
Andra, pandangannya seketika mengerut saat keluar dari kamar mandi, ia disambut dengan sosok Lany yang tengah berjongkok di depan pintu sambil memegangi perutnya.
“Hey, kenapa?" Ia melirik ke arah jam dinding yang berada tepat di atas sofa, jam masih menunjukkan setengah 6 pagi.
“Kamu mual lagi?" Perlahan tubuh yang hanya berbalut handuk di pinggang itu membantu Lany untuk berdiri.
Lany hanya menunjukkan wajah ngantuk saat Andra sudah berhasil membawanya berdiri, sebenarnya wanita hamil itu masih ingin tidur, tapi perutnya yang tiba-tiba mulas membuat ia terbangun lebih cepat.
“Perutku mules, mana kamu kelamaan mandinya. Makanya aku nunggu sambil jongkok!" Jelas Lany dengan wajah memelas.
Andra yang tadinya mengira Lany mual hanya tersenyum mendengar itu, dengan gemas ia lantas menyapukan wajah Lany dengan telapak tangannya yang masih agak basah.
“Ya udah masuk sana, nanti malah keluar di sini!" Tangan Andra menarik slide door tersebut, untuk memastikan Lany masuk dengan selamat.
Bugh..
Satu pukulan mendarat di lengan Andra, “Makanya kalau pagi jangan kelamaan semedi di kamar mandi!”
Andra hanya bisa tersenyum mendengar omelan Lany, disusul dengan tertutupnya pintu kamar mandi. Sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Lany yang selalu saja mendaratkan pukulan tak seberapa padanya, si cewek galak, aneh dan suka marah seenaknya. Tapi entah mengapa ia sama sekali tak keberatan diperlakukan seperti itu. Dengan senyum terkulum Andra melangkah ke depan Lemari. Tangannya meraih sebuah kemeja navy dan celana slimfit berwarna abu yang kemudian ia letakkan di atas tempat tidur. Sebelum memakai pakaian, terlebih dulu Andra mengaplikasikan body care khusus pria ke tubuhnya, mulai dari deodorant hingga printilan yang lain.
Namun, wajah Andra berubah pias saat telinganya mendengar suara Lany yang sedang muntah. Ia pun segera menuju ke depan pintu kamar mandi.
“Buka pintunya, Lany!" Ucap Andra saat pintu kamar mandi tak bisa ia buka, sepertinya Lany menguncinya dari dalam.
Tidak lama kemudian, pintu itu sudah terbuka dengan kemunculan Lany yang kembali terlihat lemas. Kerah kaos ia gunakan untuk menutupi mulut dan hidungnya.
“Jangan pakai pencuci wajahmu yang itu lagi, baunya menyengat sekali!" Gerutu Lany sambil melangkah ke arah tempat tidur.
“Kamu muntah karena itu?" Tanya Andra sambil mengikuti Lany dari belakang.
Mendapat anggukan dari Lany yang sudah duduk di tepi tempat tidur, ia kemudian berkata “Yaudah nanti aku ganti ya!"
“Bau apa lagi yang bikin kamu gak nyaman?" Sebisa mungkin Andra menanyakan hal ini untuk menghindari kejadian yang sama agar tidak terulang kembali. Ia tidak ingin Lany tersiksa karena harus muntah-muntah. Terlebih lagi, rasa bersalah karena semalam tak ada di samping wanita itu saat ia membutuhkan, itu kian membuat Andra merasa bersalah.
Perlahan Lany mendekatkan wajah pada tubuh Andra, ia mengendus untuk mencari tahu apakah ada aroma lain yang ditolak oleh indra penciumannya. Dan gelenganlah yang ia berikan sebagai jawaban pada Andra yang tengah menahan senyum melihat tingkah Lany.
“Gak mau sekalian cium pipi juga?" Senyum tipis tampak tertahan di bibir Andra.
