My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 87 [Kesal Sampai To The Bone]


__ADS_3

“Loh, kok malah singgah di sini?” Tanya Dara heran, saat Andra justru menepikan mobil di depan gedung apartemen yang selama ini ia tempati.


“Bukannya mau langsung pulang?” Namun, pertanyaannya sama sekali tak dijawab oleh Andra yang justru sibuk membuka sabuk pengaman.


“Kamu tunggu di sini aja, kakak mau ambil baju ganti buat Lany dulu!”


“Kenapa gak beli yang baru aja? Lagi pula aku juga masih punya banyak stok baju yang belum dipake kok." Dara terus menatap pergerakan Andra yang kini tengah membuka pintu mobil.


“Dia bukan tipikal cewek boros!" Sahut Andra dengan lugas, tanpa menoleh sedikitpun karena kini ia tengah bersiap untuk berlari agar tak kena rintik gerimis yang perlahan mulai membasahi malamnya ibu kota.


“Lagi pula dia nggak mau pake baju kamu, orang tadi kamu ikut-ikutan ngomong yang enggak-enggak di depan dia. Bukannya disambut baik-baik, malah memperlihatkan kesan seperti itu!" Gerutu Andra sebelum akhirnya benar-benar keluar dari mobil.


Dara terus menatap punggung tegak sang kakak yang kini sudah melewati pintu kaca apartemen. Berulang kali Dara menghela napas karena omelan Andra, ia tahu Andra pasti marah karena kejadian sore tadi. Tapi ... Ya, mau dipaksakan bagaimana pun juga, Dara benar-benar masih belum rela menerima kenyataan jika hubungan sang kakak dengan Riana telah berakhir dan dengan begitu cepat posisi calon kakak iparnya itu harus tergantikan oleh orang asing.


“Maaf kak, mau dipaksa gimanapun juga. Aku dan yang lain jelas belum bisa menerima kenyataan secepat ini!” Dara menghembuskan napas kasar.


Tak ingin memikirkan Omelan Andra barusan, Dara lantas memilih memerhatikan pandaran langit malam yang nampak begitu gelap, tak ada satupun bintang-bintang yang menghiasi malam ini. Bahkan rintik hujan sudah turun sejak tadi, hanya tinggal menunggu derasnya hujan saja.


Pandangan Dara harus teralihkan dari gemerlap malam, ia menoleh pada pintu kemudi yang sudah terbuka. Menampakkan Andra tengah membawa sebuah tas ransel wanita berwarna pink.


“Kak!" Dengan berat hati Dara mencoba membuka obrolan saat Andra sudah selesai menyimpan tas di bangku belakang.


“Kenapa?" Sahut Andra lagi tanpa menoleh, ia lebih memilih memerhatikan kondisi jalan, saat mobil yang mereka kendarai mulai melaju meninggalkan halaman apartemen.


“Maaf kalau sikap ku tadi pagi bikin Kakak marah!" Dara mencoba memberanikan diri. Membuat Andra marah bukanlah suatu hal yang baik. Kakak pertamanya itu memang sangat jarang marah pada siapapun, tapi jika dia sudah melakukan kesalahan atau melanggar, maka seketika kakaknya yang baik hati dan lemah lembut itu akan langsung berubah menjadi macan mengerikan. Sontak ingatannya tertuju pada kejadian saat ia masih duduk di bangku SMA dulu, dimana Andra menghukumnya karena ketahuan ikut-ikutan bolos sekolah demi untuk menonton konser Boyband K-Pop, idolanya pada masa itu.


“Minta maafnya bukan sama aku, Ra, tapi sama Lany! " Sahut Andra.


Begitu mendengar keputusan Andra, Dara sudah enggan untuk mengatakan apapun lagi. Sungguh ia masih terlalu gengsi jika harus meminta maaf pada orang asing itu. Jelas, bungkam adalah satu-satunya pilihan terbaik. Terlebih lagi saat ini Andra tengah menghubungkan earphone bluetooth ke telinga setelah menerima telepon dari seseorang.


