My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 43 [Melalui Hari Tanpanya]


__ADS_3

Seorang wanita tengah duduk menopang dagu di salah satu meja yang letaknya berada di paling sudut ruang, Dia Lany. Helaan napas beberapa kali terdengar begitu gusar, seolah tengah memikul beban yang begitu berat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun gadis itu masih saja betah berada di Rumah Makan yang sudah sepi sejak jam sepuluh tadi.


“Loh, kok masih di sini?” gadis itu menoleh dan menghembuskan napas kasar saat seorang wanita baru saja membuka pintu kaca rumah makan dengan tergesa-gesa setelah berhasil menggeser pintu aluminium yang ada di lapisan depan.


“Kamu sendiri kenapa balik?” Bukannya menjawab, Lany justru balik bertanya pada Dewi yang kini duduk di depannya


“Aku mau ambil Hp, kayaknya ketinggalan di dapur.”


“Oh.” sahut Lany sambil menelusupkan tangannya di tengkuk dan berakhir pada memberi pijatan kecil di sana.


“Kenapa belum pulang?"


“Masih mau di sini,” sergah Lany yang masih berusaha terlihat biasa saja dengan menutupi kegundahan di hatinya.


Dewi terlihat mengernyitkan kening, tak percaya dengan alasan yang Lany berikan. Hal itu membuat rasa penasaran Dewi semakin besar. Dewi jelas tahu jika Lany bersikap seperti ini pasti sedang ada masalah yang disembunyikan.


“Kamu ada masalah?" desak Dewi penasaran. Namun Lany malah menggeleng, tidak membenarkan pertanyannya.


“Lan!” seru Dewi dengan wajah cemas, ia meraih tangan sahabatnya itu. “Kalau ada masalah cerita sama aku, jangan dipendam sendiri! Aku tau kamu, kalau sedang begini pasti lagi ada masalah 'kan?"


Lany menghela napas sambil menarik tangannya dri atas meja. Untuk menghilangkan rasa kegelisahannya, ia terus melakukan banyak pergerakan. Jelas ia tak bisa menyembunyikan apapun dari Dewi, mereka sudah bersahabat lama. Tentu Dewi hapal betul gerak-geriknya jika sedang diterpa masalah. Raut wajah dan tingkahnya begitu mudah terbaca.


“Aku cuma malas pulang." lirih Lany. Kali ini ia tak lagi banyak gerak untuk menutupi kegelisahannya. Tetapi wanita itu menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya bertumpu di kepala.


“Ada Andra, Lan! Kamu harus pulang.”


“Andra gak ada di rumah, dia keluar kota." sahut Lany dari balik wajah yang masih terpelungkup, meski samar-samar namun Dewi masih bisa mendemgarnya.


“Berarti kamu malas pulang karena ada, Elsa?” tebak Dewi lagi, dan itu refleks membuat Lany mengangkat wajahnya secara kasar Membuat rambut panjangnya tersibak tak karuan.


Lany menceritakan apa yang membuatnya enggan untuk pulang. Kepergian Andra dan kehadiran orang tuanya pagi tadi membuat ia merasa tertekan dengan semua omelan si -penyihir- yang terus menghakiminya soal aset hasil kerja kerasnya selama di kapal pesiar yang tidak ia ketahui. Hmmmnt, padahal dia tak punya andil apa-apa, tapi mulutnya terlalu sibuk mengurusi semua. Ya, tentu saja. Itu menyangkut harta benda. Jelas matanya akan terbelalak.


Meski kali ini Bapak sama sekali tak ikut-ikutan memarahinya dan sikapnya pun mulai mencair. Namun itu tak lekas membuat Lany luluh. Rasa senang karena perubahan sikap Bapak pasti ada. Akan tetapi ia merasa enggan berada di rumah itu, Lany merasa ketenangan dan kenyamanannya yang selama ini ia impikan lenyap begitu saja setelah para keluarga lucknut itu mengetahui keberadaan rumahnya.


