My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 70 [Serpihan Luka]


__ADS_3


Selepas kepergian Ziell dan Sultan, Lany tak henti-hentinya menitihkan air mata di ruang tamu. Gelas dan piring sisa cemilan bekas kedua tamunya tadi sama sekali belum ia bereskan.


Lany hanya duduk termenung sambil memeluk lututnya, meratapi nasibnya yang ia pikir akan jadi lebih baik bersama Andra. Namun, nyatanya tidak, satu fakta yang sama dari orang yang berbeda sudah cukup membuatnya terjerambah ke dalam kubangan luka. Ia tidak menyangka jika suaminya ternyata sudah memiliki tunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa arti dari statusnya saat ini? Lany sama sekali tidak mengerti.


Mata Lany terlaih menatap Hp yang terus berdering di depannya. Dengan terpaksa, ia mengangkat panggilan tersebut saat Andra sama sekali tidak menyerah meski Lany beberapakali mereject teleponnya.


Dengan berat hati, ia lalu menggeser logo telepon dan mengarahkan hp ke telinganya.


“Halo!!”


“Teleponnya kok direject mulu, neng?”


“Lagi ngapain? Udah di rumah atau masih di luar?" Air mata Lany kian menetes saat mendengar pertanyaan dari Andra di seberang sana. Sekuat tenaga ia membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Lany tak habis pikir, bagaimana bisa Andra melakukan ini? Bersikap seolah dia begitu mencintai dirinya sedangkan dia sudah memiliki wanita lain. Bagi Lany, Andra tak lebih dari pria jahat yang tega berkamuflase di balik kedok tanggung jawab untuk menikahi dirinya hingga terjebak dalam alur kisah yang tidak ia inginkan seperti ini.


“Lan!? Kamu dengar aku, kan?"


Lany menarik napas dalam-dalam, ia menghapus air matanya secara kasar dan berusaha mengatur napas.


“I-iya, aku dengar kok.!” Sebisa mungkin Lany berbicara dengan normal, namun isakan itu tak bisa dicegah. Ia hanya berharap agar Andra tak menyadari jika ia sedang menangis.


“Kenapa?” Tanya Lany sembari menahan sesak di dada.


“Kamu lagi apa? Nggak lagi nonton tv kan?"


“Nggak, aku lagi duduk-duduk, kok.” Andra terdengar menghela napas begitu mendengar ucapannya. Entahlah, Lany tak bisa memikirkan hal lain selain rasa sakit dan bagaimana ia bisa terlepas dari masalah ini.


“Lan, kayaknya nanti malam kita belum bisa ke rumah. Aku tiba-tiba ada urusan mendadak, nggak apa kan kalau ditunda sampai besok?” Lany tersenyum kecut mendengar ucapan Andra.

__ADS_1


“Terserah!”


“Ya udah, aku lanjut dulu ya. Nggak usah tunggu aku pulang, nanti pulangnya agak lambat.”


“Iya!” Setelah itu Lany langsung memutus panggilan secara sepihak dan tangisnya kembali pecah saat itu juga.


Di sisi lain, Andra hanya menghembuskan napas kasar saat Lany menjawab teleponnya dengan ketus, bahkan menutup teleponnya secara sepihak.


Meski begitu, ia sama sekali tak marah. Andra memaklumi hal tersebut. Mendengar Lany tidak menonton tv saja sudah membuatnya lega. Andra tidak ingin sang istri melihat berita hari ini, yang tentu akan mengakibatkan kesalah pahaman. Andra berencana akan menjelaskan semuanya nanti ketika pulang.


Selesai memasukkan hp ke dalam saku, Andra lalu buru-buru keluar dari ruangannya. Tadi, setelah konferensi pers, Riana menghubungi Andra, memintanya untuk bertemu dan menyelesaikan semua secara baik-baik.


“Andra!!"


“Kak!!”


Andra yang baru saja keluar dari lift dan melangkah ke loby, lantai satu, langsung menghela napas ketika melihat tiga orang datang menghampirinya. Tentu Andra tahu apa yang akan Bayu, Eky dan Dara katakan. Tiga orang itu pasti akan mengintrogasinya soal berita berakhirnya hubungan ia dan Riana.


“Ini di kantor!! Nggak boleh bahas urursan pribadi!” Andra mengangkat kedua tangannya, seperti buronan yang menyerah saat dikejar petugas.


“Kemana sih? pokoknya jelasin dulu!" Celetuk Eky sambil menarik Andra kembali masuk ke dalam lift. Andra pun terpaksa menuruti kedua sahabatnya dan Dara yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


Begitu sampai di ruangan, Andra tidak menjelaskan bagaimana detail kenapa hubungannya dengan Riana bisa berakhir. Andra justru membenarkan soal berita tadi, jika hubungannya dengan Riri memang sudah berakhir lama, sejak tiga bulan yang lalu.


“Wah, Gila lo, Ndra!! Bisa-bisanya¡" Eky menggeleng tak percaya.


Tentu, semua juga tahu bagaimana Andra mencintai Riana, begitupun sebaliknya. Berita ini terdengar sangat mencengangkan bagi mereka yang tahu jika selama ini hubungan dua sejoli itu baik-baik saja lalu tiba-tiba ada berita seperti ini.


“Kakak jangan bercanda deh, kalian tuh sebentar lagi mau nikah, kan?" Sergah Dara yang juga baru tahu dari berita siang tadi.

__ADS_1


“Apa lo beneran selingkuh?" Tanya Bayu dengan tatapan memicing.


Andra menggeleng dengan bibir mencebik. “Gue nggak selingkuh dan gue udah nikah!"


“What!!” Teriak Dara dengan mata membulat.


“Jangan bilang sama cewek yang di mobil waktu itu?” Bayu menatap nanar pada Andra.


“Dia alasan di balik lo nggak bolehin kita masuk ke apartemen waktu itu?" Tanya Eky lagi.


“Kak, jawab! Kak Andra beneran udah nikah?" Dara yang tak percaya langsung mendekati sang kakak dan duduk di sampingnya. Mencecar Andra agar menjawab pertanyaannya.


“Mami Papi tau soal ini?” Tanya Dara lagi dengan wajah tercengang begitu melihat Andra hanya mengangguk.


“Baru Mami yang tahu.”


Dara, Eky dan Bayu semakin menyerngit tak percaya saat Andra memperlihatkan cincin di jemarinya.


“Udah lah, aku masih ada urusan." Andra beranjak dari duduknya sambil mengusap lembut rambut Dara.


“Bay, Ky, gue pergi dulu! Nanti gue jelasin, Oke?” Andra menepuk bahu Eky dan Bayu secara bergantian sambil mengedipkan mata pada dua sahabatnya itu.


“Kita tunggu!"


“Lo utang penjelasan sama kita!" Ucap Bayu dan Eky secara bergantian dan Andra hanya mengacungkan jempolnya.


“Besok tunggu di rumah aja, Ra! Kakak bawain kakak ipar!” Ucap Andra kemudian berlalu pergi, meninggalkan ketiga orang yang masih melongo tidak percaya melihat sikap Andra yang kelihatan begitu bersemangat dalam menyampaikan hal itu pada adiknya.


..._____...

__ADS_1



__ADS_2