My Secret Marriage

My Secret Marriage
Wilayah teritorial mu


__ADS_3

"Girang banget kamu di godain bocil sampai gak berhenti senyum-senyum dari tadi!" sindir Sunny kesal, wajahnya masih merenggut walaupun mereka sudah keluar dari dalam toko buku.


"Mentang-mentang mereka lebih muda terus kamu pasrah aja gitu pas mereka pegang-pegang lengan kamu!"


Semakin banyak Sunny berbicara mengeluarkan kekesalan dalam hatinya semakin Rain merasa gemas hingga ia tidak bisa mengatakan apapun selain tersenyum.


"Kayaknya aku harus setiap hari jalan ke mall..." bukannya meredakan kekesalan Sunny, Rain malah sengaja menantang.


"Tebar pesona maksud kamu?!" sindir Sunny semakin kesal. "Sok kegantengan!"


"Aku emang ganteng sih..."


Sunny langsung memberikan tatapan sinis pada Rain lalu setelah itu langsung melepaskan tangan Rain yang menggandengnya lalu berjalan cepat meninggalkannya.


"Ngambek nih?" ledek Rain yang segera menyusul langkah cepat istrinya itu.


"Jangan GeEr, siapa juga yang ngambek?"


"Terus kenapa jalannya cepet banget? Gak di gandeng lagi aku... Tar suami mu ini di culik loh."


"Bodo amat!"


"Yakin nih?"


Sunny tidak menanggapi ucapannya kali ini, sepertinya ia sungguh merajuk dan rasanya Rain ingin memanggul istrinya itu dan membawanya ketempat dimana hanya ada mereka berdua dan menciumnya setidaknya Sunny tidak akan merajuk lagi kan?


Harus Rain akui, itu hanya bagian dari keinginannya bukan untuk meredakan amarah Sunny.


"Sayang..." Panggil Rain sambil mengejar langkah Sunny tapi Sunny tetap mengabaikannya.


"Kamu cemburu ya?" ledek Rain sambil menjegal langkah Sunny dengan berhenti tepat di hadapannya.


"Aku cemburu? Ya gak lah!" Sunny mengelak sambil melipat kedua tangannya di dadanya dan memalingkan wajahnya karena enggan melihat wajah tampan Rain karena mungkin ia akan luluh dengan mudah terhasut ketampanannya.


Oh sial! Rain tidak mengatakan apapun lagi tapi ekspresinya menyatakan kemenangannya hingga sulit untuk Sunny mengelak lagi. "Aku cuma gak suka apapun yang aku miliki di sentuh orang lain." ucap Sunny pelan, "Walaupun pernikahan kita mendadak tapi tetep aja status kita ngebuat aku merasa terikat sama kamu..." lanjut Sunny. Ia ragu-ragu sekaligus malu saat mengatakannya tapi jika ia hanya diam, Sunny tidak ingin kejadian ini kembali terulang.


Rain kemudian tersenyum, ia merapihkan rambut Sunny yang sedikit berantakan lalu sedikit menunduk agar ia dapat bertatapan dengan Sunny lebih dekat.


"Aku suka..."

__ADS_1


"..."


"Aku suka berada di wilayah kekuasaan teritorial kamu..."


Kalimat itu entah kenapa terdengar manis hingga membuat wajah Sunny seketika tersipu, ia tidak kuasa menyembunyikan senyumannya lagi sekarang, sambil menatap kedua mata Rain. "Kamu harus hati-hati..."


"Hati-hati pada pemilik ku?"


Sunny tidak tahu Rain belajar merayu darimana yang pasti setiap kalimat yang Rain ucapkan sekarang membuat hatinya bergetar.


"Aku memperingatkan mu untuk tidak membuatku jatuh cinta dengan mudah karena jika kamu tidak bisa membalasnya mungkin aku akan mengutuk mu seumur hidup karena patah hati."


Itu adalah peringatan Rain.


Sunny mengatakannya dengan sangat jelas, Rain langsung mengerti maka bukankah seharusnya ia bergerak mundur dan menjauh tapi langkahnya malah semakin mendekat. "Ayo kita pulang, sayang..."


Sunny tidak mengerti sepenuhnya dengan arti dari sikap Rain yang malah kembali menggandeng tangannya setelah ia memperingatkannya, semua ini menimbulkan sejuta pertanyaan yang muncul dalam benaknya.


***


"Mengutuk mu seumur hidup karena patah hati..."


