My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 57 [Bertemu Keluarga]


__ADS_3


Andra, berat rasanya harus meninggalkan Lany seorang diri di apartemen. Dia yang tadinya berencana ingin menemani Lany seharian full harus melempar jauh rencana itu setelah menerima telepon dari Mami.


Ya, Mami. Mami memang tahu soal kedatangannya, sebab Mami jugalah yang membujuk Andra agar segera kembali ke Jakarta.


“Mami rindu, pokoknya kamu harus pulang! Kami semua rindu sama kamu, Alandra." Begitu kata Mami menegaskan saat beberapa waktu yang lalu saling berteleponan.


“Kamu tidak maukan jadi anak durhaka?” Mendengar kalimat keramat itu, Andra langsung menuruti perkataan Mami. Belum lagi Lany yang marah dan ingin tahu tentang kehidupannya terus mendesak dan membuat Andra memutuskan hal ini jauh dari rencana yang sudah ia buat. Entah rencana apa, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Dan kini Andra sudah berada di salah satu kawasan perumahan elit ibu kota. Ia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah besar bergaya eropa itu. Setelah tiga bulan menghilang, akhirya dia kembali menginjakkan kaki di rumah orangtuanya.


Begitu masuk, dia langsung disambut haru oleh wanita yang melahirkannya.


“Alandra!?”


Andra benar-benar tidak bisa jika harus berhadapan dengan Mami dalam kondisi seperti ini. Dia paling tidak bisa melihat Maminya bersedih, apalagi sampai menitihkan air mata. Tapi, bukankah itu wajar? Seorang ibu yang tak bertemu putranya selama hampir tiga bulan tanpa kabar, sama sekali tidak bisa dihubungi jelas membuat Ibu manapun akan khawatir dan sedih.


“Mami," Andra langsung meraih punggung tangan Mami dan menciumnya. Aksi Andra itu langsung disambut pelukan oleh wanita paruh baya yang tidak begitu tinggi, namun memiliki tubuh proporsional yang ideal bagi wanita seusianya. Hidung mancung dan memiliki lesung pipit, persis seperti Andra.


“Darimana saja kamu, nak?" Mami menangkup pipi putranya.


“Kamu baik-baik saja, kan, Alandra?" Mami masih saja terisak, seolah tak menyangka jika orang yang selama ini ia pertanyakan keberadaannya benar-benar ada di hadapannya. Begitu nyata.


“Aku hanya liburan, Mi. Aku baik-baik saja!" Andra mengusap bulir bening di wajah Mami.


Tidak lama setelah itu, suara seorang pria yang begitu Andra kenal muncul dari arah pintu utama.


“Akhirnya, anak papi pulang juga.”


Andra menoleh, dilihatnya laki-laki paruh baya yang rambutnya sudah agak memutih tapi diberi gel agar tetap hitam tengah berjalan ke arahnya di dampingi seorang pria. Postur tubuhnya hampir sama persis dengan Andra, hidung mancung dan mata tajam di balik kaca mata itu menatapnya penuh haru, bibir tipis di kelilingi brewok tipis, jelas tengah tersenyum lebar padanya. Pria yang menyebutkan diri sebagai Papi itu mendekati Andra.


Andra hanya tersenyum sekilas, Mami memberi usapan pada lengan Andra, hingga ia segera meraih tangan Papi dan menciumnya. Ya, selepas menelpon Andra tadi, Mami mengabari semua jika Andra sudah pulang dan sedang dalam perjalanan menuju rumah.


“Papi.” Ragu-ragu Andra membalas pelukan Papi yang tengah memeluk sambil memberi tepukan kecil di bahunya.


Selang beberapa waktu, telinga Andra menangkap suara melengking seorang wanita yang begitu ia kenali.


“Hei, Ma beloved brother, welcome home!!" Andra melepaskan pelukan Papi dan menoleh pada sumber suara. Senyum sumringah terpancar saat ia melihat gadis dengan garis wajah persis seperti Mami tengah berlari ke arahnya, bedanya gadis itu tak mewarisi lesung pipit seperti dirinya dan Mami.


Ya, dia adalah adik Andra, namanya Adara. Kerap di sapa Dara, gadis yang juga memiliki tubuh ideal dan wajah perpaduan antara Papi dan Mami. Hampir menyentuh kata sempurna.


“Akhirnya lo pulang juga, kak. Gue pikir balak lupa jalan pulang, lo. Nggak ingat keluarga!" Cebik Dara sembari meraih tangan Andra untuk di salami.


“Adara, tutur katanya kok sangat tidak sopan, ya?" Sarkas Mami yang mana langsung membuat Dara tersenyum kikuk.


“Nggak enak di denger, Ra." Lanjut Mami menimpali.


“Hehe, sorry, sorry..” Dara menutup mulutnya yang keceplosan.


“Jangan diulang, nanti kebiasaan. Kalau ada yang denger, tidak baik." Papi mengelus rambut panjang Dara.