Lany memutar malas, “Kamu mau lihat aku muntah lagi?" Ketusnya yang hendak melayangkan pukulan tangan, tapi ditangkis oleh Andra. Benar-benar kebiasaan yang aneh!
“Cium pipi kamu sama aja bunuh diri, udah pasti aroma sabun pencuci muka kamu masih melekat di sini!" Tunjuk Lany sambil menoel-noel pipi Andra.
Dengan tangan yang masih menggenggam tangan Lany yang satunya, tangan kirinya beralih membekap wajah Lany. Satu ciuman ia daratkan di kening sang istri.
“Biar aromanya gak kecium!" Ucap Andra saat wajahnya mulai bergeser dari sana.
Lany terlihat tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya mendapat perlakuan manis seperti ini, apalagi saat Andra kini beralih mendaratkan ciuman di perutnya. Entah apa yang ia bisikin sehingga acara ciumannya dengan sang calon anak di balik perut berlangsung agak lama.
“Udah, siap-siap dulu. Nanti terlambat!" Lany mencoba mengingat, apa lagi suaminya itu masih belum mengenakan apapun.
__ADS_1
Andra langsung mengangkat kepalanya dari perut Lany, dengan tangan yang masih terusap lembut di sana.
“Tapi kamu beneran udah gak apa-apa?" Andra mencoba memastikan sambil menatap penuh khawatir.
“Atau mau ke rumah sakit dulu, kontrol sama dr. Susi!" Dan Andra hanya bisa bernapas lega saat melihat Lany menggeleng.
“Gak apa-apa kok, semalam mami kasih aku obat pereda mual!" Karena tidak ingin ke rumah sakit, Lany pun berusaha membuat Andra yakin. Terlebih lagi, ia memang punya obat pereda mual dari Mami yang terbilang ampuh.
Melihat Andra yang menyerngit heran setelah mendengar ucapannya, Lany kemudian menjelaskan insiden muntah-muntahnya semalam, bahkan itu terjadi saat ia berada di ruang makan. Hingga akhirnya Mami memberikan obat padanya.
“Ternyata Mami baik juga yah!" Sambil mengulas senyum, Lany menatap wajah Andra. Setiap kali mengingat perhatian kecil dari mertuanya itu, ia selalu merasa bahagia.
“Ya, walaupun mungkin dia cuma perduli sama cucunya. Tapi setidaknya itu bisa bikin aku lumayan lega." Ujar Lany, dengan tangan tergerak mengusap perut.
“Mami emang baik! Hanya saja kalian belum saling mengenal satu sama lain.” Andra mengusap kepala Lany. Bahkan ia pun turut senang mendengar cerita dari Lany, besar harapannya agar semua keluarga bisa secepatnya menerima keberadaan sang istri. Meski ia tahu, sebenarnya Mami bukanlah orang yang suka merendahkan orang lain. Namun, situasi dan keadaan lah yang membuat semua jadi begini. Dari penjelasan Lany, Andra benar-benar menaruh harapan besar agar hubungan Mami dan Lany bisa menjadi lebih baik, secepatnya.
“Maka dari itu, aku mau untuk saat ini kita tinggal di sini dulu, ya. Siapa tau setelah saling mengenal, kalian bisa makin dekat!"
“Tapi kamu juga gak perlu terlalu mikirin semuanya,” Andra menarik napas dalam, sebenarnya ia tahu sulit bagi seseorang untuk mengabaikan omongan orang lain, apalagi itu menyangkut kehidupannya. Namun, hanya inilah yang bisa Andra katakan, ia tidak ingin pikiran Lany jadi terganggu. Terlebih lagi saat ini ia tengah mengandung, tentu terlalu banyak pikiran tidak baik untuk kondisinya saat ini.
“Nanti malah jadi stress, di bawa santai aja, ya! Ada aku yang bisa kamu jadikan tempat mengadu.” Jemari Andra tergerak mengusap pipi Lany dengan tatapan dalam.
