My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 62 [Andra Ternyata ....]


__ADS_3


Saat fajar mulai menyingsing, cahaya kehangatan itu perlahan mulai bersinar utuh dan keluar dari peraduannya. Suara bising kendaraan berlalu lalang megiringi aktifitas pagi Andra ketika ia baru saja membuka jendela kamar setelah siap dengan setelan kemeja hitam dipadukan celan slimfiit warna senada.


la melangkah ke depan cermin, menyisir dan memberikan sentuhan gel agar rambutnya tertata rapi.


Suara alaram dari jam digital yang ada di atas nakas membuat ia bergegas melangkah mematikan bunyi tersebut agar tak membangunkan Lany yang masih terlelap di balik selimut tebalnya.


Tangan Andra tergerak membuka laci, meraih jam tangan dan menyematkannya di tangan kiri. Ia menoleh saat melihat tubuh Lany menggeliat, perlahan manik cantik di balik kelopak mata itu terbuka.


“Udah mau berangkat?”


Andra hany mengangguk mendengar pertanyaan Lany dengan suara serak sehabis bangun tidur.


“Maaf ya, aku nggak bisa siapin sarapan, badanku pegel semua." lirih Lany dengan bibir menguap, matanya sayu, menunjukkan jika ia benar-benar masih mengantuk.


Andra yang tidak biasanya mendapati Lany bangun selambat ini awalnya sedikit heran. Biasanya Lany akan bangun saat mendengar adzan subuh berkumandang, kadang mereka juga bangun di waktu bersamaan, melakukan ritual subuh sebelum melakukan kewajiban pada sang Pencipta. Tapi, kali ini Lany begitu berbeda dari hari biasa. Meski begitu Andra sama sekali tidak mempermasalahkan itu, baginya ini hal yang wajar.


“Udah, nggak papa, nanti aku sarapan di luar aja." Andra duduk di sisi ranjang dengan tangan tergerak menyisipkan helaian rambut Lany yang menutupi wajahnya ke telinga.“Tidur aja lagi kalau masih ngantuk."


Lany menggeliat merasakan sentuhan dingin dari tangan Andra yang sudah bersentuhan dengan air.


“Iya, mataku rasanya kayak ditiup. Mau tertutup lagi,” dan benar saja. Belum genap satu menit mengatakan itu, mata Lany kembali terpejam. Membuat Andra mengulas senyum atas tingkah tak biasa dari sang istri.


“Nanti aku pesenin makanan ya, biar kamu nggak usah masak." Andra menunduk, mendaratkan bibirnya di kening Lany, dengan satu tangan tergerak mengusap punggung sang istri.


“Aku pergi dulu."


“Pulang sore ya, jangan lama!" Ucap Lany dengan mata terpejam sambil mengusap wajah Andra yang tengah menatapnya penuh kelembutan.


“Aku usahain, ya. Aku berangkat sekarang, asalamualaikum!"


Lany hanya mengangguk, masih dengan mata terpejam ia melambaikan tangan pada Andra yang menenteng tas, keluar kamar dan menutup pintu setelahnya.


Setelah mengambil mobil di basement, Andra menyempatkan untuk singgah memesan makanan di restoran samping apartemen. Ia akan meminta Novi untuk mengantarkan makanan tersebut pada Lany.


“Take away tiga mix menunya ya, mbak.” Ucap Andra pada kasir sambil mengeluarkan kartu debit untuk pembayaran.


“Baik pak, akan segera kami proses. Mohon tunggu sebentar ya. Ucap kasir sambil memberikan retur pembayaran pada Andra.


“Nanti ada yang ambil pesanan saya.” Jelas Andra kemudian keluar dari sana dan segera memasuki mobil, melaju ke BuminTara Tower dengan penuh semangat memulai hari ketiga bekerja di awal tahun ini.


