
*Jangan khawatir! Aku milikmu*
“Saya pamit dulu ya, bu." Novi masih berdiri di sisi sofa saat Lany sama sekali tak menghiraukan ucapannya. Melihat Lany tidak ada respon, membuat Novi memutuskan untuk pergi, karena sudah pasti Andra tengah menunggu flashdisk yang dia minta.
“Sekali lagi saya minta maaf soal yang tadi ya bu, saya bukannya lancang tapi itu benar-benar perintah dari suami, bu Lany.” Novi masih menunggu respon Lany, tapi gadis itu tetap tak bergeming, “Ya sudah, kalau begitu saya pamit, bu, permisi."
Lany benar-benar terus menggerutu dalam hati. rasanya Ia kesal sekali sama si Novi ini. Tapi saat Novi sudah beranjak pergi, Lany justru berlari menghampirinya.
“Eh, tunggu-tunggu.." Teriakan Lany membuat Novi yang hendak menutup pintu apartemen langsung menghentikan pergerakan.
“Iya, bu. Ada yang ....?”
“Jangan panggil ibu, saya masih muda. Lagi pula kayaknya kita seumuran.” Lany memotong ucapan Novi, membuat kata-katanya menguap di udara.
“Bukan bu, tapi saya lebih tua dari ibu. Meski begitu saya tidak bisa tidak memanggil ibu dengan sebutan nama, saja."
Dih, tau darimana kamu kalau aku lebih muda. Sok tau ni orang. Getutu Lany dalam hati.
“Terserah deh mbak, terserah. Itu sama sekali nggak penting” Ketus Lany lagi.
“Tadi ambil apa?"
Novita menunjukkan flasdisk dari saku celananya.
“Mau di antar ke Andra?” dan Novi lagi-lagi hanya mengangguk. “Andra sama kamu, mbak? Dia dimana?” Tanya Lany bersemangat.
“Maaf, kalau itu bisa bu Lany tanyakan langsung pada Pak Andra. Saya tidak bisa mengatakan apa yang tidak diperintahkan. Saya permisi dulu ya, bu.”
“Ish.." Lany meyentakkan kakinya saat Novi berlalu dari hadapannya, kemudian menghilang di unit milik tetangga mereka. Lany yang melihat itu sedikit heran dan segera melangkah sedikit keluar dari pintu untuk memastikan kemana Novi pergi. Lift berada di ujung ruang dan harus melalui unit yang ia tempati. Tapi Novi justru masuk ke ruangan yang ada di depannya.
Lany menutup mulutnya rapat-rapat saat menyadari kemungkinan jika Novi adalah tetangga pemilik unit di depannya. Lany kesal, kenapa Andra tidak mengatakan jika Novi lah pemiliknya dan yang membuat ia tak habis pikir adalah kenapa Andra harus bertetanggaan dengan wanita itu. Selain itu, bukankah semalam Novi tidak ikut turun dengan mereka, melainkan pergi bersama supir tersebut. Lany benar-benar tidak mengerti semua ini.
Dugaan Lany semakin kuat saat Novi keluar kembali dengan pakaian yang lebih rapi sambil membawa tas. Namun Lany sama sekali tak membalas sapaan ramah dari Novita.
...🍂🍂🍂...
“Kak Nov, maksud Kak Andra dia siapa sih yang ada di apartemennya?”
Dara yang begitu penasaran terus menanyakan "Dia" siapa yang dimaksud oleh Andra saat teleponan tadi. Andra sudah membuat alasan jika dirinya tak bermamsud apa-apa. Tapi desakan Dara justru membuat Mami dan Papi ikut penasaran. Bahkan mencecar Novi dengan pertanyaan yang sama begitu sekretarisnya itu datang mengantar flashdisk yang dibutuhkan Dara.
“Siapa, Nov? Andra tinggal dengan siapa di sana?"
“Nggak ada bu, tadi cuma ada Mas Bayu yang datang."
Andra bernapas lega mendengar jawaban Novi yang mana membuat Mami dan Dara langsung percaya. Ya, jawaban Novi sangat tepat. Tentu semua akan percaya jika dia yang di maksud adalah Bayu, sahabat Andra yang super aktif dan kepo itu. Jelas Novi menjadikannya sebagai alasan yang tepat.
“Filenya udah nemu, kan, Ra?" Tanya Andra pada Dara yang tengah sibuk menscroll satu persatu hasil jepretan Andra yang keren-keren.
“Iya, udah, thanks kak. Kepulangan kakak membawa berkah bagi duniaku."
__ADS_1
“Bagi semua, Ra.” Ucap Mami membenarkan dan Andra hanya tersenyum simpul saat Papi menepuk-nepuk punggungnya.
“Hampir jam sepuluh," Andra beranjak dari duduknya setelah melirik jam di tangan sambil meregangkan otot-ototnya. “Aku balik dulu ya, Mi, Pi, udah malem.”
“Loh, kok balik. Harusnya nginep, Alandra." Tolak Mami tidak terima.
“Nggak bisa, Mi. Lain kali aja ya.”
