
“Ya pastilah Andra pergi, hubungan yang berawal dari kesalahan kan tidak akan bertahan lama!" Celetuk Elsa yang tiba-tiba muncul tanpa wajah berdosa dan menarik kursi di samping Bapak.
“Elsa!” Sentak Lany tak suka mendengar ucapan Elsa.
“Sudah-sudah. Jangan mulai lagi!"
Ini yang Lany tak suka dari sang Ayah. Bukannya bersikap tegas. Bapak justru hanya menegur Elsa yang mencari masalah dengan cara seperti itu. Andai saja situasinya dibalik dan itu dirinya, mungkin sedari tadi ia sudah kena cap lima jari.
“Apa?" Bukannya berhenti, Elsa justru kian menatap Lany dengan tatapan mengejek “Kenayataan kok, kebanyakan hubungan yang seperti itu banyak yang cepat berakhir.”
“Tuh, temanku. Banyak yang seperti itu, eh ujung-ujungnya pisah." Celetuk Elsa lagi.
“Pasti kalian juga begitukan. Ya, wajarlah. hubungan kalian kan memang seperti itu.!"
Sedari tadi Lany sudah berusaha mengendalikan diri, Namun ia tak mampu lagi menahan tangannya untuk tidak melayang di pipi Elsa.
Plak..
Satu tamparan mendarat saat Lany beranjak dan berdiri tepat di samping Elsa.
“Auuuuww!"
“Lany!" Bersamaan dengan pekikan Elsa yang memegangi pipinya, Lany bisa mendengar teriakkan Bapak dengan wajah menahan amarah.
“Selama ini aku memang selalu diam setiap kali kalian mengusik hidupku!” Lany menatap Bapak dan Elsa secara bergantian.
“Ada apa?” Teriak Mamak yang langsung lari tergopoh-gopoh, begitu mendengar anak agungnya berteriak.
Bahkan si -penyihir- datang dengan wajah terkejut sekaligus menatap tak suka padanya. Lany sama sekali tidak perduli dengan tatapan tak terima dari ibu tirinya itu.
“Lany!" Teriak Mamak geram saat melihat pipi Elsa merah, bekas tamparan.
"Kali ini aku tidak akan diam!" Sentak Lany dengan wajah datar, namun sorot mata itu menyimpan ledakan amarah yang menggebu. “Ini rumahku! Aku bisa berbuat apa saja jika kalian tidak bisa bersikap baik! Bahkan Aku bisa mengusir kalian sekarang juga."
“Melany! Jangan kurang ajar kamu." Teriak si -Penyihir- tak terima “Pak, anakmu makin kurang ajar saja!" Tentu Mamak mengadu, berharap suaminya itu memberikan pelajaran pada Lany. Tapi Bapak sama sekali tak bergeming. Pria paruh baya itu, hanya diam sambil menatap Lany yang baru kali ini bersikap demikian.
“Tidak perduli kalian keluargaku. Berhenti memperlakukanku dengan seenaknya. Kalian tidak punya hak untuk itu. Ini rumahku, Aku berhak membuat keputusan. Jika selama ini kalian tidak bisa menghargai ku, tolong untuk kali ini hargai aku. Paling tidak lihat aku sebagai tuan rumah. Jangan lupakan ... " Lany menggantungkan ucapannya.
Ingin rasanya Ia mengeluarkan semua isi hatinya dan mengungkit semua pengorbanannya selama ini. Namun, Lany tak ingin melakukan itu, sebab dia bukanlah pribadi yang suka mengungkit pemberiannya pada orang lain. Meluapkan seluruh amarahnya saja sudah cukup melegakan.
“Dan kamu Elsa." Mata Lany tertuju pada adiknya yang tidak tahu diri “Kalau tidak tahu apa-apa, jangan sok jadi komentator untuk kehidupan orang lain. Hati-hati dengan ucapan burukmu, jangan sampai itu semua berbalik ke dirimu!"
“Lany!" Teriak Mamak makin geram saat melihat Lany justru beranjak begitu saja.
__ADS_1
“Pak, kenapa diam saja! Dia sudah keterlaluan!"
“Sudahlah, ini juga salah Elsa!"
“Pak," Sentak Mamak dan Elsa secara bersamaan. Tentu dua wanita itu tidak akan terima dengan keputusan Bapak, mereka sudah terbiasa mendapat pembelaan dan dukungan.