“Keluarga ku sebenarnya baik-baik, cuma waktu dan cara kita dipertemukan aja yang gak tepat!" Andra mencoba memberi pemahaman sekaligus berusaha meyakinkan Lany agar mau bertahan untuk sementara. Andra benar-benar berharap dalam waktu dekat, Mami, Oma dan Dara bisa benar-benar menerima semua.
Lany menganggukan kepala tanda setuju. Meski sebenarnya hati Lany dipenuhi keraguan, tapi setiap kali Andra memberikan semangat, ia selalu merasa lebih baik untuk melakukan semua
Saat tengah melihat Andra sibuk mengancing kemeja di depan stand mirror. Lany kemudian mendekat.
“Aku bisa bantu apa?" Tanyanya yang kini sudah berdiri tepat di samping Andra.
Andra lalu menoleh sambil menampakkan senyum manis, “Nggak usah, kamu istirahat aja!" Katanya, kemudian kembali menatap pantulan diri. Satu persatu kancing kemejanya pun sudah saling tersemat.
Lany yang mendengar itu hanya ber-oh, sambil terus memerhatikan Andra yang kini tengah menyisir rambut setelah mengoleskan pomade agar tatanan rambutnya menjadi rapi dan tak mudah terhambur.
“Kalau diperhatiin, kita memang ibarat pangeran dan dayangnya, apa lagi penampilan ku kayak begini." Lany terkekeh saat memerhatikan penampilannya.
Ia berdiri tegak sembari turut merapikan kaos oversize milik Andra yang masih ia kenakan. Penampilan Andra yang rapi, dengan tubuh proporsional, wajah di atas rata-rata, ditambah lagi dengan sikap dan cara dia memperlakukan semua orang, terlebih lagi keluarga dan pasangannya. Benar-benar membuat ia jadi sosok ideal yang diinginkan wanita. Entah mengapa semua itu membuat Lany merasa insecure.
“Pantas aja Mami, Oma dan Dara sampai segitunya pas liat kamu bawa pasangan yang gak seharusnya!" meski senyum terus merekah dari bibirnya, tapi hati Lany jelas agak teriris menyadari betapa jauhnya perbedaan ia dengan Andra. Yang jelasnya, ia memiliki banyak perbedaan dengan pria yang diawal pertemuan dulu sempat ia tolak dengan keras.
“Apaan sih!" Tegur Andra yang masih terus menatapnya, “Gak usah ngomong gitu! Setiap orang itu ada keistimewaannya masing-masing."
Lany hanya memutar mata malas mendengar perkataan Andra. Jika dulu saat awal pernikahan, Andra selalu saja berusaha membuatnya tersenyum dan jarang sekali melihat ia bersikap serius. Namun, entah mengapa, sejak di Jakarta. Andra terlihat lebih serius. Ya, walau sebenarnya perhatian dan cara ia memperlakukan Lany dengan baik sama sekali tak berubah. Mungkin karena kembali disibukkan dengan aktivitas hari membuat sikapnya jadi lebih serius.
....
Setelah melakukan sarapan bersama, Lany lalu mengantar Andra menuju halaman depan. Rasa was-was karena akan ditinggal kerja oleh Andra membuat perasannya kembali tak karuan. Tanpa Andra, ia benar-benar merasa seperti orang asing di rumah ini, bahkan untuk melangkahkan kaki pun sangat terasa berat. Meski begitu, ia sama sekali tak bisa mencegah Andra untuk pergi, Lany sadar jika Andra pun punya kesibukan dan tanggung jawab atas pekerjaannya.
“Andra!" Katanya ragu-ragu.
__ADS_1
Andra yang sedang melakukan pemeriksaan ulang kelengkapan yang akan di bawa pagi itu pun hanya menoleh sekilas.
“Ya?" Ia lalu kembali memeriksa semua, begitu di rasa tidak ada yang kurang, ia kembali mengalihkan pandangan menatap Lany yang belum juga meneruskan ucapannya. Tentu itu membuat Andra penasaran.
