
*Membawamu Ke Pelukanku*
“Kenapa, Mi?" Tanya Papi begitu melihat Mami menutup telponnya.
Ruangan luas berisi furniture mewah yang berada tepat di lantai dua itu merupakan tempat yang sering diadakannya pertemuan keluarga besar. Seperti halnya malam ini, setelah Mami Inka mengabarkan jika Andra akan datang memperkenalkan seseorang, tentu seluruh keluarga, baik dari Mami Inka maupun keluarga Papi sudah berkumpul di sana memenuhi undangan yang Mami sebar atas nama Andra. Namun, saat yang ditunggu malah tak kunjung datang, Mami lantas memutuskan untuk menghubungi putranya. Mami melangkah menjauh dari sanak keluarga yang saling bersenda gurau.
Dan Mami nampak tersenyum mendengar berita yang Andra sampaikan. Jika menantu yang belum dilihatnya itu sedang di rawat karena suatu hal hingga mengakibatkan kedatangan mereka harus diundur sampai istri Andra pulih.
“Mi, kenapa bengong?" Tanya Papi yang sedari tadi menyusul Mami saat merasa Mami agak lama bertelponan.
“Batal, Pi!" Ucap Mami dengan senyum mengembang.
“Loh, kenapa?" Tanya Papi heran.
“Istri Andra masuk rumah sakit, dia hamil." ucap Mami dengan antusias, ia kelihatan senang mendengar kabar yang Andra sampaikan. Bahkan Papi Ervan pun tak henti-hentinya mengucap puji syukur.
“Ya udah, kita saja yang menjenguk. Di rumah sakit mana? Sekalian ajak keluarga yang lain." Ucap Papi yang tak kalah antusiasnya.
Tentu orang tua Andra itu bahagia mendengar kabar tersebut, mengingat Andra baru saja mengalami kejadian tak menyenangkan, dihianati dua orang terdekatnya sekaligus. Namun, Mami dan Papi bersyukur karena ternyata Andra tak berlarut dalam keterpurukan. Bahkan terbilang gerak cepat, diusia pernikahan yang katanya baru menginjak satu bulan lebih, putranya sudah berhasil membuat goal.
“Kata Andra jangan, biar mereka aja yang datang!" Jelas Mami, “Tadi juga Mami rencan mau ke sana tapi Andra malah larang!"
Papi hanya tersenyum seraya mamandang foto Andra yang terpajang di pigura.
“Andra gercep juga ya, Mi." Mami Inka yang mendengar itu pun ikut terkekeh.
“Kenapa nih? Kok mojokan berdua di sini?" Dara tiba-tiba datang berbaur diantara Mami dan Papi. Adik bungsu Andra itu nampak penasaran pada apa yang Mami dan Papinya bahas.
“Kakak kamu batal datang!" Cicit Mami, membuat Dara terdiam sejenak dan mengingat perkataan Andra sore tadi.
“Emmnt, I know that!" Desis Dara yang sebenarnya memang tahu tapi enggan menginfokan hal ini pada mami, sebab ia pikir Andra akan tetap mengusahakan untuk datang. Ketiga keluarga itu sempat berbincang beberapa saat sebelum akhirnya bergabung dengan keluarga yang lain, dengan Papi yang akan menyampaikan perihal Andra yang batal datang malam ini.
...----...
Lany, dari semalam hingga siang ini. Ia terus memikirkan penjelasan Andra. Ia tak menyangka bagaimana bisa suaminya mengalami kisah mengenaskan seperti itu. Diselingkuhi dan dihianati oleh dua orang terdekatnya sekaligus, pastinya sangat terluka. Bahkan Lany tak menyangka jika Rival lah dalang di balik semua ini, dan berlagak sok perduli pada Riana. Berulang Kali Lany berpikir apa yang sebenarnya Rival inginkan?
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Lany begitu salut pada Andra yang mampu tetap berusaha tegar di hadapan orang lain padahal hatinya hancur berkeping-keping.