“ Kenapa, Nov?” Tanya Andra pada si penelpon, yang tidak lain adalah Novita.


“Lagi dimana Pak? Ini dari tadi Bu Lany nanyain bapak lagi dimana!”


“Udah di jalan mau pulang, Nov. Sebentar lagi udah sampai kok, ini udah mau masuk gerbang kompleks!"


“Kamu kalau mau pulang, pulang aja. Nginap juga nggak apa, soalnya ini lagi hujan!”


Itu merupakan kalimat terakhir yang Andra ucapkan dengan si penelpon. Setelahnya hanya suara denting wiper yang beradu membersihkan kaca mobil dari deraian air hujan yang menghiasi suasana saat mobil itu kini melaju di jalan bervaping, kompleks perumahan Andra. Sedangkan Dara, ia benar-benar dibuat kesal. Ini pertama kalinya ia diacuhkan kakaknya sendiri hanya karena perihal Lany, tentu ini makin membuatnya kesal.


Beberapa saat kemudian mobil itu sudah masuk ke halaman rumah megah, setelah seorang satpam berlari menggunakan payung untuk membuka gerbang. Dara keluar lebih dulu, ia berjalan sembari dipayungi oleh pak satpam tadi.


“Gak usah, Pak." Tolak Andra saat Pak satpam segera menyodorkan payung untuknya. Sambil menengadahkan tangan untuk melindungi diri dari hujan, Andra berlari menyusul Dara yang kini sudah menghilang di balik pintu.


Saat sudah sama-sama di dalam, pikirannya kembali tertuju soal mengapa teman-temannya bisa mengetahui tentang hubungannya dengan Lany, sedangkan sama sekali belum memberi tahu siapapun selain keluarga. Andra yang penasaran lantas memanggil Dara. Sebab, ia pun sempat heran saat sebelum pergi tadi, Dara merengek ingin ikut untuk menemui Bayu dan Eky di studio.


“Ra!"


Mendengar namanya dipanggil, Dara yang hampir naik tangga langsung menoleh. Ia segera mendekat saat Andra terdiam sembari mengisyaratkan agar ia datang menghampiri.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Kamu yang ngasih tau Eky sama Bayu soal masalah tadi?" Andra memberi tatapan penuh selidik pada Dara. Namun, Dara sama sekali tak menjawab, mulut adiknya itu hanya setengah menganga. Seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya.


“Kalau diam kakak anggap iya ya, Ra!" Ucap Andra menyimpulkan.


“Kamu ngasih tau Eky, kan?" Andra terus menatap wajah sang adik yang terus terdiam,


“Hey, aku gak marah Adara, cuma nanya!" Andra mengacak-acak rambut sang adik untuk menguar ketegangan yang terjadi. Andra benar-benar merasa aneh melihat tingkah cerewet adiknya tiba-tiba hilang karena pertanyaan ini. Biasanya Dara selalu punya seribu alasan dan jawaban setiap kali diberi pertanyaan.


“Gak usah tegang gitu!" Andra menoel pipi sang adik yang masih saja terdiam, “Udah sana tidur, besok kuliah!"


Tanpa berpikir panjang, Dara melangkah tanpa sepatah kata. Andra yang melihat keanehan itu benar-benar merasa heran. Dan entah angin dari mana, matanya tiba-tiba membola saat pikirannya tiba-tiba memikirkan hal yang membuatnya kuatir, jika saja itu benar terjadi.


“Adara, tunggu!" Andra berlari mengejar Dara yang tengah meniti tangga.


“Ada apa lagi sih kak?" Karena mulai jengah, akhirnya Dara bersuara juga.


“Kamu punya hubungan apa sama Eky?" Cecar Andra


Dara berdecak, ia kesal mendengar pertanyaan Andra. Raut wajahnya seolah menyiratkan, pertanyaan macam apa ini?


