
“Disini, Nov?" tanya Andra sambil melangkah masuk ke dalam sebuah resto ternama. Tadi, sepulang menghadiri acara launching produk dan kemudian pergi menghadiri acara tunangan salah satu pejabat negara yang sudah berhubungan baik dengan keluarganya. Andra lalu pergi memenuhi permintaan salah satu karyawan yang tadi sepulang kantor mengajaknya bertemu.
Walau seharusnya Andra punya agenda lain tapi sebagai bentuk integritas dalam membuat janji, Ia meminta Novi memberikan alamat tersebut pada supir dan membawa mereka ke tempat ini.
“Iya Pak, ini sudah benar!" Novi menjawab dengan mantap setelah memeriksa alamat yang sudah diberikan oleh orang yang ingin bertemu dengan Andra.
Mereka melangkah memasuki ruangan yang sudah direservasi.
“Kayaknya penting sampai direservasi gini."
Andra hanya mencebik sekilas mendengar ucapan Novi setelah mengisi list tamu dan Andra hanya mengikuti dari belakang. Begitu selesai, mereka pun dituntun menuju sebuah ruangan khusus.
“Silahkan masuk." Staff restoran mengantar mereka hingga di ruangan yang dimaksud.
Pintu terbuka, Novi mempersilahkan Andra masuk lebih dulu kemudian Ia menyusul setelahnya.
Begitu masuk, kening Andra mengkerut saat netranya melihat sosok yang tidak asing disana, bukan hanya Eza. Lelaki yang Andra tahu adalah mantan dari istrinya itu ternyata bersama dengan manajer dari salah satu divisi yang ada di perusahaannya.
“Selamat malam Pak Alandra, Bu Novita!" Pria paruh baya itu menunduk memberi hormat pada salah satu orang terpenting di BTR Group. Begitupun dengan Eza, bahkan sosok wanita yang juga saat itu terlibat cekcok dengannya waktu di kota Lany juga ada disana, mereka semua nampak tunduk menghormati keberadaan Andra.
Andra hanya mengangguk sekilas, sambil menarik jasnya Ia pun mulai duduk saat salah seorang pelayan menarikkan kursi untuknya dan keluar setelah tugasnya selesai, membiarkan mereka memulai obrolan yang bersifat privasi.
"Pak ..." Andra menjeda ucapannya sambil menunjuk sosok pria paruh baya di depannya, Ia berusaha mengingat nama orang tersebut.
Andra memang tidak mengenal seluruh karyawan yang ada di BTR Tower, hanya saja Ia sering melihat kepala divisi itu pada setiap rapat laporan pertanggungjawaban.
“Pak Khairil, manajer divisi pemasarannya Astra Furniture." Dengan sigap Novi memberi tahu secara detail dengan menyebutkan salah satu anak usaha BTR Group yang bergerak di bidang produksi furniture.
Novi beralih menatap sosok Eza, dia tahu lelaki itu salah satu staf divisi pemasaran, tapi Novi tidak tahu posisi jelasnya sebagai apa.
Andra menghembuskan napas pelan lalu tersenyum dan menyingkirkan tangannya dari pangkal hidung, Novi memang cekatan dan bisa diandalkan.
“Apa sekarang manajer pemasarannya Astra Furniture mau membantu promosi untuk emasnya Citra Land Mineral?"
Pertanyaan Andra yang diisi candaan itu membuat yang ada hanya menunduk, mereka sadar jika Andra sedang melakukan sarkas atas pertemuan ini.
“Atau mungkin Astra mau mengajukan kerja sama, mau meluncurkan produksi terbaru, dimix and match dengan emas?"
Novi menarik napas dalam, Ia tidak tahu permasalahan apapun. Namun, melihat Andra yang seperti ini, terselip amarah pada candaan yang dilemparkan membuat Novi bisa menebak jika orang-orang yang ada di ruangan itu pernah bermasalah dengan Andra.
Sedang Eza dan wanita itu nampak menunduk, hanya Pak Khairil saja yang menegakkan kepala sambil beberapa kali menunduk.
“Atau mungkin ada pembahasan lain?" sarkas Andra lagi dengan senyuman terselip.