Begitu sampai di basement parkir, Andra bergegas melangkah menuju lobby. Perlahan langkahnya memelan saat melihat seseorang tengah terpaku, menatapnya. Tentu itu membuat Andra mengernyitkan dahi, berusaha mengingat siapa dia. Apakah mengenalnya? Sehingga pri tersebut menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.


“Elo?" tudingny heran.


"Ngapain Lo di sini?”


Andra masih berusaha mengingat sosok pria yang masih menatap heran padanya. Ia merasa eperti pernah bertemu sebelumnya, tapi Andra lupa kapan dan dimana tepatnya.


“Lo suaminya Lany, kan?"

__ADS_1


Tepat saat pria itu menyebut nama Lany, Andra langsung mengingat kapan dan dimana mereka bertemu. Kejadian saat ia melayangkan bogeman pada wajah pria yang pernah melayangkan hinaan pada dirinya dan Lany itu begitu nyata berdiri di sana. Membuat Andra menyunggingkan senyum sinis dengan sorot mata tajam.


“Iya, gue suaminya Lany! Kenapa?" Ucap Andra pada pria bernama Eza. Ya, pria yang berdiri di hadapan Andra adalah Eza, the ex from his wife. Mantan Lany yang sempat terlibat baku hantam dengan Andra saat di restoran waktu itu.


Andra tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang pernah merendahkannya. DI sini, di gedung perusahaan milik keluarganya. Tanpa bertanya sekalipun, Andra jelas tahu apa yang Eza lakukan di sini.


“Ngapain Lo di sini?” Tanya Eza, masih dengan wajah merendahkan yang sama. Namun kali ini nyata, di sertai dengan raut wajah terkejut sekaligus heran.


“Ya, mau kerjalah, mau apa lagi?" ujar Andra dingin.


“Gue duluan.” Andra berlalu lebih dulu saat Eza malah diam seribu bahasa, entah apa yang dipikirkan. Namun Andra sudah pergi lebih dulu sebelum ia kembali melayangkan pertanyaan apapun.


Eza menoleh pada Andra yang sudah menghilang di balik lift, angka di sampingnya begitu jelas menunjukkan jika Andra bergerak menuju lantai sepuluh, dimana empat lantai ke atas merupakan lantai khusus perusahaan yang Andra pimpin. Ya, BuminTara Tower ini memang terbagi untuk beberapa bagian perusahaan yang berada di masing-masing lantai khusus.


Sedangkan Eza masih terpaku menatap pintu lift. Ia masih tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. Eza tak menyangka jika ia akan bertemu suami dari mantan kekasihnya di tempat ini. Bekerja! Itu adalah satu-satunya jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan apa yang Andra lakukan di sini. Eza semakin tidak mengerti, itu artinya perusahaan tempatnya dan Andra bekerja berada di bawah satu naungan induk perusahaan yang sama.


what the hell?


“Kenapa, Za? Pagi-pagi sudah bengong!"


Satu sentakan di bahu Eza membuat ia menoleh pada rekannya yang baru saja datang.


“Nggak, tadi ...”


“Udah, ayo!! Udah hampir jam delapan nih.” Ucapan Eza pun menguap begitu saja saat pria yang baru datang itu langsung menariknya masuk ke dalam lift.


Siang menjelang sore, Andra baru saja selesai mengadakan meeting dengan beberapa petinggi, mengenai saham perusahaan yang melonjak akibat produksi emas anak usahanya, PT CLM, sejak awal Januari lalu. Tentu ini adalah suatu keberuntungan yang luar biasa bagi semua.


Andra mengernyit heran saat salah satu staff berlari tergopoh-gopoh ke arahnya begitu melihat ia keluar dari ruang meeting.


“Ada apa?" Tanya Andra heran.


“Di bawah banyak wartawan, Pak.”


Andra menoleh menatap Novi dan jajaran yang lain, seolah menanyakan apa yang terjadi di sana. Tak hanya Novi, semua yang berdiri di belakang Andra segera memeriksa ponsel mereka untuk mengetahui apa yang terjadi.


