
Lexi, ia berusaha mencerna maksud dari pertanyaan para staff yang menanyakan segala kegiatan yang ia lakukan saat malam shift bersama Lany. Ia pun menceritakan semuanya, dimana ia akan segera bekerja namun ia malah pergi ke toilet karena memang tiba-tiba ingin buang air kecil yang disertai sakit perut mendadak.
“Jadi malam itu kamu tiba-tiba sakit perut dan pergi ke toilet?” tanya pak supervisor
“Iya, pak..”
“Kamar pertama yang hendak kalian bersihkan kamar dengan nomor xxx di lantai x..?” ucapnya lagi
Dan Lexy mengiyakan semuanya.
“Saat keluar saya langsung membersihkan kamar yang belum teman shift saya bersihkan saat itu, dan saya juga sempat mencari dia di kamar awal, namun si pemilik kamar mengatakan kamarnya sudah di bersihkan.. sayapun pergi mencari Lany, yang merupakan teman sfit saya malam itu.” begitu kata Lexi menjelaskan. Walaupun ia tidak tahu apa tujuan para atasannya menanyakan hal itu, namun ia tetap menjawab semuanya sesuai kejadian yang sebenarnya.
Para staff yang mendengar penjelasan tersebut lalu, memutar sebuah rekaman cctv di laptop. Di saksikan oleh semua staf yang ada, Lexi melihat rekaman saat dirinya berdiri di depan pintu kamar pasengger, yaitu kamar pertama yang hendak mereka bersihkan sebelum ia pergi ke tolilet meninggalkan Lany.
Tidak lama kemudian rekaman itu menunjukkan seorang pasengger keluar dari kamar tersebut. Dan Ia ingat betul apa yang dikatakannya saat ia menanyakan keberadaan Lany.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya supervisor mengintrogasi, setelah mempause play rekaman cctv.
“Saya mencari Lany, Pak.”
Belum sempat Lexi menyelesaikan ucapannya, bapak supervisor sudah menyelanya terlebih dulu “Pria tersebut mengatakan teman yang kamu cari tidak ada di sana?” tanyanya lagi
Lagi-lagi Lexi hanya mengangguk..
Sesaat kemudian rekaman cctv itu kembali di putar “Lihat siapa yang keluar dari sana!!”
Yang benar saja, Lexi bisa melihat dengan jelas. Setelah ia pergi cukup lama, seorang wanita berseragam cabin Steward yang sangat ia kenal keluar dari kamar itu.
Lexi sama sekali belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saat ia mendengar seseorang mengetuk pintu, dan ia pun langsung dipersilahkan keluar saat itu juga. Namun ia sempat terpaku sepersekian detik saat melihat siapa yang masuk.
“Kamu boleh keluar sekaarang!” kata Manager mempersilahkan.
...____...
Lany.
Ia dan Celin baru saja tiba di kapal, rumah utamanya beberapa tahun terakhir ini. Setelah berjalan menyusuri koridor, terlebih dahulu ia dan Celin pergi menemui Louis yang katanya sedang berada di open area, bagian depan kapal. Tengah mengawasi beberapa pekerja yang bertugas memperbaiki salah satu pintu Cabin.
“Honey..!" Ia bisa mendengar Celin berbisik saat berdiri tepat di samping Louis.
Louis, pria Prancis itu pun menoleh. Ia tersenyum sambil menatap Celin dan Lany secara bergantian.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Kenapa Lany disuruh kembali?" tanya Celin penasaran sambil terus menatap Lany yang masih kelihatan begitu gugup namun tetap berusaha rileks.
“Aku juga tidak tahu pasti..” Louis menatap Lany. “Lan, kamu langsung saja ke room office Departemen mu!” begitu kata Louis menyarankan.
Lany hanya mengangguk “Cel, aku langsung kesana dulu!” Ia menggenggam tangan Celin, sahabatnya itu seperti tak rela membiarkannya pergi.
“Aku ikut ya, aku ingin menemani mu!” tatap Celin dengan raut wajah khawatir
“No, Cel.. Aku bisa sendiri!” Lany menggeleng, berusaha menampakkan senyum demi menenangkan Celin. Meyakinkannya jika tidak ada masalah besar, padahal ia sendiri tengah berusaha melawan ketakutan dalam dirinya.
