My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 84 [Don't Be Happier]


__ADS_3

*Jangan Lebih Bahagia*



Perbincangan sore yang mengharu biru itu harus berakhir setelah Andra berjanji pada Riana, jika Ia akan membantu mencari tahu keberadaan Rival. Bagi Andra, sikap Rival yang tiba-tiba menghilang setelah segala macam kekacauan yang ia ciptakan membuat ia ingin sang adik itu mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Riana, begitu pun dengan maksud dari tujuannya yang memberi tahu soal hubungannya dengan Riana, tanpa sepengetahuan Andra sendiri.


“Mungkin dia lagi ada kesibukan makanya nggak pernah hubungin kamu.” Ucap Andra yang mencoba menenangkan Riana.


Andra hanya bisa menghela napas begitu berdiri dari duduk, masalah ini benar-benar rumit. Ia tidak akan membiarkan Rival lari dari tanggung jawab, bahkan bila bertemu nanti, Andra begitu ingin berbincang banyak hal pada adik laki-lakinya itu.


“Nanti aku coba bantu cari tahu keberadaan dia sekarang.” Ucap Andra lagi pada Riana yang juga kini sudah berdiri.


Wanita itu lebih banyak diam setelah pembahasan dengan Andra yang menurutnya menguras emosi. Riana benar-benar merasa kehilangan arah. Berhadapan langsung dengan Andra membuatnya begitu lemah, sejuta kenangan bersamaan dengan kesalahan yang ia lakukan terus berputar silih berganti di otaknya. Benar kata pepatah, penyesalan memang selalu datang di akhir. Riana terus saja mengutuki kebodohannya.


“Aku masuk dulu,” bahkan saat Andra menoleh pada sosok gadis di balik jendela kaca, perasaannya begitu hancur. Rasanya jemarinya begitu ingin menahan agar tubuh tegap yang dulu miliknya itu tetap berada di sisinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Riana hanya bisa meremas angin saat Andra mulai melangkah untuk menghampiri sosok asing yang menurutnya tidak pantas menggantikan posisinya dalam waktu sesingkat ini.


Arrrrghhh... Riana meringis dalam hati, ia kemudian segera menyusul langkah Andra. Rasa sakit itu semakin nyata saat ia harus menyaksikan bagaimana Andra memandang wajah lelap gadis bernama Lany dengan tatapan penuh sayang.


“Astaga, malah tidur sore! Baru juga disuruh nunggu sebentar malah berlabuh ke alam mimpi,” dan lagi, gumanan kecil dari mulut Andra bersamaan dengan tubuhnya yang berangsur berjongkok tepat di sisi sofa, mampu mengoyakkan perasaannya di dalam sana.


“Andra!" Sergahnya, Riana tahu setelah ini pemandangan seperti apa lagi yang akan ia saksikan. Andra pasti berniat membopong tubuh gadis di sopa ini. Tidak, ia tidak boleh melihat kemesraan ini!


“Don't be happier, By! (Jangan lebih bahagia, sayang!) Jangan lebih bahagia dari saat kita masih sama-sama dulu!"


“Aku benar-benar gak mampu menyaksikan cara kamu memperlakukan dia.” Tutur Riana saat Andra sudah menoleh padanya. Ia bisa melihat dengan jelas, kerutan di kening Andra begitu mendengar ucapan frontal darinya.


“Hatiku sakit lihat posisiku harus tergantikan secepat ini.” Perlahan bulir bening itu kembali menetes, entah sudah berapa banyak stok air mata yang Riana keluarkan untuk hari ini.


“Ri!" Andra menggeleng, seolah memberi isyarat agar tak seharusnya Riana mengatakan hal itu.


“Maaf kalau kedengarannya aku egois, By. Tapi hatiku benar-benar hancur!" Seloroh Riana dengan isakan yang kian menjadi.


“Ri, udah. Jangan di bahas lagi!" Andra masih berusaha menegur dengan pelan, ia kelihatan tak ingin mengganggu tidur ibu hamil yang kelihatan begitu lelap.


“Seharusnya aku yang mendapat perlakuan seperti ini, bukan orang lain, apalagi dia!" Memang terdengar agak memalukan, tapi itulah yang Riana rasakan. “Jangan begini, hatiku sakit, Andra!”


Baru Riana kembali ingin mengatakan sesuatu, Andra sudah lebih dulu angkat suara. “Aku bilang stop, Ri! Stop!" Wajah Andra kelihatan memerah, meski diliputi emosi, ia masih berusaha meredam suaranya agar tidak terlalu tinggi. Tak hanya ingin berlaku kasar, Andra kelihatan takut jika saja Lany harus mendengar ucapan Riana barusan.


“Tapi, Ndra... Aku sakit!” Riana menggeleng dengan air mata yang terus menetes.


“Ini semua ulah kamu kan? Ini semua kemauan siapa? Bukannya kamu yang mau?" Cecar Andra yang kini sudah berdiri, menatap nyalang pada Riana.


