
Sekitar jam tujuh malam, Andra sudah sampai di sebuah cafe. Saat melangkah menaiki tangga, kenangan bersama Riri dulu mulai terputar kembali di kepalanya. Ada rasa sedih yang hinggap di hatinya jika mengingat bagaimana Riana tega menghianati hubungan mereka. Namun, Andra tak ingin larut dalam kesedihan, ia lantas dengan cepat menutup ingatan tentang kenangan tersebut.
Yang lalu, biar lah berlalu. Andra tidak ingin mengenang Riana terlalu dalam. Satu-satunya orang yang boleh mengisi hati dan pikirannya saat ini adalah istrinya. Kenangan dengan Riana telah lenyap bersama luka yang Andra kubur dalam-dalam. Meski begitu, tak bisa dipungkiri jika Cafe ini adalah salah satu saksi hubungan mereka dulu. Ia dan Riana hampir setiap saat menghabiskan waktu di sana.
Begitu menginjakkan kaki di lantai atas, dimana terdapat sebuah taman outdoor di area rooftop yang merupakan tempat biasanya lifemuic diadakan. Tapi kali ini masih sepi, karena memang belum waktunya buka, biasanya cafe itu akan ramai pengunjung dikisaran jam delapan ke atas. Mata Andra menelisik mencari keberadaan Riana. Ia melihat sosok wanita tengah duduk di pojok rooftop, tepat di samping tanaman rambat Lee Kwan Yew yang menjuntai menyenyuh lantai. Ia Kemudian bergegas menghampiri Riana.
“Udah lama, Ri?” Sapa Andra pada Riana yang kelihatan melamun.
“Nggak juga, belum ada setengah jam.” Senyum samar terulas dari bibir Riana, wajahnya nampak mendung dengan mata yang berkaca-kaca. Meski begitu tangan Riana tetap tergerak menyodorkan minuman pada Andra yang sudah ia pesan sebelumnya.
“Cofee latte original.” Air mata Riana, jatuh saat itu juga. “Favorit kamu, paling suka pake foam art bentuk hati, kan?.” Lirihnya sendu.
“Makasih." Andra tersenyum kemudian menseruput minuman tersebut.
“Ternyata kamu masih ingat!" Ucap Andra dingin sambil mendorong kotak tisu ke hadapan Riana.
“Nggak akan pernah lupa!" Sahutnya sembari meraih selembar tisu dan menghapus air matanya. Beruntung suasana Cafe malam itu masih belum terlalu ramai. Jadi ia tak perlu khawatir jika harus menjadi pusat perhatian orang-orang.
“Mau ngomong apa?" Tanya Andra.
Tanpa basa-basi, Riana langsung pindah dan berlutut di hadapan Andra dan terisak sejadi-jadinya.
Andra yang melihat itu sontak terkejut. Tangannya spontan tergerak mengangkat tubuh Riana dan membawanya kembali duduk.
“Udah, jangan nangis! Cafenya mulai ramai!" Andra masih berdiri di sisi Riana sambil beberapa kali mengusap bahu wanita yang kini melingkarkan tangan di tubuhnya.
“Aku minta maaf, By! Aku salah, aku bodoh udah ngelakuin hal itu ke kamu! Aku menyesal.”
Andra yang mendengar penuturan Riana pun hanya terpaku dan mulai menebak jika Riana sudah tahu alasan di balik ia memutuskan hubungan mereka.
“Ri!" Andra memegang bahu Riana hingga membuatnya mendongak.
Begitu menatap wajah Andra, air mata Riana makin menganak sungai. Penghianatannya ternyata diketahui Andra. Ya, tadi sebelum melakukan klarifikasi, Mama dan papa Riana sempat memarahinya dan memberi tahu jika Andra mengetahui soal perselingkuhannya dengan Rival. Riana yang mendengar itu tentu begitu syok. Ia yang awalnya ingin membuat kegaduhan agar Andra meminta maaf dan tetap mau melanjutkan pernikahan. Tidak disangka, jika semua malah menjadi boomerang untuk dirinya. Riana begitu malu dan menyesal, ia lantas melakukan klarifikasi dan mengajak Andra bertemu untuk minta maaf.
Andra yang mendengar penjelasan Riri hanya menggeleng kecil, bisa ditebak jika Mami pasti melakukan ini karena geram melihat tingkah Riana.
__ADS_1
“Nggak salah kalau kamu marah, aku emang bejat, By! Tapi percayalah, aku nggak cinta sama Rival, aku cuma cinta sama kamu!" Ucap Riana sesegukan.
“Maafin Aku, By! Aku nggak bisa kalau kita nggak sama-sama.”
Seperti buaya betina yang begitu pandai bersilat lidah. Riana dengan tidak tahu malunya malah membujuk Andra agar mau memaafkan kesalahannya.
“Kalau nggak cinta kamu nggak akan menyerahkan tubuhmu ke dia, Ri!" Ucap Andra dingin, tangannya tak lagi memberi usapan pada tubuh Riana.
“By!!" Lirih Riana dengan tatapan mengiba. “Maafin aku!"
Sekeras apapun usaha Riana untuk membujuk, Andra tetap memberikan satu jawaban, berupa gelengan yabg berarti tidak.
“Aku maafin kelakuan kamu. Tapi untuk kembali, maaf aku nggak bisa.”