Sedangkan, pria yang menghampirinya tadi langsung memberi tahu apa yang membuat wartawan datang secara berbondong-bondong.


“Berita kelonjakan saham kita sudah tersebar, pak. Mereka ingin mewawancarai Bapak, mengenai hasil produksi emas di Palu."


Kini Andra mulai mengerti apa yang terjadi. Ia tersenyum untuk itu. Sejujurnya dia merupakan type orang yang paling anti berurusan dengan media seperti ini. Dia lebih suka berada di balik layar tanpa haru mengekspos dirinya. Dari semua keluarga, memang hanya Andralah yang paling tertutup dan tidak pernah muncul ke publick. Dia lebih senang menyerahkan semuanya pada wakil CEO untuk mewakilinya menghadiri rangkaian acara, apapun itu.


Namun, sepertinya kali ini dia tak bisa lagi menghindar. Berita melonjaknya saham yang diakibatkan produksi biji emas PT CLM mengundang antusias para investor dan wartawan untuk menggali informasi. Dan ia yang sore ini seharusnya pulang lebih awal untuk menemui Lany, sudah tentu bertemu dengan para wartawan yang menunggu di halaman.


"It's okey, biar saya temui. Ini bisa menjadi ajak untuk menunjukkan kinerja kita yang sesungguhnya."


Semua tersenyum mendengar ucapan Andra. Jelas mereka turut senang dengn keputusan tersebut. Selama menjabat, untuk pertama kalinya Andra tidak menolak di sorot media. Padahal jelas sebentar lagi ia akan masuk tv karena hal ini.


...💎💎💎...


“Itu jam mahal loh, Elsa. Kau dapat darimana itu?" Ucap Mamak, mencecar si -frozen food- yang beberapa hari ini berada di rumah. Si -penyihir- heran melihat putri kebanggaannya pulang membawa jam couple dari brand ternama.

__ADS_1


“Ku dapat di kamarnya Lany." Sahut Elsa sembari sibuk mengoleskan kuteks ke kukunya, “Kayaknya punya si Andra. Malam itu, pas baru datang dia bawa dua paperbag yang isinya jam couple ini dan satunya sweater couple."


Penjelasan Elsa membuat Mamak kian menyerngit, ia lantas meraih jam yang ukurannya lebih kecil dari yang Elsa kenakan. Ya, jam itu Elsa ambil tanpa seizin Lany atau Andra dan ia berikan pada Mamak.


“Darimana Andra dapat uang banyak itu untuk beli ini?" Mamak memutar-mutar jam tangan itu, ia jelas sering melihat jam ini terpajang di etalase mall dengan harga yang fantastis. Tentu Aji Lina, tetangganya itu akan bisa tersaingi jika ia menggunakan jam mahal ini. Mamak tersenyum sumringah membayangkan hal itu.


“Anak itu aneh, dia bisa beli benda ini dan sekarang di Jakarta dia tinggal di apartemen.”


“Apa?" Elsa yang mendengar penuturan itu, sontak menghentikan kesibukannya, dia lebih tertarik mendengar apa yang Mamak ucapkan.”


“Iya, dia dan Lany tinggal di apartemen mewah. Lantai enam!" Jelas Mamak, yang mana kian membuat Elsa melotot tak percaya. Bagaimana mungkin Andra bisa melakukan itu, penampilan Andra bahkan tidak memungkinkan jika dia memiliki harta yang banyak. Pikir Elsa.


“Ada apa ini?" Bapak yang baru datang sambil membawa secangkir kopi langsung duduk dan meraih remote yang ada di atas meja, menggantinya ke chanel favorit bapak-bapak, apalagi jika bukan berita atau tentang dunia olahraga.


“Ini, kita lagi bahas Andra. Ndak tau darimana anak itu dapat uang sampai bisa beli jam ini." Sahut mamak yang masih sibuk mengamati jam tangan itu.


