
“Jangan nangis lagi, Lan." Setelah mengusap air mata Lany, Andra menghujani wajah sang istri dengan ciuman, kemudian mereka berpelukan cukup lama.
“Ini belum seberapa.” Tutur Andra, jemarinya terus mengusap wajah Lany yang matanya sudah sedikit bengkak karena menangis.
“Ini hanya separuh tentangku, Lan. Suatu saat kalau kamu temukan aku dalam keadaaan yang berbeda atau mungkin sifat yang sebelumnya nggak pernah kamu lihat tiba-tiba kelihatan, tolong jangan tinggalin aku, tapi bimbing aku perlahan! Karena perlu kamu ingat, suamimu ini hanya manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan bisa salah. Aku nggak sempurna Lan, dan aku mau kamu selalu ada di sampingku.”
“Aku akan selalu ada di sampingmu, apapun yang terjadi!" Lirih Lany dengan sorot mata penuh ketulusan, kedua jemarinya menangkup rahang tegas yang selalu menjadi pemandangan favoritnya.
“Aku juga manusia biasa, punya banyak kekurangan tapi kamu selalu bisa menghadapiku, selalu bisa mengalah untuk aku yang kadang egois ini.” Air mata Lany kian berurai. Malam itu menjadi malam pertama dimana mereka benar-benar mengeluarkan apa yang seharusnya diutarakan sejak awal bersama.
“Aku akan selalu bertahan di sini, sama seperti kamu yang mau bertahan mengahadapi sikapku.” Ucapan Lany membuat Andra yang merasa begitu terharu langsung merengkuh tubuh Lany.
Beberapa saat sempat tak terdengar suara dari keduanya, hanya suara deru napas yang berhembus saling menghirup aroma satu sama lain, hingga akhirnya Andra kembali berbicara.
“Hidup kita mungkin nggak akan selamanya berjalan mulus. Pasang surut itu pasti ada."
"Walaupun begitu, aku mau kita harus tetap saling menguatkan. Selama kita bersama aku yakin semua pasti akan baik-baik saja, kita pasti bisa melalui semuanya.”
Sedangkan Lany, ia sempat terdiam beberapa saat mendengar ucapan Andra, kemudian mendongak menatap pria yang tengah memeluknya begitu erat, seakan tidak ingin terpisahkan. Meski perkataan Andra sedikit ambigu, Lany sama sekali tak menanyakan maksudnnya. Apa yang Andra katakan memanglah benar, selama mereka bersama, apapun yang terjadi harus dihadapi bersama untuk saling menguatkan satu sama lain.
Rasa haru yang menyeruak membuat Lany enggan melepaskan pelukannya dari Andra. Ia seakan merasa sangat beruntung bisa memiliki pendamping seperti pria itu, tentunya bukan hanya karena dia kaya, tapi kebaikan dan sikapnya lah yang membuat rasa itu tumbuh secara perlahan dan menguasai relung hatinya yang sempat kosong tak bertuan.
Lany juga tak menyangka, jika sesuatu yang sempat ia rutuki dan hindari ini merupakan takdir yang begitu luar biasa. Di balik rencana Allah yang mempersatukan mereka melalui perantara digerebek warga setelah berulang kali melakukan penolakan ternyata menjadi sesuatu yang teramat ia syukuri untuk saat ini.
Hingga sebuah petikan yang mengatakan ”Tidak ada rencana sebaik rencana Allah” terus terngiang-ngiang di kepala Lany. Membuat ia tersadar jika sesuatu yang menimpanya belakangan ini tak lepas dari skenario dan rencana sang Pemilik Kehidupan.
“Udah dong, jangan dipeluk terus. Aku belum mandi loh.” Ucap Andra sembari menahan senyum. Jemarinya terus bergerak mengusap wajah Lany.
“Pantes bau!!" Cebik Lany, namun sedikitpun tak merenggangkan pelukannya. “Tapi aku suka, hehe.”
Mendengar Lany yang malah terkekeh membuat Andra gemas. “Ya udah, temenin aku mandi aja kalau begitu.” Tanpa berpikir panjang Andra langsung mengangkat tubuh Lany dan menggendongnya.
“Eh..” Teriak Lany saat merasakan tubuhnya melayang, Andra benar-benar membawanya menuju kamar mandi.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi, tentu Andra tidak akan membiarkan Lany begitu saja. Dia Jelas membuat istrinya ikut mandi bersama.