“Celoo, No..” Louis menggeleng, seolah mengisyaratkan agar Celin tak ikut menemani Lany. Ohya, Celo adalah panggilan sayang Louis pada Celin.
Ya, tentu Louis melarangnya! Ini bukanlah urusan yang bisa dicampuri. Dan Lany paham akan kekhawatiran Louis.
“Aku pergi dulu ya..! Louis, terimakasih atas informasinya” Lany tersenyum kemudian segera pergi.
Beberapa saat kemudian, Lany sudah sampai di depan ruangan yang bertuliskan Housekeeping departemen. setelah itu, ia masuk ke dalan sebuah ruangan lagi.
Ia bisa melihat beberapa orang tengah duduk di sana, tentunya mereka adalah para staff dan ada Scurity juga. Namun ada satu yang paling membuat perasaannya makin tidak enak, yaitu kehadiran Lexi.
Jujur saja, ia benar-benar merasa tengah menuju pengeksekusian kematiannya sendiri. Walaupun ia tidak tahu apa yang akan terjadi, namun entah mengapa perasaan takut dan gugupnya makin menjadi.
“Silahkan duduk!” Lany tidak tahu persis siapa yang berbicara saat matanya terlalu fokus melihat Lexi yang kini lewat di sampingnya, setelah dipersilahkan keluar.
“Kamu boleh keluar sekarang!”
Lexi pun beranjak, ia bisa melihat tatapan mata Lexi yang seolah memberi isyarat pada Lany, jika semuanya akan baik-baik saja. Ya, Lexi seolah sedang memberinya kekuatan dari sorot matanya.
Keringat dingin menjalar di sekujur tubuhnya saat matanya menangkap sosok Lexi sudah menghilang di balik pintu, meninggalkannya seorang diri di dalam ruangan pengeksekusian. Begitu mencekam!
“Melany..!”
Deg...
Suara itu seperti meruntuhkan dunianya! Belum apa-apa ia sudah merasa begitu lemah. Saat itu juga ia langsung menoleh ke arah suara, yang mana suara itu merupakan suara bapak Manegernya yang murah senyum itu. Sedangkan di sisi yang lain, ia bisa menangkap sorot mata dari bapak berkulit hitam, milik kepala supervisor yang tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Ahh, Go to hell right now, Lany!
“Melany Larasati!” ucap salah seorang lagi.
Lany pun menoleh lagi, dilihatnya seorang berpakaian scurity tengah memegangi sebuah kertas, seperti tengah membacanya! Oh No.. Yang lebih parahnya lagi, dia adalah security yang saat itu menangani Alandra ketika hampir baku hantam dengan seorang tamu, hanya karena membelanya.
Alandra lagi!!! Rasanya Ia seperti ingin berlari saat itu juga. Menjauh dari pengeksekusian ini.
__ADS_1
Kenapa? Kenapa semua yang ada adalah mereka yang pernah memergokinya sedang dengan Andra. Ada apa ini? Apakah mereka sudah tahu kejadian yang sebenarnya? Habislah kau!
“Sebelumnya kami ingin kamu melihat ini!” bapak manager yang murah senyum itu, memutar sebuah rekaman, kemudian mengarahkan laptop menghadap ke Lany.
Seperti anak kucing yang akan di beri makanan, dia menurut. Dengan sisa tenaga yang ada, Lany mengangguk dengan mata menerawang ke layar monitor. Sekuat tenaga ia meremas tangannya di bawah meja, berusaha menguatkan diri.
Rasanya ia ingin pingsan di sana, atau jika bisa dia ingin pura-pura mati saja. Tubuhnya panas, seperti dialiri sebuah cairan lava, lunglai seperti tak bertulang saat layar monitor menampakkan rekaman dirinya yang pertama tengah berada di Central Park bersama Alandra, Ah sialan! ia masih sempat memaki Andra atas semua kejadian beruntun yang menimpa dirinya.