Lany juga merasa jika ia dan Andra memiliki beberapa kesamaan nasib yang sama. Mulai dari Ayah yang punya istri kedua, sama-sama punya adik yang satu Ayah tapi beda Ibu, bahkan ibu mereka sama-sama diselingkuhi. Ya walaupun kemiripan nasib hanya seputar itu, tapi bukankah kata sebagian orang, jodoh memamg memiliki kemiripan? Hmmnt, entahlah.
Sejujurnya, Lany menaruh iba pada Andra yang semalam hingga siang ini masih menjaganya tapi tidak ia hiraukan sedikitpun. Ingin sekali Lany memeluk pria yang telah mengisi penuh relung hatinya itu dan memberikannya kekuatan. Lany sadar tak seharusnya ia keras hati seperti inj. Tapi, jika mengingat bagaimana Andra tidak berlaku jujur dan terkesan menyembunyikan semuanya membuat Lany hilang respect, hatinya masih terlalu sakit jika mengingat rentetan kebohongan yang Andra lakukan.
Lany lalu melirik sekilas pada pria berhoodie pink di sampingnya yang selalu saja tersenyum setiap kali melihatnya menoleh.
“Sayang!” Lirih Andra, namun ia tetap tak menghiraukannya.
“Maafin aku.” Lirih Andra dengan nada penuh penyesalan.
Dari semalam hingga siang ini, kata itu sudah Lany dengar secara berulang. Namun, ia masih belum bisa menerima semua. Lebih tepatnya ia masih berada di persimpangan dilema, pikiran Lany masih dipenuhi dengan hubungan Andra dan Riana. Menurutnya, orang yang menjalin hubungan lama tidak akan semudah itu saling melupakan. Begitupun dengan Andra pastinya, ia yakin jika suaminya itu belum sepenuhnya bisa melupakan Riana, meski Andra berulang kali meyakinkan jika hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang saat ini bertahta di hatinya.
“Ck, udah sana pergi! Aku malas lihat muka kamu.” Ketus Lany, sembari menepis tangan Andra yang bertumpu di ranjang. Hatinya enggan melakukan ini pada Andra, tapi di sisi lain ia ingin melihat bagaimana Andra memperjuangkannya.
__ADS_1
Andra terlihat menghela napas sambil menarik tangannya tanpa protes sedikitpun.
“Pasti kamu masih belum bisa lupain Riana, kan?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Lany.
Dari sudut matanya Ia bisa melihat Andra menggeleng tidak.
“Nggak percaya!” Gerutu Lany, “Hubungan kalian terjalin lama banget, gak mungkin semudah itu untuk saling melupakan!" Cicitnya yang masih enggan menoleh pada Andra, ia tahu jika suaminya itu kini sedang tersenyum mendengar ucapannya.
Dasar Andra, entah mengapa pria itu selalu saja bisa tersenyum disetiap waktu. Padahal jelas Lany tahu ia sedang tidak baik-baik saja. Rasanya Lany ingin sekali menabok wajah teduh yang sok tegar itu.
Dasar cowok aneh! Lany mencebik dalam hati.
“Kalau belum bisa lupain, seharusnya jangan ngajak nikah!" Seru Lany lagi.
“Nggak bisa, kamu kan tanggung jawab aku!" Celetuk Andra sambil menatap Lany yang masih buang muka.
“Bertanggung jawab tanpa cinta juga apa gunanya? Hanya akan menyiksa satu belah pihak!" Sarkas Lany.
“Tapi aku cinta kamu! Kamu tahu ...."
Belum selesai Andra meneruskan ucapannya, ia sudah menyelanya lebih dulu. Lany tahu pasti cowok aneh itu akan kembali mengatakan jika dirinya “Fallin love at first sight." Hmmmnt, Basi! Desisnya dalam hati.
“Aku gak percaya kalau fallin love at first sight itu beneran ada!” Sergah Lany, masih dengan wajah ketus tanpa mau menoleh sedikitpun.
“Ada, buktinya aku!" Sela Andra.
