
Setelah berhasil menenagkan Ara, Lany membawa bocah itu ke kamarnya. Ara sudah terlelap dalam gendongannya, membuat Lany harus hati-hati meletakkan bocah itu ke atas tempat tidur. Perlahan Lany beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian malaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Kata-kata Andra yang menginginkan mereka sama-sama berubah jadi lebih baik membuat Lany tersentuh. Selama ini ia termasuk lalai, karena jarang melakukan kewajiban itu. Entah sudah sebanyak apa dosanya. Setelah bedo'a, memohon pengampunan dan segalanya pada sang pencipta. Lany beranjak memeriksa ponselnya, masih tetap sama. Tak ada apa-apa di sana. Rasanya begitu sakit ketika mengharapkan sesuatu namun harapan malah tak sesuai dengan kenyataan. Ia lalu merebahkan dirinya di kasur tanpa melepas mukena yang dikenakan.
“Kamu kenapa nggak ngabarin aku, Andra? Apa kamu cuma hadir buat bikin aku terkesan dan pergi agar hidup ku semakin tersiksa?” Gumam Lany sambil menatap langit-langit kamarnya. Ruangan itu temaram, hanya cahaya lampu led yang tertempel menyinari kamar dengan warna rainbow.
Hati Lany bergejolak mengingat semua tingkah dan sikap baik, penuh kelembutan suaminya yang berhasil membuatnya luluh. Meski kadang bersikap acuh dan galak. Namun tak bisa dipungkiri, ia sama sekali tak menafikan jika dirinya mulai jatuh hati pada Andra.
Ia merasakan sesak di dadanya ketika dirinya menyadari punya perasaan berbeda terhadap Andra, pria yang ditolaknya berkali-kali namun tetap memaksa masuk di hidupnya itu kini malah menorehkan keraguan karena kepergiannya. Perasaannya tersesat di tengah persimpangan dilema. Antara menunggu atau memupuskan harapan karena pria itu tak kunjung memberi kabar setelah begitu banyak omong kosong yang ia sampaikan dan tak ada satupun yang terealisasi. Dari perasaan yang mulai mengagumi kini rasa itu berubah bimbang. Ia takut menjatuhkan harapan di saat seperti ini. Ia tak ingin terluka lebih dalam dengan mengaharapkan Andra.
Perasaan sesak itu kiat mencuat ketika pandangannya menoleh pada wajah sendu Ara. Pikirannya berkecamuk, perasaan sedih dan kasihan membaur jadi satu antara Andra dan Ara. Dua orang yang membuatnya bersedih alam ini.
Malam itu pun ia habiskan dengan menangis, menumpahkan semua rasa dalam dirinya. Hingga membuat ia terlelap dalam keadaan sendu.
...🦋🦋🦋🦋...
Pagi-pagi sekali Lany sudah bangun dan membersihkan rumah. Kehidupannya setelah menikah agak sedikit berbeda, dia punya Andra yang tiap hari akan mebantunya beres-beres. Dan sekarang ia kembali melakukan semuanya sendiri, agak berat memang tapi dia tetap mengerjakannya. Karena tamunya sangat berlagak seperti bos di rumah itu. Dia diperlakukan seperti saat kecil dulu. Namun ia juga tak mau mangkir dari rutinitas hariannya, sebab sudah pasti rumah akan menjadi tak terurus. Mamak dan Elsa sudah terbiasa menjadikannya babu tanpa mau membantu. Tidak tahu diri memang!
Dia baru saja selesai menyapu di halam rumah, saat masuk Mamak dan Elsa kompak ke luar dari dua kamar yang bersebelahan di ruang tengah.
“Bikinkan kopi, Lany!" seru Mamak sambil menggulung rambutnya.
“Sudah siap semua, tuh!" Lany menunjuk ke arah dapur yang berada di ruangan belakang ruang tengah.
Pandangan Lany teralih pada Elsa yang kembali masuk ke kamarnya dan keluar sambil melemparkan dua lembar pakaian padanya.
Lany menatap dengan geram, sorot matanya menggambarkan ia tidak terima dengan kelakuan si cewek -frozen- ini.
“Cucikan pakaianku. Aku mau kuliah, ada kelas pagi!" katanya sambil kembali masuk kamar dan keluar bawa handuk di bahu.
__ADS_1
“Enak saja! Aku bukan pembantumu ya, Elsa!" tolak Lany sambil melemparkan cucian itu ke muka Elsa yang sudah berdiri di depan pintu.
“Ish." cebik Elsa tak suka sambil beralih menatap Mamak. Pastinya sedang mengisyaratkan pengaduan. Dasar beban keluarga!!
“Cucikan dia, Lany! Jangan perhitungan.” Mamak melangkah menuju dapur.
Baru Lany ingin melayangkan penolakan. Mulutnya kembali terkatup mendengar suara Bapak.
“Cuci sendiri saja, Elsa! Jangan susahkan Kakak mu!" Lany menoleh pada Bapak yang kelihatan baru selesai mandi, handuk melingkar di lehernya. Ya, dari tiga kamar yang ada di rumah itu hanya kamar Lany saja yang memiliki kamar mandi di dalam. Jadi, mereka harus mandi di kamar mandi yang ada di sebrang dapur.
Lany puas melihat kekesalan di wajah si -frozen- gadis manja yang menyebalkan itu. Ia tak menyangka Bapak kembali melakukan pembelaan untuknya. Namun itu tak membuatnya luluh begitu saja. Ia bergegas naik ke atas, meninggalkan Bapak yang terlihat ingin menyapanya. Namun ia keburu pergi dan bersikap acuh.