Riana pun hanya menunduk mendegar keputusan final Andra. Setelah itu, ia tak lagi membujuk. Keduanya sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Dengan Riana terus menangis tiada henti, ia begitu menyesal dan malu terhadap perbuatannya. Namun penyesalannya tidak berarti sama sekali saat Andra tidak bisa menerimanya kembali.
“By.!" Andra hanya melirik sekilasa saat Riana terus memanggilnya dengan sebutan Baby, panggilan sayang mereka dulu.
“Aku bisa peluk kamu sebagai bentuk permintaan maafku, nggak? Aku benar-benar menyesal udah menghianati hubungan kita.” Lirih Riana memohon dengan sangat.
Andra yang mendengar itu terdiam sejenak kemudian akhirya mengangguk mengiyakan. Riana yang melihat Andra menggangguk langsung bergegas memeluknya.
Baru mereka mulai berpelukan, suara benda jatuh membuat keduanya sontak menoleh ke sumber suara, membuat pelukan itu merenggang seketika begitu Andra menyadari keberadaan seseorang di belakang sana.
“Lany?”
Matanya membulat saat menyadari Lany ada di sana, istrinya itu menabrak seorang pelayan yang sedang membawa nampan kosong.
“Lan, Tunggu!" Andra langsung berlari mengejar Lany, dan langsung disusul oleh Riana.
...
Lany, sungguh hatinya sakit sekali saat melihat dengan mata kepalanya Andra tengah berpelukan dengan wanita. Ia yang awalnya sempat menguatkan hati dan tidak ingin terlalu percaya pada cerita Rival sampai Andra yang mengatakan semuanya. Awalnya ia sudah merasa lebih baik setelah menumpahkan tangisnya.
Namun, lagi-lagi Rival mengirimkannya pesan yang sama seperti pagi tadi. Kali ini Rival memberi tahu Lany jika Andra sedang bertemu dengan seseorang. Lany yang ingin memastikan itu pun langsung bergegas menuju alamat yang Rival kirim dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang Andra lakukan. Ia yang awalnya sudah menguatkan hati dan percaya pada Andra, akhirya goyah juga saat melihat hal itu.
Sampai-sampai tubuhnya hilang keseimbangan saat ingin beranjak dari sana dan malah menabrak seorang pelayan.
__ADS_1
“Sorry, sorry! Saya nggak sengaja!” Ucap Lany sambil menahan sesak di dada.
“Hati-hati dong mbak, untung nggak ada isinya!" Ucap pelayan tersebut.
Dan sialnya, kejadian barusan dilihat oleh Andra, Lany yang enggan melihat wajah Andra pun memutuskan untuk berlari demi menghindarinya.
“Lan, tunggu!" Lany terus memacu langkah menuruni tangga saat Andra terus memanggil namanya.
Hingga aksi kejar-kejaran pun terjadi sampai di halaman cafe. Lany tak juga mau menghentikan langkahnya sampai Andra berhasil menarik dan membuat langkahnya terhenti.
“Lepas!" Sentak Lany, mencoba melepas genggaman Andra.
“Kamu kok bisa di sini?" Bukannya menjawab, Andra justru menanyakan bagaimana Lany bisa berada di sana.
Lany yang mendengar itu lantas tersenyum seperti joker, ia menatap Andra dan Riana yang berdiri di sampingnya secara bergantian dengan sinis.
“Udah ya, Andra! Sekarang aku udah tau semuanya, Aku tahu semua alasan kenapa kamu sembunyiin aku dan menutupi semuanya dari aku!" Tegas Lany dengan wajah marah.
Andra yang menyadari keberadaan Riri langsung mengusap wajahnya secara kasar.
“Aku bisa jelasin semuanya.” lirih Andra.
“Nggak ada yang perlu dijelaskan! Semuanya udah cukup sampai di sini. Aku udah bilang dari awal kamu memang bukan tujuanku, kamu juga bukan kepingan yang ingin ku raih! Dan sekarang aku menyesal sempat menjadikan kamu kepingan itu." Sentak Lany kemudian kembali meneruskan langkahnya.
Andra yang mendengar itu mengusap rambutnya frustasi. Ia tak menyangka semuanya akan seperti ini, entah siapa yang memberi tahu Lany soal ini, pastinya dia adalah orang yang tahu banyak hal tentang hidupnya.
Sementara Riana yang masih ada benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Jelas ia tidak mengenali wajah Lany, sebab saat di kantor waktu itu Lany menggunakan hoodie dan masker.
“Lany!!” Riana yang tengah memikirkan siapa wanita barusan dibuat terkejut saat mendengar Andra berteriak dan berlari saat melihat Lany pingsan.
Beruntung Andra datang tepat waktu dan berhasil mendekap tubuh Lany. Andra begitu panik saat melihat Lany tidak sadarkan diri. Ia langsung menggendong dan membawa Lany ke mobil.
“Andra, sebenarnya dia siapa?" Tanya Riana saat Andra sudah masuk ke dalam mobil. Namun bukannya mendapat jawaban, justru rasa kesal lah yang Riana dapat saat Andra mengabaikan pertanyaannya dan berlalu pergi tanpa mengatakan apapun.
“Sial! Andra sampai segitunya!” Riana mendengus tak suka.
“Sebenarnya dia siapa? Kenapa Andra sampai panik begitu!”
__ADS_1