My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 77 [Bawalah Pergi Cintaku]


__ADS_3


Andra yang hanya berpakaian santai, celana pendek rumahan yang dipadukan kaos putih nampak serius duduk di balik meja kerja. Tangannya terus tergerak menggerakkan mouse dan sesekali jemari kekar itu menari di atas keyboard. Mata tajam di balik kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya membuat kesan serius terpancar di wajah Andra. Setelah mengurus keperluan sang istri, ia harus kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor yang terbengkalai akibat tidak masuk seharian tadi.


Namun, seketika ia menoleh saat mendengar suara Lany berteriak memanggil-manggil namanya.


“Andra, Andra..!? Kamu dimana??"


“Sini neng, aku di ruang kerja!" Sahutnya dengan pandangan yang harus kembali fokus ke monitor tapi mata itu beberapa kali melirik ke arah pintu yang terbuka.


“Alandra!”


“Kenapa, sayang? Ada apa?" Ia kembali menoleh saat Lany sudah muncul di balik pintu yang sengaja tidak ia tutup untuk memudahkan, jika saja istrinya itu membutuhkannya seperti saat ini.


“Sibuk ya?" Lany berhenti tepat di bibir pintu sambil menatapnya dari sana.


“Lumayan," Matanya kembali melirik layar monitor dan Lany secara bergantian. "Sini masuk!”


Perlahan Lany mulai melangkah masuk. Konsep monokrom yang begitu soft langsung menyambut saat pandangannya menyapu ruangan tersebut. Di sana terdapat almarai dan dua rak besar berisi buku, dokumen dan beberapa pajangan di dalamnya, mulai dari figura, piala, piagam, medali dan berbagai benda sejenis akrilik terpajang sebagai furniture wajib di sana.


Sedangkan meja kerja Andra membentang diantara sudut sampai setengah sisi jendela kaca hingga membentuk huruf L. Di sana Andra tengah duduk menghadap ke arahnya. Ini pertama kali bagi Lany menginjakkan kaki di ruangan tersebut, matanya kini beralih menengok pada pajangan di dinding, juga ada banyak figura yang terpajang. Mulai dari foto keluarga, pemandangan dan foto sejenisnya yang mungkin hasil jepretan Andra. Di sudut lain, Lany juga melihat ada beberapa kamera dan perintilannya di sana.


“Kenapa? Butuh sesuatu?” Andra melepaskan kaca matanya kemudian menatap Lany yang masih sibuk mengamati foto-foto yang terpajang.


“Ini adik kamu?” Namun, bukannya menjawab Lany malah melayangkan pertanyaan sembari menunjuk foto keluarga yang di dalamnya ada gambar Mami, Papi, Dara dan juga Rival. Lany yang baru melihat wajah adik perempuan suaminya itu nampak terkesima dengan wajah cantiknya.


Dan Andra hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan anggukan, membuat Lany kembali mengamati foto tersebut dan beralih pada foto Mami dan Papi. Tidak dengan Rival, toh dia sudah beberapa kali ketemu dengan pria itu.


“Pak Ervano ganteng banget ya, kayak bule!”


“Dan Ibu kamu cantiknya beda, Indonesia banget!”


Lagi-lagi ia hanya tersenyum mengamati wajah antusias Lany dari mejanya, istrinya itu kelihatan begitu menggemaskan.


“Pantesan aja kamu sedikit kebule-bulean, orang Kamu sama Pak Ervan mirip, nggak beda jauh loh ini!" Celetuk Lany lagi yang mana membuat Andra langsung beranjak.


“Berarti aku ganteng dong, ya!?”


Bisikan Andra yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya, membuat Lany menggeliat saat napas hangat itu berhembus diantara leher hingga ke pipinya. Membuat ia selalu merasakan sesuatu yang mendebarkan.


“Dih, kepedean banget, bang!" Cebik Lany.


“Bukan pede. Kan tadi kamu yang bilang Papi ganteng, terus kamu juga bilang aku mirip Papi, itu artinya secara nggak langsung kamu bilang aku ganteng, Kan mirip!” Jelas Andra panjang lebar sambil mengerlingkan mata menatap Lany yang hanya mengkerutkan kening mendengar ucapannya.