“Dia yang mulai duluan, dia yang memancing Lany sampai marah begitu!" Teriak Bapak saat Mamak hendak melayangkan protes. Alhasil si -penyihir- hanya bisa bungkam melihat Bapak yang terbilang tak pernah memarahi mereka, malah marah saat itu juga.
“Bapak Jahat!" Elsa menyentakkan kaki, kemudian pergi meninggalkan dapur.
“Keterlaluan!" Seru Mamak tak terima “Aku tidak akan bisa meninggalkan Elsa di sini, jika Lany sudah berani bertindak seperti tadi.” Mamak menatap Bapak dengan tatapan geram. Dia kecewa karena Bapak berani membentaknya.
“Lany tidak akan begitu jika Elsa bisa menjaga ucapannya!" Teriak Bapak frustasi saat Mamak juga ikut meninggalkannya sendiri di dapur.
Sementara Lany, dia begitu merasa puas sudah menampar adik tidak tahu diri itu. Sudah lama dia ingin memberi pelajaran pada mulut kurang ajarnya. Namun selalu urung sebab takut Bapak akan menghajarnya. Dan tadi, entah dari mana datangnya keberanian itu. Hingga dia berani melakukannya di depan bapak. Mungkin karena ini rumahnya, jadi dia merasa punya hak melakukan hal tadi pada Elsa yang memang sudah sangat keterlaluan.
Lany juga puas, sebab untuk pertama kalinya dia mendengar Bapak membentak Mamak dan Elsa.
Sepertinya malam ini Ia akan sedikit tidur nyenyak meski dalam keadaan banyak masalah. Melakukan perlawanan yang sekian lama terpendam, membuat kelegaan tersendiri di hati Lany.
..._____...
Pagi itu, Lany tengah menjemur pakaian yang baru dicucinya setelah shalat subuh tadi. Aroma khas dari tanah yang basah akibat diguyur hujan semalam menyeruak, begitu menyegarkan pagi yang cerah. Meski dengan keadaan kurang Fit, Lany tetap beraktivitas seperti biasa. Mengerjakan semua kerjaan rumah dan menyiapkan sarapan ala kadarnya. Hanya nasi goreng dan telur dadar yang ia sajikan sebagai menu sarapan.
Sambil menjemur, Lany juga tengah mengamati ocehan Mamak yang tengah memberi petuah pada putri kesayangannya.
Ya, Mamak, Bapak dan Ara akan pulang pagi ini. Dari yang Lany dengar, sebenarnya si -penyihir- enggan untuk pulang setelah kejadian semalam. Namun Bapak berhasil membujuk istri kesayangannya.
Lany sama sekali tak perduli, ia tak menghiraukan keberadaan mereka. Tadi ia hanya sempat memberi uang pada Ara dan berjanji untuk sering-sering menengok bocah itu jika ada waktu luang.
“Kalau kamu diapa-apai, telepon mamak atau kakak mu. Biar dia diberi pelajaran." Mamak melirik sinis pada Lany.
Laporkan saja, aku tidak akan lari hanya karena berhadapan dengan kalian. Gerutu Lany sambil balas menatap sinis.
“Bapakmu ini sudah tidak bisa diandalkan, dia sudah berpihak pada anak tidak tahu diri itu." sambung Mamak lagi. Namun Bapak hanya bisa diam.
“Oh, aku anak tidak tahu diri?" Sahut Lany yang sudah menyelesaikan jemurannya. Ia meraih keranjang cucian dan mendekat pada mereka yang tengah berdiri di depan pintu.
“Kalau begitu, anak tidak tahu diri ini akan berhenti membantu keuangan kalian. Mungkin dengan begitu kalian tidak akan merasa terganggu, kan?” Senyum tersungging dari bibir Lany.
“Kamu!" Sentak Mamak tak terima.
“Loh, bukannya aku anak tidak tahu diri?"
__ADS_1
Baru Mamak ingin kembali melayangkan protes, Bapak sudah lebih dulu menahan dan menarik tangannya untuk naik ke motor.
“Sudah-sudah, Ayo kita pulang.” Bapak menatap Lany dengan tatapan yang sulit diartikan
Sejujurnya Lany sedikit menaruh iba pada Bapak yang terlihat begitu tertekan dengan sikap Mamak. Tetapi, jika mengingat kejadian yang sudah-sudah, rasa ibanya lenyap begitu saja.
“Lany, jaga adik mu, ya!"
