
Seminggu sudah usia pernikahan dua insan yang kebetulan dipertemukan dalam sebuah takdir tak terduga itu. Setelah hari dimana Lany mengatakan ia akan setiap hari pergi ke rumah makan pada Andra. Dari situ pula ia kembali memulia rutinitas hariannya, tiap hari disibukkan dengan berangkat ke rumah makan dan akan pulang saat sore hari, bahkan tak jarang pulang malam. Andra ia tinggalkan sendiri. Tentu saja, tidak mungkin kan dia mengajak Andra untuk pergi setiap hari.
Namun ia selalu merasa beruntung setiap kali pulang dari kerja, Andra selalu menyambutnya dengan senyum dalam kondisi rumah yang sudah bersih. Aduh, betapa beruntungnya Lany. Ya, meski terkadang ia kesal sendiri jika melihat Andra pengangguran seperti itu.
“Kapan mau kayanya kalau suami ku pengangguran begini..” Begitu kata Lany setiap kali di hampiri rasa kesal melihat Andra yang menganggur.
Namun Andra tak pernah menanggapi ucapannya dengan serius atau marah-marah. Pria itu selalu saja berusaha tersenyum sambil meraih tangan istrinya, kemudi mengatakan “Sabar ya, neng. Abang bukannya nggak mau kerja..” Andra selalu sabar menghadapi setiap amarahnya, menatapnya teduh sambil memberi sentuhan lembut dalam genggamannya “Tahu sendirikan, kerjaan abang seperti apa? Kalaupun harus ngelamar kerja, nggak akan bisa karena aku nggak bawa berkas-berkasnya.” Begitu katanya memberi alasan.
Dan saat itu juga Lany selalu berakhir luluh, karena suaminya itu selalu bisa membuatnya hanyut dan merasa aman dalam dekapannya. Tentu semua hanya akan menguap begitu saja, seolah tidak ada perdebatan yang terjadi.
Namun hari ini nampak berbeda, seminggu berlalu dengan Andra yang selalu melayani semua kebutuhannya setiap pulang kerja membuat Lany ingin melakukan hal yang sama pada suaminya itu. Bagaimana pun kekesalannya pada Andra, namun jauh di lubuk hati yang paling dalam ia begitu ingin menjadi istri yang baik. Ya, meski terkadang mulut dan sikap bar-barnya sulit dikontrol.
Pagi tadi Lany bangun lebih awal dari Andra, hanya demi menyiapkan makanan untuk suami yang selalu di omelinya itu. Dan setelah semua siap, kini ia hanya tinggal membangunkan Andra unuk sarapan pagi bersama.
“Beres!!” Lany tersenyum bangga sambil menatap hasil masakannya pagi ini “Tinggal bangunin si cowok aneh..” Ia pun berlalu meninggalkan dapur.
Begitu sampai di atas, dari pintu kamar yang terbuka. Lany bisa melihat jika Andra masih terlelap.
“Kelihatan capek banget..” Lany tersenyum kikuk demi mengingat kegiatan -mengasyikkan- apa saja yang bisa Andra lakukan padanya.
Sebenarnya ia belum siap melakukan hat 'Itu', masih terlalu canggung. Namun ia sama sekali tak bisa menolak setiap kali Andra mulai melancarkan aksinya, hingga iapun terbuai dalam setiap sentuhan Andra yang bisa membuatnya terbang ke awang, meledak hinga lupa tempat berpijak.
“Andra..!” terlebih dahulu Lany menyingkap tirai jendela, hingga cahaya matahari pagi menerpa wajah Andra yang bagi Lany -b aja-. (Seriusan b aja, Lan?🙄)
Namun mata Lany justru membola seketika saat melihat sesuatu tergeletak tepat di samping wajah Andra yang masih tengkurap pada bantal.
“Wih gila, hp pelayan Bar iPhone, cuy!!” ucap Lany antusias yang menyadari jika ternyata benda pipih yang ada di samping Andra adalah Handphone berlogo apel digigit sepotong itu adalah Handphone keluaran terbaru, seperti handphone para sultan yang viral itu.
Lany sendiri sempat terkejut, selama ini ia memang sama sekali tak pernah melihat Andra memegang handphone dan ternyata handphone suaminya itu adalah handphone mahal. Lebih di atas dari type hpnya yang juga bermerek sama. I don't believe it!
Andra yang masih tidur, langsung berbalik seketika saat mendengar suara istrinya, dengan wajah bantal ia menatap sayu ke arah Lany yang masih berdiri sambil memegang Hp. Raut wajahnya berubah seketika saat melihat apa yang dipegang oleh Lany.
“Oh ini, cuma hp hadiah give away, bukan beli sendiri!” Dengan wajah panik, Andra merampas benda pipih itu dari tangan Lany, membuat sang istri mengernyit heran.
“Give away?” Lany masih berdiri seperti orang bodoh yang heran mendengar jawaban Andra.
__ADS_1
Seriously? Hasil give away?? Apa aku tidak salah dengar?
“Iya, giveaway yang sering di adain di IG itu..” ucap Andra mantap sambil menoleh pada Lany yang masih kelihatan tak percaya.
“kamu sering ikutan give away yang ada di IG itu?” tanya Lany dengan kening berkerut. Sejujurnya ia tak ingin sepenuhnya percaya, namun tak ada pilihan lain selain memercayai Andra. Karena baginya tidak mungkin Andra, suaminya yang katanya pelayan bar mau beli handphone semahal itu.
Dan Andra hanya mengangguk sambil kembali menelungkupkan wajahnya ke atas bantal “Emangya asli gitu? Bukan penipuan?” tanya Lany lagi dengan pertanyaan absurdnya.
Yaiyalah bambang, gue nggak pernah percaya sama yang namanya giveaway!
