My Startling Destiny

My Startling Destiny
93


__ADS_3

Sebuah mobil melaju di jalan ibu kota yang cukup lenggang malam itu. Malam sudah hampir larut, sosok pria yang berada di dalam mobil nampak meregangkan tubuh setelah seharian melalui hari dengan kesibukan yang padat.


Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Andra itu nampak meregangkan otot sambil memijat pelan tengkuknya, matanya menelisik ke luar jendela mobil, menampakkan gemerlap malam ibu kota.


Saat melewati area pertokoan, mata Andra menatap nyalang. Seperti melihat sesuatu yang begitu menakjubkan.


"Putar balik, putar balik ke depan Indo maret!"


Pak supir yang mendengar ucapan Andra langsung menginjak pedal rem, dengan sigap sang supir putar balik dan pergi menuju tempat yang Andra sebutkan. Sementara Novi, Ia tidak banyak tanya, hanya memerhatikan apa yang ingin Andra lakukan.


Bugh.


Suara pintu mobil yang tertutup setelah Andra keluar sembari melangkah ke arah Rival.


“Val!" teriak Andra pada sosok pria muda di depan sana. Yang mana langsung membuat pria yang sedang duduk di depan mobil sambil memegang sebotol minuman kaleng dan hp di tangan kanannya itu pun sontak menoleh dengan wajah pias saat melihat sosok Andra menghampirinya.


Sedang Novi yang melihat itu hanya bisa berdiri di sisi mobil, Ia memantau dari sana tanpa mau ikut campus masalah pribadi atasannya itu.


Sosok Rival yang beberapa belakangan ini menghilang itu nampak buru-buru masuk ke dalam mobil, tapi dengan sigap Andra menahan pintu mobil itu saat hendak tertutup.


"Sampai kapan mau lari-larian seperti ini?" tanya Andra dengan sorot mata elang, tangannya menyangga pintu mobil adik yang beda ibu dengannya itu.


“Gu-gue gak lari bang, gue tadi..." Rival berkali-kali menelan ludah secara kasar, ia seperti orang yang mati kutu di hadapan Andra. Gelagatnya nampak jelas mencerminkan jika ia tengah memendam ketakutan atas apa yang diperbuatnya.


“Pulang!"


“Gue masih ada urusan, bang."


“Gak bisa pulang sekarang."


“Aku bilang pulang, Val, pulang!" Andra mengatakan dengan nada santai. Meski begitu, apa yang diucapkannya begitu penuh dengan penekan.


Lelaki pemilik gelar cowok paling soft-boy itu benar-benar memiliki pesona yang berbeda. Dalam masalah apapun itu Andra selalu bersikap tenang seperti air, aura kharismatik yang ada pada dirinya membuat apa yang ia sampaikan selalu berhasil membuat lawannya bungkam, apalagi saat ia tengah mengontrol emosi.


Seperti sekarang ini, jauh di lubuk hatinya, Andra begitu kesal dan marah mengingat apa yang sudah Rival lakukan, belum lagi rasa penat setelah sekian bekerja membuat darahnya seperti mendidih, akan tetapi ditahannya. Bahkan ia sama sekali berbicara dengan Rival menggunakan Elo-Gue meski laki-laki itu terlahir dari wanita yang pernah membuat Maminya sakit, Andra tak bisa melakukan tindakan Papi, beliau adalah luka pertama bagi seorang Alandra.


“Geser!" perintah Andra dengan rahang yang mengeras.


Tanpa bantahan Rival segera bergeser ke samping, membiarkan Andra mengambil alih kemudi.


Sial! gerutu Rival dalam hati saat Andra mulai melajukan mobil. Ia yang tengah bersembunyi dalam pelariannya pun akhirnya tertangkap juga.


Gue tahu kemungkinan li udah tahu soal gue dan Riana, tapi kenapa lo gak langsung habisin gue sekarang? Kenapa lo bersikap seperti ini, bang? Pria itu masih saja bergumam dalam hati tanpa memalingkan pandangan sedikitpun dari sosok Andra yang tengah menampakkan wajah serius.


