My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 55 [Awal Kisah Yang Sesungguhnya]


__ADS_3

Sambil menunggu pesawat take off, Lany dan Andra yang sudah berada di dalam pesawat tengah larut dengan pikiran masing-masing.


Andra sendiri sibuk dengan Hapenya, sementara Lany yang duduk di pinggir tengah fokus mendengarkan arahan dari pihak Flight Attendent yang sedang memberikan safety demonstrasi. Namun tiba-tiba pikiran Lany tertuju pada Ara, ia merasa bersalah sebab tidak sempat berpamitan pada bocah kecil itu.


“Kenapa?" Andra yang menyadari perubahan raut wajah pada istrinya kemudian menarik Lany agar bersandar di tubuhnya.


Lany hanya menggeleng, tak ingin Andra tahu apa yang membuatnya sedih.


“Cerita sama aku,”


Lamat-lamay Lany menatap wajah suaminya itu. Ingin rasanya ia berteriak di wajah Andra, mengatakan jika dirinya tidak akan cerita apapun. Sama seperti dirinya yang tidak mau terbuka hingga saat ini. Huh, entah mengapa, tiba-tiba saja emosi Lany tersulut mendengar kata-kata Andra barusan. Ingin rasanya ia marah, tapi sebisa mungkin Lany mengenyampingkan egonya, mengingat perjanjian yang telah mereka buat. Apalagi mereka sedang berada di pesawat.


Sungguh Lany dibuat kesal kesendiri, ingin marah tapi tidak bisa. Diapun heran kenapa harus kembali kesal begini padahal tadi ia tengah memikirkan Ara, tapi kenapa emosinya malah tersulut mendegar kata-kata Andra yang menurut Lany, sok bijak! (Hmmmnt, si Lany kumat lagi nih🤐)


“Hey," Bisik Andra tepat di telinga Lany. Membuat Lany segera menggeleng. Kemudian dengan tidak tahu malunya memeluk tubuh Andra hanya untuk meredam emosinya.


Andra yang diperlakukan seperti itupun membalas pelukan Lany, bibirnya ia biarkan menempel pada kepala sang istri.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Tepat pukul satu kurang sepuluh menit, Andra dan Lany tiba di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Lany yang tadi sempat tertidur selama penerbangan, kelihatan masih begitu mengantuk. Dengan lesu Lany berjalan di samping Andra yang tengah mendorong trolli.


“Pak Andra.”


“Hey, Nov!"


Lany yang tadi mengantuk berat, seketika langsung segar saat mendengar seorang wanita memanggil nama Andra. Mata Lany yang tadinya sayup-sayup kini terbuka lebar menatap wanita yang tengah tersenyum lebar pada Andra. Dengan wajah datar Lany menatap wanita yang dipanggil Andra dengan sebutan "Nov" itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Penampilannya casual, mengenakan celana kain dipadukan kaos putih dan blazer sebagai outernya.


Wanita yang menurut Lany terbilang cantik itu beralih menatapnya dengan senyum seramah mungkin. Namun, bukannya senang, Lany justru hanya menatap datar. Entah apa yang dipikirkan, tapi Lany tidak suka dengan kehadiran wanita itu. Terlebih lagi dia kelihatan begitu akrab dengan Andra. Ah, kenapa rasanya semenyebalkan ini.


Lany yang malas mendengar obrolan kedua orang di sampingnya itu pun merogoh hp dari tasnya. Dia hanya berpura-pura sok sibuk saja, hanya untuk mengusir perasaan kesal di hatinya. Entah apa yang keduanya obrolkan, Lany sama sekali tidak mengerti dan tidak mau mengerti.


“Boleh foto dulu, nggak?" ucapan Lany membuat obrolan Andra dengan wanita yang menurut Lany bernama Nov itu berhenti seketika.


“Jangan kepedean, Dewi cuma minta pap." Belun sempat Andra menanyakan apa alasannya, Lany sudah menjawabnya lebih dulu.


Tentu itu membuat Andra yang sebenarnya tidak mempermasalahkan apapun alasannya hanya tersenyum mendengar jawaban Lany.