Dalam rekaman kedua dan ketiga, ia bisa melihat dirinya tengah bersama sepasang suami istri, dan kemudian ada Alandra lagi. Sementara dalam rekaman ketiga, menunjukkan jika ia tengah berada di depan mesin ATM, dan yang lebih parahnya lagi, Alandra si -cowok aneh- juga muncul kembali. Ya, sudah seperti hantu yang bergentayangan. Selalu ada di setiap moment.
Masalah rekaman tak berhenti sampai di situ, masih ada rekaman yang selanjutnya. Ia sudah tak mampu lagi merasakan apa-apa, tubuhnya seperti mati rasa tersengat hawa panas yang ada.
Dan ya, ini yang paling parah! ketika rekaman menunjukkan dirinya masuk ke dalam sebuah kamar, dan setelahnya tak keluar hampir 1 setengah jam. Ia juga bisa melihat saat Lexi datang, dan seseorang di dalam kamar terlihat keluar membicarakan sesuatu. Setelahnya Lexi pun pergi.
Ketika melihat rekaman itu, tentu ia.masih mengingat semua yang terjadi, dia masih di dalam baru saja terbuai dan melakukan hal -mengasyikkan- untuk yang pertama kalinya. Dan Andra Keluar untuk memberi tahu Lexi jika ia tidak ada di sana.
Ah, ini semakin membuatnya gila!! Kenapa ia merasa para atasannya itu benar-benar tengah menghakiminya dengan menunjukkan semua rekaman saat ia bersama Alandra. Sial!!
Lany semakin kehilangan pijakannya, saat rekaman dipercepat, yang mana menunjukkan ia keluar dari kamar tersebut. Lany menutup matanya, sekuat tenaga ia kian meremas tangannya yang saling bertaut. Dunianya seakan benar-benar berhenti berputar.
Duniaku terasa runtuh, Haruskah aku berakhir di sini??
Bahkan kini, Bapak manager telah mengambil alih laptopnya. Ia bisa merasakan semua mata yang ada di sana tengah menatapnya, rasanya seperti ditelanjangi!
“Kamu pasti mengerti apa maksud kami memperlihatkan rekaman ini?” bapak manager mulai bersuara, sedangkan Lany hanya mampu mematung, ia seperti menjadi patung dadakan. Tak punya nyali dan kekuatan.
“Kamu tahu peraturannya, dan bahkan saya sudah pernah memperingatkan!” Pak robert, si bapak Supervisor juga menimpali.
Mata Lany terasa panas, seperti tengah menganak sungai. Air matanya siap meluap membanjiri pipinya. Tapi sekuat tenaga ia membendungnya. Lany tahu apa maksud mereka semua. Saat itu ia benar-benar merasakan dunianya telah runtuh. Dadanya begitu sesak, apa yang ia takuti benar-benar terjadi.
“Lexi mencarimu ke kamar pasengger yang pertama kali akan kalian bersihkan pada malam itu..” bapak manager mulai membeberkan kebenaran yang ia dapatkan dari Lexi.
“Namun pasengger ini mengatakan pada Lexi jika kamu sudah pergi, tapi beberapa saat kemudian kamu malah Keluar dari sini..” bapak manager menunjukkan kembali rekaman tersebut.
“Bisa jelaskan apa yang terjadi selama itu di dalam sana?”
Lany tercengang mendengar pertanyaan itu. Ia merasa diberi serangan bertubi-tubi, rasanya dia telah tak bernyawa di sana.
Ketika masih diam terpaku, entah darimana datangnya hidayah itu. Ia seperti mendapat sebuah ide dan dorongan untuk melakukan pembelaan, meskipun mungkin harus berbohong. Ah ya, dia harus melakukannya. Dia masih belum ingin angkat kaki dari sini! Dia mencintai kapal ini, rumah sekaligus tempatnya bekeja. Lany lebih mencintainya daripa rumahnya sendiri. Tentu saja, disana ia hanya akan mendapatkan tekanan dari keluarganya, sedangkan di sini, ia mendapat kerjaan dan kehidupan yang bisa merubah hidupnya.
“Sa-saya hanya membersihkan.!” Lany mencoba mengelak. “Mengerejakan tugas seperti biasanya..”
__ADS_1