Apalagi saat si -penyihir- berlaku seolah dia yang berkuasa di rumah itu sambil mengatakan hal-hal yang membuat ketenangan hidupnya merasa terancam.

__ADS_1


“Enak Pak, tinggal di kota. Sepertinya aku akan betah di sini.” Kata-kata Mamak itu membuat Lany ketar-ketir.


Rencananya tentang hidup bebas dari bayang-bayang mereka sirna begitu saja. Tak ada lagi kenyamanan yang ia harapkan di rumah itu. Meski Bapak dan si -penyihir- datang dengan Ara, anak Anwir. Namun itu tak membuat ia senang. Padahal biasanya ia begitu antusias dengan keberadaan bocah tersebut. Kepergian Andra dan kedatangan Mereka membuat hari Lany terasa berat tanpa didampingi Alandra si cowok antah berantah- itu.


Dewi menghela napas kasar. Ia selalu saja geram jika mendengar cerita Lany tentang sikap semena-mena Mamak. Wanita itu selalu bertingkah seolah dia berhak atas semuanya.


“Kenapa ya ada orang seperti Bu Lela itu. Dia ndak suka kamu tapi bergantung hidup sama kamu, Lan. Mana ndak pernah menghargai lagi!”


Lany hanya diam mendengar ucapan Dewi. semua yang sahabatnya itu katakan benar adanya.


“Tapi aku ikut senang dengar Bapakmu sudah sedikit berubah."


Lama keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing sebelum akhirnya Dewi melirik jam dinding kemudian menatap Lany yang masih diam seribu bahasa.


“Lan!”


“Ya?" sahut Lany namun tak lekas mengalihkan pandangannya dari layar Hape. Hanya sekedar mengamati sambil bolak-balik mengecek pesan atau mungkin chat dari .... Ya, dia begitu mengharapkan kabar dari orang yang tak kunjung memberi kabar.


“Lebih baik kamu pulang deh, paksakan saja daripada harus bermalam di sini!” bujuk Dewi sambil mengamati seluruh ruangan temaram. Sepi dan hanya terdengar dentingan jam dan suara lalu-lalang kendaraan di depan sana.


Tak kunjung mendapat respon dari Lany, Dewi sama sekali tak menyerah. Ia masih berusaha membujuk Lany agar mau pulang.


“Pulanh yuk, Lan! Sudah malam.” ucap Dewi memelas.


Gadis itu berenggut sambil menggeleng pelan “Kamu pulang saja, Wi. Kasian Kiya, Aku mau di sini saja!"


“Ndak Lan, Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini!" Dewi terdiam sejenak “Bagaimana kalau nginap di rumahku saja? Kamu belum pernah nginap di sana kan?" bujuk Dewi. Namun Lany masih tetap menggeleg.


Lany menghembuskan napas kasar, Ingatannya tertuju padan Andra. Rasa enggan untuk pulang sebenarnya bukan hanya karena keberadaan keluarganya. Namun kepergian Andra membuat ia merasa tak punya tujuan untuk pulang. Jika saja pria itu ada di sana, mungkin ia sudah pulang sejak tadi. Meski ia selalu bersikap acuh pada pria itu, tapi Kehadiran Andra tentu bisa meringankan gejolak batin akibat kehadiran keluarganya. Sejujurnya ia senang dengan keberadaan Andra, dimana pria itu cukup baik dan selalu sabar dalam menghadapi sikap galaknya.


Ya, Lany merindukan keberadaannya. Tak disangka kehadiran Andra membuat hidup Lany sedikit lebih berwarna, dan ia baru menyadarinya setelah pria itu pergi. Lany begitu memikirkan Andra yang baru sehari meninggalkannya. Namun Lany juga kesal, karena dari semalam Andra sama sekali tak memberi kabar. Rasanya ia ingin berteriak dan marah-marah karena hal itu. Dia kecewa pada Andra.


Setelah cukup lama, akhirya Dewi berhasil membujuk Lany untuk pulang. Gadis itu luluh juga. Tentu karena Dewi memberikan dua opsi pilihan. Pulang atau menginap di rumahnya. Dewi bahkan mengancam tidak akan pulang jika Lany tetap ngotot tinggal di rumah makan.