Lany hanya memutar mata malas mendegar ucapan Bapak. Ia lebih memilih mendekati Ara, membantu bocah itu naik ke atas motor. Meski harus berdekatan dengan Mamak yang auranya begitu ingin menerkam Lany.
“Ara jangan nakal ya, nak. Jadi anak pintar, nanti tante Lany belikan mainan yang banyak ya, Ara, ya."
Ara mengangguk sambil memegang lengan Lany “Tante Lany, harus sering pulang ya." Kini bocah itu beralih memeluk Lany. Dengan penuh sayang, Lany pun membalas pelukannya.
Setelah itu, motor Bapak mulai melaju keluar dari halaman rumah. Kini hanya tinggal Lany dan Elsa. Keduanya sempat beradu pandang, namun Lany lebih memilih menghindar dan berlalu. Ia masuk lewat pintu samping yang langsung tembus ke dapur.
Karena kondisi badan yang memang kurang fit, ditambah sudah tidak ada yang perlu dikerjakan. Lany lebih memilih pergi ke kamar untuk beristirahat.
Sesampainya di kamar ia langsung merebahkan diri di atas kasur. Tidak ada lagi alasan untuk memikirkan Andra. Ia sudah mengubur dalam-dalam harapannya pada pria itu. Ia tak ingin terus-terusan sakit hati jika mengingat dirinya.
“Aku tidak akan memikirkanmu lagi! Terserah mau bagaimana, aku nggak akan perduli!" lirih Lany yang terlihat sudah tidak semenyedihkan kemarin, tangannya tergerak membalut tubuhnya dengan selimut dan berlabuh ke alam mimpi setelahnya.
. .
Sore harinya, Lany terbangun dari tidur. Ia makin merasakan nyeri meriang di sekujur tubuhnya, . Badannya menggiggil, hingga membuat ia tak mampu beranjak dari atas tempat tidur. Lany pun kian membalut tubuhnya dengan selimut, berharap rasa dingin itu bisa lebih berkurang.
“Uhhh, Ya ampun ini dingin sekali.” Lirih Lany dengan suara bergetar akibat menggigil hebat. Meski sudah mengenakan selimut, namun rasa dingin itu tak kunjung berkurang “Ini pasti karena kehujan, kemarin sore.” Ia terus berusaha mencari posisi ternyaman untuk mengurangi rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Cukup lama Lany menunggu rasa itu berkurang. Namun ia benar-benar tak bisa menahannya lagi. Lany pum memutuskan untuk mencari obat. Sebab tak mungkin meminta bantuan dari Elsa yang sudah tentu tidak akan mau membantu. Ia pun berusaha melakukannya sendiri.
Dengan sekuat tenaga, Ia memaksakan diri beranjak dari tempat tidur. Pergi ke dapur untuk mencari stok obat yang pernah disiapkan Dewi di kotak p3k. Sambil menahan dingin, ia terus menuruni tangga dengan hati-hati.
Begitu turun, telinganya mendengar suara sekumpulan orang dari arah ruang tamu. Karena penasaran, Lany berjalan sempoyongan untuk melihat siapa tamu yang datang. Dari balik tirai, ia bisa melihat ada beberapa orang di ruang tamu. Sepertinya mereka tamu Elsa. Lany yang sama sekali tak kuat lebih memilih tak menghiraukan keberadaan Elsa dan teman-temannya. Ia tidak punya cukup tenaga untuk menegur adik lucknutnya itu.
“Wah, kamu keren, Elsa. Pantas sudah tidak ngekos lagi. Ternyata kamu punya rumah di sini"
“Bisa jadi bascamp kita kalau begini. Kan sepi.”
Sejujurnya Lany geram mendegar percakapan itu. Ia tak suka dengan sikap Elsa yang selalu seenaknya seperti ini.
Namun, untuk saat ini Lany tak bisa melakukan apapun. Ia lebih memilih mencari obat untuk meredakan sakit di tubuhnya. Dan lagi-lagi, saat sampai dapur. Betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi dapur begitu berantakan seperti kapal pecah dan ada banyak piring kotor yang menumpuk. Sepertinya Elsa dan teman-temannya baru saja melakukan acara makan-makan di sana.
Lany memijat pelipisnya sambil membungkuk menahan diri, kiniia merasakan kepalanya begity pusing “Huh, Anak itu keterlaluan sekali." lirihnya kesal. Ingin sekali ia marah, tapi kondisinya sangat tidak memungkinkan.
__ADS_1
.............
Salam sayang #AndraLany with Love🥰