
Tok, tok tok.
“Lan?"
Suara ketukan pintu yang diiringi panggilan pada namanya membuat Lany yang sudah menghapus air matanya sejak tadi segera melangkah ke depan cermin, matanya kelihatan sembab dan bengkak karena terlalu lama menangis.
"Lany?!"
“Iya, tunggu!" sahutnya sembari menoleh ke arah jam digital yang ada di kamar itu, sudah pukul 11.00 dan Andra baru pulang.
Dia pasti lelah setelah seharian bekerja dan lembur. Memikirkan hal itu membuat Lany berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ia tak ingin Andra khawatir apalagi jika sampai pria itu mengetahui apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu.
”Harus kuat, gak boleh lemah!" Lany berucap menyemangati diri.
“Aku gak mau Andra bermasalah dengan keluarganya." Mengingat hal itu saja mampu membuat air mata Lany kembali dipenuhi cairan bening, tapi sesegera mungkin dihapusnya.
Ia pun menarik napas dalam sebelum bergegas membukakan pintu untuk Andra.
Pintu dibuka, sosok Andra yang masuk dengan wajah lesu membuat Lany sedikit heran. Bahkan ini kali pertama Andra tak menatapnya sedikitpun, dengan kepala menunduk Andra melangkah menuju sofa sambil membuka jasnya dan duduk disana.
Melihat hal ini membuat Lany merasa keputusan untuk menutupi kejadian tadi merupakan keputusan yang tepat, bercerita pada Andra sama saja menambah beban pada pria itu.
Lany menghembuskan napas gusar, Ia lalu menyusul Andra untuk duduk di sofa. Bersiap menjalankan tugas sebagai istri yang baik pada lelaki yang sudah berbaik hati mau bertanggung jawab atas kesalahan malam itu, bahkan Andra sama sekali tak pernah sedikitpun bersikap kasar padanya, dari awal ia selalu diperlakukan dengan baik. Hal ini membuat Lany bersyukur dan beruntung, Ia menyadari Ia pun sudah mencintai Andra, entah sejak kapan, yang jelasnya sikap baik Andra berhasil membuatnya lulu.
”Aku beruntung Tuhan kirim orang seperti kamu buatku, mulai sekarang aku janji akan jadi istri yang baik buat kamu." Untuk pertama kalinya melihat wajah Andra ditumpuki beban berat membuat Lany prihatin. Sejenak Ia melupakannya bagaimana sikap keluarga Andra padanya.
”Pasti capek ya?" tanyanya saat sudah duduk di samping Andra. Lany meraih jas yang ada dipangkuan Andra dan menaruhnya di sandaran sofa. Setelah itu tangan Lany tergerak memijit kedua bahu Andra.
Pria yang biasanya ceria itu tersenyum sekilas, Ia menghela napas lalu merebahkan diri di pangkuan Lany.
Sorot mata Andra menatap tiap detik pada jam digital yang terus berganti.
“Lan," panggil Andra dengan lembut, Ia terlihat nyaman berbaring di pangkuan Lany.
__ADS_1
“Ya?" Lany menjawab sambil membelai rambut Andra yang sedikit mulai memanjang.
“Kenapa Allah memberikan hambanya ujian?"
Pertanyaan Andra membuat kening Lany mengkerut, meski begitu Ia berusaha memikirkan jawaban pertanyaan Andra untuk dijawab.
“Emmmnt, Aku pernah dengar katanya orang yang selalu dikasih ujian itu bukan berarti gak disayang, justru katanya kita diberi ujian karena Allah sayang.”
“Dia tahu kita kuat dan bisa menghadapi semuanya."
“Kalau emang sayang kan harusnya gak kasih ujian." Andra menyela dengan sort mata yabg masih menatap ke arah jam.
“Justru katanya dikasih ujian biar kita selalu ingat sama Tuhan, hmmm..." Lany menggantung ucapannya, meski begitu tangannya tetap tergerak mengusap rambut Andra.
