My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 54 [Pamit]


__ADS_3

Dengan menggunakan alasan jika Andra sudah harus kembali bekerja, sepasang suami istri itu baru saja berpamitan pada keluarga Lany. Ya, meski mamak menunjukkan sikap tidak perduli dengan kepergian mereka. Berbeda dengan Bapak, beliau justru begitu sedih mendengar kabar yang Andra dan Lany sampaikan. Tentu itu membuat Lany merasa sikap Bapak benar-benar berbeda dari sebelumnya. Pasalnya, dulu ke manapun Lany ingin pergi, Bapak sama sekali tak pernah bersedih. Ini jelas membuat Lany bingung sendiri.


“Baik-baik di sana ya, Lany. Berbaktilah pada Andra, rukun-rukun dengan mertuamu nanti."


Setiap kali Lany menampakkan wajah terheran saat Bapak memberinya nasehat. Saat itu juga ia merasakan tangan Andra merengkuhnya, mengelus lengannya. Seolah Andra sedang menguatkannya agar tidak bersedih. Padahal Lany sama sekali tidak merasa sedih. Dia hanya tercengang dengan sikap Bapak, semenjak Lany menikah, beliau memang jadi lebih hangat dan perduli.


“Oh, Iya Ara dimana?" Tanya Lany yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Sungguh dia dibuat muak dengan ekspresi sedih yang Bapak tunjukkan. Entah itu sungguhan atau tidak, tapi Lany sama sekali tak tersentuh. Sepertinya rasa sakit yang selama ini mereka goreskan membuat hati Lany tertutup. Ya, walau mungkin di hati kecilnya masih ada sedikit rasa sayang pada Bapak. Tidak ada gunanya bersedih, mereka hanya beda pulau. Bukan beda benua seperti saat dia masih bekerja dulu, Jadi tidak ada alasan untuk ikut terbawa suasana sedih yang sang Ayah berikan.


“Pergi mengaji.”


Lany menoleh dan memutar mata malas saat sadar jika Amwirlah yang menjawab pertanyaannya. Kali ini rasa sedih sedikit menguar dalam hati, dia ingin menunggu keponakannya itu. Namun sebelumnya Andra sudah mengingatkan jika mereka akan langsung kembali ke kota setelah berpamitan, sedangkan yang Lany tahu, Ara baru akan pulang mengaji setelah jam lima sore. Tentu waktu tidak akan cukup untuk bertemu bocah itu.


“Lan.” Lany menatap wajah Andra yang tengah memberinya kode agar segera pamit untuk pergi.


“Boleh tunggu Ara dulu, nggak?" Bisik Lany, membuat Andra sepontan mendekatkan telinganya.


Begitu mendengar permintaan sang istri, Andra langsung menatap Lany. Sedetik kemudian Andra menggeleng dan berkata “Nggak bisa, habis dari sini kita packing dan langsung berangkat ke bandara, neng." Ujar Andra dengan nada bicara selembut mungkin.


“Kenapa cepet banget?" Suara Lany yang sedikit keras membuat Mamak, Bapak dan Anwir menatapnya secara bersamaan. Ia yang menyadari itu langsung memutar mata malas dan mengulang pertanyaan yang sama dengan sepealan mungkin.


“Kok cepet?"


“Kita harus chek in sebelum jam sepuluh, pesawatnya take off jam 10:30." Bisik Andra sambil meneguk tetesan terakhir teh yang tadi Mamak suguhkan.


Lany hanya menghela napas mendegar penjelasan Andra. Tubuhnya seakan lemah tak bersemangat. Bukan karena harus cepat berangkat, namun ia sedih sebab tak bisa bertemu dengan Ara.


Lamunan Lany tersentak saat menyadari Andra tengah menjabat tangan Bapak dan Mamak serta Anwir secara bergantian.


“Saya pamit dulu, kalau ada waktu kami pasti akan sering berkunjung."


“Harus, itu harus.” Bapak menepuk bahu Andra “Jaga Lany, ya. Saya titip dia.”


Lany ikut berdiri menunggu giliran sambil menunggu Andra yang tengah berpelukan dengan Bapak.


“Kumpul saja uangmu banyak-banyak baru bergaya mau sering mengunjungi kami ke sini."


“Mak." Tegur Bapak yang merasa tidak enak hati, “Menantu kita ini sedang pamit, kenapa malah dibilangi begitu!"


Sungguh Lany dibuat geram mendegar celetuk Mamak. Dia hanya bisa mendengus kesal saat Andra menariknya untuk segera bersalaman ketika ia tengah melototkan mata pada ibu tirinya yang tidak tahu diri itu.


Setelah selesai berpamitan, motor yang Andra dan Lany Kendari meninggalkan halaman rumah.


“Mau ke rumah Mamak Mia, nggak?" Andra membuka obrolan lebih dulu saat Lany masih kesal pada Mamak.


“Boleh,” Sahut Lany.