__ADS_1


“Kamu yang minta juga nggak apa kali," Andra tertawa kecil sambil melirik wanita bernama Novi kemudian menatap Lany setelahnya, tentu itu membuat perasaan Lany seperti diterpa sesuatu. Ah, sudahlah! Jika kalian tahu perasaan kesal saat melihat gebetan kita mendekati wanita lain. Kurang lebih seperti itulah perasaan Lany saat ini. Dia ingin meledak tapi ditahan, mengingat ini tempat umum dan ada kesepakatan yang telah ia dan Andra sepakati.


Sementara Andra, ia lalu meraih hape dari tangan Lany, kemudian mengambil gambar mereka dengan posis begitu dekat. Setelah selesai, Lany langsung merampas hp itu dari tangan Andra.


“Mau lagi mggak? Biar difotoin Novi,"


Lany melirik Novi yang kelihatan antusias mendengar ucapan Andra, Lany sama sekali tidak terkesan. Ia justru dibuat kesal sendiri.


“Nggak," Sunggutnya yang kembali sibuk dengan dunia perhapeannya, sedang berkirim pesan dengan Dewi. Sepertinya, ibu satu anak itu memang sengaja menunggu kabar dari Lany hingga belum tidur sampai larut malam seperti ini.


Ih, Andra ini menyebalkan sekali! Lany terus menggerutu sebal, ia yang sudah begitu lelah ingin sekali merebahkan tubuh di kasur tapi Andra justru malah asyik mengobrol dengan wanita yang entah siapa dia. Bahkan obrolan mereka begitu mengganggu bagi Lany hingga membuatnya harus mengumpat dalam hati.


“Nah, itu dia." Lany ikut menoleh saat si Novi menunjuk seorang pria berseragam hitam mendekat ke arahnya. Bahkan Andra ikut tersenyum saat orang itu datang.


“Maaf lama, tadi saya ke toilet," Andra menepuk bahu pria tersebut saat hampir membungkukkan badannya.


Kini Lany mulai mengerti, yang membuat mereka tetap berada di bandara ini adalah karena si bapak yang sepertinya seorang supir ini pergi ke toilet, bukan salah Andra atau si Nov Nov itu. Tapi, apa pun itu, bagi Lany Andra dan si Novi itu tetap menyebalkan.


“Yuk, Lany pasti sudah capek." Andra menautkan tangannya dengan Lany kemudian menggandengnya melangkah lebih dulu. Lany ingin protes sebab Andra menjadikan dirinya alasan dan meninggalkan barang-barang mereka. Namun, urung ketika ia menoleh dan melihat Bapak berseragam tadi tengah membawa barang-barang tersebut.


Sepanjang perjalanan Lany hanya banyak diam, gemerlap suasana malan ibu kota mengingatkan ia pada setiap suasana kapal saat sandar di kota-kota besar.


Entah perasaan macam apa ini, ia seperti hanyut ke dalam lirik lagu dari salah satu musisi kenamaan tanah air. Pandangan Lany tertuju pada Andra yang ternyata juga tengah menatapnya sedari tadi. Hal itu sontak membuat hati keduanya sama-sama bergetar hebat.


Seulas senyum terukir dari bibirnya, bersamaan dengan Andra yang menarik Lany ke dalam rengkuhan hangat yang selalu membuatnya merasa nyaman.


“Ini awal kisah kita yang sesungguhnya, Lan” Satu tangan Andra tergerak menggenggam tangan Lany, kuat dan erat. Seolah mereka akan terpisah jika saja Lany lepas dari genggamannya.


Sejujurnya Lany merasa risih dengan situasi seperti ini, apalagi di sana ada si Novi dan pak supir. Tapi di sisi lain, Lany begitu tersentuh dengan ucapan Andra, namun kehadiran Novi benar-benar mengusiknya.


“Kita harus tetap sama-sama apapun yang terjadi nanti." Kini Andra sudah menyatukan kening mereka, seperti adegan dalam drakor saja. Bermesraan di dalam mobil tanpa menghiraukan orang lain yang ada. Serasa dunia milik berdua, yang lain cuma lewat.