“Tapi Riri udah otw ke sini loh. Kasian kalau tidak ketemu kamu, Ndra.”
“Besok aja, ya. Masih ada hari besok kok." Mami meraih tangan Papi dan Mami secara bergantian “Nggak bisa kalau malam ini,”
Karena aku punya tanggung jawab pada istriku, Mi. Kalian sudah punya menantu dan aku nggak mungkin biarkan dia sendirian.
Tidak ada yang bisa mencegah, karena Andra tipikal orang yang kuat terhadap pendiriannya.
“Padahal Riri udah buru-buru, loh. Tadi katanya ada job makanya nggak bisa ikut makan malam." Mami kelihatan begitu kecewa.
"Iya nih, tega banget lu kak. Baru juga ketemu udah mau memisahkan diri aja lu." Sahut Dara juga tak setuju.
“Ra!" Tegur Mami, yang mana membuat Dara hanya menutup mulutnya tanda ia lupa jika berbicara dengan yang lebih tua harus sopan.
“Sudah, sudah. Kan masih ada besok, mungkin Kakak kamu masih butuh metime."
Berkat Papi, Andra berhasil pergi dari rumah, beriringan dengan Novi, meski menggunakan mobil yang berbeda.
Begitu sampai di apartemen, Andra bergegas masuk. Ia tersenyum melihat Lany duduk di sofa sambil menonton tv. Terlebih dulu Andra pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti baju. Setelah selesai, barulah ia pergi menghampiri Lany. Namun, gadis itu tak ada di sana. Andra menuju dapur saat mendengar suara gelembung dari galon air yang menandakan jika Lany sedang berada di dapur.
“Wah, kamu masak banyak ternyata. Maaf aku lambat pulang." Andra yang tahu Lany sengaja memasak untuk makan malam bersamanya pun tak ingin mengecewakan niat baik istrinya. Meski sudah kenyang, dia memakan beberapa menu makanan yang ada.
Ia merasa ada yang berbeda dari Lany, padahal sore tadi mereka masih begitu mesra. Bahkan sebelum Andra pergi ia sempat mendaratkan satu kecupan di kening istrinya itu.
“Kenapa?" Tanya Andra, ia menyusul langkah Lany pergi ke kamar.
“Hey," Andra memcoba meraih tangan Lany namun Lany tak bergeming. “Maaf kalau aku lama, tadi ada urusan.”
“Urusan apa?” Tatap Lany nyalang “Urusan apa yang mengharuskan kamu pergi sama si Novi Novi itu? Terus dia bisa masuk ke ruangan yang kata kamu gudang tapi di bisa ke san, bahkan punya kuncinya dan Aku?" Lany menatap Andra lekat-lekat namun suaminya itu justru menampakkan senyum terkulum di bibirnya.
“Kenapa senyum-senyum?" Lany melayangkan pukulan yang tak seberapa pada Andra, tapi segera di tangkis olehnya “Aku serius!" Pekik Lany, ia segera melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar sambil terus mengomel.
“Kamu bolehin dia masuk, sedangkan aku nggak. Terus kamu juga nggak bilang kalau dia tetangga kita, sebenarnya kamu ada hubungan apa sama si Novi itu, Alandra? Kenapa dia bisa sedekat itu sama kamu, boleh melakukan semua, dia bisa nemuin kamu dimana saja. Bahkan bisa ikut kamu ke tempat yang aku sendiri nggak bisa ikut."
Lany terus mengeluarkan apa yang ia rasakan. Hatinya benar-benar sakit, ia kesal dan marah melihat orang lain bernama Novi itu begitu dekat dengan Andra dan bisa melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan. Berulang kali Lany memikirkan ada hubungan apa antara Andra dengan wanita itu. Moodnya dibuat rusak setelah kedatangan Novi tadi.
“Ya ampun, Lan. Kamu marah karena itu?" Andra yang masih berdiri di pintu, melangkah mendekati Lany yang tengah berdiri menatap gemerlap kota dari jendela Kamar.
“Iya aku marah!" Sentak Lany pada Andra yang hendak menggenggam tangannya, "Aku marah karena aku nggak tau kalian punya hubungan apa, seandainya aku tau, mungkin aku akan sadar diri dan nggak akan marah seperti ini.” Lirih Lany dengan suara tercekat seperti menahan isakan di dadanya.
“Astaga, Lan, pikiran kamu terlalu jauh!" Andra yang tidak ingin kesalah pahaman ini larut terlalu jauh mambalik tubuh Lany agar menatapnya “Dia cuma asistenku, kami nggak ada hubungan apa-apa, sayang."
Bukannya percaya, Lany justru ingin tertawa mendengar ucapan Adra yang kedengarannya sangat berlebihan dan sangat ngaco bagi Lany.
__ADS_1
“Asisten?" Pertanyaan Lany dijawab anggukan oleh Andra yang membuat tawa Lany pecah seketika. “Jangan ngaur deh, bang!” Lany memukul-mukuli dada Andra sambi tertawa sampai menitihkan air mata.
