
Kepalaku terasa pening, tubuhku rasanya remuk, terutama di bagian sensitifku begitu nyeri. Aku membuka mata, pemandangan pertama yang kulihat adalah kamar mewah. Kenapa aku bisa tidur disini? Tanyaku dalam hati.
Aku pun langsung duduk, mataku mengitari ruangan itu, berusaha mengumpulkan ingatan tentang apa yang terjadi sebelumnya. Namun, saat mata ini tertuju pada sosok pria yang duduk di sofa. Ingatanku langsung tertuju pada rentetan kejadian sebelum ini. Dimana bermula saat aku mulai mengetuk cabin 1661 dan ... Apa yang terjadi? Aku baru saja melakukan one night stand. Ya, pantas disebut seperti itu karena kami sama sekali tak saling mengenal dan dengan begitu mudahnya aku terbuai dalam sentuhannya.
Ah, sial dia jadi yang pertama, aku telah melakukan dosa besar dengan menyerahkan mahkotaku padanya. Sial, sial, sial! Rasanya aku ingin menangis ketika rasa sesak karena kesalahan itu memenuhi relung hatiku.
“Maaf!” Laki-laki itu menunduk setelah menatapku, ia seakan menyesali apa yang telah terjadi pada kami. Itu membuat hatiku seperti ditumpuki beban berat
“Aku mabuk! Aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu!”
Dengan raut wajah bersalah, pria itu memencet pangkal hidungnya sambil menatapku. Sungguh aku ingin sekali menerkamnya, tapi aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pria ini. Apalagi disini juga aku yang salah, Aku bodoh! Bisa-bisanya aku terbuai dalam sentuhannya. Ahh, tidak! Aku menggeleng, tetap saja, tetap dia yang salah. Seandainya dia tidak mabuk dan tidak memaksaku sekuat tenaga, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku mengutuki pria ini! Walau sebenarnya semua itu karena aku yang akhirnya luluh hanya karena ketampanannya dan akhirnya setan berhasil menggodaku! Aku meringis mengutuki kebodohan.
“Kamu masih virgin!” ucap pria itu lagi dengan wajah datar, “Tapi oke," ucapnya, entah itu sebuah pujian atau ejekan, bagiku itu sangat menyebalkan dan membuatku merasa sangat direndahkan. Jangan tanyakan bahasa apa yang ia gunakan, tentu saja bahasa inggris yang merupakan bahasa internasional.
“Cih, sialan!! Dia pikir aku benar-benar wanita ONS” lirihku mengumpatinya menggunakan bahasa Indonesia. Tentu saja, dengan begitu aku bebas mengumpat karena tentu dia tidak akan memahami dengan bahasaku, bukan?
“Hmmmmnt, kenapa aku tidak bisa menjaga kehormatanku?” Aku bergumam dengan air mata yang hampir menete sambil menggulung selimut menutupi tubuh dan beranjak menuju kamar mandi untuk memakai pakaian dan akan melanjutkan tugasku yang belum Selesai.
Meski dengan perasaan sedih dan bagian sensitifku terasa perih, tapi aku harus menyelesaikan tugasku. Entah mengapa, perasaanku menjadi tak karuan setelah melakukan hal bejat ini. Menyesal? Tentu saja, aku merasa sangat berdosa karena kejadian ini. Selain mendapat dosa, sudah dipastikan aku pun akan di blacklist oleh pihak perusahaan jika ketahuan tidur dengan Tamu Oh, My God, Berulang kali aku memejamkan mata untuk menenangkan diri.
__ADS_1
“Percayalah, kalau ada yang tahu kejadian ini, sudah pasti aku akan langsung dilempar ke laut!" Aku mengomel sambil memunguti bajuku, sungguh kini pikiranku dipenuhi dengan rasa bersalah karena dosa dan juga rasa takut ketahuan oleh atasan karena melanggar peraturan.
“Kamu orang indo??” Suara itu menghentikan langkahku saat hampir masuk di kamar mandi. Dengan mata membelelak aku menoleh ke sumber suara. kupikir di kamar itu ada orang lain, ternyata tidak. Hanya ada aku dan pria asing ini. Lalu siapa yang menggunakan bahasa Indonesia barusan? Aku melotot heran.
Keningku semakin menyerngit saat kulihat dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, raut wajah penyesalan dan merasa bersalah di wajahnya kian terpancar, bercampur jadi satu.
“Jadi kamu orang indo juga?” tanyanya sekali lagi.
What the fuckk? Dia benar-benar bisa berbahasa Indonesia, tapi bagaimana bisa? Wajahnya terlihat seperti keturunan westren, apa dia blasteran? Gumanku dalam hati.
Aku masih terpaku tak percaya, aku benar-benar tak menyangka. Bagaimana ini bisa ini terjadi? Saat otakku masih mencerna apakah dia benar-benar orang indo, apakah kami benar berasal dari negara yang sama? Dia sudah kembali berbicara.
Aku semakin menyerngit heran saat mendengar penuturan menohok dari pria itu. Hah, dia benar-benar orang Indonesia, dan dia ingin bertanggung jawab atas apa yang kami lakukan.
Baru aku membuka mulut ingin bicara, tapi urung saat telinga kami mendengar suara ketukan. Mata kami sama-sama Menatap ke arah pintu.
Detak jantungku berpacu lebih kencang dan semakin kencang saat kudengar suara Lexi memanggilku dari arah luar. Hal itu sontak membuatku panik.
TOK, TOK TOK!
__ADS_1
“Lany, it's me, are you still inside?"
Aku menelan ludah kasar, takut jika L
Pintu dibuka dan Lexi melihatku dalam kondisi seperti ini.
Sekilas kulihat pria itu menatapku, masih dengan raut wajah menyesal. Namun, kali ini dia menghembuskan napas kasar, saat melihatku panik wajahnya langsung berubah teduh, seakan berusaha menenangkan. Dengan bertelanjang dada dia berjalan ke arah pintu, sebelum itu aku melihatnya menggeser peralatan bersih-bersihku ke arah yang tersembunyi.
Aku bernapas lega atas apa yang dilakukannya, itu artinya dia memang sedang berusaha melindungiku. Aku yang masih mematung terus menatap punggung pria berwajah tenang itu. Dia terlihat kalem, tak seperti saat masih dalam pengaruh alkohol beberapa waktu lalu.
Dia menoleh sambil mengisyaratkan agar aku segera masuk ke dalam kamar mandi.
“Eh, " Hal itu membuatku gelagapan dan segera masuk, bersembunyi di dalam toilet.
Telingaku bisa mendengar suara pintu terbuka, diiringi dengan suara pria itu yang mulai berbicara.
“Kamarku sudah bersih, petugasnya sudah pergi dari tadi.” Begitu pria itu memberi tahu Lexi. Aku mengelus dada dan bernapas lega saat mendengarnya.
Setelah mendengar pintu tertutup, aku segera membasuh diri dan memakai bajuku, setelah itu aku langsung keluar untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya selesai sejak tadi.
__ADS_1