
Hari sudah senja ketika Rain dan Sunny selesai merapihkan kamar cottage yang mereka sewa.
Cottage sederhana yang pemandangannya langsung menghadap ke pantai yang terlihat damai dengan suara deburan ombak karena hari sudah mulai malam dan pengunjung mulai meninggalkan pantai.
"Udah sore, kamu gak mau mandi?" tanya Rain saat menghampiri Sunny yang saat ini duduk di teras cottage sambil menikmati angin laut yang berhembus kencang menerpa kulitnya.
"Gak punya baju ganti," jawab Sunny singkat.
"Cuci aja baju yang sekarang di pake."
"Terus nanti pakai apa dong?"
"Ya gak usah pakai apa-apa..."
"Ish, dasar! Kamu ini otaknya kenapa isinya begituan semua sih?"
"Begituan apa?"
"Jangan pura-pura polos, Rain!"
Rain menyentuh dagunya seolah ia berpikir keras dan sikapnya berhasil membuatnya mendapat pukulan manja dari istrinya itu.
"Sakit, sayang!" protes Rain sambil memegangi kedua tangan Sunny agar berhenti memukulinya.
"Siapa suruh sok polos!"
"Emang aku masih polos, sayang ... Buktinya sampai detik ini aku masih perjaka."
"Pura-pura aja!"
"Kok masih gak percaya sih sayang?"
"Kan kalau lelaki gak ada tandanya...."
"Ya makanya buktiin dong, liat seberapa pengalamannya suamimu ini...."
"Tuh kan modus lagi!"
Rain tertawa puas setelah berhasil membuat Sunny kesal lagi, sangat menyenangkan menggoda istrinya yang sensitif ini karena ekspresinya selalu saja menggemaskan.
"Ih jangan ketawa terus dong, Rain!"
"Ya abisnya kamu gemesin sih....!"
"Hemp!"
Sunny memalingkan wajahnya seraya melipat kedua tangannya di dadanya, pipinya yang putih kenyal itu membuat Rain tidak tahan untuk tidak menggigitnya hingga Sunny langsung menjerit.
"Rain, kamu jorok!" Sunny langsung mengejar Rain yang kabur setelah membuat pipinya basah.
Sambil menyeka sisa saliva Rain yang tertinggal di pipinya, Sunny terus berlari mengejar Rain yang sudah hampir mendekati bibir pantai.
Rain terus menghindari kejaran istrinya itu sambil sesekali menendang ombak ke arah Sunny dan membuatnya terciprat dan bajunya basah, tentunya Sunny membalasnya tanpa mau kalah hingga akhirnya mereka berdua basah kuyup.
Setelah lelah bermain-main, Rain lantas membaringkan tubuhnya di pangkuan Sunny yang saat ini duduk sambil menghadap langsung ke arah pantai ketika matahari mulai terbenam.
"Ayo buat permintaan," ajak Sunny sambil menatap indahnya matahari yang terbenam yang membiaskan warna jingga tidak hanya di permukaan awan tapi juga di hamparan air laut yang terlihat berkilauan dengan begitu indah.
__ADS_1
"Bukannya minta harapan itu pas bintang jatuh ya?" tanya Rain bingung.
"Ada bintang sebesar itu di sana, kenapa harus buat permohonan sama bintang yang udah redup, Rain?" jawab Sunny sambil menunjuk ke arah matahari.
"Jangan musyrik, Sunny...."
"Ih, kamu mah mengacaukan momen romantis, ya kali kita memuja matahari."
Rain kembali tertawa ketika Sunny mulai mengomel lagi, ia langsung beranjak bangun dan duduk di sebelah istrinya itu.
"Aku bakalan mikir kamu hamil kalau aja kita udah lepas segel." bisik Rain menggoda.
"Kenapa gitu?" tanya Sunny yang mendadak merasa gugup ketika Rain menyinggung soal kehamilan.
Rasanya seperti masa depan yang cerah berada di depan mata.
"Soalnya kamu sensitif banget hari ini. Capek ya?"
Sunny terdiam sesaat, hatinya merasa tersentuh dengan begitu lembut karena perhatian yang Rain tunjukkan padanya.
"Sedikit, jujur aja aku kaget karena tadi semua sahabat aku kumpul dan mereka kayak gak menerima kamu," jawab Sunny jujur, ada kesedihan di sorot matanya yang sedikit meredup ketika membicarakan tentang teman-temannya, membuat Rain berpikir apa jadinya jika mereka tidak menikah? Mungkin saat ini Sunny sedang bermain-main dengan sahabatnya dan menghabiskan masa mudanya dengan menyenangkan sementara dia sendiri sibuk dengan dunia otomotif dan balapan demi melepaskan rasa sesak karena kekangan orangtuanya.
"Kamu gak nyesel nikah sama aku?"
Pertanyaan Rain kali ini membuat Sunny langsung menatap Rain seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Nyesel kenapa?"
"Gara-gara nikah sama aku, kamu jadi gak bisa ikut kumpul sama temen-temen kamu, kan...."