“Pelayan bar mana yang pake personal asisten? Kamu pikir aku sebodoh itu, gini-gini pengalamanku banyak dan aku tahu soal itu. Kecuali kamu ada jabatan tinggi baru wajar punya asisten"
Mendengar perkataan istrinya, Andra mengusap wajahnya kasar. Sulit baginya meyakinkan Lany, tapi itulah kenyataannya dan inilah resiko yang harus ia terima akibat terlalu banyak mengada-ngada. Like ajoke tapi ini fakta. Andra kelimpungan sendiri melihat Lany tertawa dan menitihkan air mata di waktu yang bersamaan.
Memang ia tak bisa menjelaskan secara keseluruhan, tapi setidaknya Andra harus bisa meyakinkan jika Novi hanyalah asistennya dan mereka tidak punya hubungan lebih dari itu. .
“Apapun itu, Lan. Tapi inilah kenyataannya, dia asistenku dan kami nggak ada hubungan lebih.”
Lama mereka memperdebatkan hal itu, tentu dengan Andra yang keluar sebagai pemenang sebab berhasil membuat Lany yakin setelah membuat Novi mengaku, untungnya Novi bisa membuat alasan yan masuk akal tanpa harus diberi tahu. Inilah yang membuat Novi menjadi asisten kebanggaan Andra.
“Tuh kan." Goda Andra saat melihat Lany hanya mencebik.
“Ya, kamu nggak bilang, aku mana tau." ketus Lany tanpa mau menoleh pada Andra yang tengah menatapnya.
“Kamu tumben nggak nanya, sayang. Biasanya juga banyak tanya."
“Kamu kan larang aku nannya sampai kamu bisa jelasin semua."
Andra menghela napas sambil menggeleng, ia tersenyum mengingat kesepakatannya dengan Lany. Ya, dia lupa jika dirinyalah yang meminta Lany untuk tidak banyak tanya higga membuat istrinya itu memilih jalan untuk berprasangka buruk. Sepertinya kejadin ini sangat mewakilkan kutipan yang mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan" Dan Lany benar-benar hampir tersesat karena tidak mau bertanya.
Andra yang merasa bersalah menarik Lany ke dalam dekapannya “Maafin aku ya, aku lupa ngejelasin itu ke kamu." Satu kecupan mendarat di kening Lany.
“Maaf, karena aku lupa kenalin siapa Novi dan dia juga nggak berani bilang sesuatu tanpa perintah dari aku."
Lany terdiam dalam dekapan Andra. Dia yang tadinya merasa kesal kini merasa sangat tenang dan lega setelah mendengar penjelasan Andra. Ia begitu menikmati pelukan hangat itu.
”Maafin aku ya, sayang, aku nggak bermaksud bikin kamu marah.” Sudah tak terhitung berapa kali Andra mengecup wajahnya dan memanggilnya dengan panggilan sayang yang begitu enak didengar.
Jujur sikap Andra yang seperti inilah yang membuat ia selalu luluh, pria yang sikapnya benar-benar hangat itu mampu membuka hatinya yang sempat ia tutup rapat-rapat untuk memiliki pasangan sampai menemukan yang benar-benar cocok.
“Tolong jangan bikin aku seperti orang bodoh Andra, jangan bikin aku bingung kayak tadi lagi." Lirih Lany sambil menghirup dalam-dalam aroma maskulin dari tubuh Andra.
“Sekali lagi aku minta maaf, tapi aku benar-benar nggak ada maksud bikin kamu bingung."
“Tunggu Sebentar lagi ya, sedikit lagi kamu bisa temukan jawaban itu, Jangan menghawatirkan apapu tentangku. I'm yours, hanya kamu Lan, tidak ada orang lain. Aku hanya milikmu."
Ucapan Andra yang diakhiri dengan ciuman hangat di bibir Lany itu mampu membuat hati keduanya bergetar hebat. Lany begitu tersentuh dengan ucapan Andra. Sedih dan bahagia bercampur aduk, kata-kata Andra barusan begitu penuh dengan makna. Andra seolah menegaskan jika dirinyalah satu-satunya pemilik hati dan tubuh pria yang sedang memeluknya itu.
“Don't woryy! I'm yours. Hanya kamu, tidak ada Novi atau siapapun itu. Aku janji."
Andra kembali mengulang kecupan yang sama. Yang membuat seluruh tubuh Lany bergetar hebat. Bahkan saat ia mulai merespon aksi suaminya itu dan mereka melakukanya tanpa jeda. Perlahan Andra merebahkan tubuh Lany di tempat tidur tanpa memisah diri. Dengan lembut tangan Andra menyentuh Lany penuh sayang . Lany jelas tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
“Boleh?" Lany hanya menjawab pertanyaan Andra itu dengan anggukan. Sorot mata Andra begitu jelas menginginkan sesuatu yang Lany sendiri pun tak bisa menolaknya.
Andra membawanya terbang dengan perasaan mendebarkan yang begitu luar biasa. Meledak bersama sampai lupa tempat berpijak dan berkali-kali mengulang hak serupa tanpa lelah.
...****...
Okeh, Sampai ketemu di episode tahun baruan dalam Nopel🙌🤣
__ADS_1