Baru sebentar mobil itu melaju, Andra berhenti tepat di samping mobil yang Ia dan Novi kendarai tadi.


Kaca mobil terbuka, menampakkan wajah datar Andra yang kelihatan begitu resah.


“Kamu langsung pulang aja, Nov. Saya pulang sama Rival!"


“Siap Pak!" Novi mengangguk mengiyakan, mobil yang Andra kendarai itu pun melaju kencang setelahnya.

__ADS_1


Sedangkan netra wanita berbalutkan celana blezer coklat dan dalaman putih dengan celana bahan senada itu masih menatap mobil Andra yang perlahan menjauh, membaur bersama kendaraan yang berlalu lalang di malam itu.


“Setelah apa yang Rival lakukan, tapi Andra masih bisa bersikap baik dan setenang itu." Novi tersenyum pedih disela gelengannya. Dia adalah orang yang paling tahu bagaimana penderitaan Andra setelah tahu penghianatan yang dilakukan adik dan kekasihnya saat itu.


“Kenap ada orang sebaik Andra?" Novi bertanya pada dirinya sendiri sambil masuk ke dalam mobil.


“Yang paling sering melukai di bahkan orang terdekatnya semua." Novita kembali berguman saat sudah masuk di dalam mobil. Lama berhubungan baik dengan keluarga Andra, Ia jelas tahu tentang masa lalu Pak Ervan dengan mendiang ibu Rival.


“Kenapa Bu?"


Menyadari pak supir yang menoleh karena mengira ia sedang mengajaknya bicara, Novi lekas menepis angin sembari menggeleng, tanda jika ia tak berbicara dengan supir tersebut.


“Hah?" Pak supir yang tak peka malah menampakkan wajah heran.


“Nggak, saya nggak ngomong sama bapak!" Novi memutar mata malas sambil memperbaiki kaca matanya.


pak supir itu berdehem. “Saya pikir Ibu sedang mengajak saya bicara," ujarnya yang mulai melajukan mobil.


“Nggak, saya lagi ngomong sendiri!" sahutnya dengan wajah datar.


“Ternyata ibu bisa bercanda juga." Pak supir itu mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Novi bercanda. Sebagai asisten andalan Andra, Nobi memang terkenal cuek dan tak banyak bicara, hanya dengan orang tertentu saja, ia bahkan lebih di takuti dibanding Andra yang memiliki aura soft-boy.


“Udah, fokus bawa mobilnya."


“Tahu 'kan apartemen saya dimana?"


"Tahu dong bu, gak mungkin lupa." Pak supir yang bisa membaca raut wajah tak mood Novi pun berhenti bercanda.


....


Beberapa saat kemudian, Andra dan Rival akhirnya sudah sampai di rumah. Rumah mewah dan besar itu nampak sepi.


Andra melangkah tanpa melepaskan genggaman pada Rival, membuat adiknya itu nampak tertekan diperlakukan seperti itu.


“Papi mau bicara." Andra membuka suara saat Andra membawa Rival melangkah menuju ruangan Pak Ervan.


“Soal apa?" tanya Rival penasaran, Ia terlihat berkali-kali menelan ludah seperti orang ketakutan.


”Gak tahu, kamu bicara aja sama Papi."


Kening Rival mengernyit mendengar jawaban Andra. Bersamaan dengan itu Andra audah mengetuk ruangan khusus milik Papinya.


Tok, tok, tok.


“Pi, ini Andra."


“Iya Ndra, masuk nak."


Mendengar itu Andra langsung menarik Rival masuk, membuat Pak Ervan yang sedang duduk bersama Mami Inka. Ruangan ini memang ruangan bersantai yang sering kedua orang tua Andra gunakan.