Lany mengenyampingkan egonya sebab tak ingin merepotkan Dewi. Dia tidak ingin Kiya menagis karena tidak tidur bersama Ibunya.

__ADS_1


“Udah duluan gih! Aku pulang kok." sambil memakai helemnya, Lany mempersilahkan agar Dewi lekas pulang lebih dulu. Namun ibu muda itu menggeleng, ia tak akan pulang jika bukan Lany yang pergi duluan.


“Sudah, cepat berangkat! Aku ikut di belakangmu." ujar Dewi menegaskan.


Lany pun hanya memutar mata malas. Ia juga tak bisa membantah perkataan Dewi. Ibu muda itu terlalu protektif. Ya, diantara dia dan Celin, hanya Dewi lah yang paling dewasa dan selalu memberi nasehat kepada mereka berdua. Karena dia dan Celin lah yang paling keras kepala dan suka buat onar.


Lany pun menarik pedal gas dan melaju memecah jalan kota di tengah malam yang masih ramai dengan pengendara yang berlalu lalang.


Terpaan angin malam membuat Lany beberapa kali mengusap lengannya. Dia kedinginan, karena pagi tadi memang lupa membawa jaket. Hanya menggunakan kaos oblong berwarna putih. Tentu itu membuat udara malam dengan mudah menembus pori-pori kulitnya.


“Ya ampun diantar sampai sini beneran" Lany mendengus kesal saat berhenti dan menoleh melihat Dewi ada di belakangnya dan tersenyum puas melihat dia benar-benar sampai di rumah.


“Sudah sana masuk, tuh pintunya masih terbuka!" tunjuk Dewi pada pintu rumah yang memang masih terbuka.


“Protektif banget, ibu!" cebik Lany. Ia Kembali menarik tuas gas dan berbelok ke halaman rumah.


“Aku pulang dulu, tugasku sudah beres!" teriak Dewi sambil melaju pergi.


“Yang suruh antar siapa!" teriak Lany sambil melepaskan helem. Ia bisa melihat Dewi hanya menoleh dengan senyum berpuas diri.


Setelah memarkirkan motor dengan benar. Ia lalu melangkah menuju pintu.


Betapa terkejutnya Lany saat mendapati Ara mennagis dan semua keluarga hanya melihat tanpa mau menghentikan tangisnya. Hatinya sakit sekali ketika mendapati anak seusia Ara belum tidur dan malah menangis sesenggukan di tengah malam buta begini.


“Ara, sayang! Ara kenapa nak?" Lany langsung meraih tubuh mungil bocah itu dan membawanya ke dalam gendongan.


Semua hanya memutar mata malas melihat kedatangan Lany. Pandangan Lany tertuju pada Bapak, dia pikir pria itu sudah benar-benar berubah. Namun nyatanya tidak, bagaimana mungkin mereka semua tega melihat anak sekecil Ara menangis dan tidak ada yang perduli. Lany teringat pada kejadian masa kecil, dimana ia bernasib sama seperti Ara. Meski Anwir pernah berbuat jahat padanya, tapi itu tak membuat ia membenci Ara. Anak itu tak punya salah apa-apa, bahkan nasibnya sama persis seperti Lany kecil.


“Kalian kenapa tega sama, Ara?" Ujar Lany geram sambil menatap mereka semua termasuk Bapak yang bersikap acuh tak acuh.


Ia tahu Ara bukan cucu kandung Bapak, tapi tak seharusnya bersikap begitu pada anak kecil.


“Dia masih kecil, mamak neneknya. kenapa tega siksa cucu sendiri seperti ini?" ucap Lany kesal ketika melihat bekas kemerahan di lengan anak itu.


“Diam Melany! Jangan bela dia, dia menghilangkan kunci motor.” jelas Mamak dengan menatap nyalang.

__ADS_1


“Maklum, nasibnya sama jadi dia suka bela Ara terus!"


__ADS_2