My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 59 [Turning A New Leaf]


__ADS_3

*Membuka lembaran baru*



Lany, sangat jelas terlihat di wajahnya jika pagi ini ia begitu bahagia. Rona wajah yang berseri-seri membuat siapa saja bisa tahu jika dia tengah berbunga-bunga. Tentu saja! Kejadian semalam, dimana Andra membawanya terbang berkali-kali masih terlukis jelas di ingatanya. Cara Andra, sentuhannya, suaranya dan semua-muanya menjadi bagian terfavorit yang membuat ia berulang kali ingin merasakan hal itu.


Lihat saja, bagaimana dia sama sekali tidak merasakan lelah, justru malah lebih bersemangat. Bukan rasa yang pertama, tapi kesan dari orang yang pertama mengajarkannya hal "ITU" lah yang membuat Lany bergetar berulang kali, membuatnya mendadak idiot dan senyum-senyum sendiri seperti orang gila sambil menyiapkan sarapan.


Yah, dia memang sengaja bangun lebih awal hanya karena tidak ingin Andra kembali melihat tubuhnya dalam keadaan polos, padahal sama saja. Andra kan sudah melihat semua, hmmnt!


“Masak apa? Kok nggak bangunin aku?”


Seketika wajah Lany makin bersemu saat mendengar suara orang yang tengah memenuhi pikirannya sudah berada di dapur dengan penampilan yang rapi. Menggunakan kemeja hitam dipadukan dengan celana kain. Ya, style ala Andra banget.


Rasanya Lany ingin melebur saat itu juga ketika bayang-bayang percintaan mereka kembali terputar nyata di kepalanya.


Sedangkan Andra .... Ia yang tadinya bangun tak mendapati Lany di sampingnya hendak keluar mencari keberadaan istrinya itu. Namun, sebuah panggilan masuk mengurungkan niatnya.


Setelah menerima telepon dari Novita, Andra langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap setelahnya. Menurut info dari Novi, kebijakan perusahaan dari dewan direksi dan komisaris mengharuskan semua pegawai untuk tetap masuk di akhir tahun ini. Padahal tadinya Andra berniat untuk menghabiskan hari bersama Lany dan merayakan pergantian tahun malam nanti. Tapi niat hanya tinggal niat, dia yang sudah cuti terlalu lama tak bisa seenaknya menambah cuti. Dengan berat hati ia pun harus pergi ke kantor untuk melaksanakan tugasnya. Tentunya tanpa sepengetahuan Lany, karena bagi Andra, belum saatnya untuk Lany tahu tentang kehidupannya.


Begitu masuk ke dapur, hati Andra terasa begitu tenang setiap kali melihat istrinya. Ia senang melihat wajah Lany yang tampak berseri-seri, itu artinya dia bahagia dan baik-baik saja mengarungi hidup baru di tempat ini.


Melihat Lany yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya, membuat Andra beranjak mendekat.


“Kamu kenapa?” Dengan seksama Andra memerhatikan pergerakan Lany yang tengah menghidangkan makanan ke meja.


“Kamu sakit?" Tanyanya, mencoba memastikan, sebab wajah yang tadi kelihatan berseri-seri itu nampak pucat. Hal itu membuat Andra mendaratkan tangan di kening Lany, membuat gadis itu terpaku seraya menatapnya dalam-dalam.


“Nggak panas." Andra menurunkan tangannya sambil menghela napas. Tapi dia masih heran dengan perubahan pada wajah Lany.


“Ada apa?” Tanyanya lagi, "Capek?”


“Sini, duduk dulu,” Andra membawa Lany duduk di kursi sambil menunggu jawaban dari istrinya itu.


“Jantungku berdetak.”


Jawaban Lany membuat Andra mengerutkan kening, kemudian menjawab “Ya, orang hidupkan jantungnya memang berdetak.”


Jawaban Andra itu membuat Lany memutar mata malas.


“Maksudku berdebar. Ih, nggak peka banget sih." Lany mencebik kesal. Ia tak menyangka jika ternyata suaminya itu sangat tidak peka. Tapi ada untungnya juga Andra tidak mengerti, karena itu sama saja ia mengungkapkan jika dirinya tengah jatuh cinta secara tidak langsung.