Andra menatapnya, seakan menunggu kelanjutan ucapan Lany.
“Udah sering dikasih ujian biar kembali ke Tuhan, tapi aku sebagai hamba bahkan masih sering lalai." Lanjut Lany sendu yang menyadari betapa lalainya Ia selama ini.
“Kita berubah sama-sama yuk, perbaiki hidup kita.”
Lany mengangguk mengiyakan saat tangan Andra yang satunya beralih mengusap pipinya dengan lembut.
Sejenak keduanya sama-sama terdiam, sebelum akhirnya Andra kembali membuka obrolan saat menoleh pada perut Lany.
“Gimana hari ini?"
“Dia gak nyusahin kamu kan?" tanya Andra sembari mengusap perut Lany dan beberapa kali mendaratkan ciuman disana.
Lany menggeleng samar, sikap Lany yang lebih pendiam dan tak banyak bicara itu membuat Andra merasa gemas, ini sangat berbeda dengan sikap asli Lany yang biasanya bar-bar dan suka mengomel. Meski begitu Andra hanya memendam dalam hati, tak mengungkapkan isi pikirannya.
“Oh iya, beberapa hari lagi kita ke kampung kamu, kamu siapkan?" tanya Andra, yang mana membuat kening Lany menyerngit.
Lany hampir saja melupakan rencana Pak Ervano yang ingin bertemu keluarganya dan berencana melangsungkan acara pernikahan untuk yang kedua kalinya. Hal itu membuat Lany hilang semangat, Ia yang awalnya tak masalah tiba-tiba seperti hilang semangat dan insecure menerpa diri setelah kata-kata yang oma lontarkan tadi.
__ADS_1
“Emang harus banget ya diadakan?" tanya Lany dengan berat hati.
“Ya iya, soalnya keluargaku punya rencana buat ngumumin pernikahan kita dan menantu mereka.”
Lany terdiam, sama sekali tak merespon ucapan Andra. Ia semakin merasa kecil dan tak pantas mengingat status sosialnya yang berbeda jauh dengan Andra.
Andra beranjak dari pangkuan Lany, pria berwajah teduh itu merangkul Lany dengan penuh sayang.
“Gak perlu cemas, kan ada Aku!" ujar Andra yang tahu kecemasan Lany.
Lany menghela napas. "Bukan gitu,” selanya yang tak ingin Andra kepikiran dan kian terbebani. “Aku cuma males aja kalau harus ikut pulang." Dan Akhirnya itulah yang menjadi alasan Lany.
“Loh, kenapa?" tanya Andra heran. “Memangnya kamu gak rindu sama Bapak, Dewi dan yang lain?"
“Bukan gitu, Aku takut malas balik kesini lagi kalau harus ikut kesana!" ujar Lany sembari terkekeh. Tentu hal itu membuat Andra ikut terkekeh, tak menyangka jika itu yang Lany pikirkan.
“Ya jangan malas-malasan lah, kan suami kamu disini, jadi harus ikut balik!" ujar Andra yang merasa terhibur. Ia lalu mendekap tubuh Lany dengan erat.
“Kalau gak balik nanti aku sedih."
“Sedih kenapa?" tanya Lany ingin memastikan.
“Sedihlah kalau jauh dari istri dan calon anakku."
”Helleh, lebay!" Ejek Lany sembari mendorong wajah Andra dengan gemas.
“Kalau jadi sama Riana, pasti yang akan kamu sayang pasti Riana sama calon anak kalian, huu."
Ucapan Lany membuat Andra melepaskan pelukan sambil menampakkan wajah marah yang dibuat, mengisyaratkan jika Ia tak suka membahas nama itu.
Namun, bukannya takut Lany malah balik menampakkan wajah kesal.
“Gak usah bahas itu, nanti ujung-ujungnya kamu ngambek sendiri, ujung-ujungnya aku yang disalahkan." Andra melayangkan protes sambil mencubit pipi Lany.
__ADS_1