
Riana, dunianya benar-benar hancur ketika ia tahu bahwa ternyata perselingkuhannya dengan Rival selama ini diketahui oleh Andra. Ia yang tadinya berinisiatif membuat drama seolah menjadi korban agar Andra mau kembali padanya, tak disangka malah menjadi boomerang bagi dirinya karena langsung mendapat telepon dari Mama dan Papa yang memintanya untuk segera melakukan klarifikasi jika semua hal tentang Andra tidaklah benar. Awalnya Riana sempat menolak keinginan Mama dan Papa dan tetap kekeh pada apa yang ia lakukan. Namun akhirnya Papa berhasil memaksanya saat menegaskan sebuah kata-kata yang membuat tubuhnya seperti disiram lelehan lahar.
“Jangan keras kepala, Ri! Jangan bikin keluarga kita makin malu.” Awalnya ia hanya menyerngit mendegar ucapan papa dari panggilan video yang berlangsung.
“Papa ngomong apa sih?" Begitu sahutnya dengan angkuh, tentu saja! Saat itu ia sama sekali belum ngeh jika ternyata semua keluarga sudah mengetahui hal bejat yang ia lakukan.
“Aku lagi perjuangin cintaku, ma! Aku nggak bisa kalau Andra lakuin ini, harusnya kalian dukung aku!" Katanya yang masih merasa tindakannya adalah sebuah perjuangan untuk mempertahankan cinta dari orang yang sudah ia hianati.
“Pokoknya Papa nggak mau tau Riana Anggita! Kamu harus klarifikasi, bersihkan nama Andra sebelum Tante Inka sebarin bukti perselingkuhan kamu dengan Rival!" Dan ia hanya mampu melongo mendengar pernyataan Papa dengan raut wajah paling hancur, sedangkan Mama, wajah cantik wanita yang sudah melahirkannya itu tak henti-hentinya melelehkan air mata saat Papa menegaskan hal itu kembali.
“Andra tahu perselingkuhan kamu, Ri! Kamu yang menyebabkan cintamu pergi, dan sekarang kamu malah berlagak seperti orang yang paling tersakit! Kamu mencoreng nama baik keluarga, mau di taruh dimana muka Papa, Riana? Papa malu ketemu Om Ervan, Tante Inka juga Alandra!!" Selama hidup di dunia, untuk pertama kalinya ia melihat Papa menitihkan air mata. Begitu tak berdaya karena kelakuannya, dan ia hanya mampu menunduk memupuk penyesalan dari balik layar.
Pikiran tentang bagaimana Andra bisa mengetahui hal bejat itu sama sekali tak bisa ia cerna dengan baik. Rasa malu, sedih sekaligus perasaan kesal lebih mendominasi batinnya. Dunianya benar-benar runtuh, ia malu pada semua dan keadaan. Riana harus benar-benar mengumpulkan keberanian sebelum melakukan klarifikasi siang itu.
Hingga pertemuannya semalam dengan Andra harus berakhir karena kehadiran wanita tak dikenal. Ia sama sekali tak mengerti siapa dia dan apa hubungan mereka hingga Andra begitu perduli dan kelihatan sangat panik. Keluarga, sahabat dan kolega mana yang tidak ia ketahui. Separuh hidupnya ia lalui bersama Andra, lantas siapa wanita asing itu? Namun, pikiran tentang wanita itu harus terkubur saat rasa bersalah dan penyesalan kembali menguasai. Membuat ia harus membayar semua kelakuannya dengan air mata yang menetes sepanjang malam. Ia seorang diri mengarungi semua, rasa malu dan bersalah membuat ia tak sanggup untuk pulang dan bertemu dengan keluarga yang sudah menelponnya.
__ADS_1
Anak konglomerat, model ternama, sekaligus pengusaha muda itu diterpa kemalangan akibat ulahnya. Harta dan ketenaran sangat melekat pada hidupnya. Ia yang terbiasa dikagumi dan dipuja itu kelihatan hancur dan menderita untuk pertama kalinya. Wanita yang biasa tampil cantik sempurna bak putri kerajaan zaman dulu itu nampak hancur dan mengenaskan di apartemennya. Bahkan ia sudah berulang kali menghubungi Rival untuk mengatakan hal ini dan mengadukan semua, tapi selingkuhannya itu malah tak bisa dihubungi. Alhasil ia benar-benar sendirian, tak punya tempat berbagi.
Siang ini ia baru punya keberanian untuk menginjakkan kaki di rumah. Riana ingin minta maaf pada Mama dan Papa. Sebelum masuk, langkahnya terhenti, ia menengok ke bangunan yang tak kalah besarnya dari halaman rumah milik orang tuanya. Menatap bangunan di sebrang sana membuat ingatan tentang masa-masa indah dengan Andra seakan berputar acak diingatannya, menjadi flashback terindah selama hidupnya.
“Maafin aku, By!" Lirihnya sebelum kaki jenjang itu membawa langkahnya berlari memasuki rumah mewah di depannya.
