
Siang sudah menjelang, Sunny tidak tahu ia tidur jam berapa semalam yang pasti kepalanya pening karena waktu tidurnya menjadi kacau.
Tidak seperti kemarin, ia tidak lupa akan fakta jika ia dan Rain sudah menikah jadi ia tidak lagi terkejut menemukan Rain terlelap di sebelahnya meskipun sedikit sulit untuk terbiasa melihat pemandangan indah ini.
Tubuh Rain terbentuk dengan bagus seolah ia memang sengaja berolahraga agar otot-ototnya sempurna, pas dengan porsi tubuhnya yang tinggi dan tegap.
Posisi tidur Rain yang terlungkup tanpa menggunakan atasan memperlihatkan otot bahunya yang kokoh. Rain akan cocok dengan julukan pria dengan bahu seluas samudra.
Senyuman terukir di wajah Sunny, memikirkan jika bahu seluas samudra itu sekarang telah menjadi sandarannya.
Sunny terus menatap wajah Rain, wajah yang terlihat polos saat terlelap tapi terlalu berbahaya untuk ia hadapi saat terjaga.
Ketika Sunny memberanikan diri menyentuh rambutnya, merasakan sensasi halus yang lembut dari rambut Rain yang berantakan dan membuatnya ingin merapikannya.
"Jangan berhenti..." suara Rain terdengar serak, sayup-sayup ia membuka kedua matanya dan tersenyum tipis pada Sunny yang terkejut karena melihatnya tiba-tiba terbangun.
"Lagi..." sambil kembali terpejam, Rain menyentuh tangan Sunny agar Sunny kembali memainkan rambutnya.
"Belai aku lagi..." suara Rain terdengar manja hingga ketegangan yang Sunny rasakan perlahan memudar.
"Kamu suka?" tanya Sunny dengan lembut, kini ia tidak ragu lagi untuk memandangi wajah Rain.
"Nyaman..." meskipun hanya satu kata singkat tapi cukup untuk membuat Sunny kembali membelai rambut Rain sesuai keinginannya.
"Kepala aku sakit..." ucap Sunny pelan setelah beberapa saat membelai rambut Rain. Perlahan Rain kembali membuka kedua matanya dan menatap wajah Sunny yang begitu dekat dengannya.
Tangan Rain bergerak menyentuh kepala Sunny, "mau ke dokter?"
"Kayaknya gara-gara bangun kesiangan terus laper jadi pusing." jawab Sunny terdengar manja.
Oh Tuhan, dia membuat Rain tersenyum tanpa sadar sekaligus merasa hangat.
"Mau aku buatin sarapan?"
"Kamu kan masih ngantuk..."
"Tapi aku gak bisa biarin istri aku sakit kepala karena kelaparan."
Sunny seketika tersenyum, pernikahan ini terasa semakin nyata, dengan situasi mereka yang tidak lagi merasa canggung berada di atas tempat tidur yang sama dan saling memberikan perhatian kecil.
"Kamu lanjut tidur aja, aku bisa buat sarapan sendiri kok."
Sunny kemudian beranjak duduk, ia bersiap untuk turun dari atas tempat tidur mereka tapi Rain merengkuh pinggangnya. "Tunggu aku bentar, lima menit aja..."
"Bener ya cuma lima menit?"
"Iya..."
Rain lantas menyesuaikan posisinya dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Sunny tanpa melepaskan pelukannya di pinggangnya, membiarkan wajahnya menghadap langsung ke perut Sunny sementara Sunny mulai membelai rambut Rain dan menunggu dengan sabar.
***
__ADS_1
Lima menit itu akhirnya berlalu, sesuai janjinya Rain akan membuatkan sarapan untuk Sunny tapi sebelum itu mereka membasuh wajah mereka dan menggosok gigi mereka bersama-sama.
"Gak apa-apa nih gak mandi dulu?" tanya Sunny setelah berkumur. Rain tidak lantas menjawab karena ia masih berkumur meskipun begitu Sunny masih menunggu dengan sabar.
"Nanggung, bentar lagi juga sore. Makan dulu aja." jawab Rain selesai berkumur dan menyeka wajahnya yang basah dengan handuk lalu menggunakan handuk yang sama untuk membasuh wajah Sunny yang masih basah.
"Dasar jorok, masa makan sebelum mandi!" Sunny bergumam pelan.
"Emangnya kenapa?"
"Kan ada lagunya bangun tidur terus mandi, bukan bangun tidur terus makan."