Setiap kali pikiran Lany memikirkan hal yang lain, membuat batasan hingga tahu tentang Andra yang sebenarnya. Tapi Andra selalu bisa membuatnya bergetar dan mengatakan sesuatu yang Penuh makna.


“Kalau aku tersesat, ingetin aku.” Sungguh Lany tak ingin benar-benar mengamati dan merespon ucapan Andra, matanya hanya tertuju pada Novi.


Kalau mereka ada sesuatu, seharusnya si Novi ini marah dong liat Andra kayak begini. Lany terus berpikir keras tanpa menghiraukan sorot mata Andra yang tengah menatapnya dalam-dalam. Ya, kayaknya mereka memang tidak ada hubungan spesial, kalau ada, mana mungkin Andra berani kayak ... Ih apa-apaan sih! Lany kembali mengusir pikirannya. Ia kembali membawa pikirannya ke jalur yang benar dan berpositif thinkking pada Andra. Mereka suami istri, tentu si Novi bukan siapa-siapa. Begitu Lany meyakinkan diri.

__ADS_1


Bisa saja kamu istri kedua!!


Tapi sialnya, pikiran itu kian merajalela dan mendoktrinnya dengan pikiran menyebalkan. Namun untungnya pikiran sialan itu buyar saat Andra mendaratkan kecupan di pipinya.


“Lan.."


“Eh..” Lany tersentak, ia sedikit heran melihat Andra yang menjadi lebih agresif seperti ini.


“Denger kata-kata ku tadi nggak, sih?"


Ragu-ragu Lany menggeleng, membuat Andra hanya menghela napas. Selalu seperti ini, setiap kali ingin romantis, pasti Lany selalu saja melakukan hal yang membuat suasana romantis itu menguap begitu saja.


“Ya udah sih, tinggal ulang aja ribet." Celetuk Lany sambil menatap ke sembarang arah, sebab Andra tengah menatapnya dengan tatapan yang mampu membuat imannya runtuh.


“Ulang, tadi kamu bilang apa!" Seru Lany lagi saat merasa dirinya masih tidak aman. Berusaha agar Andra berhenti menatapnya.


“Nanti aja diliulangnya, sekarang turun dulu yuk."


Andra melepaskan rengkuhannya saat mobil itu berhenti tepat di depan sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi.


Tanpa harus dijelaskan, dengan melihat interior gedung saja Lany sudah bisa menebak jika ini adalah sebuah apartemen.


Lany bisa bernapas lega saat Novi pergi dengan pak supir tadi. Tentu itu makin menguatkan tebakannya jika Andra dan wanita itu memang tidak memiliki hubungan lebih.


“Kamu tinggal di apartemen?” Tanya Lany begitu masuk di ruangan yang cukup besar, yang memiliki dua kamar, ruang tamu, dapur yang terdapat mini bar di dalamnya dan juga ada beberapa ruang yang tidak tahu apa fungsinya.


“Mandi dulu gih, biar aku pesenin makan buat kamu dulu." Setelah meletakkan tasnya, Andra membuka hoodie putih yang ia kenakan.


“Besok aja lah makannya, udah tengah malam juga ini." Sunggut Lany kesal, ia jelas tahu Andra sedang menghindari pertanyaannya.


Lany yang tak ingin berdebat hanya bisa pasrah. Sepertinya dia memang hanya akan tahu dengan sendirinya seperti yang Andra katakan malam itu. Ya, sepertinya demikin.


Its okey, aku ikut alur yang kamu bikin. Semoga suatu saat aku nggak akan kecewa.


Sepertinya ini memanglah awal kisah mereka yang sesungguhnya, kisah yang awal dan akhirnya sama sekali tak terduga bahkan tak terpikirkan sedikitpun. Meski demikian, Lany sudah menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada.


...🍂🍂🍂🍂...

__ADS_1



Salam sayang dari yang lagi selfie😅❤️


__ADS_2