My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 82 [Loving You]


__ADS_3

Perlahan netra pemilik tubuh polos yang tengah berbaring di atas ranjang dengan berlapis selimut itu mengerjap, pandangannya langsung menelisik pada antero ruang kamar yang sudah seperti kamar hotel itu. Hanya saja konsepnya lebih maskulin, terdiri dari perpaduan warna yang pas. Membuat ia termangu sejak pertama masuk ke kamar tersebut.


Lanybterus menatap lemari yang berdiri kokoh tepat di sisi dinding,pintu yang terbuat dari kaca membuat ia lebih leluasa menatap jejeran pakaian yang ada di dalam sana. Hanya saja, wajahnya tiba-tiba bersemu merah ketika ingatannya tertuju pada kejadian sebelum dirinya terlelap tadi. Lany malu sekali jika mengingat betapa agresifnya ia dan bahkan dirinya jugalah yang meminta hal tersebut secara langsung pada Andra.


“Udah bangun?” Dan bisikin tiba-tiba yang berada tepat di telinganya membuat Lany baru tersadar jika ia tengah membelakangi sang suami.


“Eh!” Ia yang tadinya sempat mengira Andra sudah keluar dari kamar, makin terperanjat saat merasakan tangan Andra kian mengeratkan pelukan pada tubuh polosnya di balik selimut.


“Kenapa?" Sedangkan Andra yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya dan beranjak.


“Kenapa? Ada yang sakit?” Andra menatap wajah Lany sambil memastikan apa yang terjadi pada istrinya itu. Ia benar-benar panik, takut jika saja Lany merasa tidak nyaman.


Diperlakukan seperti itu kian membuat wajah Lany bersemu, perlahan ia menoleh. Membuat hidungnya menyentuh pipi Andra yang masih dalam posisi setengah membungkuk, sedang mengamati wajahnya untuk memastikan apa yang terjadi.


“Kenapa?" Kini Andra pun ikut tersenyum saat menyadari rona wajah Lany yang disertai dengan senyuman malu-malu.


“Peluk!” Perintah Lany seraya memalingkan wajah dan kembali memunggungi Andra. Ia memang malu, tapi sungguh ia pun tak bisa mengendalikan diri untuk sejenak saja tidak merasakan pelukan dari Andra yang sudah seperti candu baginya.


Tanpa berkata-kata Andra pun langsung melakukan sesuai keinginan Lany. Disertai dengan kekehan gemas melihat sikap manja sang istri.


“Dari tadi gak puas-puas nih, perasaan minta peluk mulu!” Andra menempelkan wajahnya di ceruk leher Lany.


“Bukan aku, dia yang mau!” Lany berkilah sembari mengarahkan tangan Andra pada perutnya. Tentu hormom kehamilan menjadi kambing hitam yang pas untuk hal ini. Meski ka sendiri tidak tahu apakah itu karena hormon atau memang ia lah yang menginginkan.


“Masa?" Sergah Andra, ia makin dibuat gemas mendengar jawaban Lany. Ternyata gadis itu masih saja jual mahal dan tidak mau mengakui. Padahal jelas-jelas setelah kegiatan mereka tadi,Lany tak membiarkan pelukannya renggang sedikitpun. Membuat ia yang hendak mandi sejak tadi harus mengulur waktu, bahkan sampai istrinya itu tidur, iapun harus ikut tidur karena tak ingin menunggu seorang diri. Alhasil Andra baru bangun saat jam tiga pas, lebih dulu dari Lany.


“Gak ingat tadi yang gak mau lepas pelukannya siapa?"


“Tadi juga ada yang agresif banget loh!” Bisik Andra dengan suara sesensual mungkin. Membuat Lany melayangkan tepukan kecil pada pipi suaminya itu.


“Ih, Andra! Bisa diam gak sih?!" Gerutu Lany sambil menarik selimut menutupi wajahnya. Sungguh ia kesal dengan perkataan Andra yang seolah tengah mengejeknya.


“Cie, yang malu!" Andra mengangkat setengah kepala dan bertumpu pada tangan, membuat ia lebih mudah menatap wajah Lany dari belakang. “Gak usah malu, aku suka kok kalau kamu gini!" Sambungnya sembari terus mencoba menarik selimut agar ia bisa melihat secara langsung wajah yang sedang merona itu. Sangat menggemaskan!


“Lagian kenapa harus malu sih, aku juga udah lihat semua kali, neng!"


“Siapa yang malu, ih!?” Sentak Lany dengan suara tidak jelas dari balik selimut. Kemudian segera menyibakkan selimutnya saat Andra membalikkaan tubuhnya secara perlahan, dan keduanya pun bersitatap penuh arti setelahnya


Keduanya masih sama-sama terdiam saat suara adzan ashar dari mesjid terdekat mulai berkumandang. Lany masih saja terdiam saat wajah teduh itu kembali menatapnya setelah suara adzan selesai dikumandangkan.


“Mandi dulu, yuk. Habis itu langsung shalat!” Jemari Andra tergerak mengusap wajah Lany dan menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi pipi istrinya.