Saat naik tangga Lany bisa mendengar teriakan Elsa yangengeluh karena kewalahan mencuci sendiri. Bahkan Mamak juga mengomeli Bapak karena lagi-lagi membela Lany.
“Kenapa juga Bapak tidak suruh Lany bantu Elsa cuci bajunya!" Mamak terdengar geram.
“Jangan memanjakannya! Elsa juga harus bisa mandiri. Sudah ditampung di sini, jangan menyusahkan Lany terus."
...___...
“Ara, makan dulu!" gadis kecil itu menoleh pada Lany yang datang sambil membawa piring berisi makanan.
“Adek Kiya ndak makan, tante Lany?" Ara kembali menoleh pada anak Dewi yang tengah sibuk menggigit mainannya.
“Nggak, adek Kiya belum boleh makan beginian. Dia makannya bubur dan mimi susu dari Ibunya.” jelas Lany sambil mulai menyuapi Ara.
Lany memang sengaja membawa Ara ikut dengannya. Ia takut bocah itu kembali diperlakukan seperti semalam. Dan satu-satunya cara untuk melindunginya adalah dengan membawa ia bersamanya. Lany ingin menebus waktu untuk menemani bocah yang kurang kasih sayang persis sepertinya itu. Tak bisa dibayangkan. Selama ia kerja di kapal, jelas Ara juga sering mendapat perlakuan seperti itu dan sudah pasti tidak ada yang bela. Dan sekarang Lany berniat ingin melindungi bocah itu, dia tidak ingin Ara tumbuh seperti dirinya yang penuh luka.
“Ara.”
__ADS_1
“Ya?" dengan mulut penuh, Ara menoleh pada Lany. Tangan mungil bocah itu. Terus memegangi tangan baby Kiya.
“Ara hilangin kuci motor nenek mamak?” Lany sudah bertanya sepelan mungkin, namun gadis kecil itu kelihatan begitu ketakutan. Itu membuatnya merasa bersalah.
“Ara ndak kasih hilang, nenek yang simpan. Dia salahkan Ara!" bocah itu ketakutan. Ini akibat kesalahan yang bukan diperbuat olehnya tapi malah ditumpahkan padanya. Lany pun tak melanjutkan pertanyaannya, ia tak ingin membuat gadi itu sedih.
“Tante Lany tinggal kebelakang dulu ya, nak. Jaga adek Kiya, kalau menangis panggil saja Ibunya!" Lany menunjuk Dewi yang tengah sibuk melayani pelanggan.
Setelah mendapat anggukan dari Ara. Lany kembali ke dapur. Ia membantu proses packing makanan yang akan segera diantar Riswan untuk katering hajatan salah seorang pejabat di kotanya.
Riswan dan beberapa pekerjanya pun sudah berangkat menggunakan mobil jenis SUV yang di kaca belakangnya tertempel stiker dengan tulisan ““Rumah Makan LaperPool Mrs Mel-Mel”
Lany mendudukkan diri di kursi kayu yang terdapat di samping area parkir, tepat di bawah pohon pucuk merah yang cukup rindang. Gadis berambut pirang itu merogoh saku jumpsuit levis yang dikenakannya. Ia mengeluarkan benda pipih dari sana.
Setelah cukup lama mengutak-atik benda tersebut, wajahnya berubah murung. Lebih mendung dari sebelumnya. Ia kecewa sebab tak ada satupun notifikasi dari orang yang diharapkan. Untuk yang kesekian kalinya Lany harus menelan pil pahit. Beberapa kali mengecek Hp hanya demi melihat notifikasi namun selalu berujung kecewa. Rasanya sakit sekali, sudah hampir tiga malam semenjak kepergiannya. Andra sama sekali tak memberi kabar apapun.
“Jahat!" lirih Lany dengan bulir bening yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
“Kalau nggak mau diharapkan jangan beri harapan!” tangan Lany bergerak mengusap pipinya secara kasar.
Seharusnya dari awal dia tak mudah luluh, ia menyesali kebodohannya. Ia mengutuki perasaannya yang begitu gampangan. Murahan! kata itu yang ia sematkan pada dirinya yang bodoh tak pernah membuat benteng pertahanan pada pria Antah berantah itu. Dan sekarang ia harus terluka karena harapannya sendiri.
Melalui hari tanpa kabar dari pria itu terasa begitu menyesakkan. Ini yang menyebabkan ia takut terlalu cepat membuka hati. Ia takut menerima kenyataan seperti ini, apalagi ia sama sekali tak tahu asal usul suaminya itu. Ia hanya tahu tempat tanggal lahir dan nama Ayahnya dari bio yang tertera di Buku nikah. Namun mau dikata apalagi, sepertinya Andra sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya. Bisakah itu bertahan lama jika sikap Andra yang seperti ini membuat ia ragu dengan segala pikiran yang tidak-tidak bertraveling di kepalanya.
“Kenapa lagi, kamu?"
Secepat kilat Lany mengusap air matanya saat Dewi sudah duduk di sampingnya sambil menggendong Kiya dan ada Ara juga di sampingnya.
“Ndak kenapa-kenapa, cuma kelilipan." seloroh Lany cepat kemudian berdiri.
__ADS_1
“Aku cuci muka dulu, Wi!" Ara sama tante Dewi dan adek Kiya dulu ya, tante Lany mau ke kamar mandi.” Setelah mengelus kepala Ara dan mencubit pipi Kiya, Lany segera pergi meninggalkan Dewi yang menatapnya dengan sejuta tanya dan terheran-heran.