Andra langsung memelankan laju motornya begitu tiba di depan ruman mamak Mia.


Setelah berpamitan dengan mamak Mia yang juga tak kalah sedihnya mendegar kabar keberangkatan mereka. Tidak lama mereka mampir di sana. Sesudah berpamitan, Andra dan Lany di antar keluar oleh mamak Mia.


“Mak, kalau ada kabar tentang mamak ku, kasih kabar ya.” Lany meraih tangan wanita paruh baya berhijab itu. Dari dulu hinga sekarang, hanya Mamak Mia lah tempatnya meminta bantuan untuk mencari keberadaan sang Ibu.

__ADS_1


“Pasti, nak." Mamak Mia memeluk Lany sebagai salam perpisahan, “Baik-baik di sana. Andra, titip Lany ya, nak.”


Andra yang tengah berdiri mengamati interaksi kedua wanita beda generasi itu hanya tersenyum disertai anggukan sebagai jawaban.


Agenda pamitan itu berakhir di rumah Mamak Mia. Karena sudah tidak ada lagi yang akan di tuju, Andra dan Lany memutuskan untuk kembali ke kota setelahnya karena masih banyak yang harus mereka siapkan.


“Lan."


“Ya?" Lany mendekatkan dagunya di pundak Andra agar lebih mudah mendegar apa yang ingin suaminya katakan.


“Kamu masih sering cari ibu kamu, ya?”


Meski Lany tak menjawab, namun Andra bisa merasakan samar-samar Lany menganggukkan kepala di pundaknya. Tentu itu membuat Andra merasa sangat tersentuh.


“Udah cari ke daerah tempat tinggal kamu yang dulu, belum?"


“Udah sering, dari jaman masih kuliah dulu aku sering cari ke sana, tapi nggak ada. Kata warga sudah pindah, mereka juga nggak tau mamak ku pindah kemana." Ucap Lany sendu.


Andra yang melihat itu dari pantulan kaca spion, segera mengarahkan satu tangannya untuk meraih tangan Lany, mengusapnya sejenak kemudian mengarahkan agar melingkar di pinggangya “Sabar ya, kamu harus kuat! Nanti kita cari sama-sama."


Lany yang juga menatap pantulan wajah Andra dari spion pun ikut tersenyum. Dia senang, di saat seperti ini masih ada orang yang bisa menguatkannya.


“Pegangannya di kencengin, Lan." Andra mengakhiri tatapan penuh arti mereka dengan satu kedipan mata, membuat Lany yang tengah tersenyum lebar langsung kaget saat mendengar ucapan Andra. Meski begitu ia tetap menuruti arahan Andra untuk mengeratkan pelukannya.


“Jangan balap-balap, Alandra.” Lany mendaratkan cubitan di perut Andra saat merasa laju motor itu kian bertambah.


“Biar cepat sampai." Ucap Andra sedikit berteriak tanpa melonggarkan tuas gas dicengkeramannya.


“Kalau begini ceritanya, bukannya cepet sampai rumah kita malah sampai di rumah sakit, auto pindah alam." Lany yang benar-benar takut dibawa kebut-kebutan di jalan poros, terus berteriak membuat beberapa pengendara lain menoleh ke arahnya.


“Aku belum mau mati, huuuu” Lany yang ketakutan kian menelusupkan wajahnya di punggung sang suami.


“Mulut neng, mulut. Kata-katanya nyeremin banget, sayang." Andra tersenyum sambil menggeleng kecil melihat reaksi Lany. Sedangkan laju motor itu perlahan mulai melambat, tidak sekencang tadi.


.


Begitu sampai di rumah, keduanya langsung melakukan packing. Andra membantu Lany mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.


“Seperlunya aja, neng. Jangan banyak-banyak." Tegur Andra saat melihat Lany memasukkan banyak pakaian ke dalam kopernya yang berukuran sedang. Belum lagi satu totebag berisi perintilan ala wanita sudah menggendut seperti ikan buntal.


“Ya elah, ini masih sedikit kali, bang." Lany sama sekali tak menghiraukan ucapan Andra, ia terus memasukkan barang-barang yang menurutnya diperlukan.


“Nggak mau rugi banget nih di suruh bayar bagasi.” Seloroh Lany yang mana langsung dijawab gelengan oleh Andra.


Tentu saja, bukan itu yang jadi masalahnya. Dia tidak ingin dibilang perhitungan hanya karena enggan bayar biaya tambahan.


“Eh, bukan gitu. Maksudku tuh ...." Baru Andra ingin menyanggah, Lany sudah memotong ucapannya lebih dulu.


“Udah deh, Ayo cepetan! kayaknya Dewi sama Riswan udah datang tuh." Celetuk Lany saat mendengar suara klakson mobil.


Andra yang juga mendengar itu hanya menghela napas. Ia tak lagi berniat mendebat Lany. Jam sudah menunjukkan setengah enam. Itu artinya mereka harus segera berangkat jika tidak ingin ketinggalan pesawat.