Anak-anak keturunan dalam keluarga besar ini memang dididik harus memiliki tutur kata dan tingkah laku yang baik dan sopan, sebab kelurga mereka bukanlah keluarga sembarangan. Namun, Dara yang memiliki pergaulan sedikit bebas jelas bertentangan dengan aturan dalam keluarga. Apalagi jika sudah di luar, tak jarang Dara sering diawasi dengan ketat.

__ADS_1


“Ohiya, Oma, Opa mana?" Andra menoleh mencari sosok yang dicari.


“Lagi di rumah Om Erwin. Oma Opa tahu kamu datang, sebelum makan malam pasti udah pulang, mereka juga kangen kamu.” Ujar Mami.


“Makan malam di sini ya, sekalian nginep. Kami semua rindu kamu."


“Iya, Andra, bener kata Mami mu. Tinggal di rumah lagi, ya, berhenti tinggal di apartemen.”


Sejak dulu Andra memang lebih sering menetap di apartemen, dia terbilang jarang tinggal di rumah karena suatu hal. Meski begitu, dulu, setiap akhir pekan Andra selalu menginap di rumah.


“Kalau makan malam bisa, tapi kalau nginep ... Nggak dulu." Andra tersenyum setelah membuat keputusan yang membuat raut wajah semua berubah datar.


Cukup lama semua bercengkrama, melepas kerinduan satu sama lain hingga Oma dan Opa datang sebelum maghrib, memeluk dan menghujani cucu pertama mereka dengan penuh kasih sayang.


“Bagaimana liburannya, Ndra? Menyenangkan?"


“Kamu ini jangan paksakan diri, kalau capek langsung liburan saja seperti kemarin. Manusia juga butuh ketenangan, butuh liburan, kalau terlalu capek nanti bisa stres."


Andra tahu semua dari Novi, hanya oma dan opa saja yang tidak pernah menanyakan keberadaan dan kapan Andra pulang. Bukan karena tidak perduli. Tapi Andra tahu betul, jika Oma dan Opanya begitu mendukung setiap keputusan yang ia lakukan, apalagi jika menyangkut liburan demi healing untuk kewarasan otak seperti kata Opa, "manusia butuh liburan untuk menghilangkan stres”.


Setelah melaksanakan ibadah maghrib, makin banyak keluarga yang datang. Mulai dari Om, tante dari Mami dan Papi, bahkan semua spupu yang ada menyempatkan waktu untuk hadir. Semua karena mereka begitu merindukan Andra yang sempat hilang tanpa jejak, tanpa kabar dan tidak ada satupun yang tahu apa alasannya, selain Tuhan dan Andra sendir, Tapi jangan lupakan Novita, wanita itu jelas tahu semuanya.


Selepas makan malam, satu persatu keluarga mulai meninggalkan kediaman keluarga Andra. Kini di ruang keluarga dengan interior putih gold itu hanya ada, keluarga inti saja, Mami, Papi dan Dara.


“Rival mana?” tanya Andra


“Tau, tanya Papi kamu." Cetus Mami sembari menyesap teh hangat di depannya.


“Keluar kota, katanya lagi touring dengan teman club motornya."


“Keren nih," Andra meraih satu kertas yang berisi beberapa desain yang sudah selesai semua tahap.


“Iya dong," ucap Dara bangga.


Bahkan kini Mami dan Papi juga ikut mengamati kegiatan Dara. Saling mengobrol dan memberikan nilai pada hasil karya si bungsu itu. Tak lupa canda tawa terselip diantara mereka.


Andra senang bisa berkumpul kembali di tengah keluarganya. Meski ada perasaan kurang karena memikirkan seseorang yang seharusnya ada di sampingnya saat ini, ikut duduk, mendampinginya dan bercengkrama dengan keluarganya. Namun masih ada suatu hal yang harus dia persiapkan untuk itu. Andra berharap semoga hal tersebut bisa segera terealisasi, tentu dia akan sangat bahagia.


“Kak," Andra meninggalkan lamunannya dan menoleh pada Dara.


“Potret taman bunga tulip Belanda, filenya masih ada nggak.”


Setelah sejenak mengingat-ngingat hasil jepretannya yang begitu menyukai seni photography. Andra kemudian mengangguk, “Masih, ada di flashdisk. Kenapa?" Tanyanya dengan raut wajah serius.


“Mau dong, aku ada pemotretan dengan konsep bunga tulip gitu. Tapi timku nggak mau kalau harus ke Belanda, mana susah banget cari gambar latar ya pas. Nah, hasil jepretan Kakak kayaknya pas deh,”


“Oh, mau?"


Setelah melihat anggukan dari Dara, Andra kemudian meraih Hp dan mendial Novita. Begitu diangkat Andra langsung meminta bantuan dari Novi untuk mencari flashdisk yang dimaksud.


