
Setelah melaju dari studio photo, dan Andra juga sudah menjelaskan siapa dua orang tadi. Lany merasa cukup lega saat Andra mengatakan jika akan memperkenalkan mereka nanti setelah memperkenalkannya pada keluarga besar terlebih dulu. Menurut Andra, yang lebih dulu berhak mengetahui keberadaan Lany adalah keluarganya, bukan orang lain, agar tidak menimbulkan berita simpang siur. Mengingat bagaimana kedudukan keluarganya.
Kini mobil Andra berhenti tepat di halaman sebuah gedung, tempat dimana ia melihat Andra saat di tv, kemarin.
”Pakai ini, ya.”
Lany yang tengah mengamati gedung, seketika menoleh pada Andra yang memberinya sebuah hoodie dan masker yang diambil dari jok belakang. Ia menyerngit heran menerima apa yang Andra berikan. Sorot mata Lany menyiratkan tanya untuk itu.
“Banyak yang belum tahu tentang kita, aku nggak mau mereka mikir yang nggak-nggak kalau lihat kamu sama aku.”
Ucapan Andra seperti sebuah tombak tak kasat mata yang menghujam di dadanya. Entah mengapa rasanya begitu sesak. Andra mengajaknya ke gedung ini, tapi dia tak dibiarkan terlihat. Seolah ingin disembunyikan dari khalayak umum. Kali ini Lany benar-benar merasa dirinya seperti seorang secret love dari suaminya sendiri. Meski begitu, ia tetap menuruti apa yang Andra perintahkan. Lany membuka cardingan yang melekat di tubuhnya dan menggantinya menggunakan hoodie yang Andra berikan, lengkap dengan maskernya. Hoodie itu membalut dress floral yang Lany kenakan.
“Maafin aku ya, aku nggak bermaksud menutupi hubungan kita. Tapi alangkah baiknya seperti ini dulu sampai semua tahu siapa kamu." Dengan rasa bersalah Andra menggenggam tangan Lany, meminta pengertian dari istrinya agar ia tak berkecil hati.
Begitu masuk di Lobby, Lany merasa sangat cangung. Di balik masker yang membungkus wajahnya, ia tercengang melihat betapa Andra diperlakukan dengan hormat.
“Siang, Pak Andra.”
"Siang.."
“Habis makan siang, Pak?"
Tanya beberapa karyawan yang Andra lalui, semua sapaan itu Andra jawab dengan ramah.
“Iya, kalian sudah pada makan siang belum? Sebentar lagi waktunya habis loh ini!" jawab Andra sekaligus balik bertanya.
Hal itu membuat Lany terkesima dengan sikap suaminya yang begitu rendah hati. Namun perasaan Lany berubah seketika saat orang-orang terus menatapnya, seolah mempertanyakan siapa dia dan bagaimana bisa datang dengan Andra. Ia merasa mereka seakan menatap rendah keberadaannya.
Sedangkan di sudut ruang, sepasang mata yang melihat Andra datang langsung meraih hpnya dan melakukan panggilan dengan seseorang.
“Andra ada di kantor, dia datang sama cewek!" Ucap pria tersebut. Ia berada di balik sebuah ruangan, bahkan wajahnya sama sekali tidak terlihat karena terlindungi di balik sekat kaca.
...
Sementara itu, di dalam lift. Andra dan Lany masih menjaga jarak, bersikap layaknya dua orang yang tidak memiliki hubungan apapun.
“Maaf ya, kita nggak bisa gandengan tangan dulu. Di sini banyak cctv." Bisik Andra dengan tatapan lurus ke depan.
Lany yang mendengar itu hanya tersenyum kikuk. Ia benar-benar merasa seperti sedang menjalin hubungan rahasia. Tapi tidak apa, seperti janji mereka semalam, Lany akan selalu berada di samping Andra apapun yang terjadi. Sepertinya ini hanya bagian kecil dari apa yang Andra maksud. Meski ia sendiri tidak tahu ada rintangan apa lagi yang menanti di depan sana.
Begitu tiba di lantai 14, Andra langsung mengajak Lany masuk ke sebuah ruangan. Sebelumnya Lany bisa melihat Novi tengah menatapnya dengan senyum samar. Wanita itu seakan tahu apa yang harus ia lakukan. Bahkan Novi juga ikut bersandiwara, bersikap seolah-olah tak mengenalinya di sini.
__ADS_1
“Silahkan dilihat-lihat, neng! Aku beresin pekerjaan dulu, ya.” Andra tersenyum simpul sambil duduk di kursinya dan mulai berkutat dengan beberapa pekerjaan yang belum rampung.