“Heh, heh..”


Elsa dan Mamak yang melihat bapak seperti itu sambil menunjuk layar tv begitu terkejut. Mereka lantas ikut menatap Tv yang tengah menampilkan seorang news anchor sedang menyampaikan berita, di sampingnya terdapat gambar sekerumunan orang yang berkumpul di depan sebuah gedung.


“Harga saham perusahaan tambang PT Citra land mineral, anak usaha PT ABE CORP, milik BuminTara Group, mengalami kelonjakan setelah berhasil perdana memproduksi 3000 ton biji emas dalam sehari, hampir menduduki angka produksi PT Freepaayer Papu*”


“Alandra Bhakty Ervano/ABE, selaku CEO/President Direktur*."


Mamak dan Elsa sontak menganga membaca tulisan yang berada di bawah gambar news anchor tersebut.


“Alandra Bhakty Ervano?" ucap mereka bersamaan, saling tatap dan tercengang menyadari siapa pemilik nama tersebut.


“Andra?? Ternyata dia..”


...🍂🍂🍂🍂...


Lany, ia yang merasa begitu lemah sedari pagi hanya mampu tidur, bangun, makan dan tidur lagi. Hanya kegiatan itu yang ia lakukan berulang selama hampir seharian full.


Ia bahkan merasa sangat bersalah karena tak menyiapkan Andra sarapan sebelum berangkat kerja. Namun kondisi tubuhnya yang tiba-tiba seperti ini membuat ia benar-benar tidak berdaya. Yang ingin dilakukannya hanyalah tidur dan tidur. Setelah menyantap makanan yang Novi bawa tadi, ia bahkan kembali tidur. Hal ini membuat ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada tubuhnya. Padahal semalam ia tidak melakukan banyak aktivitas selain melakukan ritual mengasyikkan dengan Andra, itupun hanya beberapa ronde. Setelahnya ia langsung terlelap dalam pelukan suaminya.


Tak ingin menjadi pemalas, dengan tidur sepanjang hari. Siang menjelang sore ini Lany memaksakan diri untuk mandi. Setelah mandi, ia mencoba melakukan kegiatan apapun untuk mengusir rasa ngantuk yang terus menerpa.


Lany menyalakan tv, untuk pertama kalinya ia menonton selama tinggal di sini. Baru Lany ingin mengganti chanel yang menunjukkan berita. Mata Lany seketika membola saat melihat suaminya, berdiri dengan gagah tengah menjawab pertanyaan dari kumpulan wartawan yang berkerumun di depan sebuah gedung berlogo rantai mengelilingi bola di tengahnya dengan tulisan yang tertera BuminTara Group.


“Pemirsa, kita bisa menyaksikan, banyak reporter yang sudah bersiap di depan gedung. Mereka semua tengah menanti putra sulung, pewaris nomor satu BuminTara group yang persusahaannya berhasil mengelola emas terbanyak di awal tahun ini.” Kini layar tv menampakkan dua sisi, dimana satu sisi yang terdapat suaminya sedang menjawab pertanyaan wartawan. Sementara satu sisi seorang news anchor tangah memaparkan siapa pria yang diwawancarai itu.


Tentu Lany hanya bisa mematung melihat hal tersebut, seluruh otot dan persendiannya mendadak kaku.


Layar tv pun kembali berubah, menampakkan halaman gedung tinggi itu sepenuhnya.


“Bagaimana cara anda bisa memperoleh izin ditengah maraknya aksi penolakan pada saat itu? Apakah perusahaan memberi kompensasi atau merevisi perjanjian amdal?"


Seterusnya Lany hanya bisa terpaku mengamati suaminya yang tengah menjawab setiap pertanyaan dengan begitu berwibawa. Jantungnya seakan berkejaran dengan deru napas memburu, saking terkejutnya melihat kenyataan ini.


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2