“Iya deh, iya, abang ganteng! Tapi lebih ganteng lagi kalau mau nurutin kemauanku!” Senyum lebar itu diikuti dengan alis mata yang diturun naikkan, berharap agar Andra akan mengikuti keinginannya.


“Mau apa emang?" Tanya Andra heran.


“Mau makan, tapi makan di luar, yang menunya itu makanan Indonesia.”


Ucapan Lany membuat Andra lantas mengerutkan kening. Bukan tidak ingin, tapi ia tidak yakin apakah Lany sudah sekuat itu untuk di ajak makan malam di luar, mengingat kondisinya baru pulih.


“Andra!” Lany lantas menggoyangkan tangan Andra saat suaminya itu tak menjawab tapi hanya menatapnya dengan wajah datar.


“Boleh nggak?” Desak Lany.


“Emang kamu udah kuat kalau harus keluar?" Andra balik bertanya, berusaha meyakinkan. Sebab ia benar-benar tidak ingin jika kondisi Lany harus drop seperti kemarin malam.


Melihat anggukan dari Lany, Andra langsung mengusap rambut pirang yang terurai itu. Ia akan mengikuti keinginan sang istri, yang sepertinya bosan berada di dalam ruangan dan ingin menikmati suasana makan malam di luar. Ia akan menjaganya dengan baik, begitu pikir Andra.


“Ya udah siap-siap gih, aku ada tempat rekomended. Pasti kamu suka!" Pungkasnya memutuskan.

__ADS_1


“Yes,” Saking senangnya, Lany langsung melingkarkan pelukan di tubuh Andra. Ia benar-benar senang karena Andra mau menuruti keinginannya.


“Makasih Andra!"


Andra yang diperlakukan seperti itu langsung tersenyum simpul, tak lupa membalas pelukan Lany dengan tak kalah eratnya.


“Sama-sama sayang.” Kecupan hangat beberapa kali mendarat di puncak kepala Lany.


“Udah, siap-siap duluan sana! Aku selesain kerjaanku dulu, sedikit lagi kok.”


Senyum merekah kembali terpancar dari wajah Lany, bersamaan dengan pelukan yang terlepas saat ia mulai beranjak ke kamar untuk bersiap.


Beberapa saat kemudian, Andra sudah selesai dengan pekerjaannya. Begitu masuk kamar, ia langsung mendapati Lany yang sudah siap menggunakan dress dengan rambut terurai tengah duduk di sofa.


Sambil melangkah ke sisi nakas, tak lupa ia mengulas senyum pada sang istri. Setelah meletakkan kaca mata yang tadi ia gunakan, kini Andra melangkah ke depan lemari. Membukanya dan meraih celana jeans dan hoodie berwarna hitam, tak lupa ia kembali membuka lemari tempat pakaian Lany. Kemudian melangkah ke arah sang istri setelah mendapat apa yang ia cari.


“Pakai ini." Andra menyodorkan sebuah jaket berwarna mocca pada Lany.


“Biar nggak dingin!" Ucapnya lagi.


Setelah Lany meraihnya tanpa membantah, ia kemudian kembali melangkah, “Bentar ya, aku ganti baju dulu.”


Begitu selesai, tak lupa ia merapikan jaket Lany. Memastikan agar istrinya itu tidak kedinginan karena angin malam. Setelah benar-benar pas, ia lalu menggenggam tangan Lany dan melangkah keluar dari apartemen.


...----------------...


Andra dan Lany tiba di sebuah cafe dengan konsep lesehan yang begitu ramai. Keduanya melangkah dari pelataran parkir memasuki kawasan cafe. Sayup-sayup suara lantunan musik dan lagu menyambut kedatangan mereka.


Andra sengaja membawa Lany ke tempat ini, karena tadi istrinya itu berkeinginan makan makanan menu Indonesia. Sedangkan lesehan memang identik dengan budaya Indonesia, selain itu ia juga memang sering ke tempat ini dan menu makanan yang tersedia pun kebanyakan khas Indonesia.


“Duduk lesehan nggak apa kan?” Andra menatap sang istri yang nampak tersenyum menikmati suasana.