“Dimana Nov? mau minta tolong ambil flasdisk di ....”


“Tolong cari ya, Nov. Yang warna putih ada tulisannya 'Belanda'. Kamu aja yang masuk, dia jangan. Oke Nov, makasih. Langsung bawa ke sini ya, sorry ngerepotin!”

__ADS_1


“Dia siapa kak?”


...........


Lany, hari ini merupakan hari terindah dalam hidupnya. Dia bahagia sekali dan merasa beruntung bisa memiliki Andra sebagai bagian dari hidupnya yang menyedihkan ini.


Dulu Lany sempat berpikir tidak akan bisa menemukan pasangan yang benar-benar baik. Dia sempat trauma pada kata pernikahan, mengingat jalan hidupnya yang sulit akibat gagalnya pernikahan orang tuanya dulu.


Bahkan dia sempat membuat beragam ekpektasi untuk dirinya sendiri hanya demi menemukan pasangan yang layak dan sempurna. Lany tumbuh dengan khayalan yang tinggi, dan memiliki cita-cita yang terbilang aneh. Salah satunya seperti ingin menjadi kaya dan punya suami kaya, maksimal Presdir seperti yang ada di kisah novel dan drama yang pernah ia baca dan tonton. Semua itu ia susun sedemikian rupa agat tak memiliki kisah percintaan yang berkahir seperti orang tuanya yang sering bertengkar karena uang. Jika kaya tentu tidak akan ada masalah itu.


Tapi semua mimpi konyolnya itu lenyap saat bertemu Alandra, cowok aneh yang memaksanya menikah karena kejadian malam itu, Andra seperti momok mengerikan yang muncul dimana-mana dan membuat ia terperangkap dalam pernikahan ini.


Dulu Lany sempat tidak yakin, pasalnya mana ada rumah tangga yang bertahan saat dua orang tak saling kenal dipersatukan dalam ikatan itu. Nyatanya, yang menikah karena cinta saja bisa berakhir menyedihkan. Ya, tentu dia dan Andra akan berakhir begitu pula.


Tapi itu dulu, sekarang situasinya justru berbanding terbalik. Ia bahagia ada Andra di hidupnya, pria itu baik dan bertanggung jawab terlepas dari bagaimana misteriusnya dia. Lany tidak perduli, yang jelasnya dia bahagia berada di dekat Andra dan hidupya terasa jauh lebih berarti. Rasanya Lany begitu tak sabar menanti Adra pulang.


Suara bell memudarkan senyuman Lany, Namun ketika nama Andra terlintas dipikirannya. Dengan penuh semangat ia beranjak dari sofa dan segera membuka pintu.


“Kamu." Lany tercengang saat melihat yang datang bukanlah Andra melainkan seorang wanita yang bernama Novi berdiri di sana.


“Selamat malam, Bu."


Lany sama sekali tak membalas sapaan itu.


“Kok bisa di sini?"


“Di suruh Pak Andra ambil flash disk.”


Mendengar itu, Lany hanya cengo seperti orang bingung setelah dihipnotis. Tanpa berbasa-basi ia mempersilahkan Novi masuk.


Dan betapa terkejutnya Lany saat melihat Novi mengeluarkan sebuah kunci dan membuka ruangan yang menurut info dari Andra, jika ruangan tersebut adalah gudang.


“Loh, kok." Lany yang hendak ikut masuk dicegah oleh Novi. Tentu itu membuat Lany makin heran.


“Maaf, Bu. Tapi ibu di larang masuk. Maaf ya, ini perintah dari Pak Andra.”


“Bu,, ibu apa? Saya bukan ibu kamu mbak, Nov.” Sentak Lany yang tetap kekeh ingin ikut masuk.


“Tapi bu, ini perintah pak Andra.”


“Ya, alasannya apa? Kenapa saya nggak boleh tapi kamu boleh..”


Lany hanya bisa menghembuskan napas kasar saat Novi sudah menghilang di balik pintu tanpa menjawab pertanyaannya. Ia sama sekali tak mengerti, kenapa Andra melarangnya masuk sedangkan Novi boleh dan bahkan Andra sampai mengatakan jika itu adalah gudang. Dan apa itu barusan, kenapa Novi berkali-kali menyebut Andra dengan panggilan Pak dan dia Ibu.


Memangnya kamu anak kami, hah? Lany sama sekali tak mengerti.


Lany yang terlanjur kesal sama sekali tak menghiraukan keberadaan Novi, bahkan dia sama sekali tak menggubris saat wanita itu pamit untuk pergi.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Next, eps selanjutnya yang uwuwu✌️✌️🤣


Sabar ya, jangan marah karena Andra belum bawa Lany ketemu Mertua🤭. Seperti kata Andra, masih ada sesuatu yang harus dipersiapkan 🤣🤣✌️

__ADS_1



Tuh ku kasih yg manis² buat meningkatkan imun 🤣💃


__ADS_2