My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 61 [Berharap Dia Peka? Impossible!]


__ADS_3

Andra, tadinya ia berencana tidak ingin kemana-mana. Namun saat tengah asyik mendengarkan Lany berteleponan dengan Celin. Ia dikejutkan dengan kedatangan teman-temannya. Beruntung ia tidak langsung membukanya dan bisa melihat siapa yang datang dari layar sistem smart lock.


Kedatangan Bayu, David dan Eky bukanlah hal yang baik untuk Lany. Ini belum saatnya semua orang tahu keberadaan sang istri. Selama masalah dan urusan Andra belum selesai, sebisa mungkin dia ingin melindungi Lany dan menyembunyikannya dari keluarga, teman-teman dan semua yang belum tahu tentang kehidupannya.


Itulah sebabnya kenapa dia buru-buru pergi tanpa mempersilahkan mereka masuk dan mengajaknya pergi agar keberadaan Lany tetap aman.


“Lo kenapa sih larang kita masuk ke apartemen?” Tanya Bayu heran.


“Iyah, biasanya juga paling suka kalau disamperin ke sana." Sahut Eky.


“Mungkin dia lagi nyembunyiin simpanannya kali di sana.” Semua terkekeh mendengar ocehan David yang disambut tawa oleh beberapa teman yang lain.


“Bisa ngamuk noh bini, lo. Kalau tau lo punya simpenan."


Namun ucapan David barusan membuat Andra memutar mata malas. Dari dulu hingga saat ini, mulut David selalu saja pedas tanpa memikirkan perasaan orang lain. Jika bukan karena Bayu, mungkin Andra sudah tidak ingin berhubungan dengan makhluk toxic seperti David. Bagi Andra hanya Bayulah satu-satunya teman yang mau berteman tulus dengannya tanpa ada embel-embel harta seperti teman tongkrongannya yang lain. Mereka semua memang berasal dari keluarga terpandang dan memiliki segalanya tapi diantara mereka, hanya Bayu dan Andra lah yang memiliki kesamaan sikap. Sama-sama sederhana dan tidak suka pamer seperti yang lain.


Tak hanya itu, juga hanya Bayulah yang selalu ada setiap kali Andra mengalami pasang surut kehidupan, seperti saat SMP dulu dimana keluarga Andra pernah diterpa masalah besar karena ulah Papi di masalalu.


“Bahaya lu, Ndra. Atau jangan-jangan lo lagi merancang bisnis ilegal ya."


“Apa sih, ngaco lo pada kalo ngomong!” Andra berdiri dari duduknya, merapikan kemeja flanelnya sambil berhighfive ala pria dewasa pada umumnya “Gue balik dulu, udah sore!"


“Hati-hati Ndra. Besok-besok jangan lupa mampir ke studio yak. Anak-anak butuh bimbingan elo buat sistem baru!" Bayu, sahabat Andra yang paling baik memberi tepukan pada bahunya.


“Siip, besok gue usahain." Andra balas menepuk bahu Bayu.


“Anak Mami banget lo, Andra. Jam segini udah pulang aja!"


“Iya nih, baru juga ngumpul udah mau cabut aja.”


Sudut bibir Andra tertarik membentuk senyuman samar, “Gue ada urusan!" sahutnya dingin kemudian segera pergi dari cafe milik Bayu yang sering menjadi tempat tongkrongan mereka.


Begitu keluar dari cafe Andra langsung menghentikan sebuah taksi, karena memang tadi ia pergi bersama ketiga temannya.


Di dalam taksi, Andra menghubungi Lany tapi tidak diangkat. Kemudian ia menghubungi Novi untuk menanyakan apa yang Lany lakukan.


“Dimana Nov? Lany dimana?”


“Hah, Lany nggak sama kamu?"


“Apa?!"


“Dia punya kenalan baru. Kok bisa?" Andra tersenyum mendengar peryataan Novi yang mengatakan jika Lany ada di apartemen dengan teman barunya.


“Haha, dia emang sebar-bar itu, Nov.” Senyum Andra sama sekali belum pudar, apalagi saat ia tahu bagaimana awal pertemuan Lany dengan teman barunya. Cukup ekstrim karena berawal dari Lany yang menjadi pahlawan untuk gadis yang katanya diperlakukan tidak adil oleh seorang pelanggan.


Sementara itu, Novi yang baru saja menerima panggilan telepon dari Andra, merasa sangat lega saat Pak bosnya sama sekali tidak marah mendengar berita tentang Lany yang berani melakukan hal seperti tadi. Ya, Andra memang sangat jarang marah.


...🍂🍂🍂...


Di apartemen, dua wanita yang baru kenal beberapa jam lalu itu terlihat sudah sangat akrab. Apalagi ketika mendegar nama si gadis dan ibunya yang juga memiliki nama yang sangat unik.


“Aduh mbak, dari tadi ngomong tapi aku belum tahu nama mbaknya siapa.”


Lagi-lagi Lany tertawa mendengarnya. Benar juga, mereka sudah bercerita banyak hal tapi gadis berkaca mata itu sama sekali belum tahu namanya.