Sedangkan Lany, ia benar-benar menjadi orang yang pendiam selama menginjakkan kaki di sana. Hatinya terus saja bergidik ngeri, belum apa-apa ia merasa begitu tidak pantas menjadi pendamping Andra. Ini baru di kantor, belum menginjakkan kaki di rumah mewah itu saja dia sudah merasa perbedaan kasta mereka sangat jauh. Baru di tatap oleh karyawan seperti tadi saja bisa membuat perasaannya tidak karuan, bagaimana jika berhadapan langsung dengan keluarga Andra. Sungguh Lany tidak bisa membayangkan hal itu. Ternyata menjadi istri orang kaya tidaklah semenyenangkan yang dibayangkan. Lany terus menggeleng mengusir perasaan tak karuan dalam hati, berusaha menstabilkan diri agar tetap rileks.
Ia terus berkeliling mengamati setiap inci benda yang ada di ruangan itu, luasnya hampir setara dengan ruang tamu di apartemen mereka. Mata Lany satu persatu mengamati setiap pigura yang ada, mulai dari piagam, sertifikat, juga piala terpajang di sana. Ada gambar perusahaan, berbagai macam plakat dari akrilik, icon-icon unik dan masih banyak lagi benda yang tidak Lany tahu apa fungsinya, yang jelas semua bersangkutan dengan perusahaan.
Lany terus melangkah, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pigura berukuran besar. Berisi foto keluarga, tapi baru ia ingin mengatakan sesuatu, suara pintu terbuka disusul suara teriakan membuatnya sontak menoleh pada sumber suara.
“Andra...!!!”
Pekikan nyaring dari seorang wanita berparas cantik, dengan tubuh ideal seperti visual seorang model, tengah menatap marah kepada Andra. Sorot mata itu menatap mereka secara bergantian.
“Riana?" Andra seketika beranjak dengan tatapan heran dari balik kaca mata yang jelas tengah menatap Lany dan wanita itu secara bergantian.
“Dia siapa, Andra? Kamu kok tega sih lakuin hal ini ke aku?”
Lany semakin dibuat tidak mengerti dengan apa maksud dari perkataan wanita itu. Andra sendiri masih terlihat tenang, raut wajahnya datar, hingga membuat siapapun sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.
“Kamu siapa, hah?" Lany hanya bisa melongo di tempat. Ia juga bingung apa yang harus dikatakan pada wanita yang kelihatan begitu emosi itu.
“Ri, cukup! Jangan membentak!"
"Kita selesaikan masalah kita tanpa melibatkan dia."
Ucapan Andra bukannya membuat Lany tenang, tapi ia semakin dibuat tidak mengerti. Ditambah lagi kata ”masalah kita" benar-benar mengusiknya. Tapi mulut Lany seakan membisu, sama sekali tak bisa mengatakan apapun. Inilah yang selalu ia rasakan setiap kali rasa gugup menyerang. Seakan keberadaannya di sana adalah sebuah kesalahan yang mengakibatkan wanita itu marah.
“Andra, kamu!"
“Jangan sentuh dia, Andra!!”
“kamu kenapa jadi seperti ini, sih? Kenapa nggak bisa jaga perasaanku?”
Wanita bernama Riri itu semakin kesal saat Andra sama sekali tidak mengindahkan perktaannya.
“Tunggu aku di lobby ya, nanti aku susul.” Ucap Andra yang hanya dijawab anggukan oleh Lany.
Ketika sosok Lany sudah menghilang di balik lift, kini sorot mata Andra beralih menatap Novi yang tengah menunduk di depan ruangan mereka yang saling berhadapan, hanya saja ruangan Novi hanya bersekat kaca.
Wajah Novita seakan menunjukkan rasa bersalah yang besar atas kejadian ini.
Andra tak lagi menghiraukan Novi, ia melangkah masuk, melewati Riri yang masih menampakkan wajah menahan kesal.
“Selesain sekarang, Ri!" Ucap Andra dingin, membuat wanita bernama Riri itu menggeleng tidak terima dengan apa yang Andr maksud.
__ADS_1
“Kenapa ngomong begitu?" Tanya Riri dengan wajah menahan isakan yang sebentar lagi tumpah.