Selepas mandi, sepasang suami istri itu sudah berada di atas tempat tidur, saling berpelukan di balik selimut tebal. Dengan Lany yang sudah terlelap lebih dulu dan menjadikan lengan Andra sebagai bantalnya.
Sementara Andra, dia sama sekali belum tertidur. Padahal jam sudah menunjukkan hampir dini hari. Matanya masih setia terbuka, menatap kosong ruang kamar yang cahayanya temaram. Wajah yang biasanya selalu ceria dan tersenyum di hadapan Lany itu selalu nampak murung setiap kali dalam kesendirian. Seakan ia tengah memikul beban berat yang tidak bisa dibagi pada siapapun.
__ADS_1
Helaan napas panjang selalu saja terdengar setiap kali ingatannya tertuju pada kejadian sepulang kantor tadi. Dimana ia dipanggil pulang hanya untuk membahas soal pernikahannya dengan Riana dan Papi juga keluarga yang lain sudah sangat mendesak agar pernikahan mereka segera dilangsungkan. Tentu ia tidak langsung melakukan penolakan saat itu juga, karena Andra sendiri sudah punya rencana yang dia persiapkan. Tentunya sebuah keputusan yang tidak akan membuat istrinya tersakiti.
••••
Saat jam makan siang, Andra pulang untuk makan di apartemen. Ia sengaja menjemput Lany untuk membawanya pergi ke sebuah tempat yang tanpa diberi tahu pun Lany bisa menebak jika yang mereka datangi adalah salah satu kawasan perumahan elit yang terletak di pusat kota.
Lany menoleh pada Andra, saat suaminya itu memberhentikan mobil tepat di depan sebuah rumah yang bukan cukup mewah lagi, tapi sangat mewah. Rumah bernuansa eropa dengan pilar-pilar berdiri kokoh sebagai penyanggah, membuat kesan kemewahan kian terpancar dari rumah tiga lantai yang begitu sangat luas dan lebar itu. Meski rumah di dalam komplek itu terbilang mewah semuanya.
“Ini rumah, keluargaku Lan." Lirih Andra sembari menoleh pada Lany yang masih mengamati rumah yang dadi luar tampak asri dengan tanaman yang tumbuh subur di balik gerbang kokoh di samping jalan.
“Kenapa nggak masuk?" Tanya Lany heran saat Andra sama sekali tak menawarkannya untuk turun.
“Lain kali ya, sayang. Kita pasti ke sini kalau semuanya udah beres.” Ucap Andra meyakinkan dengan jemari menelusup mengusap pipi Lany.
Begitu dari sana Andra kembali melajukam mobilnya ke suatu tempat dan berhenti tepat di depan sebuah gedung lantai dua dengan tulisan ABEF'S Studio. Di sampingnya terdapat jejeran beberapa bangunan seperti kafe dan ruko yang membentang di sisi kiri dan kanannya.
“Ini studio punya aku juga, di kelola sama dua temanku.” Jelas Andra, sekali lagi suaminya itu hanya menjelaskan dari dalam mobil tanpa mengajaknya keluar. Sedikit aneh memang, tapi Lany merasa ini lebih baik dari jari kemarin, sebab Andra bisa lebih terbuka padanya.
“Kapan-kapan kita mampir ya, kalau kondisinya sudah kondusif."
Lagi-lagi senyuman Andra mempu membuat Lany jauh lebih tenang. Namun beberapa saat ia baru tersadar akan sesuatu dan sontak menarik Andra yang tengah menatap keluar agar segera menghadap dirinya.
Andra menyerngit menanti apa yang ingin istrinya katakan.
“Berarti semua pigura, gambar alam dan pemandangan yang ada di apartemen itu kamu yang potret?” Tanya Lany memastikan dan Andra kembali menjawab dengan anggukan.
Lany yang melihat itu nampak senyum terkagum-kagum. Ia tak menyangka, dibalik kesibukan suaminya, ternyata Andra masih punya hoby yang terbilang unik juga. Pantas saja selama ini begitu banyak gambar pemandangan yang terpajang di rumah, bahkan saat pertama kali membuka hp yang Andra berikan ia hanya menemukan beberapa foto pemandangan dan Lany juga mengingat dimana ia pertama kali menemukan hp Andra, di sana terdapat photo dirinya yang terbilang estetik tapi sempat ia katai buruk ternyata hasil jepretan suaminya juga.
