My Startling Destiny

My Startling Destiny
53 [Mencari Solusi]


__ADS_3

Setelah seharian menghabiskan waktu berkeliling tanpa tujuan hanya untuk menghilangkan rasa kesal dalam diri. Akhirnya Lany pulang tepat setelah adzan Isya berkumandang.


Dia tak melihat motor Elsa terparkir di sana, mungkin si -Frozen- sedang keluar malam mingguan. Akan tetapi pandangan Lany tertuju pada pintu rumah yang terbuka. Sembari melepas helm, Lany menghela napas kasar begitu melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu.


Pria berkaos hitam dipadukan celana rumahan pendek tengah menunggunya di sana. Andra menatap Lany dengan wajah kaku tanpa senyuman sedikitpun. Agak menyeramkan memang, namun Lany tidak takut sama sekali.


“Darimana aja?" Telinga Lany langsung disambut pertanyaan dari pria yang masih bersedakap di sisi pintu.


“Bukan urusanmu." Ketus Lany sambil melalui Andra. Langkah pria itu terdengar mengikuti Lany di belakang.


“Urusanku Lan, Kamu nggak tahu betapa khawatirnya aku nyariin kamu." Andra mencoba meraih tangan Lany, namun ditepis begitu saja oleh gadis berambut pirang yang masih menampakkan kekesalan di wajahnya.


“Aku nggak minta dicari.”


“Aku khawatir jadi aku nyari kamu." Andra menggeleng menghadapi sikap kerasnya Lany. Gadis itu begitu acuh, seolah menunjukkan dia benar-benar kesal pada Andra.


“Kamu pikir aku juga nggak khawatir pas kamu sama sekali nggak ada kabar?"


Andra terdiam mendengar ucapan Lany, ia tahu dirinya salah. Bahkan sangat menyadari kesalahan dalam tindakannya itu. Namun, saat ini ia masih tidak bisa menjelaskan banyak hal.


Mata Andra terus mengamati pergerakan Lany yang tengah sibuk menyiapkan mie instan untuk di masak.


Andra memejamkan mata bersamaan dengan helaan napas yang terdengar begitu berat. Ia melangkah mendekati Lany. Tangannya bergerak menarik Lany hingga menghadap dirinya, sedangkan tangan yang satunya langsung mematikan kompor.


Lany menatap tidak suka pada Andra. Begitupun dengan Andra yang menatapnya dengan tatapan mengunci. Sebelumnya Lany tak pernah melihat tatapan Andra yang seperti ini. Jika melihat Andra dari sudut yang seperti ini, suaminya itu sangat jauh dari kesan -softboy- sebagaimana biasanya.


“Kamu mau dengar penjelasanku kan?" Tangan Andra kini beralih melingkar di pinggang Lany agar istrinya itu tidak lepas. Sepertinya dia harus menjelaskan apa yang ingin Lany ketahui darinya. Andra tidak bisa jika Lany terus-menerus mendiaminya seperti ini.


“Apa? Coba, aku mau dengar!" Lany memajukan wajahnya, seolah tengah menantang Andra mengatakan semuanya. Ia melakukan ini karena Lany tahu, Andra pasti tidak akan bisa mengatakan apa yang ingin dia dengar.


Andra menarik napas dalam-dalam “Kita ke Jakarta,” ujar Andra memutuskan dengan wajah datar, membuat Lany sedikit terkejut mendengar apa yang baru saja Andra katakan.


“Kamu akan temukan jawabannya dengan sendiri. Tapi sebelum itu, kita pamit ke ortu kamu dulu.” Tatapan Andra mulai melembut, tak sedatar saat tadi Lany bersikap acuh.


Melihat Lany yang masih diam dan berbalik menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Andra merasa bersalah telah bersikap kasar. Hampir saja dia hilang kendali. Perlahan cengkraman di tangan Lany mulai merenggang dan berpindah merengkuh pinggang Lany.


“Maaf, Aku ngaak bermaksud.."


“Nggak!" Saat beberapa centi lagi Andra berhasil memeluknya, Lany langsung mendorong tubuh Andra. Ditatapnya Andra dengan raut wajah geram.


“Bukan ini yang mau ku dengar.” Sentak Lany tak terima, yang mana membuat Andra menggeleng heran.


“Kenapa harus pergi ke Jakarta dulu agar bisa tau semuanya, kenapa bukan kamu aja yang langsung jujur, hah?"


Ucapan Lany membuat Andra terdiam sejenak, membuat Lany kian muak melihat sikap Andra.


“Karena semua jawabannya di sana, Lan. Kamu bisa tau semuanya tanpa harus dengar dari aku."


Sungguh Lany dibuat tidak habis pikir dengan jawaban Andra. Baginya itu sangatlah tidak masuk akal. Apakah ini jalan keluar yang Andra berikan? Sejujurnya bukan ini yang diinginkan, Lany ingin Andra mengatakan semua tanpa harus mendengar jawaban serumit ini.