Seberapa kuat dan ikhlasnya Andra melalui semua luka yang Riana berikan. Namun, ia tetaplah seorang manusia biasa yang masih merasakan sakit jika mengingat bagaimana penghianat yang Riana dan adiknya lakukan.


“Apa selama ini kamu pernah berpikir bagaimana perasaanku saat kamu ngelakuin hal bejat itu dengan adik ku sendiri??" Tanya Andra yang kelihatan tak mampu lagi menahan emosinya. Meski begitu, bom yang ingin benar-benar meledak itu, terlihat setengah-setengah menyuarakan semuanya.

__ADS_1


“Andra...” Dengan tangisan yang berurai, jemari Riana berusaha meraih lengan Andra, tapi langsung ditepis. Ia hanya bisa terisak dengan tubuh yang bergetar.


“Kamu ngarepin apa dari sesuatu yang sudah kamu hancurkan sendiri?"


“Aku udah bilang berkali-kali, berhenti bahas ini. Jangan berlaga seolah kamu paling tersakiti, tanpa memikirkan bagaimana aku selama ini!?" Lirih Andra disertai gelengan kecil, tanda ia mulai jengah menghadapi Riana. Bahkan suaranya sudah naik satu oktaf.


“Tapi, aku hanya gak rela kamu lebih bahagia dari saat kita bersama dulu!”


“Ri, aku bilang cukup!" Sentak Andra, ia benar-benar tak mampu lagi menahan emosi.


Namun, percakapan kedua insan yang pernah menjalin kasih itu harus terhenti saat suara seorang wanita berhasil membuat keduanya sama-sama bungkam. Riana hanya bisa kembali menahan sakit saat Andra dengan wajah khawatirnya menoleh pada sosok yang sudah menggantikan posisi yang seharusnya ia tempati.


“Kenapa?" Suara serak Lany dengan wajah khas bangun tidur membuat Andra refleks kembali berjongkok.


Senyum terulas dari bibirnya, bersamaan dengan tangan yang berusaha membantu Lany beranjak dari posisi baring, beralih untuk duduk.


“Kenapa tidur sore sih?" Meski Andra balik bertanya dengan diiringi senyuman, tapi hal itu tak membuat Lany merubah wajah herannya.


Ekspresi Lany sontak membuat Andra menjawab dengan kecepatan seribu “Eh, itu, tadi aku mau bangunin kamu, tapi Riri bilang langsung gendong aja ke kamar biar tidurnya gak keganggu.”


“Iyakan, Ri?" Andra berusaha menatap Riana dan Lany secara bergantian.


Sedangkan Riana yang melihat bagaimana Andra berusaha menjaga perasaan Lany, benar-benar kian merasa tersayat.


“Oh." Lany hanya ber-oh sembari meregangkan otot-ototnya.


...........


Meski harapan terkadang tak sesuai kenyataan, tapi keduanya dengan bijak membuat keputusan untuk tidak saling membenci terlepas dari kesalahan yang kedua anak mereka lakukan. Memang dulu semua begitu mengharapkan Andra dan Riana untuk bersatu, tapi kesalahan yang terjadi benar-benar menghancurkan. Semua menjadi kacau dan berubah. Namun, inilah takdir yang harus keduanya terima. Begitu pikir mereka masing-masing.


“Eh, Ri!" Tegur Papi Ervan, saat melihat sosok Riri muncul dari balik pintu.


“Gimana? Udah ketemu Andra dan istrinya?” Cecar Mama Rita dan Pak Santoso secara bersamaan.


Riana hanya mengangguk disertai senyum simpul yang dipaksakan, dengan wajah sendu ia duduk tepat di samping Mamanya.


Papi Ervan hanya ikut tersenyum dan mengangguk, berbeda dengan Mami Inka. Ia yang masih menyimpan kekesalan pada Riana, moodnya langsung terjun bebas begitu saja saat mendengar kata "Istri Andra”. Sungguh ia masih tak rela.


“Terus mereka mana? Mama mau ketemu!" Seru Mama Rita dengan mata berkaca-kaca. Sama seperti Mama Inka dan Papi Ervan, ia pun menyayangi Andra sebagaimana dulu keduanya menganggap Riana seperti anak sendiri.


Rasa bersalah akibat ulah Riana, membuat Mama Rita berharap Andra bisa bahagia setelah luka yang putrinya goreskan.


“Istri Andra capek, Mah. Ketemunya lain kali aja, ya! Kita langsung pulang sekarang yuk, Aku capek banget.” Tutur Riana yang benar-benar merasa letih akibat rentetan masalah yang terjadi belakangan ini.


Meski dengan raut wajah kecewa, Mama Rita yang begitu ingin bertemu Andra dan menyampaikan permohonan maaf, lantas setuju untuk pulang setelah dibujuk oleh Pak Santoso.