Pak Ervano yang sedang meneguk tehnya nampak tercengang dengan kehadiran Rival, begitu juga dengan Mami Inka. Rekaman cctv yang menunjukkan kemesraannya dengan Riana saat itu seakan terputar kembali dengan ingatan, suasana seakan jadi tegang dan waktu berputar dengan lambat.

__ADS_1


"Andra keluar dulu!"


Setelah itu Andra pun melangkah keluar, Inka, Ervan dan Rival menoleh menatap punggung Andra yang mulai menghilang di balik pintu.


Orang tua Andra menghela napas berat, Ia tahu pasti alasan apa yang membuat Andra memilih keluar setelah membawa Rival kesana. Mereka tahu Andra tidak ingin berada disana kare putra sulung mereka ini tidak ingin Rival malu, Andra bahkan masih memikirkan harga diri Rival disaat ia pernah diberikan luka.


Mengingat bagaimana kelakuan Rival membuat Papi maju ke arah Rival dan langsung menghadiahkan tamparan sekaligus bogeman pada anak yang ia dapat dari istri sirihnya itu.


Plak, bugh.


Mami Inka memalingkan wajah melihat hal itu. Ia bisa membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan oleh Andra, sakitnya pasti persis seperti saat Ia tahu suaminya menikah dengan Ibunya Rival.


“Keterlaluan kamu, Val!"


Rival memegangi pipi dan perutnya yang terasa sakit.


“Bisa-bisanya kamu lakuin ini ke kakak kamu sendiri!"


Plak.


Satu tamparan kembali Rival dapatkan.


"Andra salah apa sama kamu, hah?"


“Kenapa kamu tega hianati dia?"


“Apa yang kamu lakukan dengan Riana itu sama sekali bukan sikap manusia!" Dan Rival hanya bisa menunduk mendengar cecaran yang Papi sampaikan.


Bersamaan dengan itu Andra yang terlihat masih berada di depan pintu hanya menunduk sembari menghela napas berat. Ia sama sekali tak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini, apalagi saat mengingat bagaimana luka yang Ia alami setelah kejadian itu. Andra seperti mengalami sebuah trauma besar karenanya.


“Kak, ngapain berdiri disitu?"


Andra yang tengah larut dalam pikirannya lantas menoleh pada sosok Dara, adik perempuannya itu selangkah berada di depannya, sepertinya ingin menemui Mami dan Papi.


“Mau ketemu Mami sama Papi juga?" tanya Dara lagi.


Pertanyaan Dara membuat Andra tersadar dan segera menstabilkan ekspresi wajah. “Gak usah masuk dulu!'


“Kenapa?" tanya Dara heran.


“Papi dan Mami lagi ngomong sama Rival."


“Emang kenapa kalau ngomong sama Rival? Kenapa aku gak boleh ikut?" sungguh Dara dibuat heran dengan perkataan Andra yang seakan melarangnya masuk karena tidak boleh mendengar percakapan antara Rival dan orang tua mereka.


”Aku bilang jangan masuk berarti jangan ya, Adara!" ujar Andra dengan tegas, kemudian berlalu pergi.


Dara yang dilarang hanya mencebik kesal. Sikap Andra justru membuat Ia begitu penasaran dengan pembahasan apa yang sebenarnya tidak boleh ia ketahui sampai Andra melarangnya dengan tegas.


“Sebenarnya ada apa sih?" Dara bertanya pada diri, Ia melangkah pergi dari sana. Sebenarnya Ia bisa saja menerobos masuk, tetapi jika Andra sudah memperingatkan seperti tadi, Dara takut untuk melanggar.


“Cari aman aja!" keluhnya yang kini sudah menitih anak tangga. “Gak marah aja dia nyeremin apa lagi kalau marah.' Dara menghela napas. Kakaknya itu memang baik dan jarang marah, tetapi jika ia sudah memperingatkan dengan tegas, maka tak boleh dilanggar.

__ADS_1


__ADS_2