My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 39 [Makan Malam Keluarga]


__ADS_3

Malam hari, di belahan bumi yang lain. Tepat di sebuah rumah mewah yang begitu besar, seperti istana. Dua orang wanita beda usia tengah duduk di sebuah sofa, larut dalam pikiran masing-masing sambil menunggu waktu makan malam. Tentu harus menunggu semua anggota keluarga lengkap dulu, barulah makan malam bisa dilangsungkan. Demikianlah kebiasaan orang kaya pada umumnya.


“Dara, kakak kamu ada kabar, nggak? Liburannya udah lama banget loh ini! Mami kangen sama dia.” ucap wanita paruh baya membuka obrolan pada anak gadisnya yang bernama Dara.


“Nggak ada, Mi." Dara menggeleng dengan wajah memelas, sebab ia pun sama sekali tak pernah mendapat kabar apa-apa dari sang kakak.


“Coba tanya kak Riri aja, pasti dia lebih tahu!" Dara yang tadi duduk dengan Maminya pun mulai beranjak membuat Mami menghela napas saat Dara hanya menjawab sekilas kemudian berlalu lebih dulu.


Tentu membuat sang Mami pusing sendiri, sebab beberapa bulan berlalu. Anak sulungnya sama sekali tak pernah memberi kabar apapun pada seluruh anggota keluarga. Dia seperti menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu soal liburannya. Kemana dan Dimana dia berada. Selain sekertarisnya saja yang mengetahui. Ya, anak yang dicarinya itu hanya memberi kabar pada sekertarisnya saja.


Berulang kali Mami mencoba menanyakan penyebab kepergiannya yang seperti ini, namun sekretarisnya itu hanya menjawab seadanya, dia seolah menutupi apa alasannya. Tentu itu membuat hati seorang Ibu sepertinya menjadi tidak tenang. Membuat berbagai tanya berseliweran dalam kepala. Mengingat anaknya sama sekali tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, kalaupun ada masalah tapi masalah apa? Mami masih saja memikirkan semua kemungkinan yang menyebabkan anak sulungnya tiba-tiba pergi ketika seorang pria paruh baya keluar dari salah satu ruang. Mami pun beranjak dan segera berjalan beriringan dengan pria tersebut. Yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.


“Ayo Pi, semua sudah di ruang makan!" Papi pun hanya mengangguk sambil terus melangkah.


Namun saat seorang wanita muda berlalu sambil membawa beberapa berkas, pria paruh baya itu langsung memanggil wanita tersebut.


“Novita!" pria paruh baya yang kelihatan berkharisma itu melambaikan tangannya, memanggil wanita bernama Novita untuk mendekat. Dialah Novita, personal asisten sang Anak, yang merupakan satu-satunya sumber informasi yang tahu jelas tentang keberadaan anak sulung mereka.


Dengan tergesa-gesa, Novi pun mendekat “Saya Tuan," Ia menunduk penuh hormat. Layaknya seorang bawahan yang begitu menghormati atasannya.


“Pak Bos kamu apa kabarnya?" tanyanya sambil terus melangkah menuju ruang makan.


"Belum ada kabar, Tuan."


Pria paruh baya itu hanya mengangguk mengerti mendegar jawaban Novi. Ia tak lagi bertanya dan terus melangkah.


Tak hanya Mami, tentu Papi juga tahu jika sedari awal kepergiannya, putra mereka itu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Menyisakan sejuta tanya bagi seluruh keluarga.

__ADS_1


Namun Papi rasa, menanyakan pada Novita pun tak ada gunanya Karena sudah tentu wanita itu pun tak akan mau membuka mulut kalau bukan perintah langsung dari bosnya. Tentu saja, kesetiaan seorang asisten memang sudah tidak diragukan lagi.


"Ck, Liburannya sudah lama banget loh ini!” ujar Mami menimpali.


“Sampai lupa waktu.” Kini semua keluarga itu sudah bergabung duduk dengan Gea dan wanita tua, juga seorang pria tampan yang juga sudah lebih dulu duduk di sana.


“Kalau nelpon suruh dia pulang secepatnya ya, Nov. Soalnya pernikahannya sudah tidak lama lagi.” ucap Mami menekankan sambil mulai memerintahkan pelayan untuk segera menyendokkan makanan untuk semua keluarga.