"Mungkin...."
"Kalau gitu aku gak akan nyesel, gak akan pernah!"
"Walaupun temen-temen kamu gak suka sama aku, kamu akan tetep di pihak aku?"
"Iya lah, mereka kan cuma temen, kalau kamu kan temen hidup!"
Rain terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum lembut, ucapan Sunny cukup untuk menghalau semua kecemburuannya dan lebih dari itu, "Kayaknya permintaan ku udah terkabul...." gumam Rain dengan nada suara yang lembut dan hangat.
"Kamu minta apa?"
"Kamu...."
"Ya?"
"Aku minta kamu jadi teman hidupku, selamanya bersamaku..."
Ketika matahari perlahan-lahan tenggelam, sinarnya masih memandikan tubuh Rain dan Sunny yang saat ini saling bertaut. Berciuman di bawah cahaya matahari yang akhirnya redup, berganti dengan sinar bulan purnama yang indah.
Ciuman yang lembut dan hangat, terasa manis ketika saat lidah mereka mulai terpaut, saling mengecap dan menyatukan perasaan tanpa kata-kata, tanpa celah, tanpa jarak, hanya saling merengkuh dan memiliki satu sama lain.
...----------------...
Butir-butir pasir hanyut terbawa air yang terus mengalir dari keran tempat Sunny dan Rain mencuci pakaian mereka.
Sambil tertawa, mereka tersipu malu saat ingat kejadian dipinggir pantai tadi yang membuat mereka nyaris hilang kendali, untung saja mereka segera sadar dan Rain langsung mengajak Sunny kembali ke cottage.
__ADS_1
Mandi bersama sambil bercumbu liar dalam waktu yang lama tanpa merasa kedinginan sedikitpun karena panasnya gairah yang membakar tubuh mereka.
Hanya dengan menggunakan jubah mandi, Rain dan Sunny berdiri menghadap ke wastafel berdampingan sambil mencuci pakaian mereka yang dipenuhi pasir.
"Kira-kira kering gak ya besok?" tanya Sunny khawatir saat Rain memeras pakaian yang telah selesai mereka cuci.
"Ya semoga aja," jawab Rain sambil membawa baju mereka dan mulai menjemurnya di tiang penyekat ruangan shower.
Air menetes dari pakai mereka yang basah tapi setidaknya sudah tidak ada lagi pasir yang tersangkut di sana.
"Yuk tidur, kamu gak ngantuk?" ajak Rain sambil menggandeng tangan Sunny keluar dari dalam kamar mandi.
"Aku laper, Rain...."
"Loh tadi kan habis makan,"
"Udah berapa jam sejak tadi, kan?"
Sunny mulai cemberut, Rain tidak akan pernah kuat menghadapi ekspresi itu lalu ia mulai membuka rak penyimpanan di dapur dan menemukan beberapa bungkus mie instan dan sekeranjang telur.
"Makan mie mau?" tanya Rain dan Sunny langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya udah tunggu bentar."
Rain mulai memasak mie instan itu sementara Sunny menunggu tidak jauh dari meja dapur, tapi kaki Sunny mulai melangkah menghampiri Rain yang saat ini membelakanginya, tubuhnya yang tegap serta punggungnya yang lebar dan bahunya yang kokoh membuat Sunny tidak tahan untuk tidak memeluknya dari belakang.
"Punggung kamu nyaman banget, ini kali ya yang mereka bilang punggung seluas samudra...." gumam Sunny sambil menghirup aroma segar di punggung Rain dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Sayang, jangan pancing aku...."
"Pancing apa sih? Aku kan cuma peluk doang, sayang."
"Iya tapi kita cuma pakai jubah mandi."
"Ya terus?"
"Hah..." Rain hanya bisa menghela nafas berat, sulit untuknya bergerak jika dia dapat merasakan lekuk tubuh Sunny dengan begitu jelas menempel di punggungnya hingga membuat telinganya seketika memerah terlebih saat Sunny mempererat pelukannya.
Dan akhirnya pertahanan Rain roboh, ia mematikan kompor lalu berbalik tanpa membiarkan Sunny menjauh sedikitpun.
"Kenapa?" tanya Sunny yang kebingungan mengartikan ekspresi Rain.
"Sunny, kayaknya aku gak bisa tepatin janjiku..."
"Ya?"
"Kamu boleh protes setelah ini..."
Sunny menjerit ketika Rain mengangkat tubuhnya seperti membawa sekarung beras di bahunya lalu melangkah dengan pasti menuju tempat tidur dan menurunkannya di sana.
Kini Sunny berdiri di atas tempat tidur dengan dipan yang pendek hingga tubuh Rain hanya sampai sebahunya saja dan sedetik kemudian Rain mendaratkan bibirnya di leher Sunny berbarengan dengan tangannya yang membuka jubah mandi Sunny dengan begitu mudah.
"Rain!!!"
"Shtttt! Aku masih belum mulai, kamu boleh protes saat aku udah selesai...."
***
__ADS_1