“Ngaco!" Seru Lany, ia masih saja keras kepala dan menepis semua perkataan Andra. Lebih tepatnya, karena ia memang tak percaya pada hal itu, Jatuh cinta secepat itu tak bisa diterima logikanya.
“Kamu nggak tahu psikologi Cinta?"
“Cowok bisa jatuh cinta lebih cepat dari yang kamu tahu, bisa dalam hitungan menit bahkan detik setelah pertama kali menatap wanita yang membuatnya tertarik!”
Cih, lihatlah! Sepertinya Andra kembali cosplay sebagai seorang pakar cinta.
“Nggak ada! Semua itu nggak bener! orang yang menjalin hubungan lama akan sulit move on, aku tahu itu!" Sentak Lany masih pada pendiriannya.
“Kenapa? Pengalaman pribadi ya?" Tanya Andra, yang mana membuat Lany melengos kesal, berdebat dengan Andra memang tak pernah ada habisnya.
“Udah ah, bicara sama kamu tuh melelahkan! Ngeselin!"
Andra menggeleng sambil menampakkan senyum simpul yang seteduh embun pagi, ini seperti sebuah magic bagi Lany, ia tidak akan mau melihatnya, karena sudah pasti senyuman itu akan membuatnya luluh.
“Lan!" Dengan lembut Andra meraih tangan Lany, ia menarik wajah wanita itu agar mau menatapnya. “Laki-laki itu makhluk yang rasional, dia lebih mengedepankan pemikiran daripada perasaannya. Makanya kenapa kebanyakan cowok yang baru putus dengan pasangannya, ada yang cepat move on dan udah bisa cari pasangan baru."
Lany hanya bisa mematung saat Andra seakan mengunci pandangan mereka. Jantungnya selalu saja berdetak lebih kencang dari biasanya setiap kali menerima sentuhan dari Andra. Ia mendadak bisu, padahal ada banyak hal yang ingin dikatakannya
“Kalau nggak percaya, baca aja penelitian yang dimuat dalam jurnal Archives of Sexual Behavior, disanana menjelaskan kalau ternyata cowok cuma butuh 8,2 detik untuk jatuh cinta." Ucap Andra yang diakhiri dengan senyuman, jemarinya yang tergerak mengusap pipi Lany.
Setelah itu, tak ada lagi obrolan yang terlibat diantara keduanya, saat seorang perawat masuk, mengecek dan memberikan info pada Andra.
“Anda dipanggil ke ruangan dokter sekarang." Begitu kata perawat memberi tahu, dan Andra pun bergegas pergi setelah mendaratkan kecupan yang seakan membuatnya tenang.
Setelah kondisi Lany dicek oleh perawat tadi, Ia pun kembali meringkuk dengan pikiran yang berkecamuk. Tangannya tergerak meraih hp dan mengetikkan sesuatu di sana.
__ADS_1
Air matanya kembali menetes saat Lany melihat seluruh jawaban yang gugel berikan sesuai dengan penjelasan Andra soal cinta tadi. Lany benci kondisi yang seperti ini, sedikit berpikir saja sudah membuat moodnya terjun bebas dan langsung menangis tanpa sebab. Seharusnya ia tak selemah inj. Apakah orang hamil harus begini?
Ia ingin bahagia jika memang Andra benar-benar telah mencintainya secepat itu, meski ia sendiri sangat jarang mendengar Andra mengungkapkan kata cinta. Karena memang pria itu lebih sering mengekspresikan rasanya melalui tindakan, bukan ungkapan.
Namun, dibalik rasa senang itu. Hati Lany Selalu saja teriris jika mengingat Andra pernah begitu mencintai seseorang selama itu, bahkan hampir di separuh hidupnya.
“Argggh..." Lany berteriak, saat merasa dirinya tak bisa mengontrol emosinya yang begitu cepat berubah.
Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara pintu ruangan terbuka.
.
Alandra, setelah mendengar penjelasan dokter Susi, Ia begitu merasa senang saat tahu kondisi istrinya sudah membaik dan tak perlu rawat inap lagi.