__ADS_1


“Hp syamsulnya jangan dilupain, neng." Andra yang barus saja selesai mengangkut barang-barang milik ia dan Lany ke bawah, kini kembali ke kamar untuk menunggu istrinya yang tengah bersiap.


“Hp syamsul apaan?" dengan kening mengkerut Lany menatap heran pada Andra, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya itu.


“Tuh." Menggunakan dagu, Andra menunjuk meja rias yang di atasnya terdapat Hape yang bisa dilipat miliknya.


“Oh iya," Lany nyengir kuda lalu meraih Hape tersebut “Nih." Lany menyodorkan hape itu pada Andra membuat pria itu mengerutkan keningnya.


“Pake aja, hp kamu hilang, kan?"


“Serius? Nggak rugi? Hp mahal loh ini." Lany menatap Andra, mencari keseriusan di mata suaminya itu. Namun Andra yang ditatap seperti itu justru mengarahkan telapak tangannya mengusap wajah Lany.


“Nggak lah, sama istri mana ada ruginya sih." Seloroh Andra, tangan yang tadinya mengusap wajah Lany, kini mendarat mengacak-acak rambut istrinya itu.


“Iya sih, apalagi hp ku kan hilang karena kamu. Jadi kamu yang harus ganti rugi." Teriak Lany sembari merapikan rambutnya yang berantakan karena Andra.


Pria itu sudah melangkah keluar kamar lebih dulu. Meninggalkan Lany yang masih harus mengenakan hoodienya.


“Hp itu ada kartunya, baru! Jangan lupa salin nomor keluarga dan teman-teman kamu.” Lany menatap heran saat melihat Andra kembali muncul di ambang pintu kamar.


Tanpa menunggu sahutan dari Lany, Andra berbalik dan segera menghampiri Dewi dan Riswan yang sudah menunggu sejak tadi.


Setelah melakukan apa yang Andra katakan. Lany menyimpan nomor Elsa dan Bapak, tak lupa juga dia menyimpan nomor Dewi dan Riswan di hp yang Andra berikan.


“Jaga rumah, jangan bawa temanmu berbuat macam-macam di sini." Peringat Lany pada Elsa yang tengah berdiri di sampingnya.


Bukannya mengiyakan, mata Elsa justru lebih disilaukan dengan benda yang sedari tadi Lany pegang.


“Kamu hp baru, Lany?"


“Dih, ditanya apa, jawabnya apa.” Lany yang geram hampir menyentil mulut adiknya itu. Membuat Riswan dan Dewi, juga Andra yang melihatnya ikut menahan tawa.


“Ih, Iya." Ketus Elsa yang merasa dipermalukan.


“Udah nggak ada lagi kan?" Mata Riswan menelisik mencari barang-barang yang mungkin belum masuk ke mobil. Tapi tidak ada sama sekali, sebab tadi Andra sudah memasukkan semuanya.


“Berangkat sekarang saja, biar tidak terlambat."


Sementara Lany, ia segera mengambil alih Kiya dari gendongan Dewi.


“Biar sama onty ya, Kiy." Lirih Dewi sambil menghujani wajah Kiya dengan ciuman.


“Duh, Kita jadi merepotkan gini!" Seru Andra saat mereka sudah naik ke dalam mobil. Sebenarnya Andra sudah memesan mobil travel, namun dibatalkan karena Riswan memaksa untuk mengantar ia dan Lany. Sejujurnya Andra tidak ingin merepotkan siapa-siapa, tapi karena Lany juga ingin diantar oleh kedua sahabatnya itu, Jadilah Andra tak bisa berbuat banyak dan terpaksa menyetujuinya.


“Santai saja, Andra. Kami justru senang bisa mengantar kalian. Inikan mobil punya Lany juga." sahut Riswan sambil menepuk punggung Andra, tak ingin suami Lany itu merasa sungkan.


“Iya Andra, santai saja, Kitakan sahabat. Lagi pula kalau kalian pergi entah kapan lagi kita bisa ketemu.”


Mereka pun sama-sama tersenyum haru saat menyadari apa yang Dewi sampaikan. Andra sendiri merasa beruntung, istrinya memiliki sahabat yang begitu baik.


Mobil pun melaju, Andra, Lany dan baby Kiya duduk di kursi belakang. Sementara Dewi dan Riswan di depan. Awalnya Andra menawarkan diri untuk mengemudi karena tak ingin terlalu merepotkan Riswan. Namun ia baru sadar ketika Lany mengatakan mereka bisa tiba dengan terlambat jika Andra yang mengemudi sebab tidak menghapal jalan. Kalaupun menggunakan bantuan gugel maps, hasilnya tetap sama. Laju mobil akan lambat karena Andra harus memerhatikan dan menunggu arahan dari petunjuk arah.

__ADS_1


__ADS_2