“Jangan nangis, Ri! Kamu tahu aku nggak bisa lihat cewek nangis." Andra masih saja dingin, bahkan ia terlihat enggan menatap wajah Riri yang perlahan tetesan bening mulai mengaliri pipinya
“Seharusnya aku yang marah! Tapi kenapa kamu malah ngomong begitu ke aku?" Ucap Riri menahan sesak di dada, melihat sikap acuh Andra yang seolah tidak memiliki empati sedikitpun terhadapnya. Dia bukanlah Andra yang Riri kenal selama ini, dia telah berubah semenjak tiga bulan yang lalu, semenjak Andra pergi tanpa mengabarinya dan kini saat kembali ia bahkan mendapati sosok yang berbeda dari orang yang ia cintai itu.
“Aku tahu dari Rival kalau kamu bawa cewek lain ke kantor."
Andra hanya menyerngit mendegar ucapan Riri.
“Hati aku sakit, Ndra. Sepanjang jalan aku nangis di mobil, aku bingung dan bertanya-tanya kenapa kamu sampai ngelakuin ini ke aku? Salahku dimana?” Riri terus terisak, matanya tak pernah teralihkan dari sosok yang sama sekali tak bereaksi melihatnya seperti ini. Padahal dulu dia selalu jadi orang pertama yang menghapus air matanya dalam keadaan apapun itu. Tapi kini semua telah berbeda, Riri tak lagi mendapatkan hal itu dari Andra.
“Kamu pergi tanpa sepengetahuanku, ninggalin aku tanpa kabar dan begitu pulang kamu sama sekali nggak pernah nyari aku, Ndra. Aku telepon bahkan selalu kamu reject. Kamu berubah!! Apa sebegitu nggak pentingnya aku buat kamu? Aku nunggu kamu setiap hari, Andra!" Riri terisak sejadi-jadinya.
“Kemana Andra yang dulu? Kemana Andra yang selalu meratukan aku sejak kita kecil? Kenapa Kamu berubah?" Riri menangkup wajahnya, menghapus jejak air mata yang berlomba-lomba keluar dari peraduannya.
“Jawab aku Andra! Jangan cuma diam!" Sentak Riri yang tak lagi mampu menahan emosi.
“Semua jawabannya ada di kamu, Ri! Aku nggak punya jawaban apapun." Ucap Andra setelah menghembuskan napas kasar.
Riri yang mendengar ucapan Andra, hanya menggeleng dengan raut wajah tidak habis pikir.
“Siap dia? Siapa cewek tadi? Apa dia alasan dibalik kamu hilang kabar, bahkan sampai Novi nggak mau buka mulut dan larang aku masuk kesini cuma karena kamu lagi berduaan sama cewek tadi?” Riri yang tak mendapat jawaban apapun akhirya membuat kesimpulannya sendiri.
•••
Novi, ia yang merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di ruangan Andra barusan pun segera menyusul untuk mencari keberadaan Lany.
Meski sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan yang Novi sengaja. Tadi ia sudah berusaha untuk mencegah Riri masuk tapi ia tak bisa berbuat banyak saat Riri dengan emosi menggebu mendorongnya hingga jatuh. Sebenarnya Novi bisa saja melawan. Jika bersanding dengan Riri, postur tubuh mereka hampir sama. Sama-sama tinggi dan memiliki tubuh yang ideal. Tapi mengingat siapa Riri, Novi tak berani bertindak jauh.
Kini Novi terus menatap Lany yang tengah duduk di loby khusus perusahaan yang Andra kelola. Novi Jelas tahu bagaimana perasaan Lany saat ini, gadis itu pasti memiliki banyak pertanyaan tentang siapa wanita yang memergoki mereka tadi. Tapi ia pun tak punya hak untuk menjelaskan siapa Riri. Andra lebih berhak untuk menjawab semuanya.
“Ke ruangan saya yuk, bu." Novi berusaha melindungi Lany dari mata-mata yang menatap penuh tanya setiap kali melihatnya.
“Nggak, mbak. Kata Andra aku di suruh tunggu di luar." Ucap Lany dengan wajah sendu dari balik masker, “Mbak Novi lanjut kerja aja, saya nggak apa kok.”
“Tapi, bu ....”
Belum sempat Novi menyela, ia sudah harus menjawab pertanyaan dari salah satu staf yang penasaran pada sosok wanita yang tengah bersamanya itu.
“Siapa, bu Nov?”
"Tamunya Pak Andra!!" Ucap Novi tegas, yang mana membuat staff tadi tak lagi banyak tanya dan langsung pergi begitu melihat wajah galaknya.
__ADS_1
“Saya ke lantai satu aja mbak, mau tunggu di lobby utama biar nyaman."
.