
"Termasuk bibir mu yang manis ini ..." Rain menyentuhnya, ia menyentuhnya dengan ibu jarinya dan menekannya, "aku suka..."
Sunny bahkan dapat merasakan ujung jari Rain menyentuh ujung lidahnya dan terjepit diantara barisan giginya.
Rain sungguh tidak kenal apa itu peringatan! Sunny perlahan tersenyum, ia meletakan kedua tangannya di atas bahu Rain dan melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya.
Ini adalah permainan tidak mau kalah kan?
Lalu Sunny dengan sengaja membelai rambut Rain, mengusap daun telinga nya dan menekan tengkuknya.
"Jadi kamu bukan hanya sekedar singgah?" Tanya Sunny. Ia membiarkan ibu jari Rain masih berada diantara mulutnya.
"Ya... Aku berpikir untuk menetap selamanya."
Sekali lagi Sunny tersenyum, telinga Rain yang memerah menggambarkan ketegangannya dengan sangat jelas.
"Bagaimana jika aku tidak semudah itu jatuh cinta padamu? Bagaimana jika akhirnya aku tidak pernah merasakannya?"
Kini giliran Rain yang tersenyum, "Aku akan tetap memaksa masuk dan membuatmu hanya melihatku..."
Permainan kata itu sudah berakhir, bibir Rain sudah mendarat di bibir Sunny sekarang.
Tidak ada permainan kepolosan lagi...
Ciuman panas yang semalam mereka lakukan mengajarkan segalanya.
Pengalaman yang tidak terlupakan dan terulang lagi kali ini, hanya saja kali ini lebih panas...
Kali ini lebih menggairahkan daripada sebelumnya...
Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau melepaskan meskipun nafas mereka mulai tercekat tapi saat Sunny membuka mulutnya agar bisa menghirup oksigen masuk ke rongga mulutnya, yang ia dapatkan hanyalah permainan lidah Rain yang semakin liar berbarengan dengan tangannya yang mulai bergerak naik menyusup ke dalam gaun yang Sunny kenakan.
Kedua tangan Rain sudah berada di punggung Sunny, merabanya dan mengukurnya. "Sangat pas..." Komentar Rain di sela ciumannya.
Dengan mudah Rain menanggalkan gaun yang Sunny kenakan dan dia dengan tidak sabaran membuka bajunya.
Sunny sedikit terkejut melihat barisan otot itu, ia sudah melihatnya semalam tapi tidak sejelas sekarang.
"Kamu menyukainya?" tanya Rain dengan sorot mata yang berapi-api terbakar gairah.
"Aku bertaruh kamu lebih menyukai apa yang kamu lihat sekarang..." ucap Sunny dengan tatapan tidak kalah menggoda. Dia dengan sengaja menyulut api gairah itu lebih besar lagi.
"Itu benar...." Rain tersenyum sambil melemparkan tatapan puas ke tubuh Sunny yang hanya terbungkus pakaian dalam dan sedetik kemudian bibir mereka kembali bertaut tapi kali ini lebih lembut, lebih manis dari sebelumnya dan lebih mendamba.
Nafas Sunny sedikit terengah-engah saat Rain melepaskan ciumannya. Mereka saling berbagi tatapan lagi setelah ini.
"Mau mandi bersamaku?" tanya Rain sambil menempelkan keningnya diatas permukaan kening Sunny.
"Kamu menggunakan privilage mu dengan sangat baik..."
"Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Rain kemudian menggendong tubuh Sunny, ia membawanya ke bawah shower.
__ADS_1
"Air disini lebih dingin jadi peluklah aku..." bisik Rain setelah menurunkan tubuh Sunny.
"Kalau aku gak mau gimana?"
Sunny baru menantang tapi kucuran air dingin mulai membasahi tubuhnya bersama dengan Rain dan disaat itulah dengan refleks Sunny memeluk tubuh Rain dan air dingin ini perlahan terasa hangat.
"Hah..." Suara nafas Rain yang berderu di telinganya membuat tubuh Sunny terasa terbakar.
"Hanya sampai disini, aku akan menggunakan privilage ini hanya sampai disini saja, jadi sayang tolong terus peluk aku karena melihat wajahmu hanya akan membuatku ingin terus mencium mu..."
"Haruskah aku bilang terima kasih? Aku selamat malam ini..." bisik Sunny menggoda.
"Hmm... Kamu membuatku frustasi..."
***
Sunny yakin di tempat ini ada hantu jomblo yang kesepian karena setiap detik yang ia habiskan dengan Rain disini selalu memancing gairahnya. Ia menjadi liar dengan mudah disini dan sekarang mereka berdua duduk berjauhan di atas sofa dengan rambut yang masih basah dan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka masing-masing.
Sunny mengintip di balik selimutnya, memastikan jika gaun tidurnya tetap menempel di tubuhnya dan sengatan gairah itu berakhir hanya di kamar mandi saja.
Sementara Rain menatap kosong ke depan, pikirannya berputar-putar mencari jawaban mengapa ia berakhir menjadi liar jika berada di dekat Sunny.
Pengendalian dirinya yang sudah dua puluh tahun ia jaga perlahan-lahan mulai tergerus pesona Sunny.