Langkah itu terhenti tepat di ruang keluarga, di sana tak hanya ada Papa dan Mama, tapi juga ada Kak Rika dan Mas Indra, saudara perempuannnya dan sang suami. Sorot mata Riri perlahan menunduk saat netranya bersitatap dengan pemilik mata tajam namun kosong tengah menatapnya tanpa ekspresi. Ia seakan tak mampu menatap raut wajah kecewa dari semua yang ada. Riana yakin jika Kak Rika dan suami pasti sudah tahu semua.
“Papa kecewa sama kamu, nak!" Air matanya tak bisa lagi terbendung saat suara bariton papa terdengar lesu, bersamaan dengan Mama yang menunduk, menanggis dengan kepala yang bersandar di lengan kokoh Papa.
“Papa gak pernah ajar kalian menjadi penghianat! Kasih sayang seperti apa yang kurang, Ri, sampai kamu berpikiran melakukan ini?!" Perkataan itu seakan memaksa kepalanya untuk semakin menunduk, seolah ucapan Papa mengandung beban dengan berat yang luar biasa. Sakit dan menyesakkan. “Apa Papa sudah gagal jadi Ayah yang baik untuk kamu, nak? Papa gagal mendidik kamu, nak?!"
“Maafin Riri, Ma, Pa! Riri hilaf... Riri memang nggak berguna. Riri yang salah, Riri yang bodoh.." Lirihnya.
Menyesal? Tentu saja! Dengan begini, ia telah dengan sengaja membuat dirinya menjadi anak durhaka. Riana menyesal, kelakuannya tak hanya melukai satu orang. Tapi semua yang ia sayangi terluka karena ulahnya. Semua bermula karena ia yang merasa kurang perhatian, ia menyesal telah bertindak bodoh hanya karena Andra terkadang bersikap cuek dan tidak peka, Ia yang memiliki obsesi harus diberi kasih sayang dan perhatian penuh merasa bosan dengan sikap Andra dan malah pindah haluan dan memilih jalan yang salah. Padahal hatinya sama sekali tak bisa berpaling dari cinta pertamanya itu.
“Mama dan Papa gak gagal jadi orang tua, hanya saja aku yang gagal tumbuh jadi anak yang baik!"
__ADS_1
“Riri minta maaf ma, Pa, kak, mas!" Dengan mengiba ia menatap semua keluarga secara bergantian.
Ini sangat nyata memalukan, juga menyakitkan. Namun sebagai orang tua, Pak Santoso dan Bu Rita pun tak bisa membenci Riana. Seburuk-buruknya anak tetaplah darah daging mereka yang tidak bisa dibuang dan diabaikan. Kemana Riana akan pulang dan berlindung jika bukan pada mereka.
Papa dan Mama menceritakan bagaimana awal Andra bisa tahu. Jelas sesuai penjelasan Mami Inka waktu itu.
“Andra sempat depresi karena kamu! Dia juga pergi dan hilang kabar karena kamu, Ri! Semua perubahan yang terjadi pada Andra itu karena kamu!”
“Kata tante Inka, sebenarnya dia nggak mau Mama dan Papa tau. Tapi karena melihat ulah kamu, sebagai ibu, tante Inka jelas gak terima anaknya disalahkan sedangkan dia tau kebenarannya." Sahut Mama ikut menimpali.
Riana yang mendengar itu merasa sangat tersayat, bahkan saking sakitnya tak ada lagi suara tangisan yang keluar, dadanya begitu sesak. Ingatannya tertuju pada saat dimana ia pertama kali merasakan perubahan sikap pada Andra, satu bulan sebelum pergi liburan. Hati Riri kembali berdenyut nyeri membayangkan bagaimana Andra menyembunyikan hal ini seorang diri.
Sejahat itu kah dirinya yang tega menyakiti Andra, Her beloved first love. Ia tahu betul, Andra tak hanya menjadikannya seorang kekasih. Tapi, dari kecil Andra menyayangi, melindungi dan menjaganya sebagai seorang saudara, teman, sahabat dan bodyguard. Sebegitu spesialnya Andra memperlakukannya. Namun ia malah menghancurkan semua, Riana malu sekali. Bahkan setelah apa yang ia lakukan, Andra sama sekali tak membencinya atau bahkan melayangkan kata-kata kasar. Pria itu masih memperlakukannya dengan baik. Riana sadar, menyesal sekarang sudah tidak ada artinya. Bahkan mungkin penyesalannya tak akan memperbaiki apa yang sudah terkoyak. Kini ia hanya mampu tenggelam pada penyesalan tak berujung. Kesenangan sesaat yang ia perbuat dengan Rival membuat ia merasa jadi manusia paling hina. Menyia-nyiakan cintanya hanya karena ia punya kekurangan. Semua salahnya yang selalu menuntut semua harus sempurna seperti yang ia inginkan.
Batinnya terus berteriak memanggil nama Andra. Ia tertunduk dalam jurang penyesalan. Hingga kepalanya perlahan mendongak.
“Aku mau ketemu om Ervan dan Tante Inka. Aku mau minta maaf." Ucapnya mengambil keputusan.
__ADS_1
“Kamu memang harus minta maaf, Ri.”