“Iya, Nov. Tahu sendiri kan seluruh keluarga tidak ada yang bisa menghubungi dia selain kamu. Bahkan calon istrinya saja tidak bisa!" pria paruh baya itu kembali menimpali.


“Siap Nyonya, Tuan. Nanti akan saya sampaikan!" Novita membungkuk penuh hormat.


Sedangkan Nenek Tua yang merasa terganggu mendegar pembahasan seperti itu di meja makan pun mulai kesal dan siap melayangkan protes pada anak-anak mereka.


"Kalian ini kenapa, biarkan saja dia pergi lama. Apa salahnya sih? Dia juga butuh liburan. Jika Keluarga Prasetya sudah tak sabar menunggu cucu ku maka suruh saja dia cari pengganti baru." ucap wanita tua itu angkuh


Wanita tua itu hanya memutar mata malas kemudian segera memotong omongan Papi “Novita, jangan dengar ucapan mereka! Kamu tidak perlu mengganggu liburannya. Lagi pula jarang-jarang dia punya waktu me time untuk dirinya sendiri!” Belum sempat pria paruh baya itu menyelesaikan ucapannya, kalimatnya sudah disela terlebih dahulu.


“Mah!"


“Inka, Ervan! Mama tidak mau dengar ada keributan di meja makan!” sepertinya Keputusan wanita paruh baya itu tak bisa ditentang. Terbukti dengan semua anggota keluarga yang menuruti titahnya.


“Nov, Kalau mau makan silahkan duduk!" ketusnya lagi Pada Novita yang masih berdiri di sisi meja makan.


Namun, Novita yang memang masih punya kesibukan lain menolak secara halus ajakan dari oma, sebab memang masih ada urusan mendadak yang harus diselesaikannya.


Sementara itu, di luar rumah. Setelah melewati rentetan pertanyaan di dalam tadi. Kini wanita bernama Novita itu sudah hampir masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Ia langsung tepuk jidat ketika melihat wanita yang selama ini berusaha dihindari justru muncul dari balik pagar dengan tersenyum penuh semangat ke arahnya. Novita pun hanya bisa balas tersenyum, kali ini ia sama sekali tak bisa menghindar. Sudah pasti ia akan kembali dicecar dengan berbagai pertanyaan seperti biasanya.


“Nov, Bapak apa kabarnya?” tanya wanita itu dengan senyum merekah. Paras yang cantik hampir menyentuh kategori sempurna jika dilihat dari sudut manapun, kebanggaan dua keluarga besar. Dia bernama Riana, rumahnya berada tepat di depan rumah ini. Hanya bersebrang jalan saja.


Novita tersenyum kikuk “Nnggak tau mbak, saya nggak bisa kasih kabar apa-apa kalau bukan Bapak yang suruh.." Ini bukan kali pertama Novita memberikan jawaban yang sama pada Riana. Namun wanita itu sama sekali tak menyerah dan terus menanyakan hal yang sama hampir setiap harinya.


“Oh.” Riana memutar mata malas mendegar jawaban yang sama “Tapi kamu tau dia pulang kapan nggak?"


“Kurang tau mbak.”


Lagi-lagi Riana mendengar jawaban yang sama membuat emosinya naik seketika. Sepertinya ia sudah bosan mendengar Jawaban Novita yang itu-itu saja.


“Ck, kamu ini nggak bisa apa sekali aja nggak usah terlalu tutup mulut. Dia juga nggak bakalan tahu kalau kamu ngasih tahu!" ujarnya sewot dan bahkan mulai ngegas.


“Emangnya apa salahnya kalau kasih tahu aku? Aku berhak tahu semua tentang dia dan kamu nggak punya hak buat sembunyiin ini dari aku!" ujarnya kesal. Tentu saja, bahkan disaat yang bersangkutan sama sekali tak bisa dihubungi. Orang yang satu-satunya jadi sumber informasi malah menutupi semuanya dengan rapat seperti ini.


“Maaf mbak, tapi ini perintah langsung dari Bapak.”


“Terserah!" ketusnya lagi sambil berlalu dengan omelan yang terus terlontar dari mulutnya.


“Jadi asisten nggak guna banget! Awas kamu ya, kalau dia datang aku aduin!"


...-----...


Komen sebanyak-banyaknya ya! Nanti aku lanjutin kalau udah banyak😅..


Salam Sayang dari AndraLany 💕

__ADS_1


__ADS_2