Namun sayang beribu sayang, Andra yang Lany kira tak peka justru terkekeh sambil menutup matanya dengan tangan. Tentu itu membuat Lany menyerngit heran.


Jantung Lany dibuat kian berdebar saat Andra merengkuhnya dan berbisik “Aku juga.” kemudian mendaratkan satu kecupan di keningnya.


“Makan, yuk. Abis ini mau berangkat kerja.”


Lany yang sedang memikirkan arti bisikan Andra tadi segera menoleh saat suaminya itu mengatakan akan pergi kerja, membuat Lany bergegas menyendokkan sarapan untuk Andra.


Begitu selesai, Lany meraih tangan Andra yang baru saja menyapirkan tas ke punggungnya.


“Aku pulang sore, nggak apa kan?”


“Iya."


“Aku pergi dulu, ya." Sekali lagi Andra mendaratkan kecupan di kening Lany dan pergi setelahnya.


...🍂🍂...


“Bagaimana perkembangan massa yang minta tuntutan waktu itu? Solusi terkahir kita benar-benar di terima kan?”


“Iya Pak, sejak pengumuman kebijakan baru waktu itu. Sudah tidak ada lagi massa yang melakukan protes. Bahkan proses pengolahan juga sudah masuk tahap pengeringan, Pak." Tutur Novi melaporkan info terkait perkembangan tambang CLM yang baru saja resmi beroperasi satu minggu yang lalu.

__ADS_1


Andra hanya mengangguk mendengar penjelasan Novi dan segera menyelesaikan tugasnya yang terbengkalai, beruntung Novi banyak membantu hingga Andra tidak perlu repotmemproses ulang berkas. Ia hanya tinggal menanda tangani dan megerjakan beberapa yang belum rampung sebagai arsip laporan yang akan diberikan pada dewan komisaris yang tak lain adalah Papi, Opa dan anggota keluarga yang memiliki saham di BuminTara Group. Dan Andra hanyalah seorang CEO dari salah satu anak perusahaan tersebut.


“Liburnya cuma dua hari kan, Nov?"


“Iya, Pak. Besok sampai tanggal dua."


Andra hanya mengangguk dan kembali sibuk.


...🍂🍂🍂...


Lany benar-benar tidak ingat jika malam ini adalah malam pergantian tahun. Entah apa yang ia pikirkan hingga dia hampir saja tidak tahu jika bukan Andra yang memberi tahu.


Ya, Andra menepati ucapannya. Pria itu sudah pulang sebelum malam tiba dan langsung mengajaknya untuk ikut party.


Rasa sedih langsung menghinggapi perasaan Lany, kali ini ia benar-benar tidak lagi merayakan tahun baru di tengah laut bersama teman-teman yang lain. Berbeda jauh dengan dua tahun yang lalu saat dia dan Celin, setiap tahunnya merayakan tahun baru bersama di atas kapal. Kini kehidupan itu benar-benar sudah lenyap, menyisakan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Kenangan yang mengajarkannya banyak hal tentang dunia dan pertemanan bahkan mempertemukan dia dengan pria yang sekarang telah menjadi suaminya.


“Hey, kenapa lagi?" Andra yang beberapa kali mengajak Lany pergi sedikit heran saat melihat wajah istrinya yang sudah berubah sendu. Andra lalu duduk di samping Lany


“Aku ada salah? Kamu marah sama aku?" Tanya Andra lembut.


“I miss the sea”


“Rindu kapal, rindu berlayar, rindu kehidupan di sana, aku rindu semua tentang itu.” Ucap Lany kemudian menjatuhkan wajahnya di bahu Andra.


Andra yang melihat itu langsung menangkup wajah Lany. Perasaan bersalah kembali menyeruak saat ia melihat sesuatu yang bening tergenang di sana.


“Maaf,” Andra membawa Lany ke dalam dekapannya dan memeluknya erat.


“Maaf kalau kehadiranku bikin kamu kehilangan banyak hal berharga dalam didupmu.” Beberapa kali Andra menghunjani wajah Lany dengan kecupan sebagai bentuk penyesalan dan rasa bersalahnya.