Lany menggeleng dengan manatap, “Nggak dong.”


“Sini!” Andra membantu mengarahkan Lany duduk lesehan di sana, “Pelan-pelan!" Ia begitu memperlakukan istrinya dengan baik.


Selain duduk lesehan di gazebo tersebut, cafe bintang bambu ini juga menyediakan konsep lesehan beratapkan langit malam di atas rumput sintetis, juntaian lampu hias membentang mengelilingi area cafe. Konsep ini membuat pengunjung lebih leluasa menikmati performa dari para penyanyi yang ada. Namun Andra lebih memilih duduk di gazebo agar Lany tak merasa dingin, demi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan bisa menimpa istrinya. Dia begitu menghawatirkan kondisinya.


“Suka suasananya nggak?" kini Andra duduk di sisi Lany setelah melambaikan tangan pada pelayan yang baru selesai melayani pengunjung lain.


“Suka banget, keren!" Dengan senyum merekah, Lany mengeskkan telapak tangannya sembari menatap suasana sekitar.


Andra merasa puas bisa membuat Lany senang seperti ini. Namun pandangannya harus beralih saat pelayan yang dipanggilnya tadi sudah ada di sisi gazebo, memberinya daftar menu dan bersiap mencatat apa yang akan dipesannya.


“Mau makan apa, neng?” Tanya Andra pada Lany yang malah sibuk berselfie ria.


“Ikut aja, yang penting makanan Indonesia.” Timpal Lany tanpa mengalihkan pandangan dari hp.


Andra pun kembali membaca satu persatu menu yang ada hingga ia berhasil menemukan makanan yang akan ia pesan.


“Nasi padangnya dua, sate kambing, sama es teh dua.”


“Ada lagi, mas?" Tanya sang pelayan setelah mencatat menu yang Andra sebutkan.


“Emmmnt, itu aja mbak.” Ia kembali menatap Lany, "Gimana Lan? Ada lagi nggak?"


“itu ajalah, kalau kebanyakan nanti nggak habis!” Sahutnya.


Pelayan itu tersenyum dengan ramah, “Pesanannya kami proses dulu ya, mbak, mas! Mohon ditunggu!” Ucapnya kemudian beranjak pergi.


”Andra, sini!” Lany menarik Andra agar mendekat padanya. Begitu Andra mendekat, Lany langsung mengarahkan kamera dan mengambil gambar bersama.

__ADS_1


“Ih, senyum Andra!" Cebik Lany saat melihat hasil jepretannya tidak maksimal karena Andra malah menampakkan wajah datar.


“Ulang, sekali lagi!" Lany kembali menarik Andra untuk tak menyisakan jarak darinya.


“Senyum!”


Jepretan Pertama, kedua dan ketiga berhasil diabadikan tanpa omelan dari Lany karena Andra menuruti prosedur foto ala wanita dengan baik. Andra sendiri hanya tersenyum melihat sikap istrinya yang ternyata hampir sama dengan wanita kebanyakan, suka selfie dan mengabadikan moment. Pasalnya selama ini, ia tak pernah melihat Lany mengajaknya berfoto seperti ini. Tentu ini membuatnya senang bisa kembali melihat sisi yang berbeda dari samg istri. Itu artinya Lany sudah tak sungkan padanya.


“Sekali lagi, pakai ini!” Lany melepas ponselnya kemudian mengarahkan tangan untuk memasang tudung pada hoodiie yang Andra kenakan.


“Loh, kok jaketnya di lepas?" Protes Andra yang baru menyadari jika ternyata Lany sejak tadi melepas jaketnya, “Pake neng, ini dingin loh!" Perintah Andra.


Lany yang menyadari itu hanya tersenyum, ia tak mengindahkan perintah Andra dan lebih memilih mengarahkan hp kembali, “Iya nanti, kita foto sekali lagi dulu!”


Hmmmt, demikianlah perempuan, kalau sudah ketemu kamera, mendadak jadi seleb dadakan.


Sesi foto itu berakhir dengan Lany yang kembali memakai jaketnya. Keduanya lalu mulai menyantap makanan yang sudah tersaji di sana.