__ADS_1


“Namaku Melany, panggil Lany aja.”


“Oke mbak Lany.”


“Aih, panggil saja Lany, aku belum seembak-embak itu, hey." Kehadiran Ziel di apartemen membuat Lany jadi lebih ceria, dia seakan mendapatkan kembali kebebasannya untuk tertawa lepas. Tidak seperti saat bersama Andra, hanya getaran dan debaran yang ia rasakan hingga membuat kesehatan jantungnya tidak aman.


“Lan, aku pulang!"


Lany dan Ziel menoleh pada sosok pria jakung berkaos biru muda dipadukan kemeja flanel senada dengan celana jeans hitam. Lesung pipit terlukis indah di wajahnya yang tengah berdiri sambil tersenyum kepada mereka.


Lany hanya menoleh sekilas pada Andra dan kembali fokus berbincang dengan Ziel yang kelihatan canggung karena kehadiran Andra.


“Aku bawa makanan nih," Andra meletakkan dua kantong berisi cemilan, minuman dan buah-buahan. Ia membelinya di minimarket yang berada di lantai satu gedung ini.


“Dimakan, mbak." Ucap Andra ramah dan berlalu menuju dapur. Beberapa saat kemudian ia keluar membawa piring dan keranjang sebagai wadah, juga tak lupa pisau untuk mengupas buah. Tentu ia harus memperlakukan tamu istrinya dengan baik. Andra senang melihat Lany punya teman baru dan bisa beradaptasi dengan baik.


Tapi tidak dengan Lany, ia menyimpan kekesalan pada suaminya yang entah darimana perginya. Pergi sebelum dzuhur dan baru pulang saat sore hari. Ingin rasanya Lany melayangkan omelan pada Andra yang kadang suka bersikap menyebalkan.


Selang beberapa menit Andra masuk ke kamar. Gadis berkacamata, bernama Ziel itu pamit undur diri.


Lany pun mengantarnya sampai ke depan loby.


“Makasaih ya, mbak, eh maksudnya Lany.” Ziel menggaruk tengkuknya ketika melihat Lany memanyunkan bibir saat dipanggil mbak.


“Panggil nama aja, please!” Lany menangkupkan kedua tangannya, “Aku nggak setua itu, Ziel. Umurku baru 25,” ucap Lany dengan wajah semenggemaskan mungkin.


“Beda setahun berarti." Sahut Ziel dengan senyum terkulum.


“Ohya? Berapa emang?" Tanya Lany pada Ziel yang wajahnya cukup cantik jika diperhatikan lamat-lamat, garis wajahnya seperti ada keturunan kearab-arabannya. Hanya saja, kaca mata dan penampilannya membuat ia terlihat culun, padahal aslinya cantik jika saja berpenampilan sesuai. Sangat disayangkan. Pikir Lany membatin.


“Beda setahun, udah panggil nama aja kita."


Lany pun memberi Ziel beberapa masukan agar tidak tinggal diam ketika ada yang berbuat seenaknya seperti tadi


“Kamu harus bisa melawan, jangan diam aja kalau ada orang kayak tadi! Melawan, dalam artian kita harus bisa mempertahankan diri kalau kita emang nggak sengaja! Apalagi tadi aku lihat kamu memang nggak sepenuhnya salah, dia juga yang tiba-tiba berdiri pas kamu lewat, kan?"


“Mbak lihat."


“Lihatlah, jelas banget malah!" ucap Lany mantap, “Lain kali kamu juga harus speak up!"


Ziel hanya mengangguk mendengar ucapan Lany dan benar-benar pergi setelahnya.


Selepas kepergian Ziel, Lany kembali ke apartemen. Dia sedikit tercengang saat melihat Andra tengah menelepon di balkon, dan yang lepih membuatnya makin heran saat ia mendengar sekilas percakapan antara Andra dengan orang dibalik telepon.


“Iya, Mi. Nanti aku usahain. Aku capek banget makanya belum sempat ke situ. Baru juga tanggal satu, nggak perlu buru-burulah.”


“Mi? Mami maksudnnya?" Lirih Lany.


Ia masih berdiri di tempatnya saat Andra menoleh setelah menutup telepon. Bahkan yang lebih parahnya lagi, Lany dibuat kesal karena Andra sama sekali tak berniat mengatakan apapun soal alasan kepergiannya tadi dan siapa yang ia telepon barusan.


“Gercep juga, neng. Udah ada teman baru aja nih?" Andra merangkul Lany dan mengajaknya duduk di sofa.


“Tau dari Novi?" Tebak Lany saat ia dan Andra sudah duduk berdampingan di sofa dan Andra hanya mengangguk sambil menuang air ke gelas.


“Hmmmnt." Hati Lany kembali diterpa perasaan nano-nano setiap kali berada di samping Andra. Ingin marah! Tapi ia tidak bisa, tidak ada alasan untuk meluapkan amarah pada Andra yang jika dilihat dari sudut manapun tidak memiliki kesan menjengkelkan meski hatinya begitu ingin melakukannya.