“Keren, tau. Mana hasil gambar kamu bagus-bagus semua." Saking kagumnya, Lany sampai beberapa kali melayangkan pukulan di lengan Andra.
“Duh, kebiasaan banget nih suka mukul." Ucap Andra dengan ekspresi kesakitan yang dibuat-buat.
“Heha, maaf. Refleks, saking nggak nyangkanya.” Lany nyengir kuda, seraya menangkupkan tangan di dada.
“Ih tapi kamu memang keren loh, bang.” Lany mengacungkan dua jempol dengan begitu antusias, membuat Andra tersenyum.
“Masih banyak lagi.”
“Serius?"
“Iya... Kamu ingat ruangan yang aku bilang gudang?” Tanya Andra dan dijawab anggukan oleh Lany.
__ADS_1
“Itu sebenarnya ruang kerjaku, di dalam banyak foto hasil jepretanku juga, makanya aku sempat larang kamu masuk. Maaf ya!" Andra yang merasa bersalah hanya tersenyum kikuk mengingat semua kebohongan yang ia buat untuk menyembunyikan identitasnya.
“Nyebelin banget sih, kerjanya suka bohong!" Ketus Lany, "Ada hp hasil give away, kartu kredit dari hasil jadi brondong. kan nyebelin banget!! Dan begonya aku malah percaya." Lany terus mengomel mengingat alasan-alasan tak masuk akal yang sempat Andra berikan.
Andra terkekeh mendengar ucapan Lany “Alasanku random juga ya, bisa-bisanya aku pake alasan jalan sama tante-tante." Seloroh Andra disela tawanya.
“Jangan-jangan kamu memang simpenan tante-tante lagi!” Seru Lany yang mulai menampakkan wajah galaknya.
“Ya nggak lah, neng. Suamimu ini masih ori, kamu yang pertama.”
Ucapan Andra membuat Lany menatap penuh selidik, seakan mencari tahu kebenaran dari balik perkataan Andra barusan.
“Beneran?” Tanya Lany tanpa mengalihkan tatapan dari Andra yang juga menatapnya.
“Iya, serius! Kamu yang pertama.” Andra balas menatap Lany penuh keyakinan. Alhasil adu pandang pun terjadi di antara keduanya.
Moment mereka di rusak dengan suara ketukan dari luar mobil. Membuat wajah Andra dan Lany yang sebentar lagi hampir bersentuhan segera menjauh, keduanya jadi salah tingkah seakan baru saja terjaring razia.
“Eh, Andra, lagi ngapain lo? Kenapa sama cewek?"
Suara dari luar membuat Andra menoleh ke balik kaca, dilihatnya dua orang laki-laki tengah berdiri di luar mobil. Sial, ia merasa seperti digerebek untuk yang kedua kalinya.
“Tunggu bentar, ya. Aku keluar dulu!" Lany yang memang sudah terkejut hanya mengangguk saat Andra memutuskan untuk keluar menemui dua pria yang sepertinya mengenali Andra.
Begitu keluar Andra seperti disambut wartawan yang langsung mencecarnya berbagai tanya.
“Heh, Elu sama siapa? Itu bukan Riri kan, ngapa lo cip*kan on the road gini sih?”
“Iya nih, sejak kapan lu jadi bangs*t, Ndra? Jangan ngadi-ngadi, lu bentar lagi mau nikah! Itu cewek siapa? Mau aja disosor gitu."
Andra yang dicecar pertanyaan oleh Eky dan Bayu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sialnya, ia tak menyangka jika dua sahabatnya itu malah memergokinya seperti ini. Tentu saja, dia parkir di depan studio. Bayu dan Eky yang juga turut mengurus studio itu jelas bisa kapan saja memergokinya di sana.
“Panjang ceritanya! Kalian berdua nggak akan ngerti kalau gue jelasin.” Ucap Andra, “Tunggu tanggal mainnya, kalian pasti akan nemu jawabannya.”
“Hah?" Ucapan Andra membuat Eky dan Bayu melongo tidak mengerti.
“Gue cabut dulu!" Andra menepuk bahu Bayu dan Eky kemudian masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
Sementara Eky dan Bayu yang mendengar itu, hanya saling tatap mencari jawaban maksud dari ucapan Andra yang menurut mereka penuh teka-teki.
“Bay, sejak kapan Andra jadi beja* gitu?”
__ADS_1
“Mana gue tau, kayaknya memang ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kita!"
......🍂🍂🍂🍂🍂......