“Kenapa, neng?" Keningnya mengkerut saat melihat Lany ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa?" Tanya lagi sambil menarik Lany ke dalam dekapannya.
“Aku mau minta kunci apartemen, eemnt ... Aku mau ambil baju ganti!"
“Semalam aku ada bawain baju ganti buat kamu, ada di tas ransel pink.”
Lany hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Andra. Sebenarnya ini hanyalah alasan agar ia bisa keluar, tapi tak disangka ternyata Andra sudah membawakan pakaian ganti untuknya. Hilang sudah rencana mencari kebebasan, meski hanya sebentar, hitung-hitungan demi untuk mengulur waktu sampai Andra pulang kerja. Menurut Lany, lebih baik ia menunggu seorang diri di apartemen daripada harus menunggu seorang diri di rumah ini. Mengingat tatapan Oma dan Dara padanya masih belum berubah juga. Sedangkan Mami, meski ia sempat berbasa-basi untuk menanyakan kondisinya setelah selesai sarapan tadi, namun kemudian begitu cepat menatapnya dengan wajah datar.
“Gimana kondisi kamu? Masih mual gak?" Pertanyaan itu memang sempat membuatnya senang, akan tetapi saat ia mengatakan jika kondisinya sudah membaik, Mami justru kembali bersikap datar. Hal itu membuatnya kian berkecil hati.
“Ya udah...” Tak tega melihat wajah Lany yang murung, Andra pun segera mengambil keputusan.
“Kamu boleh pergi, tapi nanti aku suruh mang Anto yang antar!" Andra menunjuk salah seorang berseragam hitam yang tengah berdiri di sisi pintu gerbang, tengah berbincang dengan rekannya.
“Naik taxi atau naik gojek ajalah Andra, gak perlu ngerepotin orang!" Tolak Lany. Diantar supir adalah salah satu hal yang menurutnya berlebihan. Selama ini sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti itu. Lagi pula, sepertinya naik gojek atau taxi akan lebih menyenangkan. Selain tak merepotkan orang lain, ia jadi bisa menikmati me time.
“Itu syaratnya, Melany!"
Yang bisa Lany lakukan hanyalah menghembuskan napas gusar, baru kali ini Andra tidak bisa dibantah. Biasanya pria itu selalu mau mengalah setiap kali ia mengambil keputusan.
“Tapi..”
“Nggak ada tapi-tapian ya, Lan!" Dengan tegas Andra memotong ucapan Lany, “kondisi kamu nggak memungkinkan buat pergi sendiri. Lagi pula ini udah tugas mereka. Dan kamu juga belum tahu seluk beluk kota ini, kamu masih anak baru!"
Dan Lany hanya bisa mencebik dalam hati, entah mengapa pagi ini Andra sangatlah menyebalkan.
Untung lagi di rumah orang tua kamu, kalau nggak udah picik-picik dari tadi. Jerit Lany dalam hati. Mana pakai ngatain aku anak baru lagi. Gini-gini aku juga pernah tinggal di Jakarta waktu pelatihan sebelum join di kapal dulu! Ia kembali menggerutu sebal.
“Udah ya, ini keputusannya bersifat final, gak boleh dibantah apalagi diubah!"
Andra menarik kening Lany, lalu mendaratkan ciuman di sana, “Aku pergi dulu! Assalamualaikum!"
“Waalaikumsalam!" Raut wajah kesal mengiringi langkah Andra masuk ke dalam mobil.
Saat mobil itu sudah menghilang dari balik pagar, Lany baru teringat jika ternyata Andra belum memberikan kunci apartemen dan password-nya. Itu jelas kian membuatnya kesal.
“Begini nih kalau keasyikan bicara!" Dengan suara sepelan mungkin, Lany terus mengomel. Andra benar-benar menyebalkan.
“Sampai lupa ngasih tau dimana kuncinya!"
Tbc.....
...♥️♥️♥️♥️♥️...
__ADS_1