__ADS_1
Mendengar itu, dengan cepat Pak Khairil langsung menyergah.
“Pak Andra, atas nama anak dan calon menantu saya, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang pernah Kiki dan Eza lakukan saat itu."
“Eza benar-benar tidak tahu kalau Pak Andra adalah salah satu Direktur sekaligus cucu dari pemilik BTR."
Andra kembali tersenyum smirk mendengar semua. Ternyata ini yang membuat Ia diundang kesini.
“Eza, Kiki!" bisik Pak Khairil memberi kode.
Kedua pasangan yang katanya akan segera menikah itu pun memberanikan diri menatap Andra.
“Pak Andra, maafkan kelakuan saya saat itu, saya benar-benar tidak tahu siapa Bapak."
“Iya Pak, maafkan saya dan Eza, kami salah dan kami harap Pak Andra berkenan menerima permintaan maaf kami."
Eza dan Kiki berkata secara bergantian.
Sedangkan Novi yang sudah mengerti permasalahan yang ada hanya memutar mata malas mengetahui duduk permasalahannya.
Andra menghela napas panjang, Ia menegakkan bahu dan menatap mereka secara bergantian sebelum akhirnya berkata. “Apa acara makan malam dengan reservasi seperti ini akan tetap ada jika orang itu bukan saya?"
Pertanyaan Andra membuat mereka semua bungkam dan itu berhasil membuat Andra lagi-lagi tersenyum.
“Bahkan mungkin Pak Khairil tidak akan mungkin ikut minta maaf atas perlakuan calon menantu bapak."
“Hanya saja kalian melakukan ini pada saya karena kedudukan saya, kan?"
Ketiga orang itu semakin dibuat menunduk oleh pertanyaan Andra yang begitu menusuk
Sebenarnya Andra bukanlah tipe orang yang haus akan permohonan maaf walau pernah disakiti meski terlahir dari keluarga kaya. Namun, Mami Inka mendidiknya menjadi pribadi yang baik. Andra memang sempat kesal saat mengingat bagaimana Eza merendahkan Ia dan mengatai Lany saat itu.
“Seandainya saya tidak memiliki privilage apapun di BTR, atau bahkan hanya orang biasa mungkin kalian tidak akan repot-repot seperti ini dan tetap santai, bukan?" tanya Andra dengan bawaan yang begitu tenang dan senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, tapi kata-kata yang disampaikan begitu menusuk.
“Maaf!" Hanya itu kata yang keluar dari mulut Eza.
Andra manggut-manggut. “Pesan saya satu, saya harap kamu bisa menghargai siapapun itu tanpa melihat kedudukan, apalagi penampilan mereka."
“Entah itu orang berada atau orang kecil sekalipun."
Lagi-lagi Eza semakin dibuat tertampar, ucapan laki-laki kharismatik di depannya ini membuat Ia tertampar, seketika mengingat bagaimana dulu Ia merendahkan Andra hanya dari tampilan sederhana pria itu, tanpa tahu jika Andra adalah pemuda sukses yang terlahir dari keluarga kaya. Ia sama sekali tak pernah menyalah gunakan kedudukannya.
“Jaga sikap dan ucapan agar tidak melukai orang lain!" lanjut Andra, lalu tangannya meraih segelas minuman untuk diseruputnya meski hanya seteguk. Begitu juga dengan Novi, Ia baru melakukan hal yang sama saat melihat Andra melakukannya.
__ADS_1
“Terimakasih atas undangan makan malamnya." Andra melambaikan gelas lalu meletakkannya.
“Saya menerima permintaan maaf dan menghargai niat baik kalian." Lanjutnya dan mulai beranjak, merapikan jas dan jam tangannya. Membuat ketiga pengundang itu menujukkan sikap heran melihat aksi Andra yang diselingi dengan ucapan-ucapan yang menohok, lembut namun menusuk.
“Tenang saja, saya tidak akan memperbesar masalah ini dan menjadikan hal seperti ini sebagai alasan agar kalian dipecat, walau sebenarnya saya bisa melakukan itu dengan mudah, mengingat bagaimana kedudukan saya!"
