
Rain masuk ke dalam kamar dan terlihat Sunny sedang menggambar di atas tempat tidur.
Kekesalan di dalam hati Rain seketika menghilang, dia senang Sunny mendengarkan permintaannya untuk tidak mandi duluan karena gadis itu masih menggunakan t-shirt yang sama.
"Lagi gambar apa?" tanya Rain setelah mengambil posisi duduk di sebelah Sunny.
Kehadirannya membuat Sunny seketika terkejut hingga ia langsung menutupi gambar yang ia buat sebelum Rain mengintipnya.
"Kakak kamu udah pergi?" tanya Sunny mengabaikan pertanyaan Rain sebelumnya.
"Udah."
"Dia kok suka mendadak muncul gitu sih?"
"Dia emang suka sembarangan..." jawab Rain menghela nafas.
"Hubungan kalian kayaknya gak se-harmonis hubungan orang tua kalian."
"Ya, jarang ada saudara tiri yang akur."
Sunny hanya menganggukkan kepalanya, melihat ekspresi Rain yang terlihat enggan membicarakan hubungannya dengan Raihan membuat Sunny memilih untuk tidak lagi membahasnya.
"Kamu lagi gambar apa?" Rain bertanya sekali lagi karena Sunny masih menyembunyikan hasil gambarnya di dalam dekapannya.
"Cuma coret-coret aja."
"Kalau coret-coret aja kenapa di tutupin?"
Sunny seketika menarik tubuhnya kebelakang saat Rain mulai mencondongkan wajahnya mendekat.
"Aku mau liat..." suara Rain terdengar lembut tapi juga berbahaya apalagi pria itu terus bergerak mendekat bahkan kedua tangannya sudah berada diantara tubuh Sunny dan membuatnya terjebak.
"Gak ada yang perlu diliat, gambarnya jelek."
Sebenarnya bukan karena ia penasaran dengan hasil gambar yang dibuat oleh Sunny, tapi Rain terus mendesak karena ia senang melihat ekspresi gugup Sunny sekarang.
"Sejelek apa?"
"Jelek banget..."
"Kamu gak gambar aku kan?"
"Hah?! Ya gak lah..."
Sunny semakin gugup, ia terus berusaha untuk menghindari tekanan Rain tapi itu justru membuatnya akhirnya tanpa sadar merebahkan tubuhnya dengan posisi Rain di atas tubuhnya.
"Kamu gak mau mandi?" tanya Rain seperti memberikan cara bagi Sunny untuk menghindar dari tekanannya, Sunny dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Mau mandi bareng?"
Dan dengan cepat juga Sunny menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kamu mandi duluan..."
"Ok!"
Sunny langsung menyingkirkan tangan Rain diantara tubuhnya dan meninggalkan bukunya di atas tempat tidur lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
"Hey!!!" Sunny menjerit, sekali lagi ia baru tersadar akan kebodohannya di saat sudah terlambat karena Rain sekarang sudah memegang buku gambarnya.
"Ih aku kan gak izinin kamu liat!" Protes Sunny yang kembali naik ke atas tempat tidur untuk merebut kembali bukunya.
Tapi Rain sama sekali tidak membuatnya mudah, ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya kebelakang hingga Sunny kesulitan untuk menggapai bukunya sementara Rain mendekap pinggangnya dan menahan tubuhnya bergerak mendekati buku itu.
"Rain!"
__ADS_1
Rain seolah tidak perduli dengan rengekan Sunny, ia tetap melihat hasil gambar istrinya itu meskipun Sunny masih berusaha menghentikannya.
"Ini kita?" tanya Rain setelah berhasil melihat gambar itu cukup jelas. Sebuah gambar sepasang pengantin yang bergandengan tangan.
Sekarang sia-sia saja Sunny mencoba merebut buku itu.
"Bukan!" jawab Sunny ketus.
"Yang bener? Tapi tahi lalatnya sama..." ucap Rain sambil menunjukkan tahi lalat yang terletak di atas alis kanan gambar pria itu, letak tahi lalat yang sama yang ada di wajahnya.
"Emangnya kamu doang lelaki yang punya tahi lalat disitu?" Sunny masih mengelak, kali ini ia merebut bukunya dan menutupnya rapat-rapat.
"Kalau bukan aku terus siapa?" kini ekspresi Rain terlihat tidak senang.
"Ya adalah..." dan Sunny semakin gugup di buatnya.
"Jangan buat aku cemburu sama pria khayalan kamu!"
"Ya?"
Sunny tertegun, entah sejak kapan Rain jadi sedekat ini dengannya hingga ia dapat melihat kerlingan mata Rain begitu jelas.
"Aku atau bukan?" Rain bertanya sekali lagi, tapi pertanyaannya kali ini seperti sebuah desakan.
"Ya emang siapa lagi suami aku kalau bukan kamu!" Sunny akhirnya menjawab meskipun dengan perasaan tidak ikhlas.