Andra mengangguk “Ya, itu ada buktinya. Aku bisa punya iPhone.” katanya berusaha meyakinkan
Lany yang masih berdiri di sisi ranjang terlihat memikirkan sesuatu sebelum setelannya berkata “Kalau begitu aku juga mau ikut deh, siapa tau dapat iPhone juga, kan lumayan bisa di jual, dapat uang buat tambahan biaya hidup kita..” ucapnya bersemangat sambil menekankan kata pada 'Biaya hidup kita', mengingat Andra sama sekali tak bekerja membuat ia terkadang harus mengambil kerjaan freelance untuk membiayai hidup mereka berdua, seperti ikut mengantar katering padahal diakan bosnya, seharusnya duduk manis saja. Hmmnt.!
Namun, ya begitulah nasib Lany. Sedari dulu harus bekerja keras hanya untuk menghidupi orang lain yaitu Ayah dan ibu tirinya dan kini iapun sudah menikah namun tetap menafkahi diri sendiri bahkan ia juga harus menafkahi suaminya itu. Sungguh lucu bukan?
Sementara Andra yang mendengar ucapan Lany hanya tersenyum lebar, pria itu membuka matanya namun tetap pada posisi membelakangi Lany yang masih berdiri.
“Makasih istriku, sudah mau bekerja keras.” kata Andra tanpa beban dan dosa membuat Lany memutar mata malas. Ia yang tadinya berniat baik mengajak Andra sarapan bersama, justru langsung merasa kesal.
“Ah udahlah, ngeluh ke kamu itu nggak ada gunanya. Nyebelin!” Lany memukul punggung Andra
Sementara Andra yang mendengar itu langsung terkekeh “Itu namanya kamu nggak ada jodoh dengan presdir, tapi berjodohnya sama aku!" Ia yang tadinya mengantuk berat, kini mulai menyibakkan selimut lalu segera menyusul Lany ke bawaj.
“Cuci muka dulu gih baru makan!" seru Lany saat melihat Andra sudah duduk di hadapannya. Kemudian ia pun mulai menyendokkan makanan untuk suaminya itu.
“Wah makan enak nih!” Andra kembali duduk setelah membasuh wajahnya di wastafel, sambil menggosok-gosokkan tangannya ia melirik seluruh hidangan di depannya.
“Ini masakan kamu, neng?”
“Ya iyalah, mau masakan siapa lagi?” Lany menyodorkan sepiring nasi yang sudah berisi lauk pauk ke hadapan Andra, lalu menyodorkan segelas air setelahnya.
“Udah cuci muka belum?"
“Udah.. ” Andra minum terlebih dahulu kemudian mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
“Dimana?” tanya Lany dengan wajah datarnya
__ADS_1
“Dimana apanya sih neng?” tanya Andra sambil mengunyah.
“Cuci mukanya Andra, dari tadi aku nggak lihat kamu berpindah sama sekali.."
“Oh, aku cuci mukanya di situ.." Andra menunjuk pada Wastafel, membuat Lany melotot nyalang.
“Ih jorok banget, masa cuci muka di wastafel cucian piring!" Lany yang sama sekali belum makan, terus mondar mandir sok sibuk seperti setrikan. Entah apa yang dicarinya.
“Apa bedanya sih, kan sama-sama air.." tangan Andra bergerak meraih telur balado dan ikan suir cabe ijo, ia makan dengam begitu lahapnya “Tadi nggak keburu ke kamar mandi, udah nggak sabar pengen nyobain masakan kamu..” Andra tersenyum lebar. Sepertinya ia begitu menyukai masakan sang istri.
Lany hanya memutar mata malas mendengarnya, ia duduk kemudian mulai ikut makan.
“Ternyata kamu pintar masak juga ya, Lan." Andra menatap kagum pada Lany. Kirain cuma bisa marah-marah doang. Ia bahkan sampai terkikik dalam hati.
Sedangkan Lany sama sekali tak menggubris ucapannya, istrinya itu terlalu menikmati makannya. Dengan pikiran yang masih berkeliaran mengenai ucapan Andra soal Hp hasil giveawaya-an.
Oh, no Andra, kamu bikin beban pikiran ku bertambah saja. Lany masih bimbang, antara bingung mau percaya atau tidak.
“Lan..”
“Hmmmnt..” Sahut Lany yang masih mengunyah namun pikirannya entah kemana.
“Kalau bisa, tiap hari aku pengen dimasakin terus..” Andra mengerlingkan matanya, menatap penuh harap agar Lany mau menuruti keinginannya.
“Emang masakan aku enak?" tanya Lany datar dan Andra pun hanya mengangguk mengiyakan.
Tentu itu membuat Lany langsung tersenyum penuh percaya diri "Ck, Lany gitu loh.. Mana pernah gagal aku kalau soal masak-memasak..”
“Iya deh, kamu hebat.." Andra mengacungkan dua jempol, membuat Lany makin menyombongkan diri atas pujian Andra, namun sejurus kemudian ia kembali ketus. Dasar Lany, mood nya cepat sekali berubah.
“Udah sih, cepat habisin! Habis ini kita pergi ke suatu tempat.."
“Kemana?” tanya Andra penasaran sambil meneguk air minumnya.
“Nggak usah banyak tanya bisa kan?"
“Ya kan nanya doang, Neng! Entar kamu ajak ke neraka aku iya-iya aja kan bisa berabe urusannya..” Sungguh Andra begitu senang menggoda istrinya itu.
__ADS_1
“Ih, bisa nggak sih sehari aja jangan nyebelin..” Cebik Lany dengan gayanya yang begitu galak plus cerewet seperti emak-emak kompleks yang sedang memarahi anaknya.