“Jangan ngomong begitu." Lany menggeleng seraya menyeka air matanya yang hendak meleleh, kini ia balik menangkup rahang tegas suaminya. Membuat netra mereka beradu pandang.


“Aku memang kehilangan banyak hal, tapi aku beruntung menemukan sesuatu yang lebih berharga."


Andra yang mendengar itu kembali merengkuh Lany dengan erat.


“Izinkan aku menebus salah ku Lan, aku janji akan selalu membahagiakanmu.”


“Kita mulai semuanya dari awal. Turning a new leaf, Kamu dan aku sama-sama sampai akhir.” Tangan Andra terarah menyentuh dada Lany dan dadanya secara bergantian.


Lany yang mendengar itu hanya mengangguk dengan air mata yang kian menetes. Hanya bersama Andra dia benar-benar merasa begitu diinginkan dan diharga. Pria itu memperlakukannya begitu istimewa. Dalam hati Lany berjanji untuk menerima apapun itu tentang Andra. Always and forever.


“Jangan nangis, nanti bedaknya luntur!" Ucapan Andra membuat Lany mendelik sambil melayangkan cubitan di perut Andra yang terbalut jas dan kemeja hitam. Ya, meraka sudah sama-sama siap untuk pergi. Hanya saja drama tentang kapal membuat keduanya larut dalam memory pahit tapi indah.


“Uh.. kebiasaan nih. Kenapa suka banget nyubit, sih?" Andra meringis merasakan sakitnya cubitan Lany.


“Lemah!!" Dan lagi, ini adalah kata-kata wajib bagi seorang Lany setiap kali ia mengeluh sakit karena cubitan dan pukulan darinya.


Meski Lany sudah tidak terlalu ketus, namun dia adalah Lany. Lany tetaplah Lany, si cewek yang sulit ditebak. Kadang galak dan kadang manis, membuat Andra kadang menggeleng jika mengingat bagaimana sikap istrinya itu.


“Udah, yuk. Nanti terlambat!”


Begitu taksi yang mereka tumpangi berhenti di halam sebuah gedung tinggi dengan tulisan Rich Caltonz. Lany mengikuti Andra di belakangnya tanpa bergandengan seperti saat keluar dari apartemen tadi.


Sejujurnya Lany begitu sedih saat Andra mengatakan jika saat tiba nanti keduanya harus bersandiwara sebagai orang lain, bukan suami istri.


“Nanti aku kenalin kamu sabagai adik temenku.” Perasaan Lany begitu sesak saat mendengar Andra mengucapkan hal tadi di dalam taksi. Lany merasa jadi seperti secret love dari seorang Andra. Ya, walau ia tidak tahu apakah Andra benar-benar mencintainya atau tidak. Namun perkataan Andra barusan terasa seperti sebuah tamparan, sangat menyakitkan.


“Maafin aku ya, ini cuma sebentar kok, sampai waktunya kita mempublis status kita." Bisikan Andra tak lebih dari sebuah angin lalu. Lany benar-benar telah kehilangan moodnya sejak berada di taksi.


“Trust me, I'm yours, tidak akan ada yang lain. Only you." Bisik Andra saat mereka sudah hampir memasuki pintu ballroom yang katanya tempat party akan dilaksanakan.


Kerlap kerlip lampu langsung menerpa begitu petugas jaga mempersilahkan mereka masuk setelah Andra menunjukkan kartu undangan.

__ADS_1


Ya, Andra juga hanya diundang oleh rekan dari lingkaran kolega bisnis keluarganya. Hanya terdiri dari para anak-anak pemimpin perusahaan yang menjalin hubungan dengan perusahaan keluarganya, yang artinya Andra sedang membawa Lany ke dalam lingkungan hidupnya yang nyata. Walau sebenarnya ia enggan untuk pergi dan sudah merencanakan untuk merayakan tahun baru bersama istrinya. Tapi Andra juga tidak bisa menolak, itu sama saja tak menghargai, dengan sangat terpaksa ia pun harus pergi juga membawa Lany. Meski dengan cara seperti ini, karena memang sama sekali tidak ada yang tahu jika dirinya sudah berstatus suami orang.