Oh Tuhan sekujur tubuh Sunny terasa merinding saat mengingat perkataannya pada Rain ketika di pusat perbelanjaan tadi.


"Gak boleh!!! Gak boleh begini!!!" Sunny mencoba mengeluarkan Rain dari dalam pikirannya dengan cara mencuci wajahnya dengan air dingin.


"Apanya yang gak boleh?"


Jantung Sunny seperti akan melompat keluar saat Rain tiba-tiba saja muncul di belakang tubuhnya. Terlihat dengan sangat jelas pantulan tubuhnya di cermin yang saat ini sedang bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Kamu kok sembarangan masuk?" Protes Sunny tapi Rain malah dengan santai melangkah mendekatinya.


"Siapa suruh gak di kunci..."


"Jangan macem-macem deh!" Sunny hanya bisa bergerak mundur untuk menghindari Rain tapi itu tidak bertahan lama karena tubuhnya sudah membentur wastafel sementara Rain terus mendekat.


Kini kedua tangan Rain berada tepat di antara tubuh Sunny. Ia kemudian mencondongkan wajahnya mendekat membuat Sunny semakin merasa gugup.


"Rain..." panggilan Sunny terdengar seperti rengekan memohon ampun tapi Rain malah menjawabnya dengan bisikan lembut dan sensual, "Ya?"

__ADS_1


"Kamu mau apa?" tanya Sunny yang semakin gugup terlebih Rain menatapnya dengan intens.


"Aku mau mandi..." jawab Rain dengan tenang dan begitu santai tapi mengirimkan getaran yang tidak biasa di sudut hati Sunny.


"Aku kan duluan disini ..."


Rain hanya tersenyum, ia menatap Sunny tanpa mengatakan apapun dan tangannya mulai bergerak menyentuh wajah Sunny yang basah.


Dengan refleks Sunny menutup kedua matanya karena mengira Rain akan menciumnya tapi ternyata Rain hanya sedang merapihkan rambutnya yang tergerai dan mengikatnya dengan hati-hati.


"Kenapa masih merem? Mau aku cium?" bisik Rain menggoda.


Sunny hanya bisa membuka kedua matanya perlahan, rasa malu menahannya dan kegugupan karena situasi ini membuat Sunny susah bernafas.


Apa ini bisa di bilang sebuah pelukan?


Kenapa begitu mudah bagi kami bersentuhan?


Aku tidak bisa marah padanya bahkan jika ia mungkin menciumku setelah ini.


Sunny berkutat dengan pikirannya sendiri sejak tadi selain berdebar ia tidak merasa merugi dengan apapun yang Rain lakukan padanya, pada tubuhnya.


"Aku memintamu hati-hati agar gak membuatku jatuh cinta tapi kamu menyentuh ku dengan seenaknya, membuatku merasa aku memang milik mu, bukannya itu gak adil?"


"Bukannya kita udah saling memiliki karena status kita lebih kuat dari hubungan apapun?"


"Tapi pernikahan ini terjadi karena salah paham..."


"Terus?"


Tatapan mata Rain yang menantang seakan tidak mau kalah apalagi tangannya menyentuh rambut Sunny dan menciumnya, sikap Rain membangkitkan keberanian Sunny untuk menyentuh tubuh Rain. Ia meletakkan tangannya di atas dada bidang Rain.


"Seumur hidup ku, aku gak pernah jatuh cinta, aku gak pernah sekalipun membiarkan orang lain menyentuh ku bahkan ujung rambut sekalipun tapi kamu langsung mendapatkan hak itu tanpa mengambil hatiku lebih dulu. Jangan main-main kalau kamu hanya sekedar singgah, Rain..." kini giliran Sunny yang memperingatkan Rain, ia sudah tidak perduli dengan kebohongannya sebelumnya. Mungkin karena ia mengatakan jika ia sudah berpengalaman jadi Rain dengan mudahnya meletakan tangannya di tubuhnya.


"Gimana kalau aku bilang, aku tertarik sejak awal sama kamu dan aku menggunakan kesempatan ini untuk menarik mu lebih dekat lagi?"


Tubuh Sunny tersentak, Rain mengangkat tubuhnya lalu menurunkannya di atas wastafel. Kini wajah mereka menjadi sejajar.


"Aku suka di saat kamu cemburu, aku suka disaat kamu mengakui kalau kita sudah menikah... Aku suka dengan apapun yang kamu lakukan padaku, dengan semua ucapan yang terlontar dari bibirmu yang manis ini..."

__ADS_1


"Aku suka..."


***


__ADS_2