Makin larut, suasana cafe makin ramai saja. Pengunjung datang dengan silih berganti. Apalagi lantunan lagu milik penyanyi ternama tanah air membuat suasana kian romantis. Apalagi saat salah seorang penyanyi di atas panggung mulai berganti, dari yang tadinya wanita kini berganti, seorang penyanyi laki-laki naik sambil membawa gitarnya. Sebelum bernyanyi ia menyempatkan memberikan beberapa quote yang mana membuat para pengunjung berteriak heboh karena quote yang diberikan selalu sesuai dengan makna lagu yang akan dibawakan.


“Tuh, dengerin!” Andra menyikut Lany dengan pelan, sambil menunjuk ke arah penyanyi cafe yang tengah menyampaikan beberapa penggalan kata bermakna di depan sana.


“Buat yang suka berantem-beranteman, nih!!” Ucap penyanyi pria tersebut sembari memegangi mikrofon dan musik mulai terdengar mengalun dari piano, gitar, dan drum yang dimainkan oleh pemusik di belakangnya.


“Ingat!! Kalau ada masalah jangan dibesar-besarkan, tapi diselesaiin, bicara baik-baik!" Ucapnya yang mana membuat para pengunjung kembali bersorak karena ucapan sang vokalis begitu mengena. Begitu pula dengan Andra dan Lany, namun keduanya hanya fokus mendegarkan.


Penyanyi tersebut pun kemudian mulai melantunkan lagunya.


Mengapa harus berpisah,


emosi yang menang, benahi saja.


jahitlah luka, dan obati sakitnya...


Suara merdu sang penyanyi menjadi teman nongkrong terbaik di sana.


Sedangkan Andra, ia kembali menoleh pada Lany, “Kalau ada masalah diselesaikan! Jangan suka ambil keputusan sesaat pas lagi marah!"


“Bener banget ya kata-kata penyanyi berusan!” Sarkas Andra sambil terus menatap Lany yang kini menampakkan wajah sinis karena ucapannya.


Tentu Lany tahu Andra tengah menyinggung soal masalah kemarin malam, dimana ia sempat meminta untuk berpisah. Namun, ia hanya menanggapinya dengan santai. Sambil terus menguyah sate kambing yang belum habis, tangan Lany tergerak mengusap perutnya yang belum membuncit, tapi sudah agak keras.


“Salah kamu juga lah, dari awal bohong mulu kerjaannya!" Cebik Lany disela lantunan lagu yang menghiasi telinga. “Kalau kamu jujur dari awal pasti ceritanya nggak akan begini!"


”Kalau aku jujur dari awal ceritanya juga pasti beda..” Tangan Andra teralih menarik Lany ke dalam dekapannya.


“Kenapa emang?" Lany memutar mata malas sembari menatap Andra. Dengan kaki berselonjor, ia jadi lebih mudah bersandar pada tubuh suaminya itu.


“Banyak lah pokoknya."


“Intinya sekarang tuh kita harus selalu sama-sama. Jaga dia, besarin dia dengan penuh kasih sayang, kalau ada rintangan hadapi bareng-bareng, jangan ada kata kayak kemarin lagi!” Andra menunduk menatap wajah Lany dalam-dalam.


“Semua itu tergantung dari kamu, kalau kamu setia dan juga mau terima aku apa adanya. Aku pasti bertahan! Intinya kamu boleh ajak aku kemana aja, sekalipun jalannya mungkin sulit, kalau kamu baik dan setia, bisa jaga perasaan ku, aku pasti akan selalu di samping kamu sampai akhir."


Andra tersenyum mendengar ucapan Lany, baru kali ini ia melihat wanita itu serius dalam membahas hal seintens ini. Biasanya Lany hanya akan serius setiap kali sedang marah, tapi kini istrinya itu benar-benar berbeda.


Cukup lama keduanya menikmati malam di sana, dan harus pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 10.30.


“Pulang yuk neng, lain kali kita ke sini lagi! Nggak boleh kemalaman, besok haru ke rumah Mama mertua!" Andra mengerling sambil membantu Lany bangun.


...........

__ADS_1



Tuh, hasil selfie mereka🤣


__ADS_2