Hanya saja dokter Susi memberikan beberapa nasehat agar bisa memaklumi kondisi Lany jika saja mengalami sedikit perubahan.
“Pak Andra harus bisa memaklumi jika saja sikap istrinya tiba-tiba berubah seperti yang saya bilang semalam. Moodnya bisa berubah kapan saja, Pak!” Begitu Kata dokter Susi menjelaskan.
“Bahkan mungkin lebih parah, biasanya di trimester awal, ibu akan mengalami morning sickness.” Dan Andra hanya mengangguk sambil terus mendengarkan.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama kondisi ibu tidak drop dan masih mau makanan. Jika terjadi sesuatu harus segera konsultasikan, ya."
“Dan ini harus di minum tiap hari ya, Pak.” Dokter Susi menyerahkan empat jenis obat berbeda. Mulai dari asam folat, vitamin D, kalsium dan zat besi yang harus dikonsumsi oleh Lany selama masa kehamilan.
“Untuk mengatasi gula darah rendah, Ibu bisa mengonsumsi yogurt, buah atau mungkin keju dan pola makannya juga harus teratur.”
“Kontrolnya bisa sebulan sekali, tapi kalau ada masalah harus sesegera mungkin dikonsultasikan!"
Setelah itu Andra pun kembali ke ruangan sambil membawa obat-obatan dan sebuah buku berwarna Pink yang juga diberikan dokter.
Begitu membuka pintu, Andra langsung dikejutkan dengan Lany yang duduk sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Hal itu sontak membuat perasaan Andra carut-marut, ia langsung diterpa rasa bersalah yang mendalam. Andra tahu jika Lany pasti belum bisa menerima kenyataan dan semua kebohongannya selama ini. Perlahan Andra pun mendekat dan berusaha menampakkan senyum terbaiknya.
“Kata dokter kamu udah boleh pulang," Baru Andra meletakkan barang bawaannya, Lany sudah berhambur ke dalam pelukannya, membuat ia sedikit tercengang.
Karena sejujurnya Andra adalah makhluk yang tidak peka, ia hanya terpaku mendapat perlakuan seperti itu. Pikirannya berusaha menerka apakah Lany memiliki maksuda terselubung di balik pelukan ini. ia benar-benar tak bisa menerima jika Lany akan mengatakan hal-hal yang membuatnya lemah.
“Kamu yang sabar ya, Aku tahu pasti rasanya sakit banget dihianati orang terdekat. Apalagi itu adik kita sendiri, aku tahu posisi kamu gimana."
Ucapan Lany membuat senyum terulas dari bibir Andra, ia terharu Lany bisa berempati padanya. Ia pun lantas membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya.
“Selama kamu ada, aku nggak akan merasakan sakit!" Ucapnya sembari mengusap punggung Lany. Ia senang akhirnya istrinya tak lagi marah dan mengerti akan posisinya.
“Jangan marah lagi, ya!"
“Jangan pergi dari hidupku, kalian milkku! Tetaplah di sini." Jemari Andra tergerak mengusap perut Lany. Membuat mata Lany kian berkaca-kaca.
“Aku ingin selalu kalian berada di sini, Take you in my arms.”
“Tetaplah di sini! Sama-sama, kita lewati semuanya. Temani aku sampai ajalku tiba!” Andra menautkan kening mereka sambil terus mengungkapkan apa yang ia rasakan.
“Kamu harus tahu aku butuh kamu, sayang dan cinta sama kamu." Dan Lany hanya mampu menitihkan air mata saat mendengar Andra mengatakan itu.
“Aku sadar aku banyak salah dan kurangnya, selama ini belum bisa memberikan yang maksimal buat kamu, nggak pernah ungkapin semua. Tapi kamu harus tahu, perasaanku nggak main-main, aku tulus sayang kamu, juga anak kita.” Lany hanya mampu mengangguk mendengar itu, wajahnya tertempel di dada Andra dengan tangan yang terus mengelus rahang Andra.
__ADS_1
...___•••___•••___...