Eza dan Pak Khairil berkali-kali menelan ludah secara kasar, panik karena ternyata Andra mengetahui maksud terselubung di balik permintaan maaf ini. Mereka hanya takut jika saja Andra menggunakan kekuasaannya dan dengan mudah membuat mereka keluar dari BTR Tower.
“Selagi kinerja kalian bagus dan mau mengabdi untuk perusahaan, kalian pasti akan tetap bersama kami."
Rasanya kata-kata Andra membuat mereka semua babak belur tanpa disentuh. Bahkan Novi pun selalu bergidik ngeri jika Andra sudah bersikap seperti ini.
“Ayo, Nov!"
Andra dan Novi pun segera beranjak dari sana.
....
Sementara itu di sisi lain. Lany nampak menangis sambil memeluk lututnya. Gadis itu bersandar di sisi ranjang dengan air mata yang terus mengalir.
Kata-kata menohok Oma yang dilemparkan saat Ia baru tiba di rumah tadi benar-benar tak bisa hilang dari ingatan Lany, apalagi saat kemunculan Mami Inka yang sama sekali tak membelanya dan hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal itu membuat Lany semakin merasa tertekan. Disaat seperti ini Ia sangat membutuhkan Andra, tetapi karena kesibukan lelaki itu malah belum juga pulang hingga saat ini.
“Kalau terus-terusan begini rasanya Aku gak sanggup." Lany berkata lirih sembari mengusap air matanya.
Bayang-bayang masa kecil saat Ibu Lela, mama tirinya memarahi dan tidak berlaku adil padanya membuat Lany semakin terisak. Ia seperti kembali ke masa itu, hidup menderita dan tak ada satupun yang memihak. Lany benci situasi ini, Ia ingin hidup tenang seperti saat Ia mendapatkan kenyamanan saat hidup di kapal, bebas membahagiakan diri tanpa ada yang menekan.
Namun, kini situasinya benar-benar beda. Ia telah menjadi istri dari seorang Alandra, anak orang kaya yang memiliki perbedaan berbanding terbalik dengan hidupnya. Rasanya Lany ingin menjauhi Andra, ia tak sanggup dibenci oleh keluarga kaya ini karena menikahi pangeran seperti Andra. Lany pikir menikahi orang kaya akan semenyenangkan yang dibayangkan, ternyata tidak. Tetapi nasi sudah jadi bubur, insiden di kapal itu menghantarkan ia pada takdir mengejutkan ini, mendapatkan sosok Andra yang baik hati dan mampu membuatnya jatuh cinta adalah sebuah takdir yang indah, tetapi kenyataan bagaimana keluarga Andra membuat Lany ingin lari. Ia ingin kabur, tapi tak bisa, sebab di perutnya sudah ada kehidupan baru yang harus ia jaga.
“Kau itu ndak punya mamak, saya ini mamakmu, jadi kau harus menuruti apa kataku, Lany!"
“Lany, hidupmu tidak bisa jauh lebih baik dari Elsa, karena kamu bukan anak kandungku. Jadi, jangan harap bisa makan enak dan diperlakukan baik!"
Jeritan tangis saat masih kecil dan kata-kata menyayat mamak terus terngiang di kepala Lany, membuat tangisnya semakin pecah jika mengingat bagaimana Ia tak pernah mendapatkan kehidupan yang baik sejak kecil.
Ia sempat berhasil mendapatkan itu semua saat mulai bekerja keras di kapal. Namun, semua kebahagiaan itu hanya sesaat, kini Ia kembali terperangkap di antara orang-bermulut jahat yang tak menyukai keberadaannya karena menjadi istri Andra.
“Andra emang gak seharusnya nikahi wanita seperti kamu, gak ada pantas-pantasnya menjadi pendamping cucu saya!"
“Kamu itu harusnya sadar, kalau bukan karena cucu saya kamu gak akan bisa ada disini."
“Sebenarnya kamu apain cucu saya sampai dia mau nikahin kamu secara diam-diam? Kamu jebak dia ya, atau kamu guna-guna?"
Jeritan tangis masa kecil Lany kini berganti menjadi kata-kata menohok yang oma layangkan tadi. Jujur hatinya sakit mendengar itu. Suara Lany semakin tersedu-sedu menyadari nasibnya sekarang.
__ADS_1