“Kenapa harus serumit ini sih?" Sentak Lany tak habis pikir “Kenapa bukan kamu aja yang jelaskan semuanya, Alandra?”


“Lan,” Andra mencoba meraih tangan Lany untuk digenggam, tapi selalu ditepis oleh gadis itu “Aku mohon, kali ini aja dengar aku." Dengan wajah memelas, Andra berusaha membujuk Lany. Namun Lany terlalu membentengi diri. Rasa kecewa membuat ia enggan menaruh iba pada suaminya itu.


“Percaya sama aku, Aku nggak mungkin bohong, Lany."

__ADS_1


Lany menggeleng. Tetap pada pendiriannya. Andra tak memberi apa yang diinginkan. Saat tengah saling beradu pandang. Keduanya sama-sama menoleh saat mendengar suara tapuk tangan di arah pintu dapur.


Dilihatnya Elsa tengah berdiri dengan raut wajah yang ... Entahlah! Begitu menyebalkan. Gadis itu sepertinya mendegar perdebatan antara Andra dan Lany barusan.


“Hebat ya, masih pengantin baru tapi sudah bertengkar begini.” Katanya dengan gelagat mengejek. “Mana pertunjukannya di dapur lagi. Biar apa? Biar gampang saling serang pakai alat dapur, kan?"


“Diam, Elsa!" Sentak Lany yang mana membuat Elsa yang cekikikan, seketika menutup mulutnya dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.


“Upss..”


“Mau kena ini lagi!" Sambil berlalu Lany kembali menunjukkan telapak tangannya pada Elsa. Tentu hal itu, membuat si -Frozen- memutar mata malas.


“Dih, sok jagoan." Cebik Elsa tak terima.


"Elsa!!! Dian! sebelum kamu ku beri cap lima jari lagi." Teriak Lany yang sudah berada di ruang tengah dan akan melangkahkan kaki di tangga.


Sementara Andra yang melihat aksi Lany, sedikit terkejut. Ia tak menyangka jika Lany akan melawan adiknya itu. Andra tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi melihat Lany seperti tadi saja sudah membuat dia merasa puas saat Lany mau tegas pada Elsa.


Tak ingin berlama-lama di dapur, Andra segera beranjak dan menyusul Lany. Kali ini ia berniat menghadapi Lany dengan cara yang lebih lembut lagi. Andra tidak ingin kelepasan seperti tadi, dia tidak ingin membuat Lany merasa tidak nyaman dengan sikapnya.


“Tumben takut,” Sarkas Andra saat berlalu tepat di sisi pintu tempat Elsa berdiri “Sudah merasakan cap lima jari dari Lany, ya?" Dengan senyum terkulum Andra segera meninggalkan Elsa yang sudah tentu sedang mengumpat dalam hati karena Andra baru saja mengejeknya.


🦋🦋🦋


Pagi itu, Lany pergi ke. Rumah makan miliknya, diantar oleh Andra. Semalam, setelah berakhirnya perdebatan di dapur akibat kehadiran Elsa. Kedua pasutri itu kembali melanjutkan perdebatan saat di kamar. Meski tak seharusnya di sebut perdebatan karena hanya Lany saja yang emosi dan menghujam Andra dengan berbagai macam tanya. Sedangkan Andra, pria itu benar-benar menghadapi Lany dengan kepala dingin dan hanya berbicara seperlunya saja.


Meski begitu, Andra berhasil membuat Lany luluh dan membuat kesepakatan setelah Andra memberikan jaminan pada Lany untuk bebas melakukan apa saja jika sewaktu-waktu Andra terbukti salah dan tidak jujur.


“Aku akan meninggalkanmu saat itu juga jika kamu terbukti menjadikan pernikahan kita mainan.” Begitu syarat yang Lany ajukan, sebab ia merasa seperti dipermainkan dengan sikap Andra yang terkesan tertutup dan misterius dan Andra menyepakati hal itu.


Dan di sinilah Lany sekarang, dia sedang bersama Dewi, sahabatnya. Lany menceritakan semua pada Dewi. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Setelah mencurahkan isi hati pada Dewi, Lany merasa sedikit lebih lega.


“Tapi Aku takut, Wi. Aku takut keputusan ku ikut dengan dia ini salah.”


“Apa yang membuatmu ragu?" Dewi meraih tangan Lany, gadis itu menggeleng sebagai bentuk jawabannya.


“Apa selama ini dia ada tampang penjahat?" Tanya Dewi lagi yang mana kembali di jawab anggukan oleh Lany.


“Apa selama ini dia pernah bersikap kasar?"


Lany terdiam, dia mencoba mengingat-ingat perlakuan Andra. Namun, Andra sama sekali tak pernah bersikap kasar padanya. Bahkan suaminya itu selalu bisa menghadapinya dengan kepala dingin.


“Lalu apa lagi yang kamu ragukan?"


“Aku belum tahu siapa dia."


“Kamu akan segera tahu siapa dia, Lan" Sergah Dewi. Yang entah kenapa begitu mendukung Andra.


