My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 90 [Mencari Ketenangan Diri]


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih 15 menit. Sudah menjelang sore, dan Lany sama sekali belum pernah tidur siang. Sejak kedatangannya tadi, diantar oleh Mang Anto, sesuai perintah Andra. Ia langsung menuju apartemen, berhubung sekitar jam 9 pagi tadi, penghuni rumah yang lain sedang keluar, sehingga memudahkan ia keluar dengan perasaan tenang, tentunya dengan izin dari Andra. Walaupun ia sendiri tidak tahu apakah pilihannya akan menimbulkan kesan buruk di keluarga Andra atau tidak.


Dengan bebas Lany pergi setelah Andra menelponnya dan minta maaf karena lupa memberikan Key Card pagi tadi.


“Maaf ya, sayang. Karena buru-buru aku sampai lupa ngasih ini!” Andra nampak tersenyum sambil menunjukkan sebuah kartu dari balik layar panggilan video yang mereka lakukan. Tepat setengah jam setelah keberangkatannya ke kantor, dan saat itu Lany hanya bisa mencebik kesal.


“Nanti aku titip lewat kurir aja yah!" Ujar Andra sambil memberi tahu password apartemen, “Passwordnya tanggal pernikahan kita!"


Lagi-lagi Lany hanya mencebik, “Aku gak tahu dan gak ingat tanggal pernikahan kita!"


Tentu jawabannya berbalik membuat Andra mengernyitkan kening, dari balik layar ponsel. Ia yang tengah duduk di balik meja kerja langsung melepaskan kacamatanya dan berjalan mendekati jendela kaca yang bisa menampakkan setengah kota Jakarta pagi itu.


Andra menggeleng geram, “hari penting di hidupmu, nggak kamu ingat sama sekali?" Protesnya.


Lany menggeleng, “Nggak, kan nikahnya dadakan dan tanpa rencana, aku mana ingat!" Celetuk Lany tanpa rasa bersalah. Ya, dia benar-benar tidak mengingatnya. Mungkin karena waktu itu ia terlalu kesal pada Andra.


“Allahuakbar!" Andra mendesah kesal, raut wajahnya seakan menyiratkan keheranan dan tanya. Bisa-bisanya ada orang yang tidak mengingat hal sepenting itu. Namun, mau dikata apa lagi. Wanita di depannya itu adalah Lany, makhluk dengan spesies berbeda dengan segala sikap nyelenehnya yang membuat Andra sering geleng-geleng kepala.


“Ya udah nih! Ingat dan dengar baik-baik, kalau perlu dicatat biar gak lupa.”


“18 12 21!”


“Oke, Ayang, makasih" Lany mengacungkan jempol sambil tersenyum lebar.


“Suka marah tapi pikun!" Cebik Andra sambil menjentikkan jarinya ke layar ponsel. Kalau dekat, mungkin sentilan itu sudah mendarat di kening Lany. Sedangkan Istrinya yang dikatai begitu hanya melototkan mata, tanda tidak terima.


“Udah, aku mau kerja dulu!” Andra terlihat kembali menuju kursinya, “Ingat ya, perginya sama Mang Anto. Kalau aku cepat pulang biar aku yang jemput, tapi kalau lembur kamu pulang aja sama mang Anto lagi, nggak usah tunggu aku!" Dan Lany hanya mengacungkan jempol tanda setuju.


“Nggak usah gak enakan, itu sudah tugas mereka!" Meski Andra sendiri jarang menggunakan supir, tapi kali ini ia melakukan ini pada Lany agar bisa mengawasi istrinya itu. Apalagi akhir-akhir ini Lany sangat sering mual tiba-tiba dan Andra takut hal yang tidak diinginkan terjadi jika Lany sedang tidak dalam pengawasannya. Baginya, ini adalah salah satu bentuk pertanggung jawaban terhadap istri dan calon bayi mereka.


“Dan satu lagi, jangan coba-coba pulang naik grab atau taxi, kali ini nurut sama aku!" Kali ini Andra benar-benar menegaskan dengan tampang serius.

__ADS_1


“Iya Andra, iya!” Lany yang jengah hanya bisa menampakkan senyum terpaksa, sepertinya saat ini Andra sedang dalam mode protective. Sudah seperti seorang Bapak yang memperingatkan banyak hal. Ah, Lany jadi merasa seperti memiliki Bapak baru. Ia cekikikan dalam hati.


“Aku lanjut kerja dulu ya,” Kali ini Andra menatapnya dengan senyuman khas yang menurut Lany sangat memabukkan.


Lany mengangguk, kemudian berkata “Yang semangat ya kerjanya!”


“Iya, kamu juga hati-hati ya. Kalau udah sampai kabarin!" Andra masih saja menampakkan senyum teduh dengan tatapan yang dalam, “Oke, aku matiin ya!"


“Oke!" Sahut Lany dengan sorot mata yang terus mengamati wajah Andra.


Namun, saat jemari Andra hampir menyentuh tanda merah pada sudut kiri bawah layar ponselnya, ia kembali menyebutkan nama suaminya itu.


“Andra!" Panggilnya, yang mana membuat Andra batal memutus panggilan.


“Hmmt?" Sorot mata di bawah dua alis tebal yang saling bertaut itu seakan menyiratkan tanya, Andra kembali memerhatikan Lany.


“Kenapa?" Tanyanya heran.


Ragu-ragu Lany mulai mengatakan yang ingin ia sampaikan “Tapi nggak apakan kalau aku pergi pas kamu nggak ada di rumah!" Tanya Lany penuh kekhawatiran. sepertinya ia benar-benar memikirkan tanggapan keluarga yang lain. Sejujurnya Lany takut salah langkah dalam bertindak, walau menurutnya ini merupakan satu-satunya keputusan terbaik untuk mencari ketenangan sambil menunggu Andra pulang. Mengingat langkahnya terasa benar-benar terbatas jika tanpa Andra di sana. Tentu itu membuatnya tidak nyaman.