“Hey." Begitu masuk Andra dihampiri dengan beberapa pria dan wanita yang mengajaknya berhaighfive.


“Lama banget ngilangnya."


“Liburan." Jawab Andra sekenanya.


Lany sendiri mulai bingung dan bertanya-tanya, kenapa Andra bisa punya akses dengan orang-orang seperti ini. Dilihat dari tema acara dan pakaian para tamunya saja jelas mereka adalah para kaum elit yang punya banyak uang. Lalu bagaimana suaminya bisa dengan mudah mendapatkan undangan spesial ini.


Mungkin langganan di bar tempat dia kerja. Ucap Lany membatin. Dan Lany cukup lega saat Andra menolak saat diajak bercipika-cipiki dengan wanita.


“Anyways, ini siapa, Ndra?”


“Oh, adik temanku, mau interview di perusahaan cruise ship."


“Kirain gebetan lu, bisa ngamuk tuh si Riana”


"Katanya dia lagi ada job tour di Aussie, ya?"


Andra hanya mengedikkan bahu mendegar pertanyaan itu.


“Masa nggak tau sih.”


“Baru berangkat tadi katanya,”


Percakapan antara Andra dan orang-orang itu mengalir begitu saja, membuat Lany yang merasa bosan memutuskan untuk pergi duduk dipojokan. Menyendiri searaya menyantap hidangan yang ditawarkan seorang pria yang cukup baik, lebih ramah dari mereka yang ia temui sebelumnya.


Lany yang menyadari tidak melihat Andra, segera mencari keberadaan pria itu. Dan betapa hatinya teriris saat melihat seorang wanita begitu dekat dengan Andra, bahkan beberapa kali berfoto bersama. Kenapa Andra tidak menolaknya seperti saat dia menolak bercipika cipiki dengan wanita sebelumya?


Lany yang tidak kuat melihat itu, memutuskan untuk keluar dari sana. Ia memilih duduk di loby.


Sementara Andra, ia langsung panik saat menyadari Lany tak ada di sana.


“Kakak kenapa sih?" Tanya gadis yang sedari tadi tak pernah jauh darinya. Sudah seperti perangko yang tertempel.


“Ra, Aku harus keluar dulu."


“Loh, kenapa? Acara inti aja belum mulai.” Ya, gadis yang sedari tadi bersama Andra itu adalah Dara. Dara yang memang sangat merindukan Andra tidak ingin jauh-jauh saat bertemu kakaknya di sana.


“Udah dulu Ra, aku kebelet." Dara hanya mnyerngit heran saat Andra tergesa-gesa keluar dari sana.


Setelah setengah mati mencari Lany, akhirya Andra bertemu dengan istrinya di loby. Berulang kali Andra mengucap maaf, takut Lany merasa tidak dihiraukan.


Lany sendiri sebenarnya ingin marah dan menanyakan perlakuan Andra tadi, tapi ia juga tidak ingin jadi egois dan merusak suasana. Apalagi Andra tengah mengajaknya jalan menyusuri trotoar, beratapkan langit malam sambil menunggu waktu pergantian tahun yang akan berlangsung beberapa menit lagi. Tentu dia tidak ingin merusak momen New Year on the road Ini.


“Happy New year, Lan. Semoga rumah tangga dan hidup kita selalu diberkahi, selalu bahagia dan selalu sama-sama sampai kapanpun.” Ucap Andra beriringan dengan suara ledakan dan nyala kembang api di seantero langit kota. Begitu memekakkan telinga dan membuat Lany menyenderkan kepalanya di dada kokoh Andra.


“Aamiin.” Teriak Lany, berharap agar doa Andra dikabulkan.


“Happy New year, Alandra.” Ucapan Lany membuat Andra merengkuh tubuh itu dengan erat.


“Selamat tahu baru, Melany. Mari membuka lembaran baru bersama."


...❤️❤️❤️❤️...




#BigHug from us❤️


Happy new year, dari Kota Novel. Dunia kami berdua.✌️😅

__ADS_1


__ADS_2