki.
__ADS_1
"Patah hati!"
"Gak boleh!!! Apa itu merah-merah di lehernya?"
"Rain kayaknya udah gila semalam."
"Kencan berdua di dalam kereta, romantis gak sih?"
"Gak bisa! Tunjukin mukannya dong!"
"Kamu terkenal ya..." Komentar Sunny yang masih berusaha untuk tetap tenang padahal ia senang setengah mati karena Rain sudah memamerkannya.
"Gak juga. Kamu gak punya aku media sosial?"
"Punya, tapi gak seterkenal kamu kayaknya. Kalau aku upload yang like cuma beberapa, itupun kebanyakan temen kelas."
"Emangnya kamu upload apa?"
Sunny kemudian menggunakan ponsel Rain mencari akun media sosialnya lalu menunjukkan apa saja yang ia upload, dan seketika Rain tersenyum. Pantas lah akun media sosial Sunny tidak terlalu banyak pengikut karena ia hanya memposting bahan kain serta beberapa peralatan menggambar dan desain tugas kuliahnya. Tidak ada satupun fotonya bertengger di akun media sosialnya bahkan foto profilnya juga hanya gambar bunga matahari.
"Mau aku bantuin promosi akun kamu?"
"Mau dong!"
"Gampang."
"Umumin pernikahan kita!"
"Ih Rain!" Sunny langsung memukul bahu Rain karena ternyata pria itu masih saja tidak menyerah ingin mengumumkan pernikahan mereka.
"Kenapa sih, kamu malu karena udah nikah sama aku?" tanya Rain yang kali ini terdengar serius.
"Bukan malu."
"Terus kenapa?"
"Aku cuma mau kehidupan kuliah aku damai."
"Emangnya kalau orang-orang tahu kita udah nikah mereka bakalan rusuh?"
"Udah pasti, apalagi penggemar kamu banyak!"
Rain akhirnya kembali diam tapi raut wajahnya terlihat tidak senang. Tidak ingin Rain marah padanya, Sunny kemudian menyentuh lengan Rain dan membujuknya. "Seenggaknya sampai semester ini berkahir."
"Masih tiga bulan lagi kan?"
"Cuma tiga bulan, Rain! Gak lama..."
Rain menghela nafas berat, ia ingin mengumumkan pada dunia jika gadis cantik dan bersinar ini adalah miliknya tapi ia tidak bisa memaksa Sunny.
__ADS_1
***
Mereka akhirnya tiba di rumah keluar Rain, kepulangan mereka tentu saja membuat kedua orangtua Rain terkejut karena mengira mereka akan berbulan madu setidaknya satu Minggu.
"Kok kalian cepet banget bulan madunya?" Rini, mama Rain langsung menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
"Iya soalnya kita gak bisa lama-lama gak masuk kelas." jawab Rain. Ia menggandeng tangan Sunny memasuki rumah besarnya yang seperti istana di mata Sunny.
Dengar-dengar ayahnya dan ayah Rain adalah saingan bisnis tapi terlihat jelas jika keluarga Rain jauh lebih kaya darinya, desain interior rumah dengan nuansa klasik ala-ala kerajaan bertemakan putih ini membuat Sunny takjub.
"Rumah kamu besar banget." bisik Sunny sambil terus melihat ke setiap sudut ruangan yang menyuguhkan kemewahan yang elegan belum lagi banyaknya pelayan yang datang menyambut mereka, keluarga Rain terlihat tidak nyata bagi Sunny.
"Kamu suka rumah besar?" tanya Rain menghentikan langkahnya sebelum mereka tiba di kamar mereka.
"Suka tapi ini terlalu besar, ini sih tiga kali lebih besar dari rumah ku."
"Iya terlalu besar makanya rasanya sepi."
"Sepi apa sih? Rumah ramai begini di bilang sepi." Rini menyahut dan langsung masuk dalam percakapan anak dana menantunya itu.
Rain tidak menanggapi ucapan ibunya itu tapi Sunny menyadari jika ada yang berbeda dengan ekspresi Rain sampai ia melihat sebuah bingkai foto berukuran sangat besar yang terpajang pada dinding. Disana ada kedua orangtua Rain yang terlihat tersenyum bahagia tapi tidak dengan Rain dan Raihan yang memasang ekspresi dingin meskipun mereka duduk bersebelahan membelakangi kedua orangtua mereka.
"Papa paling bentar lagi pulang, kalian istirahat dulu aja. Pasti cape, ngomong-ngomong tadi kalian pulang naik apa? Kenapa gak minta jemput?" tanya Rini di sepanjang lorong menuju kamar Rain yang di hiasi banyak vas besar berisi bunga segar.
"Kita naik kereta tadi."
"Astaga, kamu ajak menantu mama naik kereta?"
"Emangnya kenapa kalau naik kereta?"
"Jangan buat malu deh, Rain. Nanti apa kata orangtua Sunny kalau kamu aja Sunny pulang naik kereta?"
"Aku gak keberatan kok mah, aku malah suka soalnya aku jadi bisa menikmati pemandangan." jawab Sunny yang tidak ingin Rain sampai di marahi oleh ibunya walaupun ia sedikit berbohong karena di sepanjang jalan turun hujan deras hingga ia tidak bisa melihat pemandangan apapun.
"Pemandangan apa?" Richard datang dan langsung bertanya membuat langkah kaki Rain, Sunny serta Rini seketika terhenti.
"Kamu pulang cepet."
"Iya, pengurus rumah bilang Rain sama istrinya udah pulang."
"Padahal mama baru mau telepon papa tapi udah keduluan."
Richard hanya tersenyum dan membelai wajah istrinya itu, mereka terlihat bahagia tapi sekali lagi ekspresi Rain membuat Sunny bingung seolah Rain sedang menahan amarah sejak ia memasuki rumah ini.
"Kayaknya pengurus rumah masih kurang informatif karena dia gak laporan juga ke papa kalau aku pulang karena mau kasih tahu kalau aku dan Sunny gak akan tinggal disini."
Ekspresi Richard seketika menggelap, ia menatap Rain dengan tatapan yang menakutkan membuat Sunny ikut merasa takut.
***
__ADS_1