__ADS_1


“Aku seneng kalau kamu punya teman di sini." Andra menyodorkan sepotong apel yang baru dikupas pada Lany.


“Tapi aku nggak senang karena kamu masih bersikap begini. Hubungan kita nggak ada perkembangan, aku ngerasa digantung oleh keadaan." Tutur Lany mengatakan apa yang ia rasa. Kadang ia dibuat tidak mengerti dengan jalan pikiran Andra. Pria itu terus-menerus menggantung perasaannya. Kadang Lany juga ingin berhenti berharap tapi Andra selalu saja membuatnya kembali luluh dengan segala kehangatan sikapnya.


Suaminya merupakan orang yang sangat tidak peka jika menyangkut soal perasaan. Mengharapkan dia peka adalah suatu hal yang mustahil. Sangat menyebalkan!


Andra yang mendengar itu langsung meletakkan apel dan pisau ke meja. Sambil menghela napas ia merengkuh Lany dan mengelus kepalanya.


“Iya aku emang salah, banyak banget malah!"


Lihatlah, bagaimana Andra bisa menanggapi ucapan Lany tanpa amarah sedikitpun. Tentu ini merupakan salah satu daya tarik yang mampu membuat Lany berdebar setiap kali bersama Andra.


“Aku nggak minta banyak, Lan, aku cuma minta kamu sabar. Sedikit aja,” Lirih Andra memohon dengan sangat “Ada yang harus aku selesaikan, ini semua demi kamu.”


“Tapi sampai kapan?" Lany mendorong tubuh Andra agar melepaskan diri darinya. Lany mendongak, berusaha membendung air mata yang siap mengalir jika ia lengah sedikit saja.


“Aku capek terus-terusan begini."


“Percaya sama aku ya, aku usahain secepatnya. Demi kita dan kebaikan rumah tangga kita, Lan.” Ucap Andra meyakinkan sembari menggenggam tangan Lany erat-erat dan beberapa kali mendaratkan kecupan di sana.


Aku letih mencintaimu dalam diam! saat aku sendiri masih bingung apakah kamu juga memiliki rasa yang sama terhadapku. Sikapmu menunjukkan seakan kamu begitu mencintai ku, Ndra. Tapi tindakanmu saat menyembunyikan hubungan kita bikin aku kadang berada dalam titik keraguan ku.


Lany terus membatin sambil menahan agar isak tangisnya tidak pecah dalam pelukan Andra.


Sedangkan Andra, dia pun sama tersiksanya, persis seperti yang Lany rasakan. Dia tidaklah setegar yang kalian pikirkan. Andra hanyalah pria rapuh yang berusaha tegar dan sedang memperjuangkan komitmen dalam pernikahan mereka. Seandainya pria tidak dicap lemah jika menangis dihadapan wanita, mungkin dia sudah menumpahkan tangisnya di hadapan Lany.


Maafkan ketidak berdayaanku, Lan. Maaf jika aku seakan mengulur waktu dan perasaanmu. Aku tidak sedang menggantungmu, aku hanya sedang bersiap untuk mempertahankan kita.


...🍂🍂🍂...


Sementara itu dikediaman keluarga Andra, di kawasan perumahan elit Jakarta. Markasnya para konglomerat. Di bawah naungan bangunan yang betengger kokoh. Para keluarga sedang mencari keberadaan Andra yang belum juga menampakkan batang hidungnya selama perayaan tahun baru.


“Tadi malam aku ketemu kakak, tapi dia pulang sebelum acara selesai." Tutur Dara saat semua keluarga besar dari Mami dan Papi sedang berkumpul menikmati hidangan bersama.


“Nggak tau lagi deh, pokoknya sikap dia semakin aneh semenjak liburan itu." Sahut Mami.


"Pokoknya bulan ini pernikahan mereka harus berlangsung secepatnya. Begitu Riri datang mereka sudah harus menikah." Ucap Mami Lagi.


“Sabar Inka, anak kamu baru juga datang sudah di suruh nikah!" Ucap Oma menimpali.


“Tapi ma, ini udah diundur terlalu jauh. Jauh banget malah, nggak enak sama keluarga Prasetya.”


“Ucapan Inka ada benarnya juga, ini sudah lewat satu bulan dari rencana pernikahan mereka. Jangan sampai terjadi kesalah pahaman dengan Pak Santoso.” Itu suara Opa, Tuan si pewaris kedua marga Mengantara yang tidak tersemat pada nama Andra.


“Ucapan Papa ada benarnya juga kak, sebaiknya Kak Ervan menemui Pak Santoso lebih dulu." Ucap Om Erwin, Adik bungsu Papi Ervan yang menjadi pemimpin atau CEO tertinggi di BuminTara Group, induk dari semua perusahaan, termasuk yang Andra pimpin.


“Oke, biar nanti waktu pertemuannya diatur dulu."


...❤️❤️❤️...



Style dan ekspresi Andra pas baru datang terus nemuin Lany lagi sama temen barunya🤭🤭


__ADS_1


Ekpresi Lany pas liat Andra baru dateng🤣🤣


__ADS_2