"Kamu mau aku buatin pesta pernikahan kita?"
"Ya?"
Rain tersenyum, ekspresi tertegun Sunny selalu memiliki level menggemaskan yang berbeda.
"Nanti orang-orang tau dong kalau kita udah nikah."
"Emangnya kenapa kalau orang-orang tau?"
Ada saja kata-kata yang di ucapkan oleh Sunny yang membuatnya tertawa.
"Ya kan yang penting kamu masih belum hamil."
"Iya sih..."
"Mau aku hamilin beneran?"
"Ih kamu tuh ya, dari tadi bahas hamil terus." Protes Sunny yang sebenarnya hanya ingin menutupi rasa gugupnya.
"Emangnya kamu gak mau punya anak sama aku?!" dan Rain selalu bisa membuat kegugupannya meledak-ledak di dalam dirinya.
"Ya mau sih tapi kita nikah kan karena salah paham."
"Yang salah paham kan orangtua kita..."
"Kamu yakin pernikahan ini akan berakhir baik."
"Aku punya firasat yang baik..."
Kini giliran Sunny yang tersenyum malu, ia bahkan tidak kuasa untuk tidak memukul bahu Rain dengan manja sementara pria itu masih mendekap pinggangnya erat-erat. Posisi Rain yang duduk dan Sunny yang berlutut membuat percakapan ini semakin intens dengan sengatan-sengatan yang mengalir melalui kulit mereka yang bersentuhan.
"Tapi di rumah sakit kamu udah sepakat pernikahan kita dirahasiakan."
"Itu dulu..."
"Kenapa kamu mau umumin pernikahan kita sekarang?"
"Soalnya aku mulai takut ada yang deketin kamu..." jawab Rain sambil menyentuh wajah Sunny dan membelai bibirnya dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Aku jomblo seumur hidup, Rain... Gak akan mungkin ada yang deketin aku." sahut Sunny sambil menyingkirkan tangan Rain dari wajahnya atau dia akan berada dalam kesulitan jika membiarkan Rain terus membelai bibirnya.
"Aku berniat deketin kamu..."
"Deketin aku?"
"Di kapal pesiar... Tapi kamu galak banget waktu itu."
"Ih siapa yang galak, aku tuh manis plus imut ya."
Rain menundukkan kepalanya dan menyandarkannya di bahu Sunny lalu tertawa pelan. "Kamu berubah manis plus imut ini setelah kita menikah kan?"
"Ya masa sama suami sendiri galak..."
"Jadi kalau ada yang deketin kamu, kamu akan bersikap galak ke mereka?" tanya Rain seraya mengangkat kembali kepalanya.
"Bukan galak sih tapi lebih ke biasa aja..."
"Gak, aku maunya kamu galak ke mereka."
"Nanti aku dikira jutek, Rain..." Sunny merengek sambil menggoyangkan-goyangkan bahu Rain.
"Kenapa sama aku gak takut di kira jutek waktu itu?"
"Abis kamu nyebelin dari awal sih!"
"Soalnya kamu orang pertama yang narik perhatian aku..." bisik Rain membuat Sunny seketika terdiam menahan nafasnya apalagi pria itu menatapnya dalam.
"Karena maskara aku luntur apa karena aku mengumpat?" tanya Sunny dengan hati-hati.
"Karena kamu cantik..."
"Ishh kaya gak pernah ketemu cewek cantik lain aja!"
Rain sangat tahu jika Sunny setengah mati menahan kegugupannya dan sisi nakalnya berbisik untuk membuat Sunny gila karena kegugupannya.
"Kalau aku bilang kamu seperti melihat bidadari yang di buang ke bumi saat pertama kali ngeliat kamu di halte bus gimana?"
"Gombalan bagus..."
"Itu bukan gombal, sayang... Itu namanya terpesona."
Kini Sunny sudah benar-benar menahan nafasnya hingga tubuhnya duduk dengan tegak ketika Rain terus mendekat.
"Emangnya aku cantik?"
"Banget..."
"Kamu gak lagi rayu aku buat minta ciuman kan?"
Rain tersenyum, ia tidak akan menutupi keinginannya. "Aku maunya mandi bareng sama kamu."
"Nanti keselamatan aku gak terjamin..."
"Aku kan mintanya mandi bareng bukannya..."
Sunny langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, begitu terkejut mendengar bisikan nakal Rain diakhir kalimatnya yang membuat tenggorokannya mendadak kering.
"Boleh gak?" suara lembut Rain kembali membuat Sunny tidak berkutik.
"Yakin cuma mandi?"
"Selama kamu bisa tahan diri kamu, aku gak akan melakukan lebih."
"Ih kamu dong yang harusnya tahan diri masa aku? Yang bahaya kan kamu."
__ADS_1
"Siapa bilang kamu gak berbahaya?"
***