Sesudah menghela napas, Andra lalu berkata, “Lakukan hal yang bikin kamu nyaman, jangan mikirin tanggapan orang lain dulu. Kalau soal itu nanti aku bantu jelasin, kamu nggak perlu khawatir! Lagi pula orang rumah nggak ada yang suka ngelarang siapapun itu kalau mau keluar!"


Penjelasan panjang Andra yang berhasil membuatnya kembali tenang itu menjadi akhir dari panggilan video diantara mereka.


Kini waktu sudah benar-benar hampir sore. Selepas diantar oleh Mang Anto, Lany terlebih dulu mengambil key card yang kata Andra sudah diantar kurir dan dititip di bagian resepsionis.


Sejak kedatangannya, Lany sama sekali tidak melakukan banyak hal. Meski hanya seorang diri, tapi Ia benar-benar mendapat ketenangan di sana. Pagi menjelang siang tadi Lany pergunakan sebagai waktu menonton sambil makan cemilan dan buah yang ia beli diperjalanan dan hingga saat ini ia terlihat tengah duduk di balkon sambil mengobrol dengan Celin, sahabatnya. Bosan menonton, Lany memutuskan untuk menghubungi Celin, tak lupa dengan Dewi. Tapi, ibu satu anak itu tak mengangkat panggilan darinya.


“Cel, pulanglah. Aku ingin cerita banyak hal!" Kata Lany dengan mimik wajah diimut-imutkan. Ia begitu merindukan Celin.


“Tunggu, Lany! Aku layani pelannggan dulu!" Celin yang masih menggunakan seragam bartender terlihat tengah sibuk meracik minuman. Ya, Lany memang menelpon diwaktu yang tidak tepat, saat Celin masih disibukkan dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Celin meletakkan ponselnya di atas tripod, tepat di meja sebelah kanan, di bawahjejeran minuman. meski dari samping, tapi Lany bisa melihat dengan jelas bagaimana kesibukan sahabatnya itu. Lany tersenyum melihat betapa lihainya tangan Celin meracik minuman. Bahkan kali ini ia benar-benar merasa seperti berada di atas kapal, bersama Celin. Aroma angin laut, lantai kapal, dan orang-orang yang ada seakan nyata menyeruak di penciumannya.


“Senyum-senyum sendiri seperti orang gila!" Begitu selesai memberikan segelas minuman pada pelanggannya barusan, Celin kembali duduk di kursi setelah meminta izin pada rekannya.


“Allowed me to continue call my bestie, first. Let me do the rest.“ ("Aku izin melanjutkan telepon dengan temanku dulu, ya. Sisanya nanti biar aku yang bereskan!") Celin terlebih dahulu meminta izin pada rekannya tersebut.


“Yeah, do it, don't hesitate!” (Ya, teruskan, jangan sungkan!” Begitu rekan Celin mempersilakan


Celin tersenyum sambil mengacungkan jempol, pandangannya kembali beralih pada Lany yang terlihat menyerngit mendengar ucapannya tadi, “Kamu lagi menghayal jadi istri orang kaya lagi, ya?” Tebak Celin yang juga tahu kebiasaan buruk sahabatnya itu. Hmmnt, belum tahu aja kamu, Cel!


“Pasti habis nonton Drakor terbarunya Ahn Ye-Seop sama Kim Se-Jeong, kan? Cowoknya kan CEO." Tebak Celin sambil menyebutkan salah satu pemeran utama pada drama Korea terbaru yang sedang viral saat itu.


Lany melengos mendengar ucapan sang sahabat yang sok tahu. Dalam hati ia kembali teringat soal pernikahannya yang belum Celin ketahui. Entah kamu akan marah atau kaget kalau tahu semua ini, Cel. Lany berguman dalam hati.


“Jangan buang-buang waktu untuk diam, Lany. Waktu ku mahal!" Ucapnya dengan nada menyindir. Ya, waktunya memang mahal, sebab rela menyempatkan waktu untuk bertelepon dengan Lany disela kesibukannya.


“Dih, So'-so'an!” Seloroh Lany sambil memanyunkan bibir.


“Asal kamu tahu, aku sudah pensiun bermimpi jadi istri orang kaya!" Katanya dengan mantap, kemudian disusul dengan suara hatinya yang turut menjerit.


Iya pensiun! Seandainya aku tahu menjadi istri orang kaya tak seindah ekspektasi, mungkin dulu aku tidak akan pernah mengatakan hal konyol itu sebagai mimpiku!


“Pensiun karena tidak mungkin terjadi ya, Lan!" Timpal Celin sambil tertawa.


Keduanya lalu terus mengobrol seru sambil melepas rindu. Tak lupa Lany menanyakan kapan masa kontrak Celin berakhir dan pulang agar bisa bertemu secepatnya.


“Sebenarnya ada hal penting yang mau ku bilang, tapi....” Lany menggantung ucapannya, yang mana membuat Celin langsung mendesak agar segera mengatakan hal tersebut.


“Apa? Bilang sekarang saja!"


“Aih, nanti saja lah, Cel. Kalau kamu pulang, lebih bagus kalau ketemu langsung. Face to face!” Ujar Lany, yang kemudian membuat obrolan mereka beralih. Sebab Celin tahu, membujuk Lany adalah hal yang tidak mungkin. Karena ia dan Lany sebenarnya punya pendirian yang sama, jika mengatakan tidak, maka tidak pula seterusnya.

__ADS_1


***Tbc.....


...♥️♥️♥️♥️♥️♥️***...


__ADS_2