Ia menjadi gila hanya dengan menatap matanya, hanya dengan melihat wajahnya yang basah dan bibirnya menjadi lebih menggoda hingga ia mendekat dan mendesaknya, menyentuhnya tanpa rasa takut...
Ia bahkan mengutarakan isi hatinya yang selama ini ia tahan dalam-dalam.
Mereka bahkan kenal belum lama ini dan takdir menggelikan ini membuatnya hanya terfokus pada Sunny.
Rain menghela nafas frustasi lalu menoleh ke arah Sunny yang duduk jauh di sebelahnya dan di waktu yang sama Sunny juga melihat ke arahnya.
Mereka langsung saling membuang pandangan dengan cepat setelah itu dan mempererat pegangan mereka pada selimut yang membungkus tubuh mereka.
Dang! Situasi ini membuat mereka membeku.
"Aku laper..." Ucap Sunny mencoba mencari topik pembicaraan sebelum kecanggungan ini membuat mereka benar-benar membeku.
"Oh ..." Rain dengan cepat turun dari atas bangku dan meninggalkan selimutnya lalu ia melangkah menuju dapur.
"Mau makan apa?" Tanya Rain yang kini sudah berada di dapur.
"Apa aja ..." Jawab Sunny menoleh. "Mau aku bantu?"
"Gak!!!"
Sunny langsung mengangkat kembali kakinya yang baru akan turun dari sofa begitu Rain berteriak menahannya.
Rasanya konyol, sebelumnya mereka terang-terangan saling menantang satu sama lain tapi sekarang mereka seperti alergi satu sama lain.
"Lebih aman disitu..." Cicit Rain pelan, sepertinya ia sadar jika ia baru saja meneriaki Sunny.
"Ok..." Sahut Sunny tidak kalah pelan.
__ADS_1
Rain kemudian mulai memasak dengan cepat dan semangkuk mie instan lengkap dengan sayuran dan telur tersaji di meja bar dapur.
"Udah mateng..." Ucap Rain setelah menyajikan.
Sunny kemudian melangkah menghampiri meja bar dapur, ia meninggalkan selimutnya di sofa. Gaun malam kali ini masih pendek tapi setidaknya tidak memperlihatkan belahan dadanya kecuali bagian punggung dan bahunya yang terekspos tapi rambut panjangnya membantunya menutupinya.
"Kamu gak makan?" Tanya Sunny karena hanya ada satu mangkok yang tersaji.
"Gak, aku mau ke kamar aja..." Jawab Rain yang kesulitan menutupi kegugupannya.
"Aku takut kalau sendirian..." Ucap Sunny mencegah langkah Rain.
"Oh astaga, aku takut khilaf lagi..." Gumam Rain frustasi tapi ia tetap duduk di sebelah Sunny hanya saja ia membiarkan satu kursi kosong berada diantara mereka.
"Kamu gak makan?"
"Nanti aja..."
"Aku gak suka makan sendirian..."
"Ini aku temenin kan!"
"Tapi kamu kan gak ikut makan!"
"Nanti mienya melar kalau nunggu aku masak lagi!"
"Ya udah berdua!"
Rain akhirnya pindah ketempat duduk di sebelah Sunny, ia kemudian mengambil sumpit baru. "Kamu duluan..." Ucap Rain.
"Bareng aja!"
Rain tidak mau berdebat lagi, ia akhirnya mulai memakan mie itu berbarengan dengan Sunny.
Awalnya semua berjalan lancar sampai sumpit mereka sama-sama mengambil potongan sayuran yang sama lalu dengan cepat mereka menarik sumpit mereka dari dalam mangkuk, menutupi kecanggungan yang kembali muncul dengan meminum segelas air secara berbarengan dengan cepat lalu setelah itu mengambil potongan telur tapi sialnya mereka mengambil potongan yang sama padahal ada dua potong telur di dalam mangkok.
"Kamu sengaja ya?" Tanya Rain sedikit jengkel dengan kecanggungan ini.
"Kamu tuh yang sengaja! Maunya aku makan mie doang ya!" Sahut Sunny tidak kalah jengkel.
"Ya udah makan sendiri aja lah!" Ucap Rain yang akhirnya meletakkan sumpitnya.
"Ih jangan ngambek dong!" Protes Sunny, ia menahan Rain yang baru akan pergi.
"Ya udah aku suapin aja biar gak ribet!"
Rain terlihat berpikir sejenak tapi akhirnya ia kembali duduk dan Sunny mulai menyuapinya. "Aaa..." Seru Sunny memberi aba-aba untuk Rain agar membuka mulutnya, dia terlihat menggemaskan hingga Rain tersenyum tanpa sadar.
"Jangan mulai tebar pesona deh! Makan aja yang bener!" Protes Sunny yang dengan sekuat tenaga mengatur ekspresinya agar tidak terlihat salah tingkah.
"Siap mama..." Jawab Rain sambil memegangi pergelangan tangan Sunny yang gemetaran lalu mengarahkan suapannya ke mulutnya tanpa Rain tahu jika panggilannya serta sentuhannya membuat pertahanan Sunny luluh lantak sekali lagi.
**
__ADS_1