“Bareng, ya!" Andra yang baru saja turun dari ranjang hendak membawa Lany ke dalam gendongannya, tapi urung sebab Lany menolak.

__ADS_1


“Eh, gak usah!" Sergah Lany yang mana membuat kening Andra mengernyit, seolah mengisyaratkan tanya kenapa Lany tidak ingin mandi bersama.


“Abang duluan aja ya, nanti aku nyusul."


“Serius?" Tanya Andra memastikan, sembari meraih handuk dari dalam lemari yang berada tak jauh dari sisi ranjang, sambil melilitkan di tubuhnya, Andra masih menunggu jawaban dari Lany yang masih asyik berbaring seperti orang mageran. Alias malas gerak.


“Eh, maksudku gantian! Kita gantian, kamu mandi. Habis itu baru deh aku.” Pungkas Lany sambil nyengir kuda setelah menyadari jika jawabannya tadi diartikan lain oleh Andra.


Jawaban Lany itu hanya dijawab anggukan yang diselingi senyum simpul oleh Andra. “Ya udah, aku duluan ya!” Begitu Lany mengangguk mengiyakan, Andra pun segera melangkah ke kamar mandi.


Lany yang melihat itu kemudian beranjak dan bersandar pada kepala ranjang, tak lupa ia melilitkan selimut pada tubuh polosnya. Lany tersenyum haru mengingat setiap perlakuan suaminya itu. Andra benar-benar memperlakukannya seperti ratu. Lany masih tak menyangka jika keputusan yang sempat ia sangka takdir yang salah itu ternyata merupakan takdir yang luar biasa. Terlepas dari bagaimana lika-liku yang sempat mereka lewati, tapi Andra selalu bisa menunjukkan jika dia adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Sungguh ia merasa takdirnya benar-benar berubah sejak bersama Andra. Ia yang mulanya hanya seorang gadis biasa, gadis yang sebelumnya kekurangan kasih sayang dari cinta pertamanya, yaitu Bapak, kini justru mendapatkan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan setelah menikah.


Hal itu membuat air matanya menetes. Namun, seketika tenggorokan Lany tercekat. Rasa sesak beralih menguasai relung hati, mengusir perasaan bahagia yang sebelumnya sempat bertahta dan kini malah berubah menjadi perasaan gundah dan rasa tak pantas jika mengingat perlakuan keluarga Andra padanya. Sepandai-pandainya Lany menutupi semua di hadapan Andra, tapi ia benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa sakit akibat goresan dari ucapan oma dan Dara tadi. Air mata itu kian merembes saat menyadari siapalah dirinya.


“Hey, kenapa?"


Suara sliding door yang bergeser dan di susul suara yang ia kenal itu membuat Lany segera menyeka air matanya saat menyadari Andra sudah keluar dari sana dengan raut wajah heran sekaligu1s panik.


“Kamu nangis?" Andra mengibaskan rambutnya yang masih basah sembari melangkah mendekat.


“N-nggak, siapa yang nangis?" Meski gelagapan, tapi Lany tetap mengelak. Ia tak ingin Andra tahu tentang kesedihannya.


“Yakin?" Tanya Andra, kini ia sudah duduk di tepi ranjang sembari mengarahkan jemari untuk mengusap wajah Lany.


Bukannya percaya, Andra justru menampakkan raut wajah bersalah. Kemudian perlahan menarik Lany ke dalam dekapan disertai usapan penuh sayang pada punggungnya.


“Jangan begini, jangan sembuyikan semuanya sendiri, aku tau kamu terluka karena omongan Oma tadi, kan?" Lirih Andra, kemudian menarik wajah Lany dan menatapnya secara intens. “Aku lebih suka lihat kamu nangis daripada sembunyiin semuanya dan pura-pura bahagia seperti ini,aku lebih suka kamu cerita! Jangan dipendam sendiri kayak begini!” Sergah Andra dengan wajah serius. Ia benar-benar terluka melihat Lany yang berusaha menyembunyikan kesedihan seorang diri.


“Atas nama oma, mami dan Dara, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya." Andra menautkan kening mereka, “Percaya sama aku, mereka pasti akan segera terima kamu. Yang sabar ya, sayang. Bareng-bareng kita buktiin kalau kamu memang pantas buat aku dan aku pantas buat kamu!" Satu kecupan mendarat di kening Lany. Membuat air matanya kembali ingin menerobos, tapi sebisa mungkin ditahan oleh Lany. Sebab ia tak ingin beban pikiran suaminya itu bertambah.


“Seperti kata kamu everything will be fine kalau kita selalu bersama, kan?.” Lany melepaskan rengkuhan Andra, jemarinya berganti beralih mengusap rahang tegas sang suami yang masih menatap dalam padanya. “Selama kamu ada, aku pasti kuat kok!” Lany berusaha menampakkan senyum meyakinkan.


Dan benar saja, kata-kata dan senyumannya itu berhasil membuat Andra ikut tersenyum dan turut merengkuh pipi Lany. “Duh,istri siapa sih ini? Makin pintar aja merangkai kata, belajar dimana sih?”


“Belajar di kamu," desis Lany. Tangannya beralih menepis tangan Andra yang tengah mencubit hidungnya. “Otodidak, tiap hari denger kamu bicara dengan kata-kata penuh makna bikin otak ku terasah. Makanya tanpa ada yang ajar aku bisa. Kan ndak mau kalah sama kamu!" Seloroh Lany seraya mencubit kecil lengan kekar Andra.


Ucapan Lany membuat Andra makin terkekeh. Meski begitu, sorot mata itu tetap menampakkan wajah gusar. Di balik tawanya, ia pun menyembunyikan beban masalah antara Oma dan sang istri.


“Pakai baju dulu gih, ini seprainya basah loh karena rambut kamu!" Setelah menepuk wajah Andra, telapak tangan Lamy tergerak mengusap bagian tubuh Andra yang basah akibat tetesan air dari rambutnya.


“Kamu juga mandi gih, bau!"


Plak!

__ADS_1


Lagi-lagi satu pukulan memdarat di lengan Andra,. membuatnya meringis dramatis seraya menatap Lany, berusaha mencari simpati dari istrinya.


“Sakit neng,” Andra meringis seraya mwngusap lengannya yang memerah.


“Lemah!" Cebik Lany seraya menjulurkan lidah, akan tetapi ia segera membantu mengusap lengan Andra yang memerah. Tentu bukan Lany namanya jika ia tidak melayangkan pukulan sehari saja pada Andra. Hmmmnt.


“Cantik-cantik tapi tenaganya kayak hulk!" Ejek Andra dengan senyum terkulum sembari mewanti-wanti jika saja Lany kembali melayangkan pukulan. Tentu ia tidak akan membiarkan tubuhnya jadi sasaran empuk tangan nakal istrinya itu.


Untungnya Lany hanya mencebik seraya memonyongkan bibir. “Ada handuk satu lagi gak?”


“Ada dong, masa orang kaya gak punya banyak stok handuk!" Seloroh Lany yang bertanya sekaligus menjawab sendiri, membuat Andra lagi-lagi terkekeh.


Dengan senyum yang masih terulas Andra beranjak, kemudian memencet telepon rumah dan meminta untuk dibawakan bathrobe oleh art. Hal itu membuat Lany hanya memutar mata malas.


“Nih!” Setelah meraih satu handuk lagi,ia memberikannya pada Lany dan kembali duduk di hadapan istrinya itu.


“Sinian!" Desis Lany setelah menerima handuk dari Andra.


“Mau apa?"Tanya Andra heran.


“Aku bantu keringin rambut kamu!"


Andra yang mendengar itu hanya tersenyum penuh arti, “Kirain mau ngapain!" Ia kemudian merebahkan tubuhnya di pangkuan Lany sembari menyibakkan selimut yang menutupi bagian dada istrinya itu.


“Ih, Andra. Bukan begini,duduk!" Perintah Lany seraya berusaha mengangkat kepala Andra dari pangkuannya. Meski begitu, ia tak bisa menahan tangan Andra untuk tidak membuka setengah bagian selimut yang sudah menampakkan dadanya.


“Gini aja ya, sayang," Bukannya beranjak, Andra justru kian membenarkan posisinya dengan bibir yang sudah menyentuh bagian tubuh Lany. “Mau yang ini dulu." Lirihnya dengan suara parau. Membuat Lany mencebik dalam hati, ternyata dia mesum juga!


“Tetap bisa ngeringin rambut dalam posisi begini, kan?!”


Lany terdiam sejenak, ia hanya pasrah melihat aksi Andra. “Tadi katanya mau sahalat ashar!"


“Nanti ada yang datang gimana, tadi kamu minta dianterin bathrobe, kan?"Namun, Andra sama sekali tak mengindahkan ucapannya dan justru sibuk sendiri. Hal itu tentu membuat Lany melenguh merasakan gejolak dalam diri. Saat keduanya sama-sama hampir hanyut dan terbuai. Suara ketukan membuat aksi itu harus terhenti.


“Tuh kan!" Seloroh Lany dengan mata memicing mengarah ke pintu bercat putih itu. “Buka sana, itu pasti yang bawain bathrobe."


“Kamu aja ya neng, nggak apa kan?” Sambil menghembuskan napas kasar, Andra beranjak dari pangkuan Lany kemudian merebahkan tubuhnya di sisi istrinya itu. Dengan wajah menahan sesuatu Andra mengerlingkan mata pada Lany.


“Ih, kok aku. Nanti mereka heran liat orang asing." Tolak Lany.


“Nggak kok, mereka pasti tahu kamu istriku." Setelah dibujuk oleh Andra, akhirnya Lany melangkah menuju pintu menggunakan handuk yang tadi ia gunakan mengeringkan rambut Andra.


Tangan Lany pun mulai memutar heandle pintu. Begitu pintu terbuka, ia langsung dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang berteriak histeris saat melihat dirinya.

__ADS_1


“Aaaaaaa, ka-kamu habis ngapain?" Pekikan perempuan itu membuat Lany hanya bisa melongo dengan wajah pias.


__ADS_2