__ADS_1


“Bener kata Riri, ketemunya lain kali aja. Ini juga udah sore. Lagi pula rumah berdekatan, mama bisa datang kapan aja, iyakan Van?" Begitu Pak Santoso menimpali.


Setelah itu, keluarga Riana pun langsung pulang. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Riana hanya banyak termenung. Bahkan saat masuk kamar, ia sama sekali tak mengatakan sepatah katapun. Hal itu membuat kedua orang tua Riana sedih. Namun, mau dikata apa lagi, ini semua ulah Riana. Sudah seharusnya wanita itu menanggung semua penyesalan, buah dari perbuatannya.


...........


Pintu berplitur putih perlahan tertutup saat dua orang sudah masuk di kamar bernuansa monokrom, dengan kesan maskulin yang nyata.


“Aku suka loh kalau kamu agresif kayak pas lagi di taman tadi." Andra terus mengekori Lany yang tengah melangkah menuju nakas untuk mencharger hpnya.


“Hari ini aku kayak habis dapet jackpot. Kamu agresif, dan aku suka." Andra duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang terus tertuju pada Lany yang masih berdiri memeriksa hp yang sudah terhubung dengan charger.


Gadis berambut pirang, dengan tubuh masih berbalut dress merah yang ia kenakan saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu. Terlihat cuek, dan sama sekali tak merespon ucapan Andra. Ia bahkan sibuk melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Mamak dan Elsa, adiknya. Ya, sejak kejadian dimana ia mengetahui siapa sosok Andra dari balik tayangan tv. Hp Lany memang tidak pernah sunyi dari telepon dan pesan keluarganya. Tak jarang membuat ia harus mengaktifkan mode silent, demi untuk menghindari rentetan pertanyaan dari mereka. Sudah dipastikan jika -si penyihir- hanya ingin mencecarnya mengenai identitas Andra yang sebenarnya.


“Hallah, paling cuma mau tanya-tanya karena sudah tau Andra siapa. Gampang ji dibaca! (Sudah terbaca)” Gerutu Lany sembari berkacak pinggang.


Andra yang mendengar itu, lantas berdiri dan merebut hp Lany untuk melihat apa yang sedang dilihatnya. Sebenarnya Andra penasaran apa yang membuat Lany tak menghiraukan ucapannya barusan.


“Iss, Andra!" Cebik Lany tak suka saat hp yang tadi ada berada di genggamannya sudah berpindah ke tangan Andra.


“Lagian dari tadi aku ngomong gak dihiraukan!" Protes Andra sambil mengangkat tinggi-tinggi benda pipih tersebut agar terhindar dari jangkauan Lany yang ingin mengambilnya kembali.


“Sini Andra!"


“Aku tau itu hp kamu yang kasih, tapi jangan main rebut-rebut. Itukan privasi!" Lany benar-benar kesal pada tingkah Andra ini.


Sambil bersusah payah menghindari jangkauan tangan Lany, Andra sama sekali tak menghiraukan ucapan gadis berwajah kesal tersebut.


“Oh, jadi sekarang main privasi-privasi sama suami sendiri!" Meski jemarinya tergerak memencet pada layar ponsel, sejenak Andra mengalihkan pandangan demi untuk melihat reaksi Lany atas ucapannya.


Lany berdecak kesal, baru ia balik ingin protes. Andra sudah berucap lebih dulu, “Telepon dari Mamak dan Elsa sebanyak ini?" Andra mengernyitkan kening, membaca riwayat panggilan yang tertera.


“Astaga, dari awal bulan ini kamu reject terus?” Andra menatap heran pada Lany, “Kenapa gak diangkat?"


“Ada apa lagi? kamu kesal sama mereka?" Andra terus menuntut jawaban dari Lany.


“Hey, kenapa?" Kini Andra sudah meletakkan benda pipih tersebut kembali ke atas nakas, ia lalu menatap wajah Lany.


“Mereka bikin ulah lagi sampai bikin kamu kesal?" Melihat Lany yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya dan justru buang muka, membuat Andra kembali meraih hp Lany.


“Ya udah aku telepon ya, kasian! Siapa tau mereka khawatir sama kamu!" Saat Andra hampir mendial tanda panggilan, Lany langsung merampas hp tersebut. Membuat Andra menoleh, kenapa? Batinnya heran.


"Ndak usah!" Sentak Lany, “Mereka cuma mau nanya soal kekayaan kamu!"


Andra tersenyum mendengar alasan di balik Lany tak menjawab setiap panggilan dari keluarganya, “kirain ada masalah lagi!"

__ADS_1


“Gak ada!" Ketus Lany, “Udah, ah. Aku mau ke toilet!"


Andra yang melihat tingkah aneh Lany hanya menggeleng, ia bingung, ada apa lagi dengan gadis hyperaktif itu? Sehingga mendadak ketus seperti ini lagi. Hal itu membuat Andra berpikir keras atas kesalahan apa yang sudah ia perbuat sehingga Lany terlihat cuek.


__ADS_2