"Tapi kamu bilang kan lapar ..." ucap Rain setelah selesai menyeka wajah Sunny, tanpa di suruh ia mengambil sisir dan membantu Sunny menyisir rambutnya.
"Iya sih, ya udah sarapan aja deh. mandinya belakangan."
"Tapi ini sih namanya bukan sarapan."
"Aku kira masih jam sepuluh pagi gak taunya udah jam tiga sore." cicit Sunny pelan, sambil mengambil sisir di tangan Rain karena Rain telah selesai menyisir rambutnya lalu dengan sedikit berjinjit Sunny mulai merapihkan rambut Rain dengan sisir itu.
"Gara-gara kamu nih jadi kita gak bisa tidur."
Rain hanya tertawa saat Sunny tanpa ragu mencubitnya dan menyalahkannya seolah ia tidak bertanggung jawab atas ketegangan semalam padahal karenanya lah Rain selalu hilang kendali.
"Sakit sayang ..." Rain meringis sambil mengusap perut yang Sunny cubit sebelumnya dan sedikit menundukkan kepalanya agar Sunny tidak perlu lagi berjinjit saat merapihkan rambutnya.
"Biarin!" seru Sunny setelah selesai sambil lalu meninggalkan Rain yang masih berada di dalam kamar mandi dan bersiap keluar kamar.
"Mau makan, laper ..." jawab Sunny sedikit merengek.
"Gak ganti baju dulu?"
Sunny kemudian menundukkan kepalanya, ia melihat tidak ada yang salah dengan penampilannya toh Rain sudah pernah melihatnya hanya menggunakan pakaian dalamnya saja bahkan pernah menyentuh beberapa titik sensitif di tubuhnya yang membuatnya menggila jadi gaun tidur ini bukanlah masalah besar lagi bagi Rain kan?
Iya kan?
"Jangan buat aku dalam masalah terus-terusan dong ..." Rain mulai mengeluh sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sunny.
"Kayak kamu gak pernah liat lebih banyak kulit aku aja!"
"Jangan nantangin aku!"
Sunny seketika tertegun, tatapan mata Rain terlihat berbeda hingga membuat bulu kuduknya merinding.
"Mau salin atau tetap pakai gaun ini tapi aku gak jamin kamu bisa makan cepet setelah itu."
Oh Tuhan, Rain sungguh berbahaya!
"Iya aku salin ... Kamu juga pakai baju biar adil!"
"Deal!"
__ADS_1
"Aku pinjem baju kamu ya!"
"Eh!!!"
***
"Hah!!!"
Entah sudah berapa kali Rain menghela nafas, ia tidak bisa fokus karena Sunny mengenakan t-shirt miliknya dan terlihat kebesaran di tubuhnya dan mengganggu pikirannya.
Rasanya seperti mereka baru saja selesai bercinta dan kelaparan sekarang.
Melihat Sunny yang kesulitan mengikat rambutnya ketika akan mengolah jamur membuat Rain yang sejak semula menguatkan hati untuk tetap menjaga jarak dari Sunny akhirnya melangkah menghampirinya.
"Butuh bantuan?"
"Ya?"
Sunny sedikit terkejut karena Rain tiba-tiba muncul di belakangnya dan menggantikannya mengikat rambutnya. Sentuhan kecil ini seketika membuat Sunny tegang apalagi deru nafas Rain menerpa tengkuknya.
"Dapat ikat rambut dari mana?" tanya Sunny. Rain lantas menjawab, "di atas meja rias kamu."
Diam-diam Sunny tersenyum, Rain bahkan sudah mempersiapkan ikatan rambut untuknya.
"Makasih..."
"Cuma makasih doang?"
"Terus apa dong?"
Rain lantas memeluk tubuh Sunny dari belakang dan mengecup lehernya singkat. "Terima kasih kembali," bisiknya sebelum melepaskan pelukannya dan melangkah kembali ke tempatnya.
"Dasar modus!" ucap Sunny sambil memegangi lehernya yang terasa panas.
"Kenapa sayang? Mau lagi?"
"Gak, makasih!!!"
Rain tertawa pelan, begitu menyenangkan bisa menggoda istrinya itu. Ia kemudian menyentuh bibirnya, bibir nakal yang sudah berani mengecup leher jenjang Sunny karena melihat jejak kemerahan di sana. Jejak yang sudah ia buat kemarin malam, di dapur ini.
Oh Tuhan, ketegangan itu datang lagi ...
"Aku gak dapat morning kiss nih?"
"Ini udah sore ya Rain..."
"Afternoon kiss?"
"Rain!!!"
***
__ADS_1