“Dia terlalu tertutup ke aku. Pas ke luar kota saja dia tidak mengabariku, Wi." Sergah Lany jengah. Meski Dewi berhasil membuatnya tenang. Tapi Lany kesal karena sahabatnya lebih membela Andra yang sama sekali tidak dia kenal. Hanya kenal dari info yang Lany berikan saja, tapi Dewi sudah sepenuhnya percaya pada Andra. hmmmnnt, Lany dibuat tidak habis pikir.


“Mungkin dia punya alasan melakukan itu, Lan. Tunggu saja ya, aku yakin secepatnya dia akan memberi tahu mu." Dewi tersenyum menyemangati Lany. Bukannya merasa tersemangati, Lany justru dibuat makin kesal.


“Sebenarnya sahabat kamu itu aku atau Andra, Dewi??" Protes Lany tak suka.


“Ya, Kamu lah Melany..!"

__ADS_1


“Tapi dari tadi ku lihat kamu lebih bela dia." Lany mencebikkan bibirnya membuat Dewi terkekeh geli.


“Karena, aku merasa dia adalah orang yang tepat buat kamu. Selain good looking, auranya juga positif." Ujar Dewi sambil mengerlingkan mata menggoda.


“Astaga, Ibu-ibu ini genit juga.” Seloroh Lany dengan volume yang sengaja dikeraskan. “Ris, ini istrimu nih, pintar menilai mana yang good looking." Lany terkekeh saat melihat raut wajah panik Dewi yang berusaha membekap mulutnya.


“Ndak, Ris. Mel-mel mengarang bebas." Teriak Dewi, padahal Riswan saja belum tentu dengar. Hmmmnt, dasar kalian!


Lany dibuat tertawa puas berhasil mengerjai Dewi “Kamu kayak Celin, ya. Kalian memang paling jago kalau urusan good looking."


“Kayak kamu tidak saja," Cebik Dewi sambil menatap Lany dengan raut wajah penuh penekanan ala ibu-ibu “Ah sudah, ah. Pokoknya kamu harus ikut kemanapun Andra pergi,”


“Dih," Lany mendelik melihat respon Dewi yang begitu excitid jika membahas soal Andra “Yakin banget, bu.”


“Ya, yakinlah!" Celetuk Dewi.


“Kalau aku disakiti bagaimana?"


“Nggak akan, aku jaminannya. Aku bisa lihat dan pastikan dia itu orang baik-baik."


Ucapan Dewi hanya disambut dengan ekspresi mendelik oleh Lany. Meski begitu, dalam hatinya, Lany tetap meng-aamiin-kan setiap ucapan Dewi. Dalam angan Lany begitu mengharapkan hal yang sama pada Andra.


“Mel, di depan ada Andra, tuh."


Dewi dan Lany yang tengah larut dalam diam menoleh pada Riswan yang datang sambil menggendong Kiya, bocah itu begitu aktif menendang dalam gendongan Ayahnya. Membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas.


“Eh, serius?" Andra yang sebelumnya sempat pamit izin pergi dengan alasan mengurus sesuatu membuat Lany sedikit terkejut saat tahu Andra sudah datang secepat ini. Tadi Lany mengira Andra akan pergi sedikit lama.


“Duarius, Mel." Seloroh Riswan.


Lany yang mendengar itu segera beranjak dan menghampiri Andra. Jika Andra datang, itu artinya keduanya akan segera berangkat ke rumah Bapak untuk berpamitan.


“Kok cepet?" Tanya Lany begitu berada di samping Andra yang tengah duduk di kursi kayu yang ada di depan, tepat di bawah pohon pucuk merah.


Sambil mengibaskan rambutnya mengunakan jari, Andra menoleh pada Lany yang kini sudah duduk di sampingnya.


“Udah selesai."


“Oh." Setelah kesepakatan semalam, Lany tak lagi menanyakan banyak hal pada Andra. Dia akan menunggu seperti yang Andra katakan. Walau ejujurnya dia begitu penasaran, namun Lany juga tak ingin melanggar kesepakatan yang mereka buat. Dia akan menjalani semua sampai waktunya tiba.


“Mau makan, nggak?"


Andra terdiam, dengan tatapan teduh khasnya ia menatap Lany cukup lama. Oh, tatapan menyejukkan yang sudah lama Lany rindukan mampu membuat hatinya bergetar.


Hampir saja Lany salah tingkah dibuat tatapan Andra, tapi pria itu segera membuka suara. Membuat Lany bisa bernapas lega.


“Udah tadi," Tangan Andra mendarat di kepala Lany. Membuat jantung Lany berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya.


Aku bisa mati muda kalau begini. Lany menelan ludah kasar.


“Ada ini." Andra menunjukkan daun pucuk merah yang tadi jatuh di rambut Lany. Membuat keduanya sama-sama tersenyum simpul.


“Berangkat sekarang, yuk. Biar bisa gak usah bermalam." Lany hanya mengangguk.


“Aku ambil tas dulu ya, sekalian pamit ke Dewi dan Riswan."

__ADS_1


__ADS_2