“Cuma nanya, Ra! Kenapa harus pasang muka kesal kayak begitu, sih?" Sunggut Andra dengan wajah heran.


“Ya, abis pertanyaan kakak nggak banget!" Protesnya.


Andra sendiri menanyakan hal ini bukan tanpa sebab, entah mengapa melihat Dara yang tiba-tiba sering ada diantara Eky dan Bayu membuatnya curiga. Terlebih lagi, firasat jika Daralah yang memberi tahu soal hal tadi, sangatlah kuat.


“Bukan gitu, selama ini kamu kan jarang mau ketemu mereka. Liat kamu jadi sering ada diantara mereka tuh aneh, Ra. Karena nggak mungkin Bayu, kan?" Tanya Andra lagi. Namun, melihat respon Dara yang kesal Andra lantas menyuruhnya untuk segera pergi ke kamar.


“Iya Kakak ku tersayang!"


Selama ini penjagaan Andra sebagai seorang kakak terbilang sangat ketat bagi Dara yang notabene seorang anak bungsu perempuan. Ia begitu menjaga adiknya itu layaknya seperti sebuah berlian, dan jika Dara memiliki hubungan dengan Eky atau mungkin Bayu, sungguh ia tidak akan tinggal diam. Terlebih lagi karena Eky merupakan seorang playboy kelas kakap. Tentu ia tidak akan rela jika adiknya itu jatuh di tangan yang salah.


....


Lany, selepas kepulangan Novi. Ia langsung masuk ke kamar setelah menerima sebuah piyama dari seorang ART, yang katanya diberikan langsung oleh Mami untuknya.


“Ini dari Ibu, non. Katanya di suruh pakai ini kalau mau tidur!” Begitu kata sang asisten rumah tangga menyampaikan saat hatinya masih dalam suasana dongkol karena Novi harus pulang, sedangkan kondisi malam itu sedang hujan derasnya.


Hmmmnt, sebenarnya Lany dongkol bukan karena Novi harus pulang menerjang hujan. Tidak, sama sekali tidak. Hujan jelas tak berpengaruh, sebab Novi pulang menggunakan mobil, tentu ia tidak akan basah kuyup. Tetapi yang membuatnya dongkol adalah, karena Lany harus kembali sendiri, tanpa teman di rumah yang sangat asing baginya itu.


Rasa sedih selalu saja menghampiri setiap kali ia seorang diri. Apalagi setiap mengingat kesan pertama keluarga Andra begitu tahu asal usulnya, ia benar-benar merasa begitu terkucilkan.


Hanya suara denting jam yang menemani kekosongan di kamar yang sangat luas itu. Tadi Lany bahkan sempat memutar lagu andalannya setiap kali merindukan sosok Ibu. Ya, rasa sedih ini membuat ia tiba-tiba merindukan sang ibu. Namun, mendengar lagu ”Hacci" justru membuat suasana hatinya makin tak karuan, ia lantas memilih untuk mematikan lagu tersebut.


Saat tengah menghembuskan napas kasar di balik selimut yang menutupi wajahnya, telinga Lany mendengar suara pintu yang terbuka tanpa diketuk. Ia jelas bisa menebak siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan suaminya-- si cowok aneh. Bukannya menyambut kedatangan Andra, Lany justru lebih memilih untuk menutup matanya rapat - rapat.


Sementara Andra, ia sudah duduk di tepi ranjang, setelah meletakkan tas yang ia bawa. Tepat di sisi Lany, Andra duduk dengan jemari yang perlahan berusaha membuka selimut. Dan ... Andra berteriak kaget saat berhasil membuka selimut, ia justru disambut dengan pelototan oleh Lany.


“Allahuakbar!" Andra yang tersentak langsung refleks menutup wajah Lany menggunakan selimut.


“Bikin kaget aja!" Protesnya seraya mengusap dada.

__ADS_1


Bukannya prihatin, Lany langsung melayangkan tinjuan di lengan dan perut Andra.


“Kebiasan ya!"


“Darimana saja Alandra?! Kenapa gak sekalian aja nginep di tongkrongan kamu!" Desis Lany, ia masih mencoba melampiaskan kekesalannya dengan memukuli Andra.


“Iya, maaf ya. Aku salah!" Andra berusaha menangkis tangan Lany, perlahan ia ikut berbaring sambil menarik Lany ke dalam dekapannya.


“Maaf, aku tadi buru-buru sampai lupa minta izin!" Meski Lany terus memberontak, Andra tetap mengeratkan pelukannya, bibirnya ia daratkan di kening Lany hingga tertempel seperti perangko di sana.


“Ih lepas!" Meski sudah sekuat tenaga, tapi Lany tetap tak bisa membuat Andra meregangkan pelukan. Pria itu justru kian memeluknya penuh sayang.


“Aku bosan dengar kata maaf terus!"


Andra tetap tak bergeming, “Kata Mami tadi kamu muntah-muntah lagi, ya?" Andra justru lebih memilih menanyakan kondisi Lany.


“Mananya yang sakit? Atau mungkin kamu masih mual, aku bisa bantu apa?" Dengan wajah serius, Andra yang kini kembali duduk terus memerhatikan Lany, wanita itu sedang memunggunginya.


“Sayang, hey!" Andra mencoba membalik tubuh Lany, tapi tangannya ditepis. Lany benar-benar kesal padanya. Entahlah, sepertinya Lany memang sudah kesal sejak sore tadi, dan ditambah ia malah pergi tanpa izin. Jelas amarah Lany kian meningkat menjadi, Double Kill.


“Udah deh Andra, gak usah nanya-nanya hal yang bersifat privasi!"


Ingin sekali Andra tertawa mendengar jawaban lugas dari Lany, tapi ia berusaha menahan diri. Sebab mengingat dirinya memang bersalah disini.


“Privasi apanya sih? Orang aku cuma mau tahu keadaan anak dan istriku!" Ujar Andra sambil tersenyum. Jemarinya tergerak menyelipkan rambut Lany ke telinga.


Plak...


Lagi-lagi Lany menepis tangan Andra, “Privasi lah, privasi aku dan anak kita! Kamu gak diajak!" Gerutu Lany, yang mana benar-benar membuat Andra makin gemas. Ia lantas kembali menjatuhkan diri di sisi Lany, sambil memeluknya dari belakang, Andra kembali mendaratkan ciuman kecil di tengkuk Lany.


“Gak diajak karena kamu kesal sama aku kan?"


“Iya, kesal sampai to the bone! (Kesal sampai ke tulang-tulang)” Sahut Lany.


Seketika kamar itu dipenuhi dengan gelak tawa Andra. Pria itu dibuat sakit perut mendengar jawaban sang istri yang entah kenapa selalu saja terbilang nyeleneh. Lagi-lagi ingatannya tertuju pada saat Lany menjawab ajakan menikahnya pada saat di kapal waktu itu.


“To the bone mah judul lagu, neng!" Seloroh Andra, wajahnya ia telusupkan di balik punggung Lany yang masih saja menampakkan wajah dongkol karena ulah Andra sendiri.


“Suka-suka aku lah, makanya jangan suka bikin kesal ..."


“... Kesal karena pergi tanpa izin dan gak ada di samping istriku pas dia muntah-muntah dan butuh sosok suaminya yan nemenin, kan!?”


Lany hanya bisa memutar mata malas saat mendengar Andra memotong ucapannya. Ya, meski itu adalah salah satu yang membuat ia kesal.


“Bukan cuma itu!" Seloroh Lany, jika tadi ia sempat menolak pelukan Andra, kini ia justru terlihat menikmati pelukan itu.


“Apalagi sayang, aku udah gak tau." ucap Andra yang tak lagi bisa menebak apa kesalahan selanjutnya yang sudah ia perbuat.


“Don't be happierr, By. Don't be happier like when you be mine!"


Tbc......

__ADS_1


